
Karina keluar dari walking closed dengan memakai seragamnya. Hari ini adalah hari pertama ia sekolah. Bibir mungilnya menyunggingkan senyum manis dengan wajah yang secerah mentari.
"Bagaimana apa aku cantik?" Karina berpose di sebelah sebuah lemari kecil yang ada di sana.
Eldric memperhatikan istri kecilnya dari atas tempat tidur. Ia memiringkan tubuhnya dengan satu sikunya yang menopang di kasur. Ia menatap tak suka pada Karina.
"Apa yang kau pakai?"
"Seragam, inikan hari pertama aku masuk sekolah," jawab Karina sambil melangkah mendekati pada sang suami.
"Mana ada seragam sependek itu, ganti!" titahnya.
Karina melongo mendengar ucapan suaminya, rok yang ia pakai masih sangat aman. Hanya sedikit di atas lututnya.
"Ini sudah ukurannya Suamiku. Ini normal, seragam lamaku juga seperti ini," protesnya.
"Tidak, tidak bisa. Apa kau akan memamerkan kakimu di depan orang banyak seperti itu? apa kau pikir aku bodoh, membiarkan Istriku dinikmati oleh orang lain. Tidak ada sekolah, kau akan private di rumah." Eldric bangkit dari tempat tidurnya, ia kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Grep.
Karina langsung memeluk Eldric dari belakang. Ia sudah sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah pagi ini.
"Suamiku, aku mohon. Aku ingin sekolah seperti biasa saja. Lagi pula Anda sudah memilihkan sekolah internasional terbaik untuk saya, saya sangat berterimakasih dan saya sudah sangat tidak sabar untuk melihat sekolah yang di pilihkan langsung oleh Suamiku yang sempurna ini. Jadi saya mohon ijinkan saya Pergi." Karina menduselkan wajahnya di punggung sang suami.
Eldric tersenyum miring, ia melepaskan tangan karina yang melingkar di pinggangnya. Eldric membalikkan tubuhnya agar bila melihat langsung wajah istrinya yang sedang memelas.
"Kau begitu ingin untuk pergi rupanya."
Karina mengangguk kecil dengan memasang wajah imutnya. Bagai lilin yang terbakar, hati pria yang sudah tak muda lagi meleleh melihat wajah imut istrinya.
"Apa keuntungan yang ku dapatkan kalau aku mengizinkanmu pergi?" tanya eldric dengan seringai liciknya.
"Apa? aku tidak punya apa-apa selain tubuh mungilku ini." Karina mengedipkan matanya beberapa kali.
__ADS_1
Tanpa aba-aba eldric langsung mengangkat tubuh mungil istrinya. Mengendongnya seperti koala. Karina memekik kecil, saat tubuhnya terasa melayang sebelum akhirnya mendarat di pinggang suaminya.
"Tidak ... tidak sekarang, saya mohon. Saya akan terlambat," rengek karina sebelum tubuh mungil terbaring di atas ranjang yang masih berantakan karena pertempuran semalam.
"Hem, kau ingin menawar lagi." Eldric mulai menyusuri leher istrinya. Ia seakan tak pernah puas dengan tubuh mungil yang sekarang menjadi candunya.
"Aaah.... jangan di sana, aku tidak bisa menutupinya. Saya mohon." Karina dengan sekuat tenaga mendorong tubuh kekar sang suami yang sudah tidak memakai atasan.
"Saya mohon Tuan, saya mohon. Nanti malam lakukan apapun yang anda inginkan, Tapi saya mohon jangan sekarang." Karina masih berusaha mendorong tubuh suaminya meskipun itu tidak akan mungkin.
Eldric menghentikan tangannya yang tengah membuka kancing kemeja Karina. Dengan menghela nafasnya ia menarik dirinya. Ia duduk bersila sambil menggaruk tengkuknya. Karina membenahi bajunya yang sudah berantakan.
"Maaf, tapi kalau anda melakukannya sekarang. Saya tidak akan bisa berjalan dengan baik," lirih Karina.
"Cepat pergi sarapan sebelum aku berubah pikiran," tukas eldric seraya turun dari ranjangnya.
Cup.
"Terima kasih Suamiku," ucap Karina setelah mendaratkan ciuman kecil di pipi sang suami.
