Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Stay with me


__ADS_3

Eldric mendesah dengan berdecak putus asa. Sementara istrinya tampak begitu bahagia dengan bergelayut manja di lengannya. Mereka berdua berjalan-jalan di sebuah taman kota hanya untuk sekedar berjalan-jalan.


Beberapa orang memperhatikan mereka, bagaimana tidak kegagahan eldric seakan begitu kontras dengan kaos berwarna pink menyala yang di pakai sepasang dengan istrinya.


"Suamiku aku ingin makan itu," rengek Karina sambil menunjuk kepada seorang penjual tahu gejrot yang sedang mangkal.


"Jangan kotor, aku akan meminta berto membuatkannya di rumah," jawab Eldric datar.


"Tapi aku mau yang itu, dan aku mau sekarang," rengek Karina lagi.


Wanita itu memegangi perutnya yang rata sambil menatap suaminya dengan memelas. Eldric menghela nafasnya panjang, ia merasa tidak tega melihat wajah istrinya yang begitu mengemaskan seperti itu.


"Baiklah tapi hanya seporsi saja."


"Terima kasih Suamiku," ucap Karina dengan senyum.


Karina melepas tangannya dari lengan suaminya kemudian ia berlari kecil menuju si penjual tahu gejrot.


"Hey, hati-hati! jangan berlari!"


"Iya!" sahutnya tanpa menoleh


"Astaga anak itu," ujar eldric sambil melangkah lebar mengikuti langkah istri kecilnya.


Setelahnya. Mereka berdua menikmati seporsi tahu gejrot dalam sebuah gelas plastik di bangku taman, tentunya bangku itu telah di bersihkan beberapa oleh Eldric.


"Senang?" tanyanya sambil mengusap lembut rambut Karina.


Karina hanya mengangguk, ia tidak bisa menjawab karena mulutnya penuh dengan tahu. Eldric tersenyum melihat wajah istrinya.


Kehamilan di usia muda seperti ini sangat beresiko bagi ibu maupun janin yang ada dalam kandungannya. Apalagi istri Anda mengalami kehamilan kembar ini akan menambah resiko pada kehamilan. Tekanan darah tinggi, naiknya kadar gula pada darah secara mendadak, kelahiran prematur, sampai kematian pada ibu. Anda harus menjaganya dengan baik, jangan biarkan dia stress. Usahakan dia selalu bahagia dan mendapatkan perhatian khususnya dari Anda sebagai suami. Harus rutin membawa istri Anda kontrol tiap bulannya.


"Suamiku kenapa melamun?" tanya karina yang baru saja menyelesaikan makannya.


Eldric tersadar dari lamunannya. Ia menatap dalam pada istrinya, dengan lembut Eldric mengusap bibir mungil karina yang kotor.


"Emh ...tidak apa-apa, aku hanya kepikiran sesuatu. Apa sudah selesai, kita pulang sekarang?"


Karina menatap suaminya dengan penuh arti. Ia tahu suaminya itu sedang memikirkan sesuatu.


"Aku masih ingin jalan-jalan. Boleh kita ke Dufan?" tanya Karina dengan.


Eldric menengadah wajahnya keatas. Di langit awan hitam mulai bergelayut, sebentar lagi mungkin akan turun hujan. Namun, ia tidak tega melihat surat kecewa pada istrinya.


"Ok, kita berangkat sekarang."


Karina tersenyum lebar. Ia ingin sekali pergi ke taman hiburan itu sejak masih kecil. Namun, ibu asuhnya selalu melarangnya untuk pergi. Karina selalu ditinggal di rumah dengan alasan uang mereka tidak cukup. Karina sadar ia hanya anak pungut, ia pun tidak pernah mengeluhkan tentang hal itu.


Keduanya bangkit dari duduknya. Dengan bersemangat Karina mengandeng tangan suaminya, mereka berdua berjalan menuju tempat parkir.


Mobil yang mereka tumpangi pun melaju di jalan Jakarta yang cukup padat siang ini. Setelah cukup lama berkendara akhirnya mereka sampai di tempat yang mereka tuju.

__ADS_1


"Kita sudah di sini, sekarang apa?"


"Aku mau naik itu!" seru Karina penuh semangat.


"Itu?" Eldric mengerutkan keningnya.


"Iya, aku mau menaikinya bersama Suamiku."


"Apa kau pikir aku anak kecil, tidak aku tidak akan menaikinya!" tegas Eldric.


"Aku mohon, demi mereka," bujuk Karina dengan wajah memelas sambil memegang perutnya.


"Hah ... apa semua orang hamil seperti ini," ujar Eldric sambil memijit pelipisnya.


Dengan setengah hati akhirnya Eldric mengiyakan apa yang diinginkan istrinya. Mereka pun berjalan mendekat kearah wahana yang diinginkan Karina.


Setelah membantu Karina menaiki salah satu kuda, Eldric kemudian naik keatas kuda yang ada di sebelahnya. Ya, sebuah komedi putar. Wahana yang menjadi icon di sana.


Ibu hamil itu tertawa begitu bahagia saat wahana itu mulai berjalan dengan musik yang mengiringinya. Lebay memang. Namun, inilah salah satu impiannya sejak kecil, walaupun sangat terlambat tapi Karina tetap bahagia.


