Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Berat


__ADS_3

Sejak keberangkatan suaminya ke kantor untuk berkerja, Karina merasa tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengusiknya . Wanita hamil itu mondar mandir berjalan ke seluruh mansion berharap bisa menemukan ketenangan. Namun, sampai kakinya terasa pegal Karina tak kunjung bisa tenang. Ia merasa sangat gelisah.


Drtt ..drtt..


Setelah dua nada dering akhirnya video call Karina di angkat oleh suaminya. Layar datar itu menampakkan suaminya yang sedang tersenyum menatapnya.


"Hai again Hon, sekarang sudah sampai mana jalan-jalannya?" tanya eldric.


"Aku di kolam renang," jawab karina datar.


"Hati-hati, di sana licin," ujar Eldric meperingatkan.


"Jangan khawatir, Paman Berto menjagaku dengan baik. Bagaimana di kantor? tidak ada sesuatu yang aneh kan? kamu nggak kenapa-kenapa kan?" tanya karina dengan cemas.


"Ini sudah ke sepuluh kali kau menanyakan itu."


"Aku tau, aku hanya khawatir saja. Ya sudah kalau begitu."


Bep


Karina memutuskan sambungan teleponnya. Sebuah pesan masuk.


Aku akan pulang cepat, jangan khawatir aku baik-baik saja.


Sebuah pesan singkat dari suaminya. Namun, itu tidak bisa meredam rasa takut dan gelisah yang Karina rasakan.


Karina menghela nafasnya, ia kemudian melanjutkan langkahnya menyusuri tepi kolam renang untuk yang kesekian kalinya.


Sore hari.


Karina duduk dengan gelisah di kursi kayu yang ada di teras mansion. Beberapa kali ia melihat layar ponselnya untuk melihat waktu. Mulutnya terus berdecak ia merasa tidak sabar menunggu kedatangan suaminya. Laki-laki itu bilang 15 menit lagi ia akan sampai di mansion.


"Nyonya jangan khawatir Tuan akan segera sampai," ujat Berto mencoba untuk menenangkan.


"Kapan Paman? Kenapa dia belum sampai juga," Keluh Karina kesal.


Sebuah mobil mewah memasuki mansion, melihat hal itu Karina segera bangkit dari duduknya, ia tak sabar untuk menyambut kedatangan suaminya.


Setelah mobil berhenti Karina segera berlari kecil kearah mobil. Melihat hal itu Eldric segera turun lalu berlari kearah istrinya.


"Jangan lari!"


Karina tidak perduli trus berlari kecil menyongsong suaminya. Karina menabrak tubuh tegap itu, ia memeluknya dengan erat.


"Jangan berlari seperti itu, Aku takut kau jatuh Honey."


"Salah sendiri kau terlalu lambat."

__ADS_1


Eldric hanya bisa menghela nafasnya panjang. Ia kemudian mengangkat tubuh mungil istrinya, mengendongnya ala bridel. Karina meringsek dalam gendongan Eldric. Entah mengapa ia masih merasa khawatir dengan Eldric, walaupun pria itu sudah ada di hadapannya.


Eldric membawa sang istri masuk ke kamar, ia mendudukkan karina di sofa. Setelah itu Eldric pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah eldric selesai dan sudah memakai baju, ia melangkah mendekati istrinya yang sedang duduk melamun. Tangan kekar Eldric melingkar di pinggang karina yang mulai sedikit melebar.


"Apa kau mencintaiku, El?" tanya karina tiba-tiba.


"Aku sudah pernah mengatakannya, kenapa kau masih bertanya?" El menopangkan dagunya di bahu karina.


"O ...ya. kapan?"


"Ah ... sudahlah kamu juga tidak akan ingat."


Karina memberengut, ia begitu ingin mendengarkan ungkapan cinta dari suaminya.


🌛🌜


Tok...tok..


Suara ketukan pintu mengganggu istirahat Eldric. Ia dengan terpaksa membuka matanya karena suara ketukan itu semakin keras. Eldric memindahkan kepala karina dengan perlahan, ia tidak ingin membuat sang istri yang baru saja tidur. Karina terus gelisah sepanjang hari tanpa alasan yang jelas sampai sampai ia susah untuk tidur. Eldric berusaha menenangkan istrinya, dan hasilnya menjelang tengah malam mata mungil karina akhirnya bisa terpejam.


