Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Keputusan


__ADS_3

Suasana di ruangan itu sangat tegang. Sheina terlihat ketakutan. Sementara rey yang melaporkan kejadian itu pun diam seribu bahasa, ia juga tidak ingin mempertaruhkan jabatannya sebagai ketua OSIS jika ia sampai salah memihak. Melaporkan kejadian itu tanpa mengetahui kebenarannya saja sudah sebuah besar. Jadi ia lebih memilih dua dan melihat saja.


Sheina terus menerus menyenggol lengannya. Namun, rey tetap tidak bergeming. Ia dia seperti patung. Pria itu tidak ingin terseret lebih jauh.


"Baiklah, kalau begitu kita akan mendengarkan alasan Karina, kenapa dia sampai mengotori tangannya untuk menyentuh gadis itu."


Eldric melirik sekilas pada sang istri. Karina pun tersenyum tipis kemudian bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke depan sang kepala sekolah lalu memberikan secarik kertas yang terlipat rapi.


"Apa ini?" tanya wanita itu.


"Silahkan Ibu membukanya."


Wanita itu pun membuka lipatan kertas itu. Matanya terbelalak melihat gambar dan membaca tulisan yang tertera di sana.


"Ini."


"Iya, itu foto saya bersama Om Eldric, dan tulisan itu di tulis oleh sheina. Gambar itu terpampang di mading sekolah! jika anda tidak percaya, anda bisa mencocokkan tulisan itu dengan buku catatan sheina."


Kepala sekolah itu menatap tajam pada sheina, gadis itu kini hanya bisa menunduk malu. Ia tidak menyangka jika semuanya akan berbalik padanya.


"Sekarang bagaimana? apakah hanya keponakan saya yang akan mendapatkan hukuman." Eldric menyilang kaki kemudian melipat kedua tangannya. Sudut bibirnya terangkat, ia menatap sang kepala sekolah dengan tajam.


Muka wanita itu mendesah pasrah sembari melipat kembali kertas yang ada di tangannya.


"Baiklah kalau begitu masing-masing dari kalian mendapatkan skorsing 1 minggu, dan selama itu kalian di wajibkan menyalin buku yang akan saya berikan, dan kalian harus menulisnya bukan mengetik!" tegas wanita itu.


"Rey, sheina, Adel kalian boleh keluar."


"Baik, Bu," jawab ketiganya serempak.


Ketiganya pun bangkit dari duduknya, kemudian mereka keluar dari ruangan itu. Sekilas sheina melirik tajam pada karina, dibalas senyuman sinis oleh gadis mungil itu.


"Tuan, terlepas dari masalah tadi, saya ingin menanyakan sesuatu kepada anda dan karina."


"Silahkan," jawab karina tenang, sepertinya gadis itu bisa menebak apa yang akan di tanyakan wanita itu.


Wanita itu kembali membuka lembaran kertas yang ada di mejanya. Ia kemudian menunjukkan salah satu gambar yang menunjukkan keintiman yang berlebih jika hubungan mereka hanya paman dan keponakan saja.


"Sebenarnya apa hubungan Anda dengan karina Tuan? saya rasa kalian bukan paman dan keponakan."


"Dia suami saya," jawab karina dengan tegas.


"Karina." Eldric menatap heran pada istrinya.


Gadis itu begitu kekeh untuk kembali bersekolah dan menolak saat eldric menyuruhnya untuk home schooling. Namun, sekarang ia dengan tegasnya membeberkan hubungan mereka, dan itu artinya ia harus menerima konsekuensi untuk tidak bisa melanjutkan sekolah di tempat itu.


Karina menoleh kearah suaminya dengan senyum kecil tersungging di bibirnya. Senyuman yang begitu tenang dan manis seolah dia tidak akan kehilangan apapun.

__ADS_1


Kepala sekolah itu mendesah sembari memijit pelipisnya. Ia kemudian menggenggam erat tangannya lalu mengambil nafas dalam.


"Maaf Karina, tapi kami tidak bisa menerimanya. Itu akan merusak reputasi sekolah kami, jika sebelumnya kalian jujur dengan hubungan kalian kami tidak akan pernah menerimamu sebagai murid."


"Apa! kau ingin mengeluarkan istriku hanya karena statusnya. Bukankah tidak ada undang-undang yang melarang seseorang yang telah menikah untuk melanjutkan sekolahnya. Apa bedanya dia dengan gadis lainnya, mereka sama bukan. Mereka berhak untuk mendapatkan pendidikan yang sama!" ujar Eldric geram.


Meskipun ia tahu, ya eldric sangat tahu bahwa sekolah elit seperti itu tidak akan mentolerir hal-hal semacam ini. Namun, tetap saja ia merasa tidak terima akan hal itu.


