Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Gelisah.


__ADS_3

Eldric menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang. Joe menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang. Sudah tiga minggu eldric pulang pergi Jakarta- Surabaya.


Meskipun ia merasa lelah. Namun, tak sekalipun Eldric berkata kepada istrinya. Eldric tidak keberatan untuk bolak-balik Jakarta Surabaya karena ia sendiri pun tak bisa jauh dari istri dan calon anaknya. Hanya saja hari ini terasa sangat melelahkan.


Ia hanya memejamkan matanya sepanjang perjalanan, hingga tak terasa akhirnya mereka sampai di mansion.


"Tuan, kita sudah sampai," ujar Joe.


"Hem." Eldric mulai membuka matanya, ia kemudian keluar dari mobil setelah Joe membukakan pintu untuknya.


"Tuan!" pekik Joe.


Tangan Joe terulur untuk membantu Eldric yang hampir saja jatuh. Namun, Eldric mencegahnya.


"Aku tidak apa-apa." Eldric menegakkan tubuhnya kembali, ia kemudian kembali melangkah masuk dengan langkahnya yang gontai.


"Tuan Eldric pasti kelelahan," gumam Joe, ia kemudian kembali masuk ke mobil untuk memarkirkan mobilnya ke dalam garasi.


Eldric segera masuk ke kamar untuk menyiapkan baju yang akan ia bawa ke Surabaya. Ia selalu menyiapkan barang pribadi miliknya sendiri.


Eldric mendesis, pria itu merasakan dingin yang sangat, ia memutuskan untuk segera membersihkan dirinya dengan air hangat. Setelah cukup lama di kamar mandi, Eldric pun merebahkan diri di ranjang setelah selesai berpakaian.


"Berapa derajat Berto menyalakan AC," gumam Eldric sambil memegangi kepalanya yang terasa berputar.


Eldric menarik selimut sampai menutupi tubuhnya. Ia memutuskan untuk tidur sejenak sebelum pulang ke Surabaya.


Sementara itu.


Karina merasa gelisah, sang suami tidak memberikan memberikan kabar sampai saat ini. Eldric melarang Karina menunggunya di ruang tamu.


"Ada apa sebenarnya? kenapa dia tidak menelfon ku?" Karina sudah lelah memandang layar ponselnya yang hening.


Karina mengigit ujung kukunya, ia berjalan mondar-mandir seperti strikaan. Sesekali ia mengintip di balik kelambu jendela yang mengarah langsung ke depan rumah.


Karina berdecak kesal, sejak tadi sore perasaannya sudah sangat tidak enak. Tanpa tahu sebabnya karina merasa gelisah, ia merasa terjadi sesuatu pada sang suami tapi Karina tidak tahu apa.


Terakhir kali Eldric mengirimkan pesan pada karina, kalau ia akan mengadakan rapat sore tadi dan tidak akan pulang larut. Namun, sampai saat ini tidak ada lagi kabar dari suaminya.


Karina berjalan mendekati jendela kaca besar di kamarnya, ia menyibakkan sedikit kelambu yang menutupi pandangannya. Dengan lesu Karina menyandarkan kepalanya di kaca jendela.


"Babys, sebenarnya kemana Daddy mu. Mommy sangat khawatir. Kenapa sampai sekarang belum pulang? Semoga Daddy kalian baik-baik saja," Karina bicara sambil mengusap lembut perutnya.

__ADS_1


Ibu hamil itu memang sering mengajak kedua anaknya untuk bicara. Dua, Karina selalu menganggap anaknya masih ada, meskipun salah satu nyawa dari anaknya sudah tidak ada. Namun, Karina selalu mengajak kedua seolah mereka masih lengkap.


"Kalian tau Daddy sangat menyayangi kalian berdua, dia tidak sabar menanti hari untuk bertemu dengan kalian."


Karina tersenyum kecil, ia teringat bagaimana tiap saat Eldric menanyakan padanya kapan ia bisa bertemu malaikat kecilnya.


Karina merasa perutnya bergerak, ia tersenyum lalu mengusap perutnya dengan lembut.


"Kalian merindukan Daddy, Mommy juga. Aku sangat khawatir dengan keadaannya sekarang."


Karina kemudian berjalan mendekati ranjangnya. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang lalu meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas.


