Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Kenapa aku?


__ADS_3

Levina mendesahkan nafasnya panjang sambil memijit batang hidungnya. Ia kemudian menoleh pada gadis yang duduk di sampingnya. Gadis itu tersenyum dengan mulutnya yang masih terus mengunyah biscuit hitam, levina kembali mendesah.


"Hais ...kenapa harus aku sih!" keluh levina kesal.


Karina mengangkat bahunya acuh. Ia kemudian mengambil biscuit hitam lagi lalu mencocolkannya pada sambal tomat. Ia begitu menikmati camilan anehnya itu, sampai levina dibuat bergidik ngeri membayangkan rasa yang ada di mulutnya.



"Aku seorang dokter Nyonya Hugo, bukan guru. Bagaimana kau bisa memilihku untuk mengajarimu!"


"Kenapa? karena Kakak seorang wanita yang tidak membuatku merasa tidak nyaman, lagi pula bukankah Kakak adalah lulusan terbaik bukan. Aku yakin Kakak pasti bisa membimbingku belajar," ujar Karina menjelaskan.


"Huft ... terserah, jadi kapan mulai belajar?"


"Sekarang!"


"Tidak bisa, aku belum menyiapkan materinya. Besok saja," ucap levina.


Baru pagi ini dia di panggil secara mendadak oleh eldric, tanpa tau kalau dia akan di suruh untuk menjadi guru istri dari sepupunya itu.


"Hei bisakah kau berhenti mengunyah," keluh levina kesal.


"Aku lapar Kak."


"Sejak aku datang sampai sekarang, sudah berapa kotak biscuit yang kau habiskan, dan kau masih mengeluh lapar. Astaga!" levina menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Kak, dalam perutku ini ada dua mukit kecil yang selalu minta makan, tapi hanya mulutku saja yang bisa di masuki makanan. Jadi dengan terpaksa akulah yang harus mengunyah semua makanan ini," jawab Karina dengan santainya.


"Astaga, pantas saja kau dan Eldric berjodoh!"


"Kenapa Kak?"


"Kalian sama-sama tidak waras,"


"Kakak juga tidak waras karena mau menjadi guru dari orang tidak waras seperti aku," sindir Karina.


Mendengar ucapan Karina membuat levina pusing. Ia sungguh tidak menyangka gadis kecil itu punya mulut yang tidak kalah pedasnya dengan suaminya. Kalau Eldric bisa membuat orang tutup mulut dengan tatapan tajamnya, sedangkan istrinya bisa membuat orang emosi dengan ucapan absurdnya.

__ADS_1


"Agh ... aku bisa gila jika terus di sini."


Levina pun akhirnya ikut mencomot satu biscuit hitam lalu mengunyahnya dengan kasar, tentunya tanpa cocolan sambal seperti yang dilakukan karina. Ia sungguh bisa kehilangan akalnya jika terus berbicara dengan karina, sementara itu hamil itu tertawa kecil melihat wajah calon gurunya yang merah padam menahan diri emosi.


"Kak levi benar-benar sepupu dari Suamiku kan?" tanya karina dengan sungguh sungguh.


Levina yang hendak menyuapkan biscuit kedalam mulutnya pun berhenti. Ia menatap Karina yang juga menatapnya dengan serius.


"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"


"Kakak pasti tahu keluarga suamiku kan? bagaimana mereka? Apa mereka baik?" tanya karina dengan serius.


Karina sungguh merasa penasaran dengan latar belakang suaminya, ia merasa asing dengan keluarga suaminya itu. Eldric tidak pernah sekalipun membahas tentang keluarganya, Karina pun tak berani menanyakannya pada sang suami.


Levina tersenyum getir mendengar pertanyaan Karina. Baik, dari segimana keluarga itu bisa dibilang baik. Kata itu sungguh jauh dari mereka, jika baik yang di maksud adalah dermawan dan membangun sekolah gratis serta memberikan santunan pada yayasan yatim-piatu mungkin iya. Namun, semua itu hanya untuk menutupi kebobrokan di dalamnya. Semua pencitraan itu hanya untuk menyokong popularitas mereka di mata masyarakat luas.


"Tidak ada yang bisa aku ceritakan, kau bisa menanyakan hal itu pada suami tua mu itu," ketus Levina.


"Ish ...kak levina, aku tuh nggak berani tanya. Makanya aku tanya sama Kakak. Apa Kak levina tidak lihat bagaimana wajah suamiku yang selalu tegang seperti anak SD mau suntik cacar," keluh karina.


