Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Datang


__ADS_3

Joe tetap berkerja seperti biasa berusaha bersikap profesional meskipun ada beban berat di hatinya.


Pria berkulit putih itu berjalan menuju ruangan sang tuan. Ia sedikit mendorong pintu agar bisa masuk.


"Tuan."


"Bagaimana? apa tim yang aku minta sudah siap?" tanya eldric dengan serius.


"Sudah Tuan, mereka mulai berkerja hari ini dalam pengawasan saya," jawab joe.


"Bagus, awasi kinerja mereka selama tiga hari kedepan. Bawa data setiap anggota tim pilihanmu padaku," titah eldric.


"Baik Tuan, saya permisi jika tidak ada yang lain," pamit joe.


"Hem, awasi mereka dengan baik."


"Baik Tuan." Joe menunduk hormat sebelum meninggal ruangan itu.


Joe sebenarnya kurang mengerti dengan keinginan eldric untuk membentuk tim khusus di kantor mereka. Tim itu berkerja untuk mengerjakan perkerjaan yang joe kerjakan. Tentu dengan pengawasannya.


Setelah tiga hari berlalu.


Joe kembali di panggil eldric keruangnya. Kali ini zoe dan karina juga ada di ruangan itu.


"Joe bagaimana mereka?" tanya eldric basa-basi, karena eldric sudah melihat langsung bagaimana mereka berkerja.


"Mereka berkerja dengan sangat baik Tuan, jawab joe.


Eldric bangkit dari duduknya, ia melangkah mendekati joe yang berdiri di depan meja kerjanya. Eldric mengambil sebuah putih dan memberikannya pada joe.


"Pesawat akan berangkat nanti malam, sekarang pulang dan berkemas," ucap eldric.


"Pesawat Tuan?" tanya joe dengan kikuknya.


"Ya, sudah saatnya kau membawa pulang cintamu. Ben akan membantumu menghadapi calon mertua mu, aku tau paman alessio sangat keras kepala, tapi aku yakin kalau levi lebih keras kepala daripada ayahnya."


"Tuan, ini sangat berlebihan," ucap joe penuh haru, ia tidak menyangka eldric menyiapkan semuanya untuk membantunya.


"Terima kasih atas pengabdian mu pada suamiku selama ini Pak Joe. Sekarang saatnya Anda meraih kebahagiaan Anda," sela karina.


"Nyonya."


"Maafkan kami tidak bisa menemanimu, kantor tidak boleh kosong," ucap karina.


"Saya mengerti Nyonya."


"Pergilah, ben dan anak buahnya akan menjemputmu di bandara."


Ben adalah anak buah dari ayah eldric yang masih setia pada eldric. Saat el memutuskan untuk pergi ke Indonesia, ben dan beberapa anak buahnya memutuskan untuk membangun usaha sendiri, tetapi mereka berjanji akan selalu setia pada eldric sebagai satu-satunya keturunan Alano.


"Terima kasih Tuan, " ucap joe dengan tulus.


"Maafkan aku tidak bisa menemanimu, tapi orang- orang ku akan melindungi dan membantu mu di sana," ucap eldric dengan sungguh-sungguh.


Joe mengangguk, matanya sudah mengembun. Ia sungguh terharu dengan ucapan eldric.


Joe bergegas keluar ia merasa sangat bahagia akan segera bertemu dengan belahan jiwanya.


Bandara internasional Leonardo Da Vinci.


Joe menyeret kopernya, tubuhnya terasa lelah setelah penerbangan yang cukup lama.

__ADS_1


"Joe," sapa seorang pria paruh baya berambut cokelat, berbadan tinggi besar dengan kulit agak gelap, tangan kirinya penuh dengan tatto.


"Paman Ben." Joe mempercepat langkahnya lalu memeluk erat pria itu.


"Kau sudah besar Joe," ucapnya dengan suaranya yang berat.


"Ya Paman, aku sudah tumbuh semakin tua."


"Ayo kita pulang, kau harus beristirahat. Memulihkan energimu sebelum menemui Alessio." Joe mengangguk.


Mereka pun pergi meninggalkan bandara menggoda mobil ben. Mereka pergi ke rumah untuk beristirahat sebelum memulai perang.


Pikiran joe di penuhi wajah cantik levina, ia belum memberi tahu tentang kedatangannya pada sang kekasih. Joe ingin memberikan kejutan manis pada levina.


Sesampainya di rumah ben, joe di sambut hangat oleh istri ben dan kedua anaknya. Joe di berikan sebuah kamar untuk beristirahat.


