Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Menghukum


__ADS_3

Eldric duduk di sofa ruang tengah. Kakinya terbuka lebar, ia menopangkan kedua sikunya di atas lutut. Pria itu menopang dagu di atas tangannya yang bertaut. Mansion sudah sangat bersih saat ia pulang dari rumah sakit. Anak buahnya berkerja dengan sangat baik.


Empat orang pria berdiri di hadapannya, wajah mereka tampak lelah. Namun, mereka tidak mengeluh sama sekali.


"Tuan, saya telah menemukan mobil yang membawa Nyonya pergi. Tapi-


Eldric yang semula menatap kosong, kini sedikit mendongakkan wajahnya menatap baron yang menunduk.


"Tapi apa cepat katakan!"


"Tapi setelah saya sampai di tempat mobil itu berhenti, ternyata beliau tidak ada di sana. Nyonya sudah di bawa dengan mobil lain," lapor Baron dengan menunduk, ia merasa kecewa dengan dirinya yang belum bisa menemukan sang nyonya.


Eldric memejamkan matanya, ia menarik nafas dalam.


"Aku mau nanti siang kau sudah harus memberikan laporan baru!"


"Baik Tuan." Baron dan bagas melangkah mundur.


"Lalu kalian?"


"Ini Tuan." Eko menyodorkan laptop pada tuannya.


Seperti biasanya eldric akan membersihkan barang-barang yang akan di sentuhnya.


Eko mulai menyalakan video yang terekam cctv yang mereka pasang secara tersembunyi dibalik lukisan dan tempat-tempat lain yang tersembunyi. Tempat monitor pun sengaja dipisahkan dari ruang monitor utama.


Mata Eldric menajam melihat gambar yang tertangkap cctv. Rahang Eldric mengeras, wajahnya sampai terlihat bergetar menahan amarahnya. Ia melihat bagaimana Karina di siksa oleh kedua perempuan yang ia kenal sejak lama. Dada eldric naik turun menahan dirinya agar bisa melihat video itu sampai tuntas. Namun,


Prang.


Eldric membanting laptop itu. Ia tidak bisa menahan emosinya. Eldric menendang meja sampai terbalik lalu mulai membabi buta membanting semua benda yang ada di sekitarnya. Eldric menggila, ia menghancurkan ruangan itu, anak buahnya hanya bisa berdiam menepi membiarkan sang tuan melampiaskan kekesalannya.


"Haaaa.....!"


Eldric berteriak dengan nafasnya yang tersengal.


"Apa saya harus menyeret mereka kemari Tuan?" tanya Eko yang sebenarnya ikut emosi karena ia juga telah melihat bagaimana sang nyonya di siksa.


"Tidak perlu, aku yakin mereka akan datang ke sini dengan sendirinya!"


"Siapkan ruang itu, sepertinya aku akan memakainya," imbuh eldric kemudian ia melangkah pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


Keempat orang anak buahnya saling bertatapan. Mereka menelan ludahnya saat Eldric mengatakan ruangan itu. Sebuah ruangan yang ada di bawa tanah mansion itu, ruangan yang dulu menjadi saksi bagaimana kejamnya sang tuan.


Pria itu mengeksekusi semua orang yang berkhianat kepadanya. Kehidupan eldric tidak semerta-merta jaya seperti ini, ia memulainya dari bawah dengan membangun sebuah perusahaan kecil. Namun, karena usaha dan kerja kerasnya Eldric bisa membesarkan usahakan menjadi seperti saat ini. Dalam perjalanan karirnya tak sedikit orang yang berusaha menjatuhkannya. Di ruangan itulah eldric membuat semua orang itu bungkam untuk selamanya, ia tidak bisa menyentuh tapi bukan berarti kita bisa membunuh.


Hari semakin siang.


Sebuah mobil mewah masuk ke mansion. Dua orang wanita berbeda usia turun dengan membawa sebuah paper bag yang berisi makanan. Dengan senyum yang ia buat semanis mungkin Donna melangkahkan kakinya masuk, dengan Helena di sampingnya.


Mereka cukup terkejut melihat keadaan mansion yang tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Namun, mereka berdua segera menguasai diri. Seorang laki-laki memakai pakaian pelayan menyambut kedatangan mereka.


"Siapa kamu, pelayan baru?" tanya Helena, dua kali ia ke mansion dan ia merasa belum pernah melihat pria itu.


"Tidak Nyonya, saya biasanya memang berkerja di belakang. Mungkin karena itu Anda tidak pernah melihat saya," ujar si laki-laki menjelaskan.


"Dimana Nyonya mu? katakan aku ingin bertemu." Helena memulai dramanya.


