Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Menjenguk Berto


__ADS_3

Eldric membiarkan rintik air shower menghantam tubuhnya. Ia memejamkan matanya menikmati air yang mengalir di sela otot-ototnya, cairan bening itu membersikan tubuhnya tapi tidak dengan ruam yang muncul di tangan dan kakinya. Eldric tersenyum miring melihat tangannya sendiri, kulitnya begitu sensitif saat menyentuh orang lain. Namun, tidak dengan karina, tubuhnya merespon dan menerima tiap sentuhan eldric pada makhluk mungil dan imut itu. Eldric mengusap wajahnya kasar, ia lelah. Sangat lelah dengan semua kebohongan yang ada di kehidupannya. Ia butuh Karina sekarang.


Setelah cukup lama membersihkan dirinya. Eldric akhirnya keluar dari kamar mandi, ia berjalan ke ruang ganti, sejenak ia berdiri di sana menatap sofa yang ada di depan meja rias. Eldric teringat akan Karina.


Kamar ini begitu hidup saat istri kecilnya ada di sana, sekarang mansion itu terasa seperti kuburan. Sepi, hanya benda mati yang tertata rapi.


"I really miss you, Honey," lirih eldric sendu.


Eldric segera mengambil baju ganti, ia harus kembali ke Surabaya sekarang. Eldric ingin segera ada disisi Karina lagi. Setelah selesai ia pun bergegas keluar.


"Baron!" teriaknya kencang.


"Iya Tuan," sahut Baron dengan tergopoh-gopoh.


"Kita berangkat sekarang."


"Baik."


Baron segera keluar untuk menyiapkan mobil. Sementara itu Dominic segera menyusul langkah eldric yang sudah akan keluar.


"Eldric, apa kau akan menemui istrimu?" tanya Dominic.


"Iya, aku akan ke sana," jawabnya singkat.


Dominic mendesah pasrah. " Apa kau masih marah dengan Kakekmu yang sudah tua ini, Nak."


"Anda tau jawabannya."


"El, Kakek akan membawa kedua wanita itu kembali ke Italia."


Eldric menghentikan langkahnya, ia menoleh. Kemudian berjalan menghampiri Dominic.


"Terserah Kakek mau bawa kemana mereka, aku tidak perduli. Tapi jika mereka berani sekali lagi muncul di hadapanku, aku pasti mereka akan memelas untuk kematian mereka sendiri!" tegas Eldric dengan penuh keyakinan.


"Kakek, tau itu. Kakek tidak akan membiarkan mereka mengusik hidupmu lagi. Tapi bisakah Kakek menemui istrimu sebelum Kakek pergi?"


Eldric terdiam, ia menimang sejenak permintaan pria tua itu. Dominic adalah satu-satunya orang tua yang miliki sekarang, Eldric juga sangat menghormatinya. Hanya saja ia tidak suka saat Dominic menghalanginya menghabisi dua ular kadut yang ada di mansionnya.


"Baiklah, sebelum ke sana aku akan menjenguk berto," ujar Eldric.


"Berto, aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. Aku harus berterima kasih padanya, karena telah menjagamu dengan baik."


Eldric hanya menanggapinya dengan senyum miring. Berto tentu saja sangat berjasa, ia bahkan sudah eldric anggap sebagai ayah keduanya.


Tak menunggu lama, mereka berdua masuk menaiki mobil yang sudah di siapkan oleh baron di depan mansion.


Mobil itu melaju kencang membelah keramaian kota Jakarta. Tak ada percakapan yang berarti di dalam mobil. Ketiga pria yang ada di dalamnya larut dalam pikirannya masing-masing. Eldric sibuk memikirkan Karina. Sementara Dominic, sepertinya sedang menyusun sebuah rencana di otaknya, dan Baron pria bertato itu memikirkan nasib nasi gorengnya yang tinggal separuh di dapur.


Setelah cukup lama perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit terbaik yang ada di Jakarta. Eldric segera turun tanpa menunggu Baron membuka pintu untuknya. Ia melangkah lebar, Dominic dan Baron pun segera mengikutinya.

__ADS_1


"El," sapa seorang wanita memakai baju dinas Dokter. Ia melangkah cepat menghampiri Eldric yang sedang menunggu lift terbuka.


"Apa? kau berkerja di sini?" tanya Eldric terheran.


"Kau pikir dokter hebat seperti aku berkerja dimana heh?!" sahut Levina geram.


"Entahlah, rumah sakit kecil di pinggir kota mungkin," jawab Eldric asal.


"Levi, apa kabarmu?"


Levina menoleh kearah sumber suara, ia terbelalak melihat wajah yang tak asing.


"Ka-kakek!" pekik Levina.


