Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Bucin


__ADS_3

Karina duduk di sofa yang ada di ruang ganti, tangan lentiknya menekan-nekan spon yang untuk meratakan foundation untuk menyamarkan tanda kepemilikan yang dibuat oleh suaminya. Tanda merah itu menyebar rata di seluruh tubuhnya.


Sudut bibir Karina terangkat keatas, ia mengingat bagaimana ia menghabiskan malam panas bersama.


Eldric yang baru saja selesai membersihkan dirinya, berjalan mendekati istrinya dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Ia berdiri dibelakang sofa yang diduduki Karina.


"Kenapa di tutupi?" tanya Eldric dengan nada yang menunjukkan ketidak sukaanya.


"Aku malu, Sayang." jawab karina sambil terus mengerakkan spon yang ada di tangannya.


Hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin karina tiap minggu ke dokter. Bukan hal yang mudah bagi seorang ibu membawa dua janin spesial dalam rahimnya, butuh perhatian khusus dan pemeriksaan secara rutin.


"Ck, itu indah. Membuatmu semakin terlihat cantik," Bisik Eldric, ia menatap pantulan wajah istrinya yang tersipu.


Karina memalingkan wajahnya dari cermin. Masih saja seperti itu, saat Eldric menatapnya dengan tatapan yang begitu memujanya. Jantung Karina masih terus berdegup kencang, rasa hangat menjalar di kedua pipinya, membuat pipi Karina merona. Ia menghentikan tangannya yang lalu menaruh di atas pangkuannya.


"Jangan menggodaku Hon." Eldric menopangkan dagunya di bahu Karina. Rambut Eldric yang basah masih meneteskan air di ujungnya.


"Ka- kapan aku menggodamu," ucap Karina terbata, ia merasa sangat gugup. Seperti remaja yang pertama merasakan cinta.


"Dengan kau tersipu seperti ini, kau membuatku ingin melebur bersamamu lagi. Aku sangat suka mendengar suaramu yang begitu indah saat kita menyatu, apa kau masih mengingatnya? tadi malam saat kita melakukannya. You are so seksi," bisik El di akhir kalimatnya.


"When you say my name with desire," ucapnya dengan nada yang menggoda.


[ 'Saat kau menyebut namaku dengan hasrat." ]


Telinga karina memerah, Eldric membuatnya merasa begitu malu. Tidak Karina pungkiri ia sangat menikmati permainan malam mereka, tetapi untuk membicarakannya seperti ini ia merasa malu.


"Stop it, kau membuatku malu," ucap Karina dengan manjanya, wajahnya memerah karena malu.


Eldric terkekeh kecil, ia mengecup pipi istrinya yang memerah kemudian beranjak menjauh. Eldric hendak mengambil kemeja untuk dipakainya.


"Tunggu," cegah karina, membuat Eldric menghentikan tangannya seketika.


Perlahan karina bangkit dari duduknya dengan berpegang pada pinggiran sofa. Ia kemudian berjalan mendekati suaminya. Karina mengambil satu kemeja berwarna biru tua kemudian mulai memakaikannya pada sang suami. Eldric menurut dengan apa yang dilakukan ia inginkan. Karina mendandani suaminya seperti apa yang ia lakukan dulu.

__ADS_1


Eldric terlihat begitu tampan dengan celana berbahan kain dan kemeja santai lengan panjang yang sedikit di angkat.


Setelah keduanya siap, mereka berjalan keluar dari kamar. El berusaha untuk menjadi suami siaga yang selalu, ia selalu mendampingi istrinya dalam pemeriksaan.


Karina menggelayut manja di lengan kekar suaminya, kedua berjalan keluar. Sebuah mobil hitam yang telah disiapkan oleh Joe menanti mereka.


"Selamat Pagi, Tuan, Nyonya," sambut Joe dengan sedikit membungkukkan dirinya.


"Selamat pagi Pak Joe," sahut Karina dengan senyum manisnya. Joe pun membalasnya dengan senyum ramah.


Eldric berdecak menunjukkan ketidak sukaanya.


"Tundukkan kepalamu!" hardik Eldric, ia menatap tajam pada pria yang ada di hadapannya itu.


