
Eldric tetap bertahan duduk bersila di depan pintu kamar, ia bisa saja mengambil kunci cadangan atau menyuruh anak buahnya untuk membuka paksa. Namun, ia takut itu akan membuat istrinya bertambah marah.
Eldric tak henti menatap layar ponselnya, ia berharap karina membalas pesan yang di kirimnya. Nihil tak satupun pesan yang di balasnya.
Rentetan kata maaf, sudah eldric tuliskan. Namun, tetap tidak bisa meluluhkan hati istri kecilnya. Eldric mendesah pasrah ia menundukkan kepalanya menatap kedua kakinya yang dilipat sempurna.
"Astaga karin, kau sungguh tega menghukumku seperti ini. Aku sungguh tersiksa sayang," keluh eldric pada lantai marmer mansionnya.
Mansion sudah sangat sepi, mungkin semua orang sudah tidur. Hanya penjaga di luar yang masih terjaga.
Klek.
Bunyi knop pintu yang dibuka dari dalam. Eldric terlonjak kaget, ia seperti mendengar suara pintu surga yang di buka. Ingin sekali ia segera bangkit dan masuk, tetapi kakinya terasa kram. Mungkin karena faktor usia, dengan susah payah el berusaha untuk bangun.
"Sial, pake kram!" umpat el pada dirinya sendiri.
Pintu kamar hanya di buka sedikit saja. Setelah berhasil berdiri tegak, el mendorong pintu kamar dengan perlahan. Gelap, itu yang pertama kali ini lihat. Ruangan itu sepi, hening Tano suara. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
"Honey, Sayangku," panggil eldric, tetapi tak ada jawaban.
Eldric meraba-raba dinding di sebelah pintu untuk menyalakan lampu. Ia berusaha menekan saklar lampu. Namun, tak satupun lampu di kamarnya menyala. Aneh.
"Apa konslet?" gumam eldric.
Eldric kemudian menyalakan senter di ponselnya. Saat sorot lampu mengenai lantai sebuah kertas berwarna merah menarik perhatiannya. Ia kemudian mengambil kertas itu.
Kau orang yang menyebalkan saat kita pertama bertemu.
Eldric mengerut keningnya saat membaca tulisan di kertas itu.
Eldric mengayunkan kakinya selangkah lagi dan menemukan satu kertas lagi.
Kau pria paling pemaksa yang pernah aku kenal.
Isi kertas kedua.
Aku seperti lilin yang menyala di kegelapan saat kau menyatakan cintamu.
Kertas ketiga yang eldric temukan.
Kau adalah cintaku, matahariku, kau adalah tempat aku untuk pulang, suamiku.
Seketika lampu kamar menyala. Seorang wanita cantik memakai gaun berwarna putih berdiri tak jauh darinya. Rambutnya tergerai indah, karina merentangkan kedua tangannya menyambut eldric.
"Selamat datang Suamiku," ucapnya dengan senyum manis.
Eldric melangkah cepat, ia memeluk Karina dengan erat.
"Kau membuatku takut," ucapnya lirih.
"Maaf aku hanya ingin memberikan kejutan untukmu," jawab karina.
Eldric mengerutkan keningnya, ia melonggarkan pelukannya agar bisa melihat wajah sang istri dengan jelas.
"Kejutan apa Sayang?"
__ADS_1
"Sesuatu yang akan kau sukai," bisik Karina dengan suaranya yang menggoda.
Karina mengalungkan tangannya di leher eldric, sedikit menarik tengkuk eldric agar menunduk. Karina mel"mat lembut bibir tebal suaminya, penyatuan yang begitu menggoda. Eldric membalas ciuman sang istri dengan menggebu, ia kemudian mengangkat tubuh mungil istrinya dan menggendongnya seperti koala.
"Kita duduk di sofa Sayang," pinta karina setelah melepaskan tautan bibirnya.
"Sesuai perintahmu, Honey." Eldric membawa karina duduk di sofa.
"Aku yang akan memimpin kau tidak boleh bergerak!"
"Tunggu, kita belum boleh melakukannya bukan?" tanya eldric penuh selidik.
"Aku sudah berkonsultasi dengan dokter Sayang jangan khawatir. Apa kau tidak merindukanku?"
"Kau tau bagaimana aku menahannya selama ini Honey," jawab eldric.
"So, let's do it."
Karina mulai beraksi ia menghujani wajah dan leher suaminya dengan kecupan mesra yang membuat eldric semakin terbakar.