"Dia tidak ada di sini? kenapa kau mencarinya?" suara bariton eldric membuat perhatian Donna dan Helena teralihkan.


Donna tersenyum sumringah. Ia kemudian berjalan menghampiri Eldric dengan senyum yang menggoda. Ia merasa yakin Eldric akan mulai melihatnya setelah dirinya berhasil menyingkirkan karina.


"El, aku membawakan makan siang untukmu." Donna menyodorkan paper bag yang di bawanya.


"El apa yang kau lakukan?!" pekik Donna terkejut.


Eldric menatap tajam pada Donna. Dengan kuat eldric menarik rambut Donna. Wanita itu menjerit kesakitan, eldric menariknya dengan begitu kuat. Hingga Donna merasa kulit kepalanya akan terlepas.


Melihat anaknya yang berlaku kasar pada donna, ia berniat akan melerai. Namun, Helena di cekal oleh eko, laki-laki bertubuh tegap itu mengunci kedua tangan wanita itu. Ia menyeringai menakutkan menatap pada Helena.


"El apa yang kau lakukan!" jerit Helena saat eldric menghempaskan tubuh Donna dengan kasar ke lantai.


"Bawa mereka!" teriak Eldric menggema.


Seorang laki-laki muncul dari belakang. Ia kemudian menyeret Donna ke ruang bawah tanah, hal yang sama juga dilakukan eko. Pria itu membawa paksa Helena yang terus meronta ke ruangan yang sama.


Ruangan itu kosong. Namun, sangat bersih lantai, dinding dan langit-langit di cat warna merah pekat. Donna dan Helena di lempar dengan kasar ke dalam ruangan itu. Eko mengikat tangan keduanya ke belakang. Kaki mereka di rantai seperti tahanan.


Eldric masuk kedalam ruangan itu. Ruangan yang pekat tanpa jendela yang bisa memberi cahaya dari luar.


"El, apa yang kau lakukan Nak?" tanya Helena dengan air mata buaya betinanya.


Eldric menatap tajam, ia mengisyaratkan pada anak buahnya untuk menyiramkan air dingin yang baru saja mereka bawa.

__ADS_1


Byur.


Tubuh keduanya basah kuyup.


"Sialan kau El, apa yang kau lakukan hah!? salah apa aku? sampai kau memperlakukan aku seperti ini!" oceh Donna dengan dengan geram.


"Apa? kau bertanya apa yang kau lakukan? ini bahkan tidak lebih dari seujung kuku, dari apa yang kau lakukan pada istriku!"


Mata Donna terbelalak, wajahnya pias. Begitu juga helena, ia sudah merencanakan ini semua dengan begitu rapi. Ia bahkan sudah menghancurkan semua cctv di mansion. Eldric tidak mungkin tahu secepat ini.


"Apa maksudmu?" tanya Helena pura-pura.


"Kau diam, dasar wanita tidak tahu malu!"


"Aku Mamamu El, kenapa kau menghina Mamamu sendiri!" pekik Helena dengan isak tangisnya.


Eldric merasa sangat geram. Ia tidak bisa lagi menahan dirinya, meskipun merasa jijik.


Eldric mencengkeram kuat rahang Helena, ia mendekatkan wajahnya. Menatap tajam dengan matanya yang memerah.


"Aku berharap tidak pernah terlahir dari iblis sepertimu!"


Mata Helena melebar mendengar ucapan anak semata wayangnya dari pernikahannya dengan Alano Hugo.


Eldric menghempaskan rahang Helena dengan kasar. Menyisakan rasa sakit pada wanita paruh baya itu. Helena menatap nanar pada Eldric. Ia menggelengkan kepalanya


Tidak mungkin anak ini tahu semuanya, gumam Helena dalam hati.


"Aku tahu apa yang kalian lakukan pada Karina dan juga berto. Aku akan membalasnya berkali kali lipat dari apa yang kalian lakukan!"


"Apa maksudmu?!" tanya Donna ketakutan.


"Eldric lepaskan aku, Eldric!" pekik Donna sambil meronta.


Tatapan Eldric sangat menakutkan, dengan mata merah dan sorot matanya yang tajam. Eldric tidak menjawab. Ia berlalu mendekati Eko.


"Cambuk mereka 20 kali, kemudian siram dengan air garam. Setelah kau melakukan tugasmu, kunci tempat ini.Tidak ada yang boleh masuk tanpa izinku!" tegas Eldric.


"Baik Tuan," jawab Eko mengangguk patuh.


Eldric melangkah meninggalkan tempat itu, hatinya hancur. Ia sudah lama kehilangan sosok ibu dalam hidupnya. Namun, ia tidak menyangka ia akan menghukum ibunya di mansionnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2