Setelah eldric berhasil memindahkan kepala karina ke bantal. Eldric dengan perlahan turun dari ranjangnya, ia segera bergegas membuka pintu.


Dengan raut wajah cemas Joe sudah berdiri di depan pintu.


"Gudang kebakaran Tuan!"


"Apa? bagaimana bisa!" Eldric mengusap wajahnya kasar.


"Tiga mobil pemadam sudah datang. Api masih berusaha di jinakkan Tuan," ujar Joe dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Kita ke sana sekarang!"


"Baik." Joe menunduk hormat.


Ia kemudian segera bergegas menyiapkan mobil. Sementara eldric masuk kembali ke kamar untuk mengambil jaketnya. Ia mendekatkati istrinya yang sedang tidak, eldric menunduk kemudian mencium kening istrinya.


"Emh ..El," panggil karina sayup-sayup.


"Aku akan pergi sebentar, lanjutkan tidurmu," ucap Eldric dengan lembut. Namun, karina bisa merasakan ke khawatiran di dalamnya.


Mendengar suaminya yang berpamitan padanya Karina kembali gelisah. Ia sungguh takut berpisah dengan suaminya. Entah kenapa Karina juga belum menemukan alasannya. Ia hanya tidak ingin Eldric pergi malam ini.


"Jangan - jangan pergi aku mohon. Jangan tinggalkan aku." Karina memegangi tangan suaminya.


"Hanya sebentar Honey. Ada masalah di gudang aku harus segera melihatnya."

__ADS_1


"Kau bisa melihatnya besok, jangan hari ini. Jangan malam ini El, aku mohon. Aku takut," Karina akhirnya memilih berucap jujur dengan ketakutan yang menyelimuti hatinya.


Eldric duduk di samping Karina, ia membantu istrinya untuk duduk.


"Apa yang kau takutkan?" tanya Eldric sambil menyelipkan rambut istrinya di belakang telinga.


"Aku ....aku tidak tahu. Aku hanya takut, bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu. Bagaimana kalau aku ...aku tidak bisa bertemu lagi denganmu," suara Karina terdengar bergetar.


Eldric segera memeluk erat istrinya. Mengusap lembut punggung Karina.


"Semua akan baik-baik saja Honey. Tidak akan terjadi apapun percayalah."


"Terjadi kebakaran di gudang pabrik, aku harus mengeceknya." imbuh eldric.


"Apa? kebakaran. Kalau begitu jangan pergi, itu sangat berbahaya," Karina semakin merasa takut mendengar apa yang terjadi di tempat yang akan di datangi suaminya.


"Aku hanya akan melihat, aku tidak akan mendekat."


"Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padaku saat kau pergi?"


Eldric mendorong tubuh Karina menjauh. Ia menatap tajam pada istrinya yang sedang ketakutan tidak jelas. Karina menatap Eldric dengan memohon, ia juga tidak mengerti kenapa ia bisa bicara seperti itu. Wanita itu hanya merasa takut sangat takut.


"Tidak ada sesuatu yang buruk terjadi padamu!" tegas Eldric.


"Jangan bicara seperti itu lagi, aku tidak suka mendengarkan itu."


"Aku hanya takut El." Karina kembali memeluk erat tubuh suaminya.


"Ada banyak orang yang akan menjagamu, aku janji akan segera kembali."


"Baiklah, hati-hati."


Dengan berat hati akhirnya Karina melepaskan pelukan. Meskipun hatinya masih begitu tidak rela.


"Jika kau takut jangan keluar dari kamar, ini adalah tempat paling aman di mansion. Aku akan mengaktifkan pengaman fi kamar ini, tidak ada yang akan bisa masuk kemari kecuali kau membuka pintunya. Mengerti."


Karina mengangguk patuh.


Eldric mencium pucuk rambut istri sebelum ia bangkit dari ranjang. Dengan begitu beratnya Karina melepas kepergian suaminya.


"Eldric ...!" panggil karina.


Eldric pun seketika menoleh.


"Aku mencintaimu."


"Aku tahu."

__ADS_1


Eldric kemudian berlalu di balik pintu. Karina menatap nanar pada pintu yang telah tertutup rapat. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak seolah tertindih oleh batu besar.


__ADS_2