
Setelah drama horor tengah malam. Pagi ini terasa sangat indah bagi Karina. Moodnya sedang bagus, terbukti dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Kenapa kau begitu senang hari ini?" tanya eldric sambil memainkan rambut istri. Ia suka sekali melakukan hal itu.
Keduanya duduk di kursi belakang, dengan joe sebagai supir. Karina bersandar manja di bahu suami, ia sungguh nyaman berlama-lama seperti itu.
"Tidak tau, aku hanya sedang bahagia," jawab Karina apa adanya.
"Apa Anda akan menjemput saya hari ini?"
"Akan aku usahakan."
Karina segera melepaskan pelukannya, ia menarik dirinya menjauh dari suaminya.
"Hey, kenapa? aku bilang akan aku usahakan."
"Ya ...ya. Pak Joe bisa anda bisa mempercepat mobilnya. Aku ingin segera sampai di sekolah," ketus Karina.
"Siap Nyonya." Joe menginjak sedikit pedal gas, mempercepat laju mobilnya.
Perjalanan itu kini terasa hening. Suasana hati sang nyonya sepertinya sedang tidak baik. Eldric berusaha membujuk istrinya. Namun, Karina tetap tidak bergeming, ia duduk menjauh dan acuh pada suami. Apalagi eldric memang tidak pandai merayu.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di depan gerbang sekolah. Karina segera membuka pintu mobilnya. Namun, tangannya oleh sang suami.
"Jangan kira kau bisa lolos hari ini," ucapnya dengan seringai.
"Apa?"
Bukannya menjawab Eldric langsung menariknya mendekat. Ia menarik tengkuk istrinya, ********** dengan kasar.
"Emmh ..." Karina berusaha mendorong tubuh suaminya.
"Jangan sampai kau melupakannya lagi, atau aku akan berbuat lebih dari ini," ucap eldric setelah melepaskan tautan bibirnya, ia mengusap lembut bibir mungil karina yang basah karena ulahnya.
"Pemaksa!"
Karina membenahi pakaian dan rambutnya yang. Dengan memberengut kesal iapun keluar dari mobil.
"Dia manis sekali," lirih eldric.
Joe hanya bisa menghela nafas panjang. Kemudian ia mulai melajukan mobilnya menjauh dari sekolah.
Karina terus menggerutu kesal. Ia tidak habis pikir dengan tingkah suaminya yang membuatnya merasa sangat kesal.
"Hei, berapa tarifmu semalam?" seorang murid laki-laki tiba-tiba saja mencegatnya.
"Apaan sih nggak ngerti, minggir sana!" usir Karina.
"Ya elah, gua cuman tanya tarif loe, kenapa marah? dari pada loe maen sama om-om mending kamu sama aku, aku juga nggak kalah kaya kok."
"Eh ... dengerin. Aku nggak sudi ya main kamu, seberapa kaya pun kamu. Emang kamu pikir aku cewek apaan!" sahut Karina kesal.
"Hahaha ...loe bilang, loe cewek apaan. nggak usah munafik deh, satu sekolah juga udah tahu kalau loe cewek panggilan!"
Plaak.
Satu tamparan sukses mendarat di wajah laki-laki itu.
"Jaga mulut kamu!"
__ADS_1
Karina kemudian melenggang pergi meninggalkan laki-laki itu dengan marah.
"Hey sugar baby, ajarin kita dong cari om tajir. Hahahaha...!"
"Hey, sama gua aja. ngapain sama yang tua."
"Hey, semalam di pake nggak sama daddy-nya!"
"Berapa kali sehari ngelayanin daddy."
Karina menutup kedua telinganya, ia sungguh tidak mengerti kenapa semua orang berbicara seperti itu kepadanya. Ia berusaha untuk tidak mendengarkan semua omong kosong yang diucapkan oleh orang-orang itu.
Karina berlari menuju kelasnya. Ia segera duduk di bangku miliknya.
"Karin!" tiba-tiba seseorang berteriak memanggil namanya.
Sebelum Karina sempat menoleh tangannya sudah ditarik oleh seseorang. Hingga ia terpaksa bangkit dari duduknya untuk mengikuti langkah gadis yang menariknya.
"Mau kemana sih?"
"Udah, ikut aja." Adel terus menarik tangan temannya itu.
Adel mempercepat langkahnya. Mereka pun sampai di depan papan mading sekolah. Mata Karina membulat sempurna melihat foto-fotonya dipajang di sana. Bukan sembarang foto, melainkan foto saat ia berjalan-jalan di mall bersama suaminya. Ia dan eldric terlihat begitu mesra dan ada satu foto saat eldric menciumnya. Gambar yang manis, tanpa sadar karina tersenyum sambil menyentuhnya.