Karina mencoba untuk menghubungi Eldric untuk kesekian kalinya. Namun, nihil. Hanya nada sambung yang berkali kali ia dengar secara berulang. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Joe.


Satu nada dering dan telfonnya langsung di angkat.


"Halo, Selamat malam Nyonya."


"Dimana El, kenapa dia tidak mengangkat telponnya!?"


"Itu ...Tuan," jawab joe dengan gugup dan terbata.


Joe mengambil nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan sang nyonya. Sebenarnya ini sungguh simalakama bagi joe. Eldric melarang siapapun untuk memberi tahu istrinya tentang keadaannya sekarang. Namun, disisi lain joe juga tidak tega melihat keadaan eldric dan satu-satunya orang yang bisa mengatasi semuanya adalah sang nyonya kecil.


"Joe kenapa kau hanya diam saja?" bentak Karina. Ia sungguh merasa tidak tenang.


"Tuan sakit Nyonya," jawab Joe singkat.


Tubuh Karina lemas seketika. Pantas saja ia merasa khawatir dengan keadaan suaminya sejak tadi, tapi kenapa eldric tidak memberi tahunya.


"Kenapa tidak ada yang memberitahu kalau El sakit!" teriaknya kencang, Karina merasa sangat kesal.


"Tuan melarang kami Nyonya."


Air mata Karina meleleh begitu saja, ia tidak bisa membayangkan suaminya terbaring lemah dalam keadaan sakit.


"Bagaimana keadaannya sekarang?"


"Seperti yang Anda tau Nyonya, Tuan tidak memperoleh siapapun untuk merawat Tuan El, bahkan paman berto," jawab Joe sendu.


Berto mengetahui keadaan Eldric saat ia akan beri tahu jika jet pribadi miliknya sudah siap untuk terbang ke Surabaya. Berto terus mengetuk pintu kamar Eldric. Namun, karena tidak ada jawaban Berto akhirnya memberanikan diri untuk masuk. Ia terkejut mendapati sang tuan yang tidur dengan bergulung dalam selimutnya, seolah ia sedang kedinginan padahal AC di ruangan itu tidak menyala.

__ADS_1


"Apa kau sudah memanggilku dokter?"


"Dokter Levina sudah ada di sini, tapi Tuan juga menolak."


"Joe, jemput aku sekarang!"


"Tapi Nyonya-


"Tidak ada tapi, jemput aku di Surabaya sekarang!" tegas Karina.


Joe menelan salivanya. Karina sama menakutkannya dengan Eldric, membantah perintahnya sama saja berurusan dengan Eldric.


"Ini sudah sangat malam Nyonya," ucap joe bimbang.


"Jemput aku, apa kau pikir aku akan diam saja mendengar suami sakit. Tanpa ada yang bisa merawatnya, cepat jemput aku!"


Karina menutup telfonnya secara sepihak. Ia bangkit dari duduknya melangkah ke lemari.


"Eldric bodoh, dia itu sakit kenapa tidak mau dirawat! Kenapa tidak memberitahu aku, dasar bodoh," gerutu Karina dengan bercucuran air mata.


Ia mengambil kaos dan jaket bulu berwarna pink yang di belikan oleh Mamanya. Setelah siap Karina keluar dari kamarnya. Ia kemudian berjalan kearah kamar orang tuanya.


Tok..tok..tok..


Karina memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu. Bagaimanapun ia harus berpamitan pada orang tuanya.


Setelah beberapa kali mengetuk pintu akhirnya pintu itu terbuka.


"Ada apa Nak? apa suamimu belum pulang?" tanya Siska cemas.


Mata putrinya sembab, Siska bisa melihat kalau Karina baru saja menangis.


"El sakit Ma, aku mau ke Jakarta sekarang," jawab Karina sendu.


"Apa Eldric sakit, tapi ini sangat malam. Bagaimana kau akan pergi ke sana? Mama juga tidak yakin Papamu akan memberikan izin."


Karina menatap Siska dengan matanya yang berkaca-kaca. Ia kemudian menggenggam erat tangan Mamanya.


"Ma tolong bujuk Papa, aku mau merawat El. Dia tidak mau sentuh siapapun.Ma," ujar Karina dengan memelas.


"Ada apa ini?" tanya Tama yang muncul dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2