Dominic tersenyum miring. Seperti pencuri yang kepergok polisi, wajah Levina pias.


"Dimana ruangan Berto?" tanya eldric langsung, tanpa memperdulikan Levina yang sedang gemetaran.


"Ikut aku."


Levina segera memimpin jalan dengan langkah yang cepat. Setelah mereka melewati beberapa lorong akhirnya mereka sampai di ruang rawat Berto.


"Ini kamarnya, kalau begitu aku permisi. Ada jadwal pasien yang harus aku tangani," pamit Levina.


"Tunggu," cegah Dominic.


"Kakek akan kembali besok, apa kau tidak ingin menanyakan sesuatu pada Kakekmu ini. Kabar ayahmu misalnya?"


"Emh ... tidak, semoga perjalanan Kakek lancar besok. Aku permisi Kek, aku sudah terlambat."


Levina mempercepat langkahnya menjauh. Dominic hanya bisa menatap nanar pada punggung cucunya.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini," gumam Dominic penuh sesal.


"Pertanyaan itu, Kakek sudah tau jawabannya. Kenapa masih bertanya, aneh," Sindir Eldric.


Eldric mengambil tissue basah untuk membersihkan knop pintu sebelum ia menyentuhnya. Setelah ia yakin bersih, barulah Eldric membukanya.


"Tuan muda, Tuan besar!" pekik Berto dengan terkejut. Ia memaksakan dirinya untuk duduk. Namun, segera dicegah oleh Joe.


Berto pun kembali berbaring. Joe membalikkan badannya, membungkuk hormat pada kedua majikannya.


"Tuan."


"Duduk Joe," titah Eldric.


"Tapi Tuan-


"Aku bilang duduk, jangan berani membantah!"

__ADS_1


"Baik Tuan," jawab joe patuh.


Ia pun duduk di satu-satunya kursi yang ada disisi ranjang pasien. Meskipun ia merasa tidak enak. Namun, ia juga tidak bisa membantah perintah Tuannya.


"Bagaimana keadaanmu Berto?" tanya Dominic. Ia berdiri disisi lain ranjang pasien.


"Sudah lebih baik Tuan besar, terima kasih atas perhatian Anda," ujar Berto dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Aku yang seharusnya berterima kasih, kau sudah menjaga cucuku dengan baik. Tidak sepertiku, aku lebih mengutamakan nama baik dan harta benda daripada kebahagiaan cucuku. Aku menyesali itu, tapi sepertinya itu sudah terlambat," ujar Dominic penuh penyesalan. Ia merilik sekilas pada cucunya yang berdiri di samping Joe.


Sepertinya penyesalan memang tidak ada gunanya. Semuanya sudah terjadi. Ia sudah melukai hati anak cucunya.


"Jangan seperti Tuan, selama masih ada umur. Kita masih bisa memperbaiki semuanya, kita tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi kita bisa memperbaiki masa yang akan datang," sahut Berto.


"Kau memang selalu bijak Berto, aku tidak salah memilihmu." Dominic menggenggam tangan yang sama keriputnya dengan miliknya.


"Ehem."


Eldric berdehem. Memecahkan keheningan di ruangan itu, ia tidak tahan dengan suasana haru yang ada di sana. Sementara Joe sudah sesegukan berlinang air mata.


"Ck, cengeng," sindir eldric.


"Maaf Tuan, mata saya berkeringat," elak Joe sambil mengusap pipinya yang sudah basah.


"Bagaimana keadaanmu? apa sudah lebih baik? lalu bagaimana kata dokter? kapan kau bisa pulang?" cerca Eldric.


"Semua baik Tuan, lusa Paman sudah boleh pulang," Joe menjawab pertanyaan tuannya.


"Baiklah kalau begitu, aku tidak bisa lama. Aku harus pergi ke Surabaya."


"Tuan, maafkan saya. Saya tidak bisa menjaga nyonya dengan baik," ucap Berto dengan penuh penyesalan.


"Jangan salahkan dirimu, semuanya sudah terjadi. Kau sudah melakukan yang terbaik," ujar Eldric dengan bijaksana.


"Aku harus pergi sekarang, jaga dirimu."


"Baik Tuan, terima kasih." Berto menganggukkan kepalanya.


"Aku harus pergi, aku ingin menemui cucu menantuku."


"Terima kasih Anda sudah meluangkan waktu untuk menjenguk saya, Tuan," ucap Berto dengan tulus.


"Sama-sama Berto. Cepatlah pulih, aku menantikan capuccino buatanmu," goda Dominic.


"Saya akan dengan senang hati membuatnya untuk Anda."


"Apa kakek sudah selesai, kalian seperti sepasang kekasih yang saling menggoda," sindir eldric sambil bergidik geli.


Ia kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2