Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Sidang


__ADS_3

Seorang murid pria bertubuh tegap memakai kacamata berjalan cepat, menghampiri Karina dan Adel yang sedang memberikan sedikit belaian sahabat pada sheina.


"Hei ada apa ini?!" sentaknya pada ketiga gadis itu.


Sheina yang jatuh tersungkur di lantai menengadah wajahnya. Keduanya sudut bibirnya mengeluarkan darah, pipinya memerah dengan rambutnya yang acak-acakan.


"Kak Rey, tolong aku. Mereka membully ku, hiks ..."


Rey berjongkok untuk menolong sheina. Karina melipat kedua tangannya sambil memutar bola matanya dengan jengah. Sungguh ratu drama, Karina tidak mungkin menyentuhnya jika sheina tidak mengganggunya lebih dulu.


"Kalian berdua apa yang kalian lakukan, hah?!"


"Kami. Apa yang kami lakukan Kakak ketua OSIS, kami hanya menyapanya saja, dia menjatuhkan dirinya sendiri " kilah Karina.


"Dia bohong Kak, lihatlah dia menampar pipiku berkali kali," rengek sheina sampai mengelus pipinya yang masih terasa panas.


"Kalian berdua sebaiknya segera masuk ke kelas, tapi bersiaplah aku akan melaporkannya pada Kepala sekolah.


"Silahkan, saya tidak takut sama sekali!" tegas Karina.


Ia pun mengandeng lengan Adel kemudian melenggang menjauh. Meninggalkan sheina yang sedang merengek berkilah mencari pembenaran dirinya.


"Rin, apa kamu nggak takut di keluarin dati sekolah?" tanya Adel.


"Kami sendiri nggak takut bakal di marahin sama ayah tiri kamu?" Karina balik bertanya pada sahabatnya.


Adel tersenyum kecut mendengarkan pertanyaan Karina.


"Udah biasa aku mah. Aku memang nggak pernah di anggap sama mereka, tinggal nunggu waktu untuk diusir saja," ujar Adel dengan sendu.


"Kamu nggak usah sedih gitu dong, kalau kamu diusir dari rumah. Kamu bisa kok tinggal sama aku," ucap Karina sambil menggenggam erat tangan sahabatnya itu.


"Makasih ya, Rin."


"Sama-sama, udah ayo masuk keburu telat lagi."


Adel tersenyum m dengan setengah berlari kecil kedua melangkah menuju kelas mereka.


Beberapa saat Setelahnya, saat jam pelajaran kedua dimulai.

__ADS_1


Seorang murid laki-laki masuk ke dalam kelas Karina, dia berbicara pelan pada guru yang sedang mengajar. Hingga kemudian sang guru menganggukkan kepalanya seolah memberikan izin pada murid itu.


"Karina Rizky Amalia. Adelia Dwi Listia, kalian berdua di panggil ke kantor!" seru seorang yang tak lain adalah rey ketua osis.


Karina dan Adek pun seketika bangkit dari duduknya setelah nama mereka di panggil. Setelah berpamitan pada guru mereka pun mengikuti langkah sang ketua OSIS yang mendahului mereka.


"Rin, kamu beneran nggak takut?" tanya adel, ia sungguh heran melihat wajah sahabatnya yang tampak begitu tenang. Tak ada raut takut sedikitpun di wajahnya.


"Kenapa harus takut sih, kita tuh nggak salah," tukas Karina.


"Iya." Adel mengangguk kecil.


Gadis itu berusaha meneguhkan hatinya, ia bukan takut pada guru atau hukuman yang akan di berikan di sekolah. Apapun hukuman di sekolah tidak akan melukai fisik dan mentalnya, yang ia takutkan adalah rumahnya. Tempat dimana ayah dan ibunya berada. Sesuatu yang mengerikan pasti menantikan dirinya du sana.


Karina menggenggam tangan sahabatnya, ia meyakinkannya bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan olehnya.


Setelah melewati beberapa ruang kelas akhirnya mereka sampai di ruangan kepala sekolah. Ruangan itu cukup nyaman dengan beberapa sofa yang ada di sana. Karina menghentikan langkahnya di ambang pintu. Ia memperhatikan setiap orang yang ada didalam ruangan itu. Sesosok pria yang duduk di sofa single menatap tajam pada Karina. Namun, gadis itu malah tersenyum kecil lalu segera berhamburan kepadanya.


Tanpa diduga eldric bangkit dari duduknya menyambut sang istri dalam pelukannya. Entah mengapa ia juga merasa rindu yang teramat pada istri kecilnya itu. Eldric memeluk erat tubuh karina, mengusap lembut rambutnya yang panjang.


"Apa kau terluka?" Eldric melerai pelukan mereka, kemudian ia memeriksa keadaan tubuh istrinya.


"Aku tidak apa-apa, tidak ada yang bisa menyentuh nyonya Hugo. Sayang, tenang saja," bisik Karina lirih di akhir ucapannya.


"Kau, gadis nakal."


Kalau saja Eldric tidak ingat dimana mereka berada, ingin rasanya ia melahap istrinya sekarang juga. Apalagi kata sayang yang baru saja didengarnya sungguh membuatnya terbang.


"Ehem, Tuan Eldric. bisakah kita memulainya," ujar seorang perempuan berambut pendek yang tak lain adalah kepala sekolah.


"Silahkan."


Eldric segera mendudukkan dirinya. Begitu pula Karina ia duduk di sebelah Adel yang sudah mengambil duduknya saat ia ditinggal melepas rindu oleh sahabatnya itu.


"Itu suami kamu, Rin?" tani adel berbisik-bisik.


"Iya, gantengkan," ujar Karina dengan bangga.


"Cie ...iya...iya yang punya suami bule," sindir Adel.

__ADS_1


Karina pun hanya bisa tersenyum kecil sambil tersipu malu.


"Selamat siang, maksud saya mengumpulkan kalian semua di sini adalah untuk menindak lanjuti laporan dari Rey. Karina apa benar kamu dan Adel menganiaya teman kalian Sheina?" tanya kepala sekolah secara langsung.


Eldric langsung memberikan tatapan tajam pada Karina. Namun, gadis itu terlihat sangat tenang saja.


"Hanya saya Bu, