Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Menjadi biksu


__ADS_3

Kepergian sepasang suami-isteri yang sedang perang dingin itu dimanfaatkan dengan baik oleh eldric. Ia yang sedari tadi menahan diri, akhirnya punya kesempatan berduaan dengan sang permaisuri.


"Aku sangat merindukanmu," ucap eldric dengan suaranya yang berat, ia memeluk istrinya dengan penuh kasih. Menghujaninya pucuk rambutnya dengan ciuman sayang.


"Bukannya dari tadi sudah di sini, rindu apanya gombal," tukas karina. Ia merasa gemas melihat tingkah el.


El melonggarkan pelukannya, ia menundukkan wajahnya menatap netra bening yang begitu menenangkannya. Perlahan bibir mereka menyatu, menyalurkan rasa cinta dan rindu tanpa kata. Lum" tan lembut tanpa naf""u, hanya rasa cinta yang penuh kelembutan.


"Aku mencintaimu," ucap el setelah melepaskan tautan bibir mereka.


"Aku juga mencintaimu," jawab karina dengan binar mata yang indah.


Eldric kembali merengkuh tubuh istrinya, seolah tak rela jika harus melepaskannya.


"Sayang, aku ingin bertemu dengan zoe."


"Jika kau sudah lebih baik kita akan menemuinya, Hon. kau harus fokus untuk kesembuhanmu dulu." el mengecup kening istrinya dengan lembut.


"Apa dia baik-baik saja? kau sudah bertemu dengannya?"


Eldric mengangguk.


"Sebelum aku pulang, aku mengunjungi zoe di NICU."


Karina menatap suaminya, ingin sekali rasanya ia pergi ke NICU untuk melihat sang putri kecilnya. Mendekapnya dalam pelukan hangat.


"Besok aku akan meminta izin dokter agar kau bisa bertemu zoe," ucap el, sungguh tidak tega rasanya melihat wajah sang istri yang mendamba untuk bertemu dengan putri mereka.


"Benarkah?" tanya karina dengan binar matanya yang penuh harap.


"Tentu, Honey." Sebuah kecupan singkat el berikan pada bibir mungil istrinya yang pucat.


"Aku tadi hanya memompa ASI-ku lalu suster membawanya. Aku ingin langsung menyusuinya," ujar karina dengan sendu.


"Kau memerah air susumu?"


"Ish ... memerah, emangnya aku sapi apa," tukas karina dengan bibirnya yang sudah manyun lima centi.

__ADS_1


"Bukan begitu maksudku, berarti dua squshy milikmu sudah berubah jadi pabrik susu," ucap el sambil mengarahkan pandangannya pada dua gunung kembar milik Karina.


"Iya, dan air susunya keluar dengan baik. Aku bersyukur bisa memberikan ASI eksklusif pada zoe."


"Apa boleh aku mencicipinya?" tanya el dengan terus menatap dua gundukan yang terlihat semakin besar, meskipun tertutup baju. Namun, el bisa memastikan ukuran itu jauh lebih besar dari sebelum istrinya melahirkan.


"No! ini milik zoe, Daddy harus puasa selama tiga bulan juga belutnya!" tegas Karina.


"Apa Hon, tiga bulan?!"


Hayo Daddy el, belutnya di kandangin dulu ya 😅


"Ehem." Karina mengangguk-anggukkan kepalanya.


Eldric menatap mata karina dengan dalam berharap istrinya itu hanya menggodanya saja. Tak terlihat kebohongan sama sekali di matanya, tatapan itu bahkan terlihat sangat menyakinkannya.


"Apa dokter mengatakan seperti itu?"


Karina hanya menjawabnya dengan anggukan.


Eldric menghela nafasnya panjang." Baiklah aku akan menjadi biksu selama tiga bulan kedepan."


"Kau tidak keberatan puasa selama itu, Sayang?"


"Kalau itu adalah yang terbaik untukmu, aku akan melakukannya. Lagipula hanya ini saja yang bisa aku lakukan, aku tidak bisa mengambil rasa sakitmu atau meringankannya. Setidaknya dengan aku berpuasa, aku tidak akan menambah kesakitanmu."


Mendengar ucapan suaminya Karina jadi merasa bersalah, sebenarnya setelah selesai nifas empat puluh hari mereka bisa saja melakukan hubungan suami-isteri. Karina hanya menggoda el saja, tetapi kalau sudah begini ia juga tidak bisa mengatakan kalau ia hanya berbohong. Sudahlah, nanti karina akan memberikan kejutan pada el sebagai penebusan dosanya hari ini.


