Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Dia Suamiku.


__ADS_3

Eldric menatap tajam pada dokter yang ada di hadapannya. Untungnya umur dokter itu sudah jauh diatasnya jika tidak mungkin eldric sudah melemparkannya keluar jendela.


Melihat wajah suaminya yang terlihat marah sebenarnya Karina ingin sekali tertawa. Namun, ia berusaha menahan dirinya agar tidak tertawa. Karina menggenggam erat tangan suaminya. Seketika Eldric menoleh pada karina yang menatapnya dengan tersenyum manis.


Setelah gel di perut Karina di bersihkan. Karina bangkit dengan bantuan dari suaminya.


"Hati-hati," ujarnya saat karina mulai menurunkan kakinya dari brankar.


"Iya."


Eldric menuntun istrinya untuk berjalan menuju meja dokter. Mereka pun kemudian duduk di hadapan dokter yang memeriksa Karina tadi.


"Lain kali tolong usahakan dengan suaminya saja ya," ucap dokter itu ramah.


"Ehem ...saya suaminya. Apa ada masalah?" tukas eldric kesal.


Dokter itu terkejut. Ia menatap Eldric dengan tidak percaya, dokter itu lalu melihat kearah pasiennya yang melihatnya dengan tersenyum.


"Benar Dok, dia memang suami saya."


"Oh ... maaf, maafkan saya Tuan. Saya tidak bermaksud-


"Tidak apa-apa Dokter, saya mengerti. Umur kami memang terpaut jauh, tapi bukankah cinta tidak mengenal perbedaan. Entah itu usia, atau jabatan. Kaya, miskin, tua ataupun muda, jika Tuhan sudah berkehendak maka tidak ada suatu apapun yang bisa menghalanginya untuk bersatu," potong Karina.


Bagaikan bongkahan es yang ditaruh di bawah teriknya mentari. Amarah Eldric menguap begitu saja, berganti dengan rasa bahagia yang tidak bisa ia ungkapkan.


Dokter itu tersenyum canggung pada karina, ia tidak menyangka wanita muda seperti dia punya pemikiran yang sangat dewasa.


"Anda benar Nyonya, saya minta maaf. Seharusnya saya bertanya terlebih dahulu," ujar sang dokter dengan sungguh-sungguh.


Karina hanya menjawabnya dengan senyum manisnya, sementara eldric. Pria itu masih memasang wajah garangnya pada sang dokter.


"Emh ... baiklah, saya akan menjelaskan kondisi kehamilan Nyonya karina. Semuanya baik untuk saat ini, saya sarankan agar Nyonya menjaga dengan baik kondisi kesehatan dan emosinya. Tidak boleh stress dan harus banyak istirahat. Untuk morning sick yang Nyonya alami itu hal yang wajar, itu biasanya akan hilang saat trisemester pertama berakhir. Saya akan memberi obat untuk mengurangi rasa mual dan vitamin." Dokter itu memberikan resep obat yang di tulisnya.


"Baik, Dok."


"Bisakah saya berbicara dengan Tuan sebentar."


Eldric mengangguk.


"Tunggu aku diluar," bisiknya pada Karina.

__ADS_1


"Baik." Karina bangkit dari duduknya kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.


Ia menunggu dengan duduk di sebuah kursi yang ada di sana. Setelah beberapa saat akhirnya eldric keluar dari ruangan USG. Karina pun segera bangkit dan menghampiri suaminya dengan senyum.


"Kenapa lam sekali?" ujarnya manja.


"Hanya 10 menit, itu tidak lama." Eldric mengacak-acak rambut istrinya yang tengah cemberut menatapnya.


"Itu lama," kekeh Karina.


"Ok ..ok ...itu lama, tapi sekarang aku sudah ada di sini. Aku akan menebus obatnya, kemudian kita pulang." Eldric mulai melangkahkan kakinya menuju tempat farmasi tentu dengan karina yang bergelayut manja di lengannya.


"Tapi saya tidak ingin pulang."


"Lalu, mau kemana?"


"Pingin pacaran," jawab Karina malu-malu.


Eldric menghentikan langkahnya, dengan keningnya yang berkerut ia menatap pada istrinya.


"Pacaran?"


