Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Ke rumah sakit


__ADS_3

Eldric terpaksa menggunakan mobil pribadi untuk sampai di Surabaya, Karena cuaca sangat tidak memungkinkan untuk jet pribadi terbang. Akan sangat beresiko jika ia memaksakan untuk terbang di tengah cuaca ekstrim seperti ini.


Hujan turun dengan deras bersama dengan angin kencang. Mobil yang di tumpangi Eldric melaju dengan kecepatan sedang, karena memang tidak memungkinkan untuk melaju kencang di tengah terjangan hujan angin seperti ini.


"Apa kau tidak bisa mengemudi lebih cepat, dasar siput!"


Baron hanya diam menerima umpatan-umpatan yang di lontarkan oleh Eldric. Belum lagi tuannya itu berkali kali menendang kursi kemudi yang di dudukinya. Pria itu sungguh sangat tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya. Ia sangat khawatir dengan keadaan Karina. Meskipun ia sudah menelfon nomer naoki dan memastikan sang istri baik-baik saja. Sayangnya saat ia melakukan video call Karina sedang tidur, Eldric tidak tega untuk menganggunya.


Perjalanan yang seharusnya hanya membutuhkan waktu 9 jam 16 menit harus lewat tol, harus molor menjadi 11 jam karena cuaca yang tidak mendukung. Jam sembilan malam tepat mobil yang di tumpangi Eldric sampai di pelataran rumah sakit. Hujan sudah reda sejak ia memasuki daerah Surabaya. Eldric bergegas turun dari mobilnya, ia berlari masuk ke rumah sakit tanpa menghiraukan anak buahnya.


Seorang pria tampan sudah menyambutnya. Ia menanti kedatangan Eldric sejak ia mengabarkan kalau dia akan segera sampai.


"Dimana Karina?" tanya eldric langsung.


Wajahnya terlihat begitu cemas.


Naoki tersenyum.


"Silahkan ikuti saya, Om." Naoki pun berjalan mendahului eldric.


Eldric mengerutkan keningnya saat mendengar naoki memangilnya dengan Om. Namun, eldric memilih tidak mempermasalahkannya untuk saat ini.


Setelah melewati beberapa lorong rumah sakit mereka naik lift untuk ke lantai dua, tidak ada pembicaraan antara mereka. Dalam pikiran Eldric sekarang hanya ada istrinya. Setelah lift terbuka naoki segera memimpin langsung menunjukkan kamar VIP yang Karina tempati.


Naoki memutar knop pintu untuk membukanya. Eldric yang tidak sabar, langsung mendorong tubuh Naoki masuk dengan kasar. Hampir saja naoki jatuh tersungkur karena eldric, pria itu melangkah lebar mendekati istrinya yang sedang tidur memunggungi dirinya.


Tangan eldric bergetar, matanya terasa panas. Tangan eldric yang memerah setelah menyentuh naoki dan memang belum membaik menjambak rambut Donna, terulur menyentuh bahu istrinya.


"Karina," panggil Eldric dengan suaranya yang bergetar.


Karina yang tertidur karena pengaruh obat tidak merespon panggilan eldric. Ia tertidur terlalu lelap, ia tidak mendengarkan suara suaminya.


Naoki berjalan menghampiri eldric.


"Biarkan dia tidur Om, dia baru meminum obatnya beberapa saat yang lalu," ujar Naoki.


Eldric hanya mengangguk, matanya tak lepas dari sang istri.


"Om, bisakah kita bicara sebentar?"


"Baik."


Mereka pun duduk di sofa yang ada di sana.


"Om, sebelumnya saya minta maaf atas kelancangan saya," ucap naoki memulai pembicaraan mereka.


"Apa maksudmu?" tanya eldric yang seketika menoleh pada naoki dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Adik perempuan saya di culik pada usia empat tahun. Jika dia sekarang masih hidup usianya sama dengan karina." Naoki menatap Karina dengan penuh kasih.


Eldric yang merasa tidak suka dengan cara Naoki menatap istrinya, berusaha menahan emosi. Bagaimanapun pria muda ini adalah seseorang yang telah menyelamatkan hidup istrinya.


"Saya mengambil sampel darah istri Anda untuk melakukan tes DNA. Dia begitu mirip dengan adik saya, apalagi suster juga melihat tanda lahir berwarna merah di tengkuk leher belakangnya," lanjut Naoki.


Eldric memanggut-manggutkan kepalanya. Ia teringat dengan cerita Karina bahwa ia di temukan oleh orang tua asuhnya di bawah kolong jembatan. Tanda merah di tengkuk leher belakang Karina, itu juga 100 persen benar. Karena eldric sudah hafal tiap inchi dari tubuh istrinya.


"Kapan kau melakukan tes DNA?"


"Kemarin Om," jawab naoki singkat.


"Hem, baik." Eldric bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekati brankar Karina.


"Anda tidak marah Om?"


"Mungkin kalian memang bersaudara," jawab eldric tidak nyambung.


"Kita akan membahasnya lagi besok, sekarang apa bisa kau tinggalkan kami."


"Baiklah, saya saya akan kembali lagi besok."


"Berhenti memanggilku Om!" sentaknya kesal. Telinga Eldric sudah gatal mendengar Naoki memanggilnya om


Naoki hanya tidak menjawabnya, ia hanya terkekeh kecil. Naoki merasa eldric memang lebih pantas di panggil om daripada Abang atau Mas. Ia merasa umur mereka terpaut terlalu jauh.


