Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
I need you


__ADS_3

"Honey?!" pekik Eldric.


Antara percaya dan tidak, melihat istrinya berdiri di sana seperti sebuah mimpi. Eldric bangkit untuk mendudukkan dirinya dengan susah payah, kepalanya masih terasa sangat berat matanya pun berkunang-kunang. Karina melangkah mendekat untuk membantu suami.


Eldric terjingkat saat karina menyentuh tangannya sedikit menariknya pelan untuk duduk.


"Ini bukan mimpi?" tanya Eldric terheran-heran, ia masih belum percaya dengan keberadaan sang istri yang ada di hadapannya.


Karina duduk di samping ranjang Eldric kemudian mencubit kedua pipi tirus suaminya dengan gemas.


"Enggak percaya banget sih, ya udah aku balik lagi kalau kamu masih bilang ini mimpi," ketus karina. Ia melepaskan cubitannya kemudian bangkit dari duduk.


"Jangan!" pekik Eldric, ia mencekal lengan karina. Ia menarik kembali Karina agar duduk di sampingnya lagi.


"Aku sakit Hon, kenapa kau mau meninggalkan aku. Aku hanya sangat terkejut kau tiba-tiba di sini," rengek eldric seperti anak kecil.


Ia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dengan manja, menaruh kepalanya diatas bahunya. Karina membelai lembut surai hitam milik suaminya. Ia bisa merasakan hembusan nafas panas Eldric di lehernya, perlahan tangan Karina turun menyentuh tengkuk leher belakang eldric. Panas, suhu tubuh eldric seorang membakar tangannya.


"Kemana Singa jantan tadi? kenapa berubah jadi hello kitty begini?" gumam Levina sambil menggelengkan kepalanya.


Eldric merasa nyaman berada didekat istrinya, rasa sakitnya seolah hilang menguap begitu saja. Eldric menduselkan kepalanya ke ceruk leher Karina. Tempat ternyaman untuknya saat ini.


"Kalau sakit kenapa tidak mau di periksa Kak levina?" tanya karina lembut, sambil terus mengusap rambut Eldric.


"Aku tidak butuh Dia," ketus eldric.


Karina menghela nafasnya panjang.


"Suamiku, biarkan Kak Levi memerikasmu," bujuk Karina.


"Aku tidak mau, aku hanya butuh kamu Hon," rengek Eldric.


"Periksa atau aku tidak akan tidur denganmu!" tegas Karina.


Eldric menarik kepalanya menjauh agar bisa melihat wajah istrinya. Ia menatap Karina dengan mata sendunya, dan wajahnya yang di buat memelas. Seperti


Sejak kapan El jadi menggemaskan seperti ini, tapi aku tidak boleh lemah. Em ... lucunya.

__ADS_1


"Ehem, jangan berharap wajah imutmu akan berpengaruh padaku!" tegas Karina membuat Eldric menunduk sendu.


"Kak Levi cepat periksa El."


Levina mengangguk, ia pun melangkah mendekat.


"Berbaring!"


Seperti anjing yang patuh. Eldric segera membaringkan tubuhnya lagi. Ia memelototkan mata elangnya pada Levina yang sudah berdiri di sampingnya, tangannya terulur hendak menyentuh eldric dengan stetoskop.


"Hehehe ... tenang Hello Kitty aku akan memperlakukamu dengan baik," goda Levina sambil menaik turunkan alisnya.


"Kau!" sentaknya geram.


"Sayang," panggilan lembut Karina membuat Eldric beralih menatapnya dengan tidak berdaya.


Levina terkekeh geli melihat tingkah laku Eldric yang berubah seratus delapan puluh derajat saat berhadapan dengan istrinya.


"Dasar bucin," ledek Levina.


"Diam!"


"Kau hanya terserang flue dan kecapekan, istirahat yang cukup dan minum obat dengan teratur. Aku rasa itu sudah cukup," ujar Levina, ia melepaskan stetoskop kemudian menyimpannya di saku jas putih yang dipakainya.


"Benarkah? tidak ada sesuatu yang serius kan Kak?" tanya Karina cemas.