Karina mengangguk cepat. Wanita yang baru saja menyandang status sebagai ibu hamil itu menatap suaminya dengan binar mata penuh harap. Jujur saja Karina tidak pernah pacaran sebelumnya, sebagai remaja sangat lumrah baginya ingin melakukan hal-hal seperti remaja lainnya bersama pasangannya.


"Kita sudah menikah, untuk apa kita pacaran?"


Senyum yang semula tersungging kini meredup seketika. Karina menundukkan kepalanya, harapannya pupus bahkan saat ia baru saja membayangkannya.


Eldric yang menyadari hal itu pun langsung mengangkat dagu istrinya, hingga keduanya bersitatap. Meskipun Karina sempat menolak. Namun, akhirnya ia tidak bisa menolak kehendak suaminya. Eldric menatap dalam mata Karina yang sendu.


"Kau ingin melakukannya, maka kita lakukan. Ok."


Karina mengangguk kecil, senyum kecil itu terbit lagi dibibirnya yang mungil. Mereka berdua pun melanjutkan langkahnya ke tempat farmasi dan segera menebus resep yang diberikan oleh dokter.


🚗🚗


"Kita mau kemana?" tanya eldric saat mereka sudah berada didalam mobil.


Eldric menyuruh Joe untuk ke kantor dan mengurusi semua perkerjaannya. Karena Eldric akan mengambil cuti khusus untuk hari ini, ia akan menemani istrinya melakukan apapun yang di inginkan.


"Saya tidak tahu, saya tidak pernah pacaran sebelumnya." Karina menundukkan kepalanya sambil memilin ujung baju yang di pakainya.

__ADS_1


Eldric menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia sendiri juga awam dalam hal semacam ini, apalagi Karina adalah wanita pertama dalam hidupnya. Kalau keduanya sama-sama polos seperti ini lalu bagaimana dengan rencana pacaran mereka. Beberapa kali Eldric mengusap tengkuknya yang tidak gatal sambil fokus ke jalanan di depannya. Sesekali ia melirik kearah istrinya yang tampak murung menatap kearah jendela mobil.


"Ehem ... apa kau ingin melakukan sesuatu? Kita tidak perlu meniru gaya pacaran orang lain. Kita lakukan apa yang membuatmu bahagia saja, bagaimana?"


Karina langsung menoleh kearah suaminya. Dengan wajahnya yang terlihat sangat bahagia.


"Apa bisa seperti itu?"


"Tentu saja bisa, kenapa tidak? kita tidak harus mencontoh orang lain. Kita tidak perlu seperti orang lain agar bisa bahagia. Kita ciptakan kebahagiaan itu sendiri, Ok!"


"Ok."


Eldric mengacak-acak rambut istrinya dengan gemas.


"Ish .. kebiasaan deh, kan jadi berantakan," keluh Karina sambil membenarkan rambutnya.


Eldric terkekeh ia semakin gemas lalu mengacak rambutnya sekali lagi.


"Ah ... Suamiku, nanti saya terlihat tidak cantik dengan rambut berantakan seperti ini!"


"Siapa bilang, kau selalu terlihat cantik di mataku."


Ucapan Eldric seperti panah cinta yang langsung menusuk ke hati karina. Ini pertama kalinya pria itu memujinya cantik. Entah setan apa yang merasuki pria itu hari ini. Pipi karina bersemu kemerahan.


"Kau tau kau sangat cantik, terutama saat kau mendesah pasrah di bawahku," imbuh eldric lagi.


"Ah ... dasar mesum!"


"Aku hanya memuji Istriku, apa yang salah? karena aku memang sangat menyukainya, apalagi saat kau meracau dan menyebut namaku,"


Karina menutup kedua telinganya. Telinga Karina memerah mendengar semua ocehan absurd suaminya itu.


"Suamiku, kita beli seragam dulu ya," ujar Karina tiba-tiba.


"Seragam? apa kau ingin sekolah lagi? kita sepakat kau akan home schooling bukan."


"Ih ...bukan seragam sekolah tapi kaos couple!"


"Kita sudah punya di rumah, kau sudah membelinya saat kita ke Mall waktu itu," jawab eldric datar.


"Tapi kitakan mau pacaran, masa pacaran pake jas lengkap seperti itu. Nanti aku di kira sugar baby lagi!"

__ADS_1


"Baiklah kita beli sekarang, apa kau senang?"


Karina mengangguk cepat. Ia kemudian memberikan kecupan manis di pipi suaminya.


__ADS_2