
Setelah cukup lama berkendara akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di bandara. Zoe yang sudah puas tidur kini membuka matanya lebar, melihat gemerlap lampu dan lalu lalang banyak orang membuat bayi itu merasa bersemangat.
Tiga orang wanita cantik beda usia berjalan ke area penjemputan. Mereka tak lain adalah siska, arie dan cleo. Baron berjalan di belakang mereka dengan mendorong troli koper yang berisi banyak kotak yang di bungkus dengan kertas warna-warni.
"Mama!" pekik karina, tangannya ia angkat tinggi-tinggi dan melambai dengan penuh semangat.
"Karina!"
Siska berjalan cepat mendekati putrinya yang sedang menggendong cucu imutnya.
"Ih ...cucu oma makin lucu," ujar siska gemas tangannya hendak menoel pipi gembul zoe tetapi di hentikan oleh eldric.
"Maaf Ma, sebaiknya kita pulang dulu, Anda baru saja datang sebaiknya bersih-bersih dulu!" tegas eldric.
"Baiklah- baiklah, cepat kita pulang," ketus siska sebal. Ia lupa kalau menantunya itu adalah salah satu spesies yang gila kebersihan.
"Maaf ya Ma," ujar karina mewakili sang suami.
Bagi eldric ini adalah hal biasa, jangankan dari perjalanan jauh. Dari luar rumah saja ia akan membersihkan dirinya sebelum menyentuh zoe.
"Karina apa kabar?" tanya cleo yang baru saja bisa menyusul langkah ibu mertuanya.
"Baik Kak cleo."
Cleo mendekat dan hendak melakukan cipika-cipiki pada Karina. Namun, gagal karena karina sudah di seret menjauh oleh el.
Cleo terheran-heran dengan apa yang baru saja eldric lakukan.
"Kita pulang dulu!" tegas eldric lagi.
Kini el merangkul bahu istrinya dan mengajaknya menjauh.
"Maaf ya Kak," ucap karina sambil tersenyum tipis.
"Iya nggak apa-apa."
Cleo berusaha mengerti dengan tingkah laku adik iparnya itu. Siska pernah bercerita tentang fobia eldric.
Eldric kembali menaiki mobil yang ia tumpangi bersama karina dan bagas. Sementara eko masih membantu baron untuk memasukkan barang-barang di bagasi mobil yang di pakai baron ke bandara. Setelah semua selesai kedua mobil itu melaju kencang menuju mandi.
"Honey, kau tidak marah kan?" Tanya el cemas, ia sebenarnya merasa tidak enak dengan apa yang ia lakukan tadi.
"Aku mengerti, nggak apa-apa." karina mengusap lembut lengan suaminya.
Eldric menghela nafasnya kasar. Bukan inginnya seperti ini, ia mulai bisa mentolerir orang-orang di sekitarnya, tetapi untuk orang luar eldric belum bisa. Ia masih berusaha.
Dua mobil mewah berwarna hitam terparkir sempurna di depan mansion. Mereka harus melewati bilik steril untuk masuk ke mansion begitu pula dengan barang-barang yang di bawa.
"Aku seperti mau masuk ke laboratorium," gerutu Cleo setelah melewati bilik steril.
__ADS_1
"Sabar C, kita harus bisa memaklumi suami karina. Mama rasa dia juga sudah ada kemajuan dengan menerima orang lain dalam rumahnya. Ini bukan hal yang mudah untuk orang yang punya fobia seperti ini," ujar arie menjelaskan.
"Makasih ya Mbak sudah mengerti keadaan menantu saya," ucap siska dengan penuh rasa haru.
"Enggak perlu berterima kasih, memang seharusnya kita lebih mengerti mereka."
Mereka bertiga kemudian di antara ke kamar masing-masing. Eldric sudah menyuruh berto untuk menyiapkannya. Siska tidur memilih sekamar dengan arie, sementara cleo kamar sendiri.
😁😁😁
"Nyonya, makan malam sudah siap," ujar berto setelah mengetuk pintu kamar arie dan siska.
"Baik kami akan ke sana!" sahut arie dari dalam kamar.
Setelah mendengar jawaban tamunya, berto bergegas kembali ke meja makan. Ia harus mengecek lagi hidangan yang tersaji di sana.
Eldric dan karina sudah menunggu di meja makan, sementara zoe sudah dalam pengasuhan bagas di ruang bermainnya.
"Nyonya apa masakannya sudah cukup?" tanya berto pada karina, berto merasa cemas jika para tamu nantinya tidak puas dengan masakannya.
Meskipun berto sangat pandai dalam urusan dapur, tetapi masakan asia bukanlah keahliannya. Sedangkan karina memintanya untuk memasang rendang daging, ayam bakar, tahu tempe goreng, sambal dan lalapan, serta plecing kangkung yang tidak pernah dimasaknya. Ia merasa gugup menyajikan hasil karyanya.
"Sudah Paman, ini lebih dari cukup. Wanginya sangat menggoda, aku tidak sabar untuk makan," ujar Karina sungguh-sungguh.
