
Eldric yang baru saja keluar dari ruang istirahat melotot terkejut, melihat kedatangan dua seorang perempuan yang paling ia sayangi sekaligus ia benci. Ia menatap kedua wanita itu dengan tatapan membunuh, seolah ia siap untuk menghujamkan belati untuk mengoyak tubuh mereka kapan saja. Karina yang menyadari hal itu pun segera melangkah mendekati Eldric, ia menyentuh tangan suaminya yang mengepal kuat, Eldric seketika menoleh pada istrinya.
"Sayang," panggil karina lembut.
Karina memeluk lengan suaminya dari samping. Eldric menghembuskan nafas kasar, ia kemudian mengusap lembut rambut istrinya.
"Kenapa, apa kau lapar?"
"Ish ...kok tanya aku lapar, kamu tuh yang kenapa? udah kayak phantom menakutkan," sindir Karina.
Eldric hanya tersenyum kecil. Sebuah ciuman ia berikan di pucuk rambutnya. Istri kecilnya itu selalu bisa menenangkannya.
"Cih, menjijikkan," gumam Donna lirih.
"Diamlah, jaga emosimu," sentak Helena pada calon menantu kesayangannya.
Eldric kembali menatap dua wanita itu dengan sinis. Raut wajahnya menunjukkan ketidak sukaanya pada mereka berdua.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya eldric dengan geram. Ia tidak bisa menutupi rasa tidak sukanya.
"Apa yang kau katakan Nak, tentu saja Mama ingin menemuimu. Apa kau tidak merindukan orang tuamu ini? apalagi setelah papamu meninggal Mama sendirian di mansion. Kau tidak ingin pulang bersama Mama, Nak?" Helena berucap dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Hemh ... rindu, sejak kapan kau menganggap aku anakmu," sahut Eldric sambil tersenyum miring.
"El, bisakah kau melupakan masa lalu. Semua orang bisa melakukan kesalahan, Mama juga bukan orang yang sempurna. Mama minta maaf pernah mengabaikanmu, waktu itu Mama belum siap menjadi orang tua, umurku masih sangat muda saat aku mengandungmu. Mengertilah, Nak."
Kini air matanya sudah tumpah ruah membasahi pipinya yang masih mulus karena perawatan. Donna memeluk wanita paruh baya itu, menciptakan drama yang sungguh terlihat nyata. Karina hanya diam memperhatikan semuanya dengan seksama, ia merasa belum saatnya ia ikut campur dalam masalah keluarga ini.
"Jika sudah puas memainkan dramamu, cepat keluar." Eldric merangkul bahu istri, mengajak ia melangkah meninggalkan ruangan itu.
"El, bisakah kau membiarkan aku menginap di mansionmu untuk beberapa hari?" tanya Helena memelas.
"Kau bisa menginap di hotel, mansionku bukan penginapan," sahut Eldric tanpa menoleh pada ibunya.
__ADS_1
"Tapi El, Mama ingin melihatmu setiap hari,Nak. Mama ingin menebus masa-masa dulu yang pernah Mama lewatkan."
Karina menoleh pada mertuanya, wajah sendu itu membuatnya merasa tidak tega. Karina tidak tahu selicik apa orang yang berdiri di hadapannya. Namun, sebagai calon ibu dia merasa tidak tega melihat wanita paruh baya itu memohon dengan berderai air mata.
"Suamiku, tidak ada salahnya mengizinkan Mama untuk menginap beberapa hari di mansion," ujarnya membujuk suaminya.
"Tidak, mereka bisa menginap di hotel, tapi tidak di mansion!" tegas Eldric.
"Tapi Sayang."
"Tidak ada tapi, Honey. Cepatlah aku sudah terlambat untuk meeting."
Eldric memaksa Karina untuk mengikuti langkahnya. Mereka berdua akhirnya keluar dari ruangan eldric, meninggalkan kedua wanita yang menatap kepergian mereka dengan nanar.
Helena mengusap kasar air matanya. Ia tersenyum kecil, sambil merapikan dirinya.
"Kenapa Bibi tersenyum, kita sudah gagal untuk menginap di mansion eldric." Donna melipat tangannya kesal.
"Sampai kapan Bi, aku tidak sabar ingin segera menjadi Nyonya Hugo. Rasanya aku sudah muak melihat gadis itu ada di sekeliling El," keluh Donna.