Joe membaringkan tubuhnya di atas ranjang sederhana, tangannya terus memainkan kalung dengan liontin kaca dengan bunga dandelion. Joe tersenyum kecil, ingatannya menerawang jauh ke masa remajanya.


"Joe tunggu aku!" teriak seorang gadis yang tak lain adalah levina.


Mereka berdua kabur dari mansion, karena nona muda itu tidak ingin mengikuti les privat tata krama.


"Ayo cepat." joe mengulurkan tangannya.


Keduanya berlari sambil bergandengan tangan menuju sebuah padang rumput yang di penuhi bunga dandelion yang mulai mengering. Keduanya berlari sambil melewati bunga-bunga itu, bunga yang telah mengering melepaskan bibitnya saat angin menerpa di tambah lagi pergerakan dua sejoli kecil yang sedari tadi mengoyangkan mereka.



"Indah ya," ucap levina, saat melihat bunga ribuan dandelion berterbangan terbawa angin.


"Iya sangat indah," sahut joe, remaja itu fokus menatap wajah levina.


"Kau juga kuat Levi."


Levina tersenyum. "Mau kah kau terus menemaniku seperti ini Joe?"


"Tentu aku akan selalu ada untukmu."


"Aku akan selalu ada untukmu, dandelion kecilku," gumam joe kemudian mengecup liontin kaca itu, seolah itu adalah levina. Ia meletakkan kalung itu di atas nakas. Kemudian mulai memejamkan matanya.



Keesokan harinya.


Joe bersiap kerumah besar alessio diantar ben, ia berdandan rapi. Memakai jas warna hitam dan bersisir rapi, joe ingin melamar levina hari ini.


"Apa kau siap Joe?" tanya ben.


"Tentu Paman!" tegas joe.


Mereka pun pergi kerumah alessio. Perjalanan mereka tidak jauh hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke sana.


Ben menghentikan mobilnya di depan pintu pagar. Dua orang pengawal menghampiri mereka.


"Siapa kalian?" tanya salah seorang dari mereka.


"Katakan pada tuan alessio, joe ingin menemuinya," jawab jie dengan percaya diri.


"Tunggu sebentar." pengawal itu menghubungi kepala pelayan di dalam untuk menyampaikannya pada alessio.


.

__ADS_1


.


.


"Tuan ada tamu di luar," ucap pria berambut putih. Kepala pelayan di rumah itu.


"Siapa?" tanya Alessio datar.


"Dia mengaku bernama joe, Tuan."


"Sampah itu, berani sekali dia datang ke rumah ini. Biarkan dia masuk dan bawa dia langsung ke ruang tengah, jika dia membawa teman, suruh temannya menunggu di luar!"


"Baik Tuan." pria itu pergi, menghubungi pengawal untuk memberikan izin joe masuk.


.


.


"Kau di perbolehkan masuk, tapi sendiri. Temanmu harus menunggu di sini," ucap pengawal itu pada joe.


"Baik," jawab joe singkat.


Ben menatap tajam pada joe, ia di tugaskan oleh eldric untuk menjaga joe. Bagaimana bisa dia membiarkan joe masuk ke kandang buaya sendirian. Nyawa joe bisa terancam di dalam sana.


"Tenanglah Paman, aku akan baik-baik saja," ucap joe seolah mengerti arti tatapan ben.


Ben menghela nafasnya panjang. " Hati-hati Joe."


"Terima kasih Paman."


Joe pun melangkahkan kakinya mengikuti langkah salah seorang pengawal yang mengantarkannya masuk.


Levina yang sedang berdiri di balkon kamar memicingkan matanya, berusaha melihat jelas sosok yang ada di belakang salah satu pengawalnya. Mata levina membulat, dia cintanya. Levina melihat cahaya hidupnya.


"Joe, akhirnya kau datang sayang," gumam levina dengan senyum mengembang di bibirnya. Namun seketika senyum itu pudar


Ia teringat bagaimana alessio mengancamnya kemarin.


"Tidak, ayah tidak boleh menyakitinya." Levina menggeleng kepala.


Ia segera masuk ke kamar untuk turun.


Klek


klek


"Kenapa terkunci?" guman levina.


Ternyata sang ayah sudah mengantisipasinya. Pintu kamar Levina sudah di kunci dari luar.


"Buka pintunya!" teriak levina kencang.


Tangan dan kakinya memukul pintu kamarnya.


"Ayah! buka pintunya!"


"Jangan berani kau menyakiti cintaku! atau kau akan menyesal ayah!"


"Ayah aku mencintainya, mengertilah!"


Air matanya luruh, ia tidak mampu membayangkan apa yang akan di lakukan alessio pada kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2