
Setelah menyelesaikan makan malam Eldric terus saja mengikuti langkah istri seperti anak ayam. Kemanapun kaki kecil itu melangkah Eldric akan berada di belakangnya.
"Is ... Kenapa sih kamu ngikutin terus?" keluh karina.
"Kamukan udah janji, Honey."
"Janji apa? ish jangan deket-deket dong gerah nih." Karina berusaha melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya.
"Baiklah." Eldric melepaskan pelukannya.
Ia mengubah posisinya, merebahkan kepalanya di paha karina. Ia memegang tangan karina menuntunnya untuk mengusap kepalanya. Karina tersenyum kecil, ia mulai menyugar rambut coklat Eldric sambil memijatnya pelan.
Keduanya sedang menikmati acara televisi, sebuah drama Korea yang menceritakan tentang hotel tempat menginap bagi orang yang sudah meninggal dunia. Sesekali karina berdecak kagum pada sang aktor yang tampak begitu tampan dan memukau.
Telinga Eldric merasa risih saat Karina terus mengelu-elukan aktor tampan itu. Eldric meraih remote yang ada di tangan istrinya, lalu memindah channel TV.
"Kok di pindah sih!" protes Karina.
"Acara jelek, nggak baik buat Babys," tukas eldric datar.
Karina memanyunkan bibirnya, eldric memindahkan Chanel tv dan memaksanya menonton acara kartun. Padahal ibu hamil itu sedang seneng senengnya liat wajah bening oppa oppa-oppa korea.
Setelah beberapa saat akhirnya karina menguap bosan. Apalagi acara yang dilihatnya bukan yang ia inginkan saat ini, sudah berkali-kali ia mengganti channel. Namun, detik itu juga Eldric akan memindahnya lagi. Akhirnya karina mengalah membiarkan layar datar itu menampilkan
"Suamiku aku ngantuk, pahaku juga sudah kebas," keluhnya.
"Sayang Suamiku!" panggilannya lagi karena eldric tidak kunjung menyahut.
Karina menundukkan kepalanya, ia tersenyum melihat suaminya telah tertidur pulas di pangkuannya. Ia mengusap lembut wajahnya suaminya yang sudah ada guratan umur di sekitar matanya, bukannya terlihat tua itu malah menambah ke tampanannya. Karina sungguh tidak menyangka ia bisa menikah di usia yang masih muda dengan pria sematang Eldric.
Tak pernah sekalipun terbersit di benaknya, kehidupan akan membawanya sampai ke tahap seperti ini. Menikah dan hamil di usianya yang masih belia.
"Terima kasih Suamiku, terima kasih telah memberikan aku kehidupan yang nyaman tanpa harus aku bersusah payah untuk mencari pendapatan seperti kehidupanku sebelumnya. Kau tahu aku harus menjadi seorang laki-laki untuk menutupi identitasku, waktu itu aku takut-
"Kenapa kau harus takut, hem?" Eldric membuka matanya.
"Kau bukannya tidur!" pekik Karina terkejut.
__ADS_1
Eldric bangkit dari pangkuan istrinya. Ia segera mengangkat tubuh mungil istrinya dalam dekapannya. Ia membawa Karina dalam peraduan kasih mereka.
Eldric merebahkan tubuh istrinya di ranjang dengan perlahan, kemudian ia pun membaringkan dirinya di sisi istrinya.
"Sekarang ceritakan, apa yang membuatmu takut?" tanyanya sambil mengecup lembut bibir mungil karina.
"Itu ...emh."
"Kau tidak ingin menceritakannya. Tidak apa-apa, aku akan menunggumu siap Honey."
"Aku ...lari dari seorang mucikari yang mau menjualku!"
Flashback on.
"Karin, cepat kirimin kue ini ke Mama iren!" perintah seorang wanita paruh baya, yang tak lain adalah ibu asuhnya Munah.
"Tapi Bu, ini sudah malam."
"Kamu ya di suruh gitu aja bantah. Apa kamu nggak tau, Bapakmu sama aku tuh dan ngeluarin duit banyak buat ngerawat kamu sampe gede gini. Di suruh gitu aja nggak mau, dasar anak nggak tau balas budi kamu!"
"Iya ..iya Bu aku anterin," ujar karina pasrah.