Berto tersenyum, ia merasa lega mendengar ucapan sang nyonya.
"Sabar Honey, kita tunggu mama." Eldric mengusap lembut rambut istrinya.
"Ehem .... meja makan lho bukan kamar," sindir cleo yang baru saja sampai. Ia menarik satu kursi untuk duduk. Berto yang
hendak menyeret kan kursi untuk cleo duduk pun mengurungkan niatnya.
Karina hanya menyengir kuda memamerkan giginya, ia malah dey sengaja memamerkan kemesraannya dengan eldric. Karina mencium pipi el lalu memeluknya dengan posesif. Cleo memutar bola matanya malas, melihat dua orang bucin di hadapannya itu.
Arie dan siska juga datang. Berto bergegas menyiapkan kursi untuk kedua nyonya besar itu duduk, ia tidak ingin kecolongan lagi.
"Terima kasih, berto," ucap siska.
"Sudah tugas saya Nyonya besar, silahkan menikmati makan malam. Semoga Nyonya menyukainya," ujar berto sambil sedikit membungkuk, ia kemudian berjalan menjauh.
Mereka pun menikmati makan malam dengan khidmat. Semua yang tersaji di meja ludes tak bersisa, berto benar-benar memanjakan lidah mereka dengan rasa masakannya. Tentu saja makan malam itu tak lepas dari pertunjukan bucin sang pemilik mansion.
Ia memperlakukan karina bak ratu tanpa memperdulikan mertua dan saudara ipar yang ada di sana.
"Sudah kenyang," rengek karina.
"Suapan terakhir Sayang, jangan menolak," bujuk el dengan lembut.
"Tapi aku benar-benar kenyang."
__ADS_1
"Ayolah Honey, kau harus menghabiskannya."
Karina pun akhirnya hanya bisa pasrah, ia pun akhirnya menghabiskan makan malamnya sepiring berdua dengan sang suami.
Setelah makan malam selesai ke empat wanita itu berkumpul di ruang tengah, bercengkrama bersama sambil melihat drama korea yang sedang naik daun.
Sementara eldric harus mengerjakan perkerjaan kantor yang dibawa pulang oleh joe.
Arie duduk bersama siska, kedua ibu-ibu itu rempong mengomentari tokoh utama yang sedang bersikap plin-plan.
Karina dan cleo duduk di sofa yang berbeda dengan kedua ibu mereka, sambil menikmati sebungkus besar kripik kentang.
"Kak, kamu udah baikan belum sama Kak Naoki?" tanya karina dengan setengah berbisik.
"Mau tau aja."
"Ish Kak, aku beneran kepo nih. Terakhir Kakak menghilang begitu saja, nggak kasih kabar aku," protes Karina sambil memasukkan kripik kentang kedalam mulutnya.
"Hari itu aku kesel banget sama naoki, dia tuh .. emph!" cleo meremas kedua tangannya sendiri, merasa gemas sekaligus kesal jika ingat kejadian malam itu.
"Maaf ya kalau waktu itu aku nggak balik ke rumah sakit."
"Nggak apa-apa kok Kak, tapi kalian udah baikan kan?" tanya karina lagi.
"Anggap aja udah," jawab cleo asal.
"Ih ..kok gitu."
Cleo menghela nafasnya panjang. " Aku memberikan dia kesempatan sekali lagi, tapi mungkin dia harus berusaha keras untuk membuat aku percaya lagi sama dia. Kau tau Rin, saat aku terluka aku akan mengingat alasan luka itu terjadi."
"Aku yakin kak naoki bisa!"
"Cih, ya ya ... dukung terus kakakmu itu, beri tahu dia jangan membuat aku patah lagi. Atau aku akan benar-benar menghilang dari hidupnya." Cleo memutar bola matanya malas.
"Aku akan mengunakan diriku sebagai jaminan Kak, tenang saja," ujar Karina meyakinkan.
"Kita lihat saja."
Cleo mencomot kripik di pangkuan karina lalu memakannya dengan kasar.
"Aku mengerti Kak cleo pasti masih sedih kan, kita sama Kak. Sampai sekarang aku juga masih sedih karena kepergian zack," ucap karina sendu Cleo menghentikan gerakan tangannya yang mau mencomot kripik lagi.
"Beda, kau beruntung karena kau punya suami seperti el yang begitu menyayangi mu. Dia selalu ada saat kau membutuhkannya." Cleo menatap kosong kearah layar datar yang sedang menyala.
"Kak naoki juga mencintaimu Kak percayalah, dia hanya tidak pandai mengungkapkannya saja."
Tidak bisa karina pungkiri.ia memang beruntung memiliki el.
Cleo tersenyum getir mendengar ucapan karina.
__ADS_1
"Hem, semoga saja. Aku tidak berharap banyak dari pernikahan ku," tukas cleo kemudian menghela nafasnya panjang.
Karina memeluk cleo, sebagai seorang wanita ia mengerti apa yang cleo rasakan sekarang.