Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Nyinyir


__ADS_3

Seperti biasanya. Rutinitas pagi selalu dilakukan Karina sebelum memulai harinya.


Memandikan bayi besarnya, menyiapkan sang suami hingga terlihat tampan. Setelah itu baru ia akan menyiapkan dirinya sendiri.


"Jam berapa kau akan pulang hari ini?" tanya eldric saat mereka berada di meja makan menikmati sarapan.


"Seperti biasanya, kenapa?" jawab Karina sambil mengigit roti gandum miliknya.


"Sepertinya aku tidak menjemputmu hari ini, aku harus bertemu beberapa klien dari luar negeri. Jadi aku akan menyuruh supir untuk menjemputmu."


"Tidak masalah, saya tau Anda sangat sibuk. Anda tidak perlu terus repot untuk mengantar dan menjemputku," ujar Karina dengan tersenyum.


Entah kenapa eldric merasa istri kecilnya itu sedang menyindirnya. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia harus menyambut sendiri klien-klien yang sengaja datang untuk berkerja sama dengannya.


"Kali ini saja, besok aku akan menjemputmu seperti biasanya." Eldric menepuk pelan kepala Karina.


"Hem," jawab Karina pasrah.


Ia segera menghabiskan sarapannya. Entah kenapa ia merasa kecewa mendengar ucapan suaminya yang tidak bisa menjemptnya hari ini. Tidak seperti biasanya hari ini ia berharap bisa menghabiskan waktu bersama sang suami.


Sepanjang perjalanan ke sekolah karina lebih banyak diam, ia terlihat murung sambil terus menatap kearah luar jendela.


"Hey, apa kau marah?" tanya eldric.


"Tidak," jawab Karina singkat tanpa menoleh kearah suaminya. Ia masih betah berlama-lama melihat keluar jendela.


Eldric hanya bisa menghela nafasnya panjang. Dengan satu tangannya ia meraih pinggang istrinya, merapatkan duduk mereka. Kemudian merebahkan kepalanya sang istri di dadanya. Karina menurut saja apa yang di lakukan sang suami tanpa menolaknya. Namun, ia masih enggan untuk melihat kearahnya.


"Joe tidak bisa menggantikan aku untuk pertemuan kali ini. Mereka ingin bertemu langsung denganku, apalagi mereka telah sudah lama tidak berkunjung langsung ke Indonesia, kau bisa mengertikan." Eldric mengusap lembut rambut sang istri.


Karina tidak menjawab. Gadis itu bukannya tidak mengerti dengan kesibukan suaminya. Namun, hatinya seakan tidak mau berkompromi dengan akalnya hari ini.


Setelah perjalanan yang cukup lama akhirnya mereka sampai di gerbang sekolah. Tempat dimana gadis berperawakan mungil itu menimba ilmu selama lebih dari sepekan ini. Karina melepas pelukan suaminya, tanpa ritual pagi ia melenggang begitu saja keluar dari mobil.


Eldric hanya bisa menatap nanar punggung sang istri yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Joe apa menurutmu aku sudah berlebihan. Aku hanya tidak bisa menjemputnya hari ini saja. Kenapa dia begitu marah?"


"Mungkin nyonya ingin lebih di perhatikan oleh anda Tuan," jawab joe sekenanya. Kerena ia sendiri juga tidak mengerti.


"Apa mungkin begitu? tapi aku sudah memperhatikannya setiap malam, apa itu belum cukup?" Eldric mengelus rahangnya.

__ADS_1


Joe hanya bisa menggelengkan kepalanya, mendengar ucapan absurd atasannya itu.


Sementara itu di sekolah.


Karina yang baru saja turun dari mobilnya, berjalan dengan lesu memasuki gedung tempat sumber ilmu pengetahuan itu. Hati gadis itu masih berkecamuk, entah kenapa ia begitu sedih memikirkan bukan sang suami yang akan menjemputnya nanti.


Ini hal biasa Karina, Kenapa kau begitu sedih. Bukankah suamimu juga pernah keluar kota beberapa hari. Kau juga tidak apa-apa kan, lalu kenapa sekarang kau begitu kecewa karena pria itu tidak menjemputmu.


Karina menghela nafas panjang.


"Hey, kenapa muka loe kusut begitu? di putusin ya ama sugar daddy!" sindir sheina.


Gadis itu sengaja mengeraskan suaranya saat ia menyindir Karina. Dengan senyum mengejek ia melangkah mendekati Karina.


"Apa? Kamu nggak ada urusan lain selain ngurusin masalah aku. Apa kamu memang ngefans banget sama aku, sampai kamu mau tau semuanya," ketus Karina.


"Berani loe!" sentak sheina, gadis berambut pirang itu menatap karina dengan marah.


"Kenapa?! kamu pikir aku takut, nggak sama sekali. Jangan kamu pikir aku akan tunduk sama seorang gadis angkuh kayak kamu. Kalau tidak ada hal penting, permisi. Waktuku terlalu berharga untuk meladeni ocehan kamu!" Karina pun berlalu pergi.