Eldric hanya lembut saat di ranjang.


"Maksud Kak levi Ibu Helena?"


"Dari mana kau tau namanya, setahuku Eldric bahkan tidak pernah ingin menyebut nama Mamanya itu?" tanya levi dengan heran.


"Aku mendengar dari seorang wanita cantik yang datang dan mengaku sebagai orang yang di jodohkan dengan Eldric sejak mereka kecil," jawab Karina sambil memasukkan biskuit yang sudah penuh dengan sambal kedalam mulutnya.


"Maksudmu Donna, wanita ular itu datang kemari!" pekik Levina terkejut.


Karina hanya menjawabnya dengan anggukan santai. Levina memandangi wajah karina yang tampak begitu santai , ia merasa tidak percaya kalau karina sudah bertemu dengan wanita ular yang sangat merepotkan itu.


"Lalu apa yang kau lakukan?"


"Apa yang aku lakukan? aku hanya bilang kalau aku istri sah Eldric dia marah, tapi Eldric mengusirnya keluar dari kantor. Eldric bilang dia akan mengadu pada Mamanya, dan mereka akan datang."


"Oh ... Karin, aku tidak percaya kau bicara sesantai ini sementara bahaya sudah di depan matamu."

__ADS_1


"Kau tidak tahu betapa licik dan jahatnya ibu mertuamu itu Rin, berhati-hatilah. Hanya itu yang bisa aku katakan, wanita seperti Bibi Helena tidak dapat ditebak. Pemikirannya jauh dari orang normal. Kau tau karena dialah Eldric ke indonesia, Sepupu malangku itu lari dari cengkeraman ibu kandungnya sendiri-


"Siapa yang kau sebut malang hem, apa yang membuatmu lebih beruntung hingga kau bisa menyebutku malang!"


Suara bariton eldric membuat kedua wanita itu menoleh. Rupanya eldric sudah lama berada di belakang pintu kaca yang tertutup tirai.


"Apa yang kau ceritakan pada istriku, Levi!"


Eldric berjalan mendekati istrinya lalu mendudukkan diri sebelah Karina, ia merangkul bahu istri kecilnya lalu mendaratkan ciuman di keningnya.


"His ... mau mesum lihat tempat dong!" protes Levina.


"Astaga apa yang kau makan?" Eldric mengerutkan keningnya melihat makanan yang tersaji di meja.


"Biskuit."


"Iya aku tau itu biskuit, tapi apa ini kau memakannya dengan sambal. Karin, perutmu bisa sakit kalau kau makan makanan tidak jelas seperti ini!"


"Tidak apa-apa Suamiku, aku suka. Anda jangan khawatir." Karina semakin meringsek dalam ketiak suaminya.


Levina mendesah kesal, ia merasa seperti obat nyamuk berasap tapi tidak terlihat. Akhirnya Levina bangkit dari duduknya, ia melangkah menjauh meninggalkan suami istri yang sedang memamerkan kemesraannya itu.


"Suamiku, aku lapar bisa kita makan siang sekarang?" Karina menatap suaminya dengan penuh damba.


"Lapar?"


Eldric mengerutkan keningnya, ia melihat beberapa koyak biskuit yang kosong yang ditumpuk rapi di atas meja. Itu artinya Karina telah menghabiskan semua biskuit itu bersama levina, dan sekarang ia berkata lapar. Sungguh hal yang luar biasa.


"Suamiku, kenapa Anda diam saja. Apa Anda tidak ingin memberikan makan pada istrinya dan calon anak-anak Anda ini,"keluh Karina sambil memasang wajah memelasnya.


"Kau lapar, kau ingin makan apa? Nasi atau yang lain?"


"Aku ingin makan kelapa muda dengan es krim rasa vanilla, coklat dan strawberry," ujar Karina dengan penuh semangat.


"Itu camilan Sayang, bukan makanan." Eldric mengusap lembut rambut istrinya.


Deg.

__ADS_1


"Anda memanggil saya apa? apa bisa Anda ulangi saya tidak mendengarnya." Karina menatap Eldric dengan terheran-heran.


"Apa, aku tidak mengatakan apa-apa. Kau ingin kelapa muda dan eskrim, ayo aku akan meminta Berto membuatkannya untukmu." Eldric segera melepaskan tangannya yang memeluk bahu Karina ia bangkit lalu segera bergegas melangkah masuk.


__ADS_2