Satu persatu baju yang melekat di tubuh mereka mulai terlepas, hingga menyisakan dua tubuh polos. Masih dengan posisi yang sama, karina memulai permainan mereka.
Suara manja mulai memenuhi ruangan itu, permainan dilakukan dengan lembut dan sangat hati-hati. Eldric tidak ingin melukai istrinya, meskipun ia begitu menggebu untuk melakukannya.
😍😍😍😍
Matahari mulai bersinar, dua manusia berbeda jenis masih meringkuk dalam selimut. Mereka masih lelah dengan olahraga yang mereka lakukan semalam.
"Emmmhhhhh .... udah pagi ya," gumam karina sambil menggeliat kecil.
"Aku bahagia bisa melakukannya bersamamu, Sayang." Karina membelai lembut wajah suaminya yang masih memejamkan mata.
"Kita harus bangun, zoe pasti sudah bangun."
"Zoe, aku hampir lupa." Eldric menepuk jidatnya.
Eldric langsung bangkit kemudian menggendong istrinya ke kamar mandi. Mereka memutuskan untuk membersihkan diri bersama, agar lebih cepat.
Setelah keduanya selesai dan rapi, mereka bergegas keluar dan mencari zoe di kamar bermanfaat.
Bayi cantik itu sedang bermain dengan kedua oma cantiknya.
"Zoe," panggil karina.
Ia kemudian menghampiri mamanya yang sedang memangku sang putri kecil. Sementara eldric berhenti di ambang pintu.
"Maaf ya Ma, ngerepotin," ucap karina dengan tak enak hati.
"Enggak apa-apa kok, zoe nggak rewel. Malahan mama seneng bisa tidur sama zoe," jawab siska.
"Makasih ya Ma, terima kasih juga mama arie."
"Sama-sama Sayang," sahut arie.
"Kak cleo mana Ma? kok nggak kelihatan?" tanya karina pada arie.
__ADS_1
"Lagi terima vc sama suaminya. Baru di tinggal beberapa hari aja udah kelabakan tuh naoki," imbuh arie.
"Bukannya Mbak juga sama, semalam ngapain hayo. Kan Mbak juga vc sama suami," sindir siska.
"Hus Mbak Siska, buka kartu aja."
Ketiganya pun tergelak, karina sungguh bahagia bisa menemukan mamanya. Mama arie juga sangat baik padanya, meskipun ia belum mengenalnya lama.
"Gimana sukses? tanya arie setelah berbisik.
Karina tersipu malu, ia hanya menjawab pertanyaan arie dengan anggukan kepala.
"Cie yang baru buka puasa," goda arie, ia melihat kearah eldric. Wajah pria itu begitu bersinar seperti pantat panci yang batu di bersihkan, mengkilap.
"Ish Mama arie ah," rengek Karina malu-malu.
"Mbak jangan di goda terus dong," sahut siska.
"Aku kan cuma becanda Mbak."
"El," panggil arie.
"Iya Tante," jawab eldric tanpa berpindah tempat.
"Kamu jago deh nanem stroberinya, tapi tante ingetin jangan banyak-banyak nanti di kira kena kurap istrimu."
"Kebun stroberi gimana maksud Tante?" eldric mengerutkan keningnya heran.
Sementara karina yang mengerti, tersipu malu. Ia segera merapatkan kerah bajunya.
Arie bangkit dari duduknya ia kemudian memalingkan tubuh Karina agar menghadap suaminya.
"Rin, jangan di rapetin gitu dong. Buka dulu deh," titah arie.
"Malu Ma," rengek karina.
"Lha makanya biar nggak malu lagi."
Dengan enggan Karina melepaskan cengkraman tangan dari kerah bajunya.
"Noh, lihat. Kebun stroberi yang kamu tanem pada kembang semua."
Eldric menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Semalam ia terlalu bersemangat hingga tidak sabar bertanam sebanyak itu.
"Lain kali tanem stroberi di tempat lain, kalau di sini kelihatan banget, udah gitu lama lagi ilangnya. Kalaupun mau cukup dua sampai lima buat tanda, jangan sampai puluhan gini. Kamu nggak kasihan liat istri kamu kayak kena penyakit gatal gini."
"Mama arie ah ..." rengek Karina malu.
"Udah Mbak, jangan di godain terus. Kasihan karina."
"Rin, ajak suamimu sarapan gih."
"Iya Ma," jawab karina.
Secepat kilat ia meninggal tempat itu, dengan menggeret lengan suaminya.
__ADS_1