"Karin, ini semua nggak benerkan?" tanya Adel heran.
"Ini semua bener. Foto-foto ini, semuanya nyata," lirih Karina.
"Jadi kamu beneran sugar baby!" Adel menutup mulutnya, ia sungguh terkejut dengan pengakuan temannya itu.
"Enggak bukan gitu, ayo aku jelasin."
"Apa sekarang jelasin, kalau kamu emang bukan sugar baby terus kenapa kamu bisa sama om-om kayak gitu?" desak Adel saat mereka sudah ada di perpustakaan.
Tempat yang sepi, cocok untuk menceritakan rahasia.
"Ssttt diem dulu."
"Ok, aku diem. Jelaskan."
Karina menarik nafasnya dalam beberapa kali.
"Om itu suamiku, aku sudah menikah sama dia sebelumnya."
"Apa loe udah nikah!" pekik Adel.
"Ssstt diem, ini perpustakaan." Karina membungkam mulut Adel dengan tangannya.
"Iya aku udah nikah, tapi ini di rahasiakan. Soalnya pihak sekolah nggak mungkin izinin aku sekolah di sini kalau tahu aku sudah bersuami."
Adel pun mengangguk mengerti. Karina menurunkan tangannya, ia kemudian menatap sendu pada buku-buku yang berjajar rapi di rak.
"Aku pingin banget bisa sekolah normal. Ketemu temen, belajar di kelas. Suamiku sudah mengusulkan untuk home schooling aja, tapi aku nggak mau. Aku pengen bisa sekolah seperti yang lainnya, apa itu salah," ujar Karina dengan senyum sendu di bibirnya.
"Enggak ada yang salah, Rin." Adel dengan serta merta memeluk sahabatnya itu.
"Makasih ya, kamu masih mau berteman sama aku,"ucap Karina lirih.
"Ngomong apaan sih, ke kelas yuk. Kelas udah mau mulai." Adel melerai pelukannya.
__ADS_1
Karina menjawabnya dengan anggukan kecil. Keduanya pun berjalan keluar dari perpustakaan sambil bergandengan tangan.
"Wah ...wah sugar baby sama anak haram emang cocok banget sih kalian berdua," sindir sheina. Gadis berambut pirang itu ternyata sengaja menunggu mereka berdua keluar dari perpustakaan.
"Ayo, Rin. Nggak usah ngurusin dia."
Adel menarik tangan Karina mengajaknya segera melangkah menjauh. Ia tidak ingin sahabatnya sampai kena masalah dengan kakak tirinya itu. Adel hafal betul sifat sheina, gadis itu akan terus meneror korbannya sampai ia merasa puas.
"Eh ...mau kemana? loe bisa lari dari gue. Tapi seluruh sekolah sudah tau siapa loe Rin. Hahahaha.... dasar sun*el. udah berapa om yang keluar masuk lobang peranakan loe hah!"
Karina menghentikan langkahnya. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Adel. Telinganya sudah begitu gatal mendengar ocehan monyet pirang itu. Karina membalikkan badannya, ia berjalan mendekati sheina dengan menatapnya tajam.
Plak.
Satu tamparan mendarat di wajah sheina, begitu keras hingga membuat gadis itu tertoleh. Bibirnya robek dan mengeluarkan sedikit darah.
"Berani loe-
Plak..Plak
Dua tamparan ia hadiahkan untuk gadis itu. Sheina memang pipinya yang memerah, ia menatap tajam pada karina. Satu tangannya terangkat keatas untuk membalas tamparan yang di terimanya. Namun, sayangnya Karina menangkap tangan itu lalu menguncinya kebelakang.
"Aaaghh... lepasin!" teriak sheina.
Karina memegangi kedua tangan sheina di belakang dengan satu tangannya. Sementara satu tangan lainnya menjambak rambut pirangnya yang tergerai.
"Sakit heh, makanya kalau punya mulut tuh dijaga!"
Brugh.
Karina menendang lutut bagian belakang gadis itu hingga membuatnya terpaksa bersimpuh. Karina semakin menarik kencang rambutnya membuat sheina semakin mengerang kesakitan.
"Aw.. sakit."
"Bodo. Itu akibatnya kamu mencari masalah dengan Mrs.Hugo!"
Sheina menatap wajah Adel seolah meminta pertolongan. Namun, adel terlihat acuh dan justru menikmati pemandangan di hadapan.
"Kamu ingin pertolongan dari adik tiri yang bahkan tidak kamu akui keberadaannya. Jangan harap!"
Karina mendorong keras tubuh sheina, hingga gadis itu jatuh tersungkur di hadapan adiknya.
"Hei, ada apa ini!"
.
.
.
.
.
.
.
. Yeah 3 bab 🍰🍰🍰🍰🍰
__ADS_1