Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Mertua


__ADS_3

Surabaya.


Setelah 1 jam 30 menit perjalanan menggunakan jet pribadi miliknya, ditambah 45 menit perjalanan menggunakan mobil dari bandara kerumah sakit. Akhirnya mobil yang ia tumpangi berhenti sempurna di parkiran rumah sakit. Setelah cakrawala senja mulai menyapa.


Eldric segera membuka pintu mobil. Ia bergegas melangkah masuk ke rumah sakit. Rasa rindunya sudah tidak bisa dibendung, bayangan istri mungilnya sudah menari di pelupuk matanya sedari tadi.


Dominic hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Eldric yang sudah seperti anak ayam yang kalap mencari induknya.


"Mari Tuan," ujar Baron sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Dominic berdiri.


"Siapa namamu?"


"Baron, Tuan," jawabnya sopan.


"Jagalah Eldric dengan baik, Aku tau kau bisa."


"Tentu Tuan, saya akan menjaga tuan Eldric dengan nyawa saya," jawab Baron dengan sungguh-sungguh.


Bagi baron, Eldric adalah pahlawan dalam hidupnya. Ia mengangkatnya dari lembah dunia hitam bersama rekan-rekannya yang sekarang. Baron dan anggota black lain di latih dan dididik oleh Eldric hingga menjadi seperti sekarang ini. Dia yang dulunya hanya dipandang sampah oleh masyarakat, kini bisa menegakkan kepalanya.


Dominic manggut-manggut. Ia bersyukur ada orang-orang seperti baron dan joe di samping Eldric. Ia tahu mereka sangat loyal dan setia pada cucunya.


Mereka berdua pun mengikuti langkah eldric yang sudah berjalan jauh di depan mereka.


"Kenapa kalian lama sekali?" keluh Eldric pada Kakek dan anak buahnya.


Mereka berdiri di depan lift menunggunya terbuka. Eldric terus menggerutu, mengumpat pada lift yang tak kunjung terbuka.


Setelah pintu lift terbuka, Eldric mundur beberapa langkah membiarkan beberapa orang yang sampai untuk keluar dari lift. Setelah itu ia segera masuk.


"Cepat tekan nomer lantainya!" titah Eldric.


"Saya sudah memencetnya Tuan."


"Tekan lagi, lift ini terlalu lambat. Apa lift ini sudah rusak, sial!" umpat Eldric sambil menendang liftnya.


"Diamlah, kau tidak akan membuat liftnya berjalan lebih cepat dengan terus menggerutu seperti itu!" tukas Dominic.


Eldric berdecak kesal. Ia kemudian melipat kedua tangannya di dada berusaha untuk tenang. Meskipun raut wajahnya sangat tidak terlihat tenang.


Pintu lift akhirnya terbuka, Eldric setengah melompat keluar dari lift. Ia melangkah lebar agar segera sampai di kamar istrinya. Setelah mengelap knop pintu ia pun memutarnya.

__ADS_1


"Honey, aku datang." Eldric tertegun, ia membeku di tempatnya.


Karina duduk di antara semua wanita dan pria paruh baya.


"Suamiku!" pekik karina dengan bahagia.


Wanita hamil itu bangkit dari duduknya, ia berlari kecil kearah suaminya yang hanya berdiri di ambang pintu.


"Jangan lari Hon!"


Eldric berjalan maju menyambut istrinya. Ia merasa ngilu melihat karina berlari seperti itu, apalagi perutnya mulai terlihat membuncit. Eldric memeluk istrinya erat tapi masih menyisakan ruang untuk janinnya agar tidak terjepit.


Karina menyusupkan wajahnya di dada bidang sang suami. Menghirup kuat aroma parfum yang bercampur dengan keringat maskulin milik suaminya. Aroma yang sangat ia sukai. Eldric mencium pucuk rambut istri berkali-kali sebelum ia melonggarkan pelukannya.


"Apa kau sudah makan?" tanya eldric lembut sambil mengusap wajah karina.


Karina menengadahkan wajahnya, ia menatap Eldric sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Aku ingin di suapi," rengek karina dengan mulutnya yang manyun lima centi.


Eldric tersenyum lebar. Ia merasa begitu bahagia mendengar keinginan istrinya.