Sheina mengepalkan tangannya, baru kali ini ia dipermalukan seperti ini. Wajahnya sampai memerah menahan marah serta rasa malunya. Ia tidak menyangka karina akan melawannya seperti itu.


Dengan langkah menghentak sheina meninggalkan halaman sekolah.


Karina yang baru saja masuk ke kelas segera menghempaskan tubuhnya di bangku miliknya. Ia begitu kesal pada sheina yang terus saja menganggunya. Padahal tak sekalipun Karina menganggu gadis itu, ia bahkan tidak sekelas dengannya.


"Boleh juga kamu," ucap adel.


"Eh ...Adel, boleh apanya?" ujar Karina bingung.


"Aku liat kok kamu ngapain sama sheina, kelihatan dari sini." Adel menunjuk jendela kaca kelas mereka.


"Huufff ....Sebel tau nggak ama tuh anak, tiap hari nyinyir mulu. Padahal aku tuh nggak pernah ganggu dia, kenal aja nggak kalau dia nggak ngenalin dirinya sendiri sebagai ratu sejagad sekolah ini. Aku tuh capek, sebel, kesel," ujar Karina meluapkan segala unek-uneknya.


"Slow aja dia anaknya emang gitu. Dia paling nggak mau ada yang menyaingi popularitasnya di sekolah ini, tapi aku salut sama kamu. Kami berani lawan dia kayak gini, rata-rata anak di sini bakal diem dan memilih minta maaf duluan meskipun mereka nggak salah."


"Kenapa harus minta maaf kalau nggak salah? lagian aku juga nggak minat jadi populer di sini. Aku cuman mau belajar, mau tenang ngelanjutin sekolah aku sampe


lulus," ujar Karina dengan bersungut-sungut.


"Hahaha ...emosi banget kamu."

__ADS_1


Karina menghela nafasnya.


"Iya nih, nggak tau kenapa. Rasanya hari ini pengen makan orang."


Kedua gadis itu pun saling bercerita bahkan di sela-sela jam pelajaran. Adel yang tadinya cuek dan ketus kini berubah menjadi seorang yang hangat dan enak di ajak bicara.


Hari ini karina tahu kenapa Adel bersikap seperti itu pada saat mereka pertama bertemu. Sebenarnya Adel adalah adik tiri dari sheina. Namun, sheina menyuruh Adel untuk merahasiakannya. Sheina merasa malu karena ibu tirinya hanya orang biasa. Karena itulah Adel selalu menjaga jaraknya dengan orang lain. Namun, entah mengapa ia merasa nyaman bicara dengan Karina. Mungkin karena ia juga Karina tidak memihak pada kakak tirinya itu, tidak seperti mirid lainnya yang berusaha dekat dan menjilat pada sheina. Jadi ia merasa punya teman senasib seperjuangan.


Kantin.


Adel dan Karina berjalan bersama menuju kantin, kedua terlihat akrab. Sebenarnya Karina merasa enggan pergi ke kantin. Namun, hari ini ia merasa begitu lapar.


"Kamu yakin bisa ngabisin semuanya?" tanya Adel heran. Ada tiga porsi makanan yang di pesan temannya itu.


"Iya, nggak tau nih aku lapar banget!" seru Karina sambil mulai memakan roti isi miliknya.


"Kamu nggak sarapan tadi?"


"Sarapan, tapi lapar lagi." Karina menyengir memamerkan jajaran giginya.


Adel hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat pipi Karina yang mengembung, gadis itu terus memasukkan roti isi ke dalam mulutnya. Ia seperti orang yang tidak makan selama dua hari.


🪶🪶🪶


Setelah sekolah usai. Karina berdiri di depan gerbang sekolah, ia menunggu jemputannya. Gadis itu masih berharap suaminya akan menjemputnya. Berkali kali ia menghela nafasnya panjang, ia sangat ingin bertemu dengan bayi besarnya itu sekarang.


Tak berapa lama Sebuah mobil mewah berhenti di depannya. Seorang laki-laki turun dari mobil itu lalu berjalan menghampirinya.


"Nyonya, saya di suruh untuk menjemput anda." Si sopir membungkuk hormat pada Karina


"Iya." dengan lesu Karina mengikuti langkah sopir itu.


"Hey, bener-bener udah ganti sugar daddy ya loe!"


Karina memutar matanya malas, ia tahu benar suara itu. Karina membalikkan tubuhnya, ia menatap tajam pada seorang gadis yang berdiri tak jauh di belakangnya. Dengan langkah cepat Karina menghampirinya.


Dengan kasar Karina menarik kerah baju sheina.


"Nggak usah terus ngebacot. Diem, atau aku robek mulutmu!" sentak karina dengan tatapan membunuhnya.


Sheina dibuatnya tidak berkutik, tatapan Karina membuatnya merasa takut. Karina menghempaskan kerah baju sheina dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2