Eldric menatap tubuh mungil istrinya hingga menghilang dibalik pintu. Ia tersenyum sambil menyentuh bekas kecupan manis istrinya.
Setelah selesai bersiap eldric keluar dari kamarnya. Ia menyusul istrinya ke meja makan. Karina menyambutnya dengan senyum manis, sepertinya istri kecilnya itu benar-benar sangat bahagia. Senyum itu tap pernah pudar dari semalam saat Joe memberikan seragam dan bukti pendaftarannya di sebuah sekolah elit di jakarta.
Eldric mengusap lembut rambut sang istri sebelum akhirnya ia duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Sebenarnya ia sungguh tidak ingin membagi senyum itu dengan orang lain, eldric lebih suka mengurung istrinya dalam mansion.
Namun, Karina seminggu penuh selalu merengek meminta untuk melanjutkan sekolahnya. Ia menolak home schooling, ia ingin sekolah secara normal. Dengan berat hati eldric akhirnya menyetujui permintaan karina. Meskipun mereka harus menyembunyikan status mereka sebagai suami istri.
"Apa sesenang itu?" tanya Eldric sambil mulai menyendok makanannya.
"Iya aku sangat senang, terima kasih," ucap Karina dengan senyuman.
"Cepat habiskan sarapannya, aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu repot-repot, bukankah Anda harus segera ke kantor."
"Aku tidak menerima penolak!" tegasnya.
__ADS_1
"Baik, Suamiku," jawab Karina pasrah.
Ia sebenarnya tidak keberatan diantar oleh sang suami. Hanya saja ia tidak ingin menjadi pusat perhatian di hari pertamanya sekolah.
Sekarang keduanya ada dalam mobil mewah yang melaju cepat membelah kemacetan kota Jakarta. Karina terlihat gugup, ia beberapa kali meremas rok pendek yang ia pakai. Ekor mata eldric melirik sekilas kearah istrinya, ia mengulurkan tangannya memegang tangan Karina kemudian menautkan jari-jari mereka.
Tangan mungilnya itu terasa dingin dan basah, jelas gadis itu sangat gugup menghadapi hari pertamanya.
"Tegakkan kepalamu, kau adalah Istriku ingat itu," ucap eldric tanpa melepaskan pandangannya dari kemudi. Ia hanya mempererat genggaman tangan mereka.
"Iya."
Karina tersenyum menatap sang suami yang tengah fokus pada jalanan. Apa yang di ucapkan eldric bukanlah sesuatu yang menenangkan. Namun, itulah suaminya dengan segala kekakuannya.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di depan pagar sebuah sekolah elit di Jakarta. Karina mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia memegangi dadanya, jantungnya berdegup kencang sedari tadi.
"Kau seorang nyonya Hugo, apa yang kau takutkan," ucap Eldric sambil mengelus rambut sang istri.
"Aku hanya anak baru di sini. Sekolah ini terlalu bagus dan mewah, tidak seperti sekolahku sebelumnya," lirih Karina.
Murid yang ada bersekolah di sana bisa di pastikan bukanlah dari kalangan biasa. Karina merasa tidak percaya diri, ia takut tidak bisa membaur dengan mereka.
"Hem, baiklah." Karina menghela nafasnya.
"Apa kau melupakan sesuatu?"
"Melupakan apa?"
Eldric berdecak, ia pun meraih tengkuk leher istrinya. Menyesap rasa manis yang selalu ia sukai. Eldric mengangkat bibirnya ke atas melepaskan tautan bibir mereka. Namun, tidak melepaskan tangannya dari leher sang istri. Ia menyatukan keningnya dengan milik Karina.
"Aku akan menjemputmu, jangan dengan dengan laki-laki manapun. Ingat kau milikku!" tegasnya.
"Aku tau itu." Karina mengecup singkat bibir tebal suaminya.
Ia kemudian tersenyum melepaskan tangan besar yang melingkar di lehernya. Dengan senyum manisnya Karina keluar dari mobil.
"Agh ...sial seharusnya aku tidak memberinya izin untuk ini." eldric memukul setir mobilnya dengan keras.
__ADS_1
Ia sungguh meruntuki kebodohannya karena mengiyakan apa yang diinginkan istri kecilnya itu. Sambil menggerutu eldric mengendarai mobil menjauh dari sekolah itu.