Ia menatap Eldric dengan penuh rasa bersalah. Nafas Eldric terdengar berat, laki-laki itu meletakkan satu lengan di keningnya.


"Tidak ada, aku akan meresepkan obat untuk El."


"Baik, Terima kasih Kak Lev. Tolong Kak berikan resepnya pada Pak Joe agar dia bisa segera menembusnya."


Levina terdiam sejenak.


"Kenapa Kak? apa ada sesuatu yang ingin Kakak sampaikan?" tanya karina dengan heran.


"Tidak, ada apa-apa." kilahnya.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, jaga suamimu dengan baik. Sepertinya ia kurang istrirahat akhir-akhir ini."


Karina mengangguk mengerti. Ia hendak bangkit dari duduknya untuk mengantarkan Levina keluar kamar. Namun, tangan kekar memegangi pergelangan tangannya. Ia menoleh menatap eldric yang juga tengah menatapnya dengan mengiba.


"Jangan pergi, temani aku .Honey," ucap Eldric lirih.


Karina tersenyum, pandangannya kembali beralih pada sosok Levina yang baru saja berlalu dibalik pintu.


"Honey," rengek Eldric lagi.


Karina mengulum senyum. Suaminya itu sungguh menggemaskan, karina tidak pernah menyangka eldric bisa semanja ini saat sakit. Karina menyentuh pipi suaminya, eldric meringsek kemana telapak tangan Karina menyentuhnya. Sentuhan lembut yang selalu eldric rinduku.


"Geser sedikit," pinta karina.


Eldric mengganggu, ia melepaskan tangannya dari pemerintah pergelangan tangan Karina. Ia kemudian menggerakkan tubuhnya bergeser ke tengah ranjang kemudian memindahkan kepalanya ke bantal lain.


Karina bangkit dari duduknya, ia melepaskan jaket bulu berwarna pink lalu meletakkannya asal. Ia kemudian meletakkan tas kecilnya di atas nakas. Ia kemudian berbaring miring menghadap sang suami. Eldric pun memiringkan tubuhnya menghadap karina, ia kemudian merosotkan tubuhnya ke bawah mensejajarkan wajahnya dengan dua buah gantung favoritnya.


"Aku sangat merindukanmu." Eldric meraih pinggang istrinya, menduselkan wajahnya pada dua bongkahan padat yang masih tertutup kaos dan pengamannya.


"Kalau rindu kenapa tidak mengangkat teleponku? kenapa tidak memberitahu kalau kau sakit?"


"Aku tidak ingin membuatmu cemas," ungkap Eldric.


"Uh ...sakit, Honey!" pekik Eldric, meskipun sebenarnya pukulan karina di lengannya sama sekali tidak terasa.


"Biarin, kamu tau nggak aku tuh cemas, gelisah tanpa sebab. Kepikiran kamu terus, kamu nggak kasih kabar, nggak ngangkat telefon, apa kamu mau bikin aku mati penasaran. Karena terus mikirin kamu!" cerocosnya dengan kesal.


Karina menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar, air matanya tumpah begitu saja. Ia membayangkan bagaimana kalau seandainya ia tidak tahu keadaan Eldric dan sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya itu. Membayangkannya saja Karina sudah tidak mampu, entah bagaimana kalau semua yang ada dalam benaknya terjadi.


Eldric melepaskan pelukannya, ia bangkit lalu memeluk Karina lagi posisi yang berbeda. kini Karina ada dalam dekapannya, karina menengelamkan wajahnya dalam dada bidang sang suami.


"Maafkan aku, aku hanya tidak ingin kau khawatir." Eldric mengusap lembut punggung Karina yang masih bergerak naik-turun seiring derai tangisnya.


"Kau jahat El! kau anggap aku apa, aku istrimu bukan. kenapa kau tidak mau membagi sakitmu. Aku tidak ingin hanya melihat tawamu, aku juga berhak merasakan sakit dan dukamu."


Eldric tertegun mendengar ungkapan perasaan karina. Ia tersenyum, rasanya eldric jatuh semakin dalam pada cinta dan ketulusan Karina. Eldric sudah tidak tertolong lagi, ia tidak akan bisa hidup tanpa gadis mungil ini di sampingnya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."


__ADS_2