Dengan nyamannya Karina menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, kedua tangan el yang melingkar di bahunya semakin merapatkan tubuh mereka berdua. Semuanya telah terlewati masa-masa dimana Karina selalu merasa cemas dengan kandungannya.


Meskipun wanita itu terlihat biasa dan selalu bahagia, ia selalu dengan keadaan zack dan zoe saat mereka berada dalam rahimnya. Sekarang zack dan zoe sudah lahir dengan selamat. Tak bisa karina ungkapkan bagaimana bahagianya ia, meskipun ia belum bisa bertemu dengan putri kecilnya dan tidak sempat melihat pangeran kecilnya zack. Ia tetap bersyukur pada Tuhan yang telah memberinya kesempatan untuk mengandung kedua anaknya.


"Sayang, terima kasih," ucap Karina dengan tulus.


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, kau telah berjuang untuk melahirkan kedua anak kita. Terima kasih." El mengecup kening istrinya singkat.


Rasa syukur tak henti El ucapan dalan hatinya. Ia begitu bahagia dengan kelahiran putri kecilnya, meskipun sebuah kecelakaan yang membuatnya harus terlahir secara prematur. Namun, ia tetap bersyukur karena kedua wanita yang paling ia sayangi selamat.

__ADS_1


"Sayang, apa kau tidak capek dari tadi berdiri sambil memelukku seperti ini?"


Sebenarnya tubuh el cukup letih, ia tidak sempat istrirahat dengan baik, tetapi ia tidak ingin melepaskan pelukannya dari karina.


"Tidak, aku baik-baik saja," kilahnya.


"Duduklah, aku tidak ingin Suamiku sakit," bujuk Karina, ia tahu suaminya itu sedang berbohong.


"Duduklah aku ingin memanjakanmu," bujuknya lagi." Eldric melonggarkan pelukannya, ia menatap karina dengan tatapan yang sulit diartikan.


Kata memanjakan yang begitu ambigu di telinga eldric. Bukankah karina baru saja melakukan operasi caesar untuk melahirkan zoe tadi siang, dan bahkan wanita itu memberi tahu el untuk manjadi biksu selama tiga bulan. Lalu apa yang di maksud dengan memanjakan di sini?Otak el mulai melakukan perjalanan ke segala arah


"Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya ingin mengusap rambutmu," ucap karina sambil mendorong kening el dengan telunjuknya. El menyengir memamerkan jajaran giginya yang putih.


Ia kemudian melepaskan pelukannya, meraih sebuah bangku plastik yang tak jauh dari tempatnya berdiri. El kemudian mendudukkan dirinya di bangku itu, setelah meletakkan dekat brankar Karina.


"Sini, baringkan kepalamu." Karina menepuk sisi ranjangnya.


Eldric mengangguk, ia kemudian merebahkan kepalanya di sana. Dengan satu tangannya memeluk paha Karina yang tertutup selimut. Tangan kiri karina mengusap lembut rambut suaminya, menyugar helaian itu kebelakang.


Eldric memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut tangan istrinya yang begitu menenangkan. Perlahan eldric terlelap, meskipun bibirnya berkata tidak. Namun, Karina tau suaminya merasa letih.


Karina tersenyum melihat wajah lelah el yang terlelap.


"Terima kasih Tuhan, Engkau telah mempertemukan aku dengan seseorang yang begitu menyayangiku," gumam Karina, netra bening itu menatap suaminya dengan penuh kasih.


Pintu kamar rawat Karina terbuka. Seorang pria tampan datang sambil menenteng kantong plastik, wajahnya di tekuk masam.


Ia melangkah mendekat lalu meletakkan kantong kresek berisi makanan itu di atas nakas sebelah kanan Karina.


"Cepat makan keburu dingin," ujar naoki dengan ketus.


Karina meletakkan telunjuknya di bibir. "Ssst ...jangan berisik! suamiku lagi tidur."


"Cih, dasar manja" ucapannya sambil melirik kearah el yang terlelap.


"Kamu kenapa sih Kak? dateng-dateng kayak gitu, kemana kak cleo? kenapa kak Naoki balik sendiri?"

__ADS_1


Naoki hanya bisa menjawab dengan menghela nafasnya.


__ADS_2