"Kenapa diam? kau tidak mau menyuapi aku ya," rengek Karina manja.


"Aku terpesona oleh kecantikan istriku, sampai aku tidak bisa berkata-kata," gombal Eldric.


Karina tersipu malu, ia kembali menenggelamkan wajahnya di dada Eldric.


"Ehem," Tama berdehem keras. Ia bangkit lalu berjalan menghampiri dia insan yang lupa daratan itu.


"Ada orang lain selain kalian di ruangan ini!" sindiran keras dari Bapak mertua.


Karina melepaskan pelukan, ia membalikkan badannya memamerkan jajaran gigi putihnya pada Papanya. Eldric menelan salivanya kasar, ia merasa begitu gugup bertemu dengan orang tua kandung sang istri.


Siska menghampiri sang suami, ia berdiri di sisi Tama. Dengan seksama ia memperhatikan seorang pria dewasa yang ada di hadapannya. Orang yang selama ini menjaga putri kecilnya yang telah dewasa.


"Jadi ini menantuku?" tanya Siska.


"Iya Ma, ini suami karina."

__ADS_1


"Sayang perkenalkan dirimu," bisik Karina pada sang suami.


Eldric mengangguk, ia menarik nafas dalam-dalam berusaha untuk tidak gugup.


"Perkenalkan saya Eldric Hugo. Suami dari putri Anda dan orang yang telah menghamilinya," ucap Eldric cepat.


"Apa yang kau katakan!" pekik Karina, ia merasa malu dengan ucapan suaminya.


Siska tertawa cekikikan, ia merasa eldric sangat lucu. Sementara Tama, ia memberikan tatapan tajam pada menantu matangnya itu.


"Kau lucu sekali, Baiklah ayo kita duduk," ajak Siska.


"Tunggu sebentar Nyonya, saya juga ingin memperkenalkan Anda dan Suami Anda dengan seseorang," cegah Eldric.


"Siapa?" tanya karina heran.


"Selamat sore," ujar seseorang dari arah pintu.


Mereka berempat pun menoleh kearah sumber suara. Seorang laki-laki tua dengan rambut dan janggutnya yang putih berjalan masuk dengan membawa sebuah kotak kue di tangannya.


"Kenapa kakek lama sekali?" tanya eldric dengan setengah kesal.


"Kakek membeli buah tangan dulu, rasanya tidak pantas mengunjungi cucu menantuku tanpa membawa apa-apa," sahut Dominic.


"Anda baik sekali Tuan, saya harap keramahan Anda juga menurun pada cucu Anda," ujar Tama sambil melirik tajam pada menantunya. Dominic tersenyum miring.


Eldric menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering. Pria itu baru saja mendapatkan sindiran keras dari Papa mertuanya.


"Terima kasih Tuan," ucap Siska sambil menerima kue yang di sodorkan oleh Dominic.


"Tidak usah sungkan Nyonya, memang sudah seharusnya."


Siska tersenyum kecil. Ia Kemudian mempersilahkan semua orang untuk duduk di sofa. Eldric duduk bersama Karina, sang mertua duduk bersama di sofa yang ada di hadapan mereka, sementara Dominic duduk di sofa tunggal yang ada di sebelah kanan.


Siska dan Dominic asik berbincang, sesekali mereka tertawa. Karina hanya bergelayut manja di lengan Eldric sambil memakan potongan kue brownies dibawa oleh sang Kakek, ia memakannya sendiri tanpa disuapi. Keinginannya sudah berganti, ia hanya ingin Eldric ada disisinya. Cukup seperti itu.


Tama menatap tajam pada Eldric yang duduk dihadapannya, sorot matanya begitu tajam seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.


Kenapa Karina bisa menikah dengan pria setua ini? harus bagaimana aku memanggilnya? Nak, hais dia bahkan lebih cocok untuk menjadi temanku. Aku yakin umur kami tidak beda jauh.


Eldric pun menatap sang ayah mertua.

__ADS_1


Bagaimana ini, aku harus memanggilnya apa? Ayah? Kenapa aku merasa geli. Pasti lidahku bisa keseleo saat aku memanggilnya ayah.


Keduanya membuang mukanya kesamping sambil mendesah pasrah.


__ADS_2