Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Pembalasan Mirah


__ADS_3

Karina berbaring diatas brankar rumah sakit, dengan bagian perut yang terbuka. Seorang dokter wanita yang sengaja di pilih El untuk menjadi dokter yang menangani Karina sejak awal. Pria itu tidak akan rela jika laki-laki lain melihat bagaimana tubuh Karina.


"Bayinya sehat, air ketubannya juga cukup, tapi masih harus berhati-hati ya. Kehamilan Anda sangat spesial Nyonya," ucap sang Dokter sambil menggerakkan alat medis di atas perut Karina yang sudah diolesi gel.


Eldric dan karina tak kuasa menahan air mata mereka saat melihat kedua buah hati mereka yang ada di monitor. Satu Minggu sekali mereka melihatnya, tetapi mereka selalu saja mereka haru bercampur sedih. Eldric kembali merasakan kekecewaan pada dirinya saat melihat satu bayi mungil yang ukurannya jauh dari saudaranya yang yang sudah tumbuh besar, ia hanya diam tak bergerak.


Karina mengeratkan genggaman tangannya, membuat Eldric mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Karina menatap suaminya dengan lembut seolah mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja. Eldric mengangguk, ia mengusap sudut matanya yang basah.


"Pemisi Nyonya," ucap suster sebelum ia membersihkan sisa gel dari perutnya.


Karina hanya mengangguk pelan. Ia tak melepaskan tatapannya dari sang suami. Karina tau apa yang El rasakan karena ia pun merasakan hal yang sama. Namun, mereka berdua harus kuat untuk buah hati mereka yang masih bertahan.


Setelah selesai melakukan USG, kedua keluar dari ruangan itu.


"Aku akan menebus obatnya, tunggu di sini Ok," ucap eldric lembut, ia mencium kening istrinya.


Setelah memastikan Karina duduk dengan nyaman, Eldric melangkahkan kakinya menjauh menuju ke tempat farmasi. Karina mengusap perutnya dengan binar bahagia di wajahnya.


"Mommy sudah sangat tidak sabar menggendong kalian."


Seorang wanita paruh baya berjalan mendekat kearah Karina langkahnya tertatih seperti sedang kesakitan, bajunya terlihat lusuh, ia menggunakan masker yang menutupi wajahnya. Wanita itu melewati karina sambil terbatuk-batuk.


Karina yang merasa iba dengan ibu itu pun memanggilnya. "Bu, mau kemana?"


Wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya kemudian menoleh. Ia berhenti tepat di depan karina.


"Saya mau beli minuman Nyonya," jawab wanita itu dengan suara yang serak.


"Ini saja Bu, nggak usah beli." Karina menyodorkan sebotol teh kemasan miliknya yang belum ia buka.


"Maaf Nyonya saya tidak bisa minum minuman seperti itu, saya nanti tambah batuk," tolaknya dengan halus.


Pakaian yang di pakai wanita itu tampak lusuh, ia hanya memakai sendal jepit dan rambut yang di biarkan terurai.


"Oh maaf, hanya ini yang saya punya." karina kembali menarik tangannya, kemudian ia meletakkan teh botol itu di sebelahnya.


Wanita itu tidak melanjutkan langkah, ia seperti ingin mengatakan sesuatu pada karina.


"Ada apa Bu? apa Anda ingin mengatakan sesuatu?" tanya Karina yang merasa diperhatikan.


"Anu ..Boleh saya minta tolong," jawabnya ragu-ragu.


"Kalau bisa pasti saya tolong."


"Saya tidak bisa membeli minuman dari mesin kotak itu Nyonya, saya orang kampung. Biasanya saya juga minta tolong orang," jawabannya sambil tertunduk.


Di lorong yang ada di sebelah kanan kamar mandi dan ruang ICU memang terdapat mesin penjual otomatis yang menyediakan beberapa minuman kemasan dan air mineral.


Karina tersenyum, ia kemudian berusaha untuk bangkit dari duduknya. Melihat wanita hamil itu kesusahan berdiri, wanita paruh baya itu membantunya.

__ADS_1


"Terima kasih ya Bu," ucap karina.


Wanita itu menjawabnya dengan anggukan.


"Mari Bu, kita kesana."


"Nyonya mau bantuin saya?" tanya wanita itu tidak percaya.


"Iya, ayo." Karina melangkah mendahului wanita itu.


Mereka berjalan beriringan, tak ada percakapan yang berarti di antara mereka. Karina hanya memfokuskan diri untuk berjalan dengan hati-hati, jujur saja di usia kehamilan yang sekarang. Sekedar berjalan tanpa bantuan orang di sisinya sangatlah susah. Karina juga tidak bisa meminta wanita itu untuk memegangi tangannya, karena ia juga berjalan dengan tertatih.


Setelah cukup lama berjalan akhirnya mereka sampai di depan mesin penjual otomatis di sana lumayan sepi, karena lorong ini menghubungkan kamar jenazah yang tak banyak orang mau untuk melewatinya.