Rasa malu Eldric seakan terbayarkan, setelah melihat wajah istrinya yang bahagia. Namun, pria itu masih saja memikirkan apa yang dikatakan dokter kepadanya.


Setelah puas dengan komedi putar, karina mengajak suaminya itu menikmati permainan yang lain. Ontang-anting, tornado, kora-kora, biang lala sampai roller coaster. Semua permainan itu cukup menguras tenaga Eldric yang tidak lagi muda. Namun, ia berusaha tetap mendampingi istrinya.


"Apa Suamiku mau istirahat sebentar?" tanya Karina setelah mereka baru saja turun roller coaster untuk yang kedua kalinya.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Apa kau masih ingin bermain lagi?" elak Eldric walaupun wajah sudah terlihat pucat.


Jujur saja permainan seperti itu sangat menguras energinya.


"Bagus, ayo kita ke sana."


Eldric segera menarik tangan mungil istrinya. Setidaknya di pantai ia tidak perlu senam jantung lagi untuk menaikkan wahana-wahana gila itu.


Walaupun cuaca sedang mendung. Namun, pantai itu tetap cantik bagi Karina apalagi dengan laki-laki tampan yang ada di sisinya. Dengan kaki mungilnya Karina memainkan pasir sambil berjalan, tentu saja dengan tangannya yang tidak lepas dari genggaman suaminya.


"Suamiku, apa Anda tidak malu memakai kaos itu?" tanya Karina dengan menatap lucu pada suaminya.


"Kenapa baru bertanya sekarang heh! sudah seharian aku memakai ini, urat maluku sudah putus sejak tadi!" Eldric menekan kening istrinya yang sedang terkekeh kecil.


Air langit mulai jatuh, orang-orang berhamburan mencari tempat untuk berteduh. Tak terkecuali Eldric dan istrinya, pasangan suami istri itu berlari kecil menuju sebuah gazebo kayu yang ada di sana.


"Kau basah." Eldric sibuk mengusap wajah dan rambut Karina dengan sapu tangan yang di bawanya.


"Anda juga basah," ujar Karina.


"Aku tidak apa-apa."


Grep.


Karina memegangi tangan Eldric, perlahan ia menurunkannya. Mata beningnya menatap dalam pada mata coklat yang juga sedang menatapnya.

__ADS_1


"Suamiku banyak melamun hari ini? Kenapa?"


"Aku tidak apa-apa," kilah Eldric kemudian membuang mukanya kesamping.


Karina mennakup rahang tegas itu dengan tangan kecilnya, ia mengarahkan eldric untuk menghadap kearahnya.


"Saya istri Anda. Jadi tolong berbagilah, jangan menyimpan masalah Anda sendirian," ucap karina dengan lembut.


Eldric langsung merengkuh tubuh mungil itu dalam dekapannya. Ia benar-benar jatuh cinta dengan wanita ini. Eldric menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Karina. Tangan Karina bergerak naik-turun di punggung eldric untuk memberikan rasa nyaman pada Eldric.


"Apa kau yakin ingin melanjutkan kehamilanmu?" tanya Eldric tiba-tiba.


Karina terkejut, ia segera melerai pelukan mereka. Dengan matanya yang memerah ia menatap suaminya.


"Iya, kenapa? apa Anda tidak menginginkan saya mengandung anak Anda?" nyalak Karina dengan marah.


"Hei, bukan seperti itu dengarkan aku dulu."


"Tidak seperti itu apa? jika Anda memang merasa terbebani dengan kehamilan saya, jangan khawatir saya akan membesarkan anak-anak saya sendiri!"


"Karin dengarkan aku!" ujar Eldric dengan nada tinggi.


Eldric memegang kedua lengannya. Air mata karina sudah meleleh tanpa suara, ia memalingkan wajahnya.


"Aku menginginkannya, aku sangat menginginkan anak itu. Tapi aku tidak ingin mengambil resiko."


"Resiko. Resiko apa?! aku yang mengandungnya, aku yang akan menanggung semuanya!"


Eldric mengambil nafas dalam.


"Kau masih terlalu muda untuk hamil dan lagi kau langsung hamil kembar, itu akan sangat berpengaruh pada kesehatanmu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu."


Eldric menarik tubuh Karina, memeluk dengan erat. Kini Karina tahu apa yang sepanjang hari ada dipikiran oleh suaminya. Eldric mengkhawatirkannya, kini air matanya mengalir lebih deras. Karina melingkarkan tangan, membalas pelukan hangat Eldric.


"Aku tidak ingin kau pergi dari sisiku," ucap eldric lirih.


"Aku tidak akan kemana-mana, kita akan menjaganya bersama. Selama Anda ada disisiku semua akan baik-baik saja," ujar karina dalam pelukannya.


Aku tidak akan bisa jika harus kehilanganmu.


Rintik hujan semakin deras. Kedua larut dalam pelukan hangat yang melebur rasa dalam hati mereka. Ada sesuatu yang keduanya mengerti, ada cinta yang tumbuh dalam masing-masing hati walau kata itu belum pernah terucap dari bibir mereka.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Sabar ya hari ini dua bab lagi.


Emak lagi persiapan crazy up minggu depan,🤣🤣🤣


__ADS_2