"Maafkan kami Tuan, saya tahu apa yang anda katakan adalah benar. Namun, ini semua menyangkut nama baik sekolah kali Tuan, dan juga saya tidak ingin ini mempengaruhi murid lainnya."


"Cih ... persetan dengan nama baik. Sebelum kau mengeluarkan istriku, dia yang mengundurkan diri dari sekolah ini!"


Eldric bangkit dari duduknya, ia menarik tangan mungil istrinya kemudian menyeretnya keluar dari ruangan itu. Dengan marah Eldric melangkahkan kakinya menuju parkiran mobilnya.


"Suamiku pelan-pelan."


Langkah karina terseret, ia hampir saja terjatuh karena tidak bisa mengimbangi langkah lebar suaminya itu.


"Masuk," titah eldric setelah membuka pintu mobil untuk Karina.


Karina mengangguk kecil lalu masuk kedalam mobil dengan patuh. Eldric melangkahkan kakinya memutar untuk kemudian duduk di kursi kemudi.


Wajah Eldric masih terlihat tegang. Amarahnya tampak jelas di sana. Karina memeluk erat tubuh kekar suaminya, ia menyusupkan tubuh mungilnya di ketiak sang suami.


"Sudah ya jangan marah, semua sudah terjadi," ucap Karina dengan lembut.


Api yang sedang membara itu kini perlahan padam. Nafas Eldric perlahan mulai teratur, satu tangannya terangkat mengusap lembut rambut istrinya kemudian ia mengecup dalam pucuk kepala Karina.


Karina melepaskan pelukan, ia menatap sang suami dengan heran.


"Suamiku apa anda gila?"


Tawa eldric mereda seketika. Ia menoleh kearah Karina.


"Aduh .. sakit! kenapa Anda menyentil kening saya?" keluh Karina sambil mengusap keningnya yang memerah.


"Karena kau mengatakan aku gila!"


"Saya tidak mengatakan itu, saya hanya bertanya. Lagi pula Anda terlihat aneh, baru saja marah-marah kemudian anda tiba-tiba saja tertawa. Atau jangan-jangan Anda kesurupan tuyul bodong, gawat! Anda harus segera dirukyah!"


Eldric menggelengkan kepalanya, ia benar-benar merasa gemas dengan istrinya itu. Di ruangan kepala sekolah tadi ia melihat sosok Karina yang tegas dan kuat, sementara sekarang ia melihat sosok yang polos dan mengemaskan. Ah ... eldric benar-benar telah di buat jatuh cinta dengan kelengkapan gadis itu.


Eldric mengatur kursi kemudinya menjadi agak mundur. Ia tidak mengindahkan Karina yang terus mengoceh tentang hal-hal mistis tidak jelas.


"Kemari!" eldric menepuk pahanya.


"Kemana?" tanya karina pura-pura polos.

__ADS_1


"Naik kemari atau aku yang akan mengangkatmu!"


Karina pun mulai naik ke atas pangkuan suaminya sendiri bibirnya yang mengerucut.


"Seperti ini kan."


Karina duduk dengan kedua kakinya terbuka sambil menghadap kearah suaminya. Eldric tersenyum miring.


"Kau tau apa yang aku inginkan, lakukan itu istriku," bisik eldric lirih di telinga istrinya.


"Tapi kita di parkiran sekolah, bagaimana kalau ada yang melihat," jawab karina gugup.


"Aku hanya ingin ini, kau pikir apa.


Eldric menarik tengkuk istrinya, menabrakkan bibir mereka berdua, pelan tapi pasti ia *****@* bibir mungil itu dengan dalam. Karina melingkarkan tangannya di leher eldric, tautan bibir mereka semakin dalam. Tangan Eldric mulai berkelana di balik seragam yang di pakai Karina.


"Ah .. mohon pelan."


Karina berusaha menahan desahannya. Saat lidah suaminya sudah mulai menyusuri leher jenjangnya dan kedua tangan kekarnya sibuk meremas squshy yang ada dibalik pengamannya.


Karina mengigit bibir bawahnya, sentuhan suaminya itu membuatnya merasakan gelayar hangat di seluruh tubuhnya. Tiap kecupan yang mendarat di tubuhnya membuat Karina terbakar, semakin ingin lebih.


"I want it."


"Jangan di sini," jawab Karina terbata dengan nafasnya yang tersengal.


Eldric mengeluarkan tangannya dari balik seragam istrinya. Ia mulai menyala mesin mobilnya.


"Suamiku, aku akan duduk di sana."


"No, tetap seperti ini!"


"Baik."


Karina menyandarkan kepalanya di bahu Eldric, sesekali ia mengecup leher kokoh suaminya.


Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan sekolah Karina. Mencari tempat teraman untuk melanjutkan kegiatan mereka.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


🤧🤧🤧


__ADS_2