Karina mengambil keranjang kue yang ada di atas meja. Ia pun segera keluar dan mengayuh sepeda onthel bekas miliknya.
Sebenarnya karina sangat enggan pergi kerumah Mama Iren, karina sangat merasa tidak nyaman di sana. Dentuman musik keras dan bau minuman yang menyengat membuatnya merasa tidak nyaman.
Setelah cukup lama mengayuh sepedanya akhirnya ia sampai di sebuah rumah besar yang ramai. Lampu kelap-kelip menghiasi rumah itu, pria dan wanita saling mematuk tak melihat tempat.
"Taruh kue ambil uang pulang," ujar karina menguatkan dirinya.
Ia mengambil nafas dalam. Karina menyandarkan sepedanya di sebuah pohon. Dengan berat hati ia melangkah masuk. Beberapa pria menatapnya dengan lapar seolah ia adalah mangsa segar yang siap di santap.
"Karina, kamu mau gabung di sini?" tanya seorang wanita yang berpakaian sangat minim.
"Nggak Mbak, saya cuma mau anter ini." Karina menunjukkan keranjangnya.
"O, gabung aja napa. Lumayan lho, kalau perawan mahal," ujar wanita itu sambil terkekeh.
__ADS_1
Karina hanya tersenyum kecut. Ia kemudian melewati wanita itu kemudian melangkah menuju bar tempat Mama Iren biasa mengawasi anak-anaknya.
"Mama ini kuenya," ucap Karina takut-takut, apalagi di belakang Mama iren ada dua bodyguard dengan badan yang besar.
Mama Iren tidak menjawab ia malah mengisyaratkan dua bodyguard-nya untuk menangkap Karina.
"Eh ... saya cuma mau antar kue Ma, kenapa saya di pegang seperti ini," ujar karina sambil berusaha meronta.
"Munah sudah jual kamu 50 juta, kamu milik saya sekarang." wanita bertubuh gemuk itu menyeringai memperlihatkan gigi emas miliknya.
"Enggak, nggak mungkin. Saya tidak mau!" Karina berteriak meronta. Namun, tenaganya kalah kuat.
Kedua pria itu melempar Karina ke dalam sebuah kamar. Lalu tak lama kemudian seorang laki-laki hidung belang datang, untuk menikmati tubuh Karina. Tanpa pria itu sadari Karina menyembunyikan vas di belakang tubuhnya.
"Hehehe gadis cantik, kamu akan memuaskan aku malam ini." pria itu menyeringai mendekati Karina.
Setelah pria itu cukup dekat Karina memukul kepalanya berkali kali dengan vas bunga dari perunggu yang ada di ruangan itu. Pria itu sempat menendang Karina dan membuatnya jatuh terjerembab. Karina terus melawan hingga pria itu tidak sadarkan diri karena darah yang terus mengucur dari kepalanya.
Karina kabur dari jendela. Para penjaga rumah bordil itu pun mengejarnya sampai akhirnya ia bertemu dengan Bang Toyib dan di selamatkan oleh pria itu. Bang Toyib memberikannya tempat tinggal dan makanan.
Para antek Mama iren terus mengejar karina dan mencari keberadaannya. Dari situlah dengan usulan dari istrinya Bang Toyib karina bersembunyi dibalik sosok Rizky.
Flashback off.
Karina terisak dalam pelukan suaminya. Ia mengingat bagaimana takutnya saat pria asing itu akan menjamahnya.
Eldric memeluk erat istrinya. Ia tidak menyangka karina mengalami hal yang begitu menyakitkan.
"Kau aman Hon. Aku akan selalu menjagamu, tidak ada lagi yang perlu kau takutkan,ok," ucap Eldric dengan sungguh-sungguh.
Karina mendongakkan wajahnya ia menatap lekat pada manik mata suaminya. Tak ada keraguan di sana. Karina bisa merasakan bagaimana ketulusan suaminya mengucapkan hal itu.
"Janji ya, jangan tinggalkan aku."
"Ti amo, ti sei la mia anima."
["Aku mencintaimu, kamu adalah jiwaku."]
__ADS_1
Eldric mengecup lembut bibir mungil istrinya. Karina tidak mengerti apa yabg di ucapkan suaminya. Namun, itu begitu indah mengalun merdu di telinganya.