Karina mengeluarkan beberapa uang dari tas selempang kecilnya.


"Ibu mau minum apa?" tanya karina setelah ia memasukkan uangnya kedalam mesin.


"Air biasa saja Nyonya," jawabannya, suaranya terdengar sangat serak, mungkin karena batuk yang di deritanya.


"Yang ini?" Karina menunjuk salah satu air mineral kemasan yang terlihat dari kaca.


"Iya, kalau boleh sama yang ini." wanita itu menunjuk minuman kaleng bersoda.


"Iya tentu saja boleh."


Karina sibuk memilih minuman, ia memutuskan untuk membelikan beberapa botol itu wanita itu. Beberapa petugas medis melewati mereka, dan Karina nyapa dengan ramah.


"Maaf Nyonya saya juga tidak bisa, pinggang saya sakit sekali kalau di gunakan untuk merunduk," kilahnya.


"Baiklah."


Satu persatu botol itu keluar dari bawah mesin, mau tidak mau Karina berusaha merundukan dirinya untuk meraih botol-botol minuman itu. Saat karina sedang berusaha, wanita paruh baya itu berjalan dengan normal tanpa tertatih kebelakang wanita hamil itu. Ia menyeringai di balik masker yang menutupi wajahnya. Saat Karina berhasil meraih botol-botol minuman itu, ia bernafas lega dan kembali menegakkan tubuhnya.


"Aghh ...!" pekik karina.


Wanita paruh baya itu mendorong tubuh Karina, hingga ia jatuh tertelungkup dengan keras. Perutnya membentur lantai marmer tanpa ia sempat untuk melindunginya, botol- botol minuman itu jatuh berhamburan.


Wanita itu melepaskan maskernya. Ia berjalan kedepan Karina lalu berjongkok. Ia menyeringai menakutkan.


"Bu, tolong saya," ucap karina sambil meringis menahan sakit.


"Tolong, cih. Aku lebih suka kamu mati!" tukasnya.


"Apa kau masih mengenalku?"


Karina yang tengah merasakan nyeri di perutnya mencoba untuk fokus melihat wajah wanita itu. Matanya terbelalak saat ia mulai menyadari siapa yang ada di hadapannya.


"Ibu ...Mi-rah," ucap karina dengan terbata, rasa nyeri mulai menjalar ke pinggul belakang.

__ADS_1


"Ternyata kau masih mengenalku."


Karina merasa ia dalam bahaya. Dengan sekuat tenaga untuk memberingsut mundur.


"Mau lari kemana Hem ..." Mirah menginjak tangan karina dengan kakinya.


"Aghh ...!" Karina mengerang kesakitan.


"Kau tahu gara-gara kau anakku harus mengantikanmu berkerja melayani pria hidup belang!" ucap Mirah dengan penuh amarah.


Karina tidak menjawab dengan sepatah katapun, ia merasakan sakit di perut yang sangat amat.


"Kenapa Diam apa kau bisu! apa kau tau Bapakmu meninggal karena di hajar eh antek-antek Iren, mereka mengamuk karena tak menemukanmu, Dasar jal"ng! kau pembawa sial, seharusnya kau yang berkerja di rumah bordil itu. Bukan anakku!"


"Kau sudah selesai?" tanya karina dengan senyum.


"Itu semua karena kesalahanmu sendiri, apa yang terjadi semua karena kau sendiri, bukan aku."


"Beraninya kau membela dirimu, kau hanya wanita ******, numpang makan numpang hidup kau seharusnya membalas budi, bukan membawa sial!" teriaknya marah.


Setelah tanpa sengaja melihat Karina di taman, Mirah sengaja mengikuti Karina.


Ia menginjak tangan karina dengan kuat, tangannya menarik rambut karina kencang.


"Aaaaaaaa ... tolong!" pekik karina kesakitan.


Plak


"Diam kau!"


"Hai, kenapa itu!" teriak seorang petugas medis yang melihat mereka.


"Tolong!" teriak karina.


Mirah bangkit dari posisinya, Ia kembali memakai maskernya.


Brugh.


"Aaaa!"


Mirah melayangkan satu tendangan di perut Karina sebelum ia melarikan diri. Mirah berlari dengan cepat meninggalkan Karina yang sedang mengerang kesakitan.


"Nyonya apa yang terjadi?" petugas medis itu menolong Karina untuk duduk.


"Perutku, tolong," ucap karina lirih.


Ia sudah sangat merasakan kesakitan.


"Astaga Nyonya!" pekik perawat itu saat melihat darah mengalir dari jalan lahir.

__ADS_1


"Mohon tunggu sebentar saya akan segera kembali," ucap perawat itu. Karina hanya menjawabnya dengan mengangguk sambil mengigit bibirnya menahan sakit.


Tak lama perawatan itu datang dengan beberapa rekannya dan sebuah brankar beroda. Mereka membangun karina naik ke brankar dengan perlahan, darah terus mengalir deras. Mereka segera membawa karina untuk mendapatkan pertolongan.


__ADS_2