Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Kita bersaudara


__ADS_3

Karina duduk termangu di tepi ranjang rumah sakit, yang ia huni beberapa hari ini. Sang suami sudah memindahkannya ke ruang rawat yang lebih baik satu ruangan ia huni sendirian lengkap dengan kamar mandi, lemari pendingin, ruangan santai dengan sofa besar dan televisi, tidak ada ranjang yang terpisah. Karena Eldric tidur satu ranjang dengan istrinya.


"Hai Karina, bagaimana keadaanmu?" tanya seorang laki-laki muda dan tampan, yang tak lain adalah Naoki.


Karina menoleh, ia tersenyum manis pada sang penyelamat hidupnya.


"Aku baik," jawab karina singkat, ia kemudian menoleh ke arah jendela lagi. Memperhatikan langit yang begitu indah pagi ini.


Naoki melangkah perlahan mendekati Karina. Ia kemudian mengambil sebuah kursi untuk duduk di depan wanita itu.


"Kemana suamimu?" tanya Naoki basa-basi. Ia sudah tahu kalau eldric pergi ke Jakarta dini hari tadi.


"Dia ada urusan, harus segera kembali ke Jakarta. Nanti sore dia akan kembali," ucap karina dengan sendu, sepertinya ia tidak rela berjauhan dengan sang suami.


Namun, karena dokter menyarankan agar Karina tidak melakukan perjalanan jauh untuk sementara waktu. Maka karina pun hanya bisa pasrah menanti kepulangan eldric.


"O. Emh ... Karin, apa benar kalau kau sedang mencari orang tua kandungmu?"


"Darimana Anda tahu?"


"Aku tahu saja, bagaimana kalau kau menemukan mereka sekarang apa kau akan merasa senang?"


"Tentu saja aku merasa senang, Anda tau aku sudah lama sekali ingin bertemu dengan mereka. Aku mencari keberadaan mereka meskipun aku tidak tahu siapa dan dimana, yang aku tau aku ingin bertemu. Aku rindu," ungkap karina dengan penuh arti.


"Mereka juga merindukanmu."


"Darimana Anda tahu?" Karina mengerutkan keningnya, ia menatap naoki dengan penuh tanya.


"Bukankah mereka membuangku di kolong jembatan, menelantarkan aku begitu saja. Anda tau bagaimana aku menjalani hidupku selama ini! Aku harus menyisihkan semua yang aku punya untuk anak-anak dari orang tua asuhku, aku harus berjuang keras untuk kehidupanku sendiri, apa kau tahu itu!"


Suaranya gemetar, ia meluapkan rasa kecewa dan amarah yang tersimpan dalam hatinya.


"Tidak, kami tidak membuangmu, papa dan mama selalu mencari keberadaanmu," sanggah Naoki cepat.


"Kami, papa, mama. Apa maksudmu sebenarnya?"


Naoki tidak menjawab, ia memberikan amplop putih yang sedari tadi dibawanya.


"Apa ini?"


"Bukalah, kau adalah tahu."


Dengan cepat Karina membuka amplop itu. Ia kemudian membuka lipatan kertas yang ada di dalamnya. Mata Karina terbelalak setelah membaca apa yang tertulis di kertas itu.


"Ini ..."

__ADS_1


"Ya Karin, kita bersaudara kau adalah adikku yang diculik oleh ayah kandungku."


"Diculik? ayah kandung? apa maksudnya ini semua, aku ...aku tidak mengerti?" Karina meremas kertas yang ada di tangannya.


"Kita bersaudara, satu ibu beda ayah. Tama, nama yang tertulis di hasil tes DNA itu adalah ayah kandungmu, beliau suami dari mama yang sekarang."


"Jadi ..kau Kakakku?" Air mata Karina meleleh di pipinya yang harus.


Naoki mengangguk kecil, matanya juga terasa panas.


"Boleh aku memelukmu?"


"Hem," jawab Karina dengan anggukan cepat.


Naoki bangkit dari duduknya, ia mendekat dan merengkuh adiknya dalam dekapannya. Tangis kedua tumpah, rasa rindu yang selama ini menumpuk dalam hati kini tersalurkan sudah.


"Maafkan aku Rin, aku tidak bisa menjagamu?"


Karina menggelengkan kepalanya. " Dimana papa dan mama Kak? aku ingin bertemu mereka," lirih Karina.


"Mereka akan datang sebentar lagi. Aku merindukanmu Rin, aku berjanji akan selalu menjagamu," ucap Naoki tulus. Ia semakin mengeratkan pelukannya.