"Tidak lama, kita akan segera menyingkirkannya."
Sementara di ruang rapat.
Seperti biasanya Eldric memimpin rapat dengan menjaga jarak dari para karyawannya. Hanya yang berbeda kali ini adalah kehadiran seorang wanita imut yang ada di sampingnya. Semua karyawan sesekali mencuri pandang pada Nyonya kecil mereka yang sedang asik menikmati tiramisu yang ada di meja. Sesekali eldric mengusap ujung bibirnya yang kotor dengan coklat.
"Kenyang?" tanya eldric sambil membersihkan sudut bibir Karina dengan tisu.
Karina mengangguk kecil, setelah menghabiskan beberapa potong tiramisu akhirnya perutnya merasa penuh.
Eldric terus melanjutkan rapatnya. Karina merasa bosan karena tidak mengerti dengan apa yang mereka bahas. Perlahan kantuk mulai menyerangnya. Ia merebahkan kepalanya di meja dan perlahan memejamkan matanya.
"Rapat selesai!" ucap Eldric tiba-tiba.
__ADS_1
"Baik Tuan," ucap para karyawan serempak. Meskipun beberapa diantara mereka ada yang belum memberikan laporan bulanan. Namun, mereka lebih memilih untuk tidak membantah.
Eldric bangkit dari duduknya kemudian ia mengangkat tubuh mungil istrinya perlahan. Eldric bergegas keluar dari ruangan untuk membawa istri ke ruang istrirahat di ruangannya.
"Wah beruntung sekali gadis itu, Tuan Eldric sepertinya sangat menyayanginya," celetuk seorang karyawan.
"Iya, aku jadi iri. Tuan Eldric sweet banget sama istrinya."
"Hus ...kerja, jangan sampai Tuan Joe mendengar kalian bergibah!"
💛💙💚
Eldric merebahkan istrinya dengan perlahan di atas kasur, ia kemudian menarik selimut menutupi tubuh mungil Karina. Eldric membelai lembut wajah mungil yang sangat ia cintai.
"Aku akan melindungi, Honey. Aku tidak akan pernah membiarkanmu terluka, aku akan mematahkan tangan yang berani menyakitimu. Meskipun itu ibuku sendiri," gumam Eldric dengan wajahnya yang sendu.
Eldric punya firasat yang sangat buruk dengan kedatangan ibunya. Ia tahu dengan baik, ibunya itu pasti menginginkan sesuatu darinya.
Helena punya sifat yang sangat ambisius, ia bisa melakukan apapun untuk memenuhi apa yang ia inginkan. Eldric sangat tahu itu, karena ia menyaksikan sendiri bagaimana ibunya melakukan cara kotor untuk memenuhi keinginannya.
Bukan tanpa alasan ia membenci ibunya. Eldric menjadi saksi bagaimana sang ibu melakukan hubungan terlarang bersama adik dari ayahnya. Dengan mata kepalanya sendiri di usianya yang ke sepuluh, ia melihat sang ibu naik ke ranjang sang paman dan melakukan hubungan badan. Sejak itu Eldric merasakan jijik pada wanita manapun, ia merasa wanita adalah makhluk yang paling menjijikkan bisa bergonta-ganti pasangan tanpa merasa bersalah.
Eldric menghela nafasnya panjang. Ingat masa lalu yang tiba-tiba terlintas di pikirannya membuat eldric kembali mengenang masa kecilnya yang penuh dengan kebencian.
Pria itu merebahkan tubuhnya di sisi Karina, dengan rasa yang sedang berkecamuk di hatinya ia memeluk istrinya. Saat ini ia hanya berharap bisa bahagia dengan karina tanpa bayangan masa lalunya. Ia ingin hidup normal bersama dengan keluarga kecilnya.
Karina menggeliat kecil, ia merasa ada yang sedang memeluknya erat. Ia membuka matanya, melihat wajah sendu sang suami yang ada di sampingnya.
"Aku menganggu tidurmu, Honey?" tanya eldric sambil mengusap lembut rambut istrinya.
"Tidak, Suamiku."
Karina memeluk erat tubuh suaminya. Menenggelamkan dirinya dalam dekapan Eldric. Ia merasa suaminya itu sedang membutuhkannya.
__ADS_1