"Astaga!" pekik naoki, saat melihat seorang laki-laki bertubuh besar, dia memakai sweater lengan panjang berwarna hitam. Namun, naoki masih bisa melihat tato lehernya.


"Maaf mengagetkan Anda," ucapnya dengan senyum yang terlihat seperti seringai menakutkan bagi naoki.


"Eh ...nggak apa-apa." Naoki kemudian bergegas meninggalkan pria itu sambil mengelus dadanya.


"Buset, serem amat. Untung jantung ini buatan Tuhan," gumam naoki sambil mempercepat langkahnya.


Dalam kamar VIP itu tersedia sebuah ranjang yang bisa dipakai untuk tidur penunggu pasien. Namun, eldric malah memilih naik atas ranjang pasien yang di tempati istrinya. Sempit, tapi eldric suka. Ia memeluk Karina dari belakang dengan erat, mengelus lembut perut sang istri.


Eldric mencium pucuk rambut Karina yang kusut karena beberapa sudah tiga hari tidak keramas. Untung saja eldric cinta, kalau tidak Karina sudak di tendang sampai keluar jendela. Semua kejanggalan dalam hidup Eldric hanya berlaku untuk Karina, semua ketidak warasan baginya terasa normal jika itu adalah istrinya.


Merasa ada sepoi angin bercampur sesuatu yang basah di telinganya membuat karina terpaksa merasa risih. Ia merasa sangat terganggu, bagaimana tidak sedari tadi Eldric meniup telinganya.


"Emh ... ngantuk, jangan ganggu," rengek Karina tanpa sadar, ia menggeliat kecil. Mengeluarkan tangannya dari selimut untuk mengusir ngengat yang meniup telinganya.


Karina mengibas-ngibaskan tangan. Eldric terkekeh geli dengan tingkah istrinya Namun, ia seketika berubah geram, saat lihat bekas luka di pergelangan tangan kecil Karina.


Eldric memegangi tangan karina. Ia menatap nanar pada bekas merah yang ada di pergelangan tangan Karina. Matanya memerah dengan otot rahang yang menegang. Ia meletakkan kembali tangan sang istri.


Eldric meraih ponselnya yang ia letakkan di atas nakas. Mengusap cepat dengan tisu basah yang selalu tersedia di kantongnya. Ia melemparkan tisu basah yang ia pakai hingga tepat masuk kedalam tempat sampah yang ada di pojokan.

__ADS_1


Setelahnya, Eldric langsung menghubungi eko.


"Ikat tangan mereka, gantung sampai besok pagi!" perintah eldric geram.


Ia langsung mematikan sambungan teleponnya lalu meletakkan benda pipih itu kembali ke nakas.


Suara Eldric yang begitu keras akhirnya membangunkan Karina. Wanita itu mengerjapkan kedua matanya, ia merasa tangan besar mengelus perutnya.


Karina menundukkan kepalanya melihat, matanya berkaca-kaca melihat tangan itu. Karina menegakkan kepalanya kemudian menoleh kebelakang. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, Karina menyentuh wajah sang suami ada di hadapannya. Memastikan ini bukan mimpi, air mata jatuh perlahan.


"Sayang, suamiku," lirih Karina.


"Ya, Honey."


Karina memeluk erat suami. Tangisnya pecah, dengan terus menyebut nama sang suami. Eldric memeluk erat istrinya, mengusap lembut punggung Karina. Air mata wanita itu membasahi seluruh kemeja eldric, meluapkan segala rasa yang ada di hatinya.


Sementara di mansion.


"Hei, lepaskan Aku!" teriak Donna dengan suaranya yang sudah serak.


"Diamlah, simpan tenagamu!" hardik Helena.


"Kau yang diam, gara-gara rencanamu aku ikut terkurung di sini!" pekiknya kesal.


Helena mendengus kesal, ia sudah merasa sangat jengkel mendengar Donna yang berisik.


Helena lebih memilih menyimpan tenaganya, mereka hanya di beri makan sehari sekali. Itupun bukan makanan nyang yang layak bagi Helena.


Tiba-tiba pintu besi itu terbuka dua orang pria masuk dengan membawa tali tambang.


"Hei apa kau akan melepaskanku?" tanya Donna cepat.


Kedua laki-laki itu tidak menjawab, mereka mendekati dua wanita yang duduk di lantai dengan baju yang sudah compang-camping dengan luka karena cambukan yang mereka dapatkan. Kedua laki-laki itu berjongkok di belakang masih masih wanita, mereka melepaskan ikatan tangan kedua wanita itu.


Awalnya Donna merasa senang, ia berpikir kalau Eldric sudah akan melepaskannya. Namun, ia terkejut saat pria itu kembali mengikatnya dengan tali yang lebih panjang.


"Hei ...apa yang kalian lakukan, bukankah kau mau melepaskan aku!"


"Jangan mimpi!" bentak eko.


Setelah kedua selesai di ikat, Eko mengaitkan ujung tali ke atas besi yang ada di langit langit.


Sreettt.


Eko dan adam menarik tali itu hingga kedua wanita itu tergantung dengan kedua tangannya yang di ikat.


"Haaaa..... turunkan aku dasar bodoh!" Donna terus berteriak sambil meronta.

__ADS_1


Sementara Helena hanya meringis menahan sakit pada tubuhnya. Ia menatap tajam pada dua laki-laki yang berlalu dibalik pintu besi.


__ADS_2