Karina hanya mengangguk dalam pelukan kakak laki-lakinya. Jujur karina masih begitu terkejut dengan semua ini, ia bahkan tidak ingat kalau punya saudara laki-laki setampan ini.


Tanpa mereka sadari sepasang mata lentik yang sudah basah memperhatikan mereka dari pintu yang tidak tertutup rapat. Ia baru saja datang saat mendengar ungkapan perasaan naoki pada karina.


Mata yang melihat adegan manis itu semakin basah, air matanya luruh semakin deras. Ia meremas sebuah kertas yang di bawanya. Tak ingin lebih sakit , ia memutuskan untuk pergi dari sana membawa hatinya yang terluka.


"Apa kau sudah sarapan?" tanya naoki.


Karina menggelengkan kepalanya. "Belum Kak, aku tidak selera makan kalau tidak ada Suamiku."


"Ais ... dasar! suami tuamu itu kenapa tega meninggalkan istrinya dalam keadaan lapar seperti ini!" ucap Naoki geram.


"Dia tidak tua Kak, hanya lebih matang saja. Dia sangat sayang padaku," ucap Karina bangga.


"Ya ...ya aku bisa melihat betapa bucinnya suamimu itu," tukas Naoki.


Naoki tidak pernah diizinkan lebih dari 10 menit untuk menjenguk Karina. Makanya saat Eldric pamit dan menitipkan Karina padanya, naoki memanfaatkan waktu ini dengan baik. Mumpung si raja bucin tidaka ada di tempat.


"Kakak sudah menikah?" tanya karina penasaran.


"Sudah," jawab naoki singkat.


"Kenapa Kakak ipar tidak pernah datang menemuiku?"

__ADS_1


"Aku belum memberitahu siapapun tentang ini sebelum hasil tes DNA ini keluar. Mama dan papa juga baru tahu pagi ini,"


Karina pun ber o ria saja.


Ponsel karina berdering dengan kencangnya. Karina segera meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas yang ada di sebelahnya. Ia pun tersenyum simpul melihat sebuah panggilan video dari sang suami tercinta. Karina segera menggeser logo hijau di layarnya.


"Morning Honey," sapa eldric di ujung sambungan teleponnya dengan latar belakang interior dalam mobil.


"Ini sudah hampir siang. Kau sudah sampai mana?"


"Ini baru jam 9 Sayang, Aku baru saja keluar dari bandara Hon, and i really miss you now."


Karina terkekeh kecil, Suami matangnya itu memasang wajah memelas. Seperti anak kecil yang merindukan ibunya.


"I miss you to," lirih Karina.


Seketika mata eldric berbinar, ia begitu bahagia mendengar ucapan rindu dari istri kecilnya.


"Benarkah?"


Karina mengangguk malu-malu, kedua pipinya memerah terlihat sangat menggemaskan bagi Eldric. Sementara eldric tersenyum lebar, ia tidak bisa menutupi kebahagiaannya.


"Aku sungguh ingin memelukmu sekarang Honey," rengeknya.


"Kembalilah segera, saat kau sudah menyelesaikan urusanmu."


Eldric mendesah pasrah, ia memang harus segera menemui tamu agung yang bertandang ke mansionnya. Seseorang yang begitu ia hormati selain sang ayah.


Merasa jadi kambing congek, Naoki pun berpamitan pada sang adik.


"Aku akan membeli sarapan," ucap Naoki tanpa suara. Di jawab Karina dengan anggukan.


Kau sudah makan Sayang," tanya eldric kemudian.


"Belum."


"Apa! jam berapa sekarang? kenapa belum makan? apa laki-laki itu tidak menjagamu dengan baik!"


"Kak naoki baru saja keluar membeli sarapan untukku. Lagipula mana aku bisa makan kalau tidak kau suapi," gumam karina di akhir ucapannya.


Lirih. Namun, eldric masih bisa mendengarnya. Ah ...dalam hatinya, sekebun bunga mawar merekah dengan sempurna.


"Kak Naoki, jadi dia benar Kakakmu? apa hasil tes DNA sudah keluar?"


"Sudah, tunggu. Darimana kau tau semua ini?"

__ADS_1


"Tentu aku tau, apa kau lupa aku siapa," Eldric menyugar rambutnya kebelakang.


"Ya ya ... kau Eldric Hugo, suamiku yang tau segalanya."


__ADS_2