Joe langsung menunduk, pagi yang sial. Bison pencemburu ini sudah mengeluarkan tanduknya di pagi buta seperti ini.


"Sayang Kenapa marah-marah?" tanya karina dengan lembut, terdengar seperti nyanyi syurga si telinga El.


Eldric menoleh pada istrinya, tatapnya seketika berubah lembut dan penuh cinta.


Karina tersenyum kecil, ia merasa El begitu berlebihan, tetapi itulah suaminya. Seseorang yang selalu membuatnya merasa teristimewa.


"Jangan marah-marah lagi ya Sayang, mereka berdua bisa takut mendengar suaramu," ucap karina sambil mengusap lembut perut buncitnya.


"Maaf, aku tidak akan mengulanginya." Eldric menunduk mendaratkan ciuman kecil di perut Karina.


"Kita berangkat sekarang?"


"Yes Daddy," jawab Karina dengan menirukan suara anak kecil.


El terkekeh, dengan gemasnya ia menciumi kedua pipi Karina yang terlihat seperti bakpao. El membukakan pintu mobil untuk sang kekasih, dengan perlahan ia membantunya untuk duduk.


Joe hanya bisa berdiri mematung dengan kepalanya yang menunduk. Sungguh meronta-ronta jiwa jomblonya melihat pemandangan super bucin di pagi hari seperti ini. Joe sudah membulatkan tekadnya, ia harus mengakhiri masa lajangnya tahun ini atau kalau tidak ia bisa mati karena iri melihat kebucinan tuannya.


"Aku tidak mengajimu untuk jadi patung, Joe!"

__ADS_1


Suara bariton eldric membuyarkan lamunannya. Joe segera bergegas masuk mobil untuk mengemudikan mobilnya. Karina dan Eldric duduk di bangku belakang, keduanya seperti smartphone dan paket data tak terpisahkan.


Eldric selalu saja mencari kesempatan untuk bermanja-manja pada istrinya. Kalau tadi karina yang bergelayut manja kini sebaliknya, pria berbadan tegap itu berubah menjadi kucing manis yang manja.


Pria itu menaruh kepalanya di bahu sang istri, tangan kekarnya melingkar dipinggang Karina.


"Sayang, duduk yang benar. Gerah," keluh Karina.


Bukannya melepaskan tangannya eldric malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Tapi aku mau seperti, dekat-dekat dengan kamu. Aku rindu."


"Ish ... apaan, lebay ah."


Joe hanya bisa pura-pura tuli dan tidak mendengarkan percakapan bucin kedua majikannya.


Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Joe segera turun setelah memarkirkan mobilnya, ia membukakan pintu untuk tuannya. Eldric langsung turun kemudian berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil untuk sang istri.


Eldric mengulurkan tangannya yang di sambut hangat oleh Karina, Eldric menggenggam tangan yang tak lagi mungil itu dengan erat. Dengan perlahan membantu istrinya untuk berdiri, Karina tersenyum saat El melingkarkan tangannya dengan posesif. Seolah menyatakan pada dunia bahwa dia miliknya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Aku hanya merasa kau sangat mencintaiku," jawab Karina dengan menatap wajah eldric penuh arti.


"Tentu saja, Honey. Kau adalah satu-satunya wanita yang ada dalam hidupku, yang aku cintai dengan seluruh jiwa raga ku," setelah mengucapkannya Eldric mengecup kening Karina dengan lembut.


"Aku juga mencintaimu," ucap karina lirih.


"Aku tahu."


Keduanya melangkah menjauh dari mobil, meninggalkan Joe yang melow dengan semua ungkapan cinta yang di dengarnya pagi ini. Entahlah apa kedua orang itu sengaja mengucapkan semua itu untuk m nyindir jiwa jomblonya.


Joe merogoh sakunya mengeluarkan benda pipih berwarna hitam dari sana. Ia menatap layar ponselnya dengan lekat, sebuah wajah cantik dengan senyum yang begitu manis terpampang di layar ponselnya. Joe tersenyum tipis.


"Mungkin aku harus bicara dengannya," gumam Joe.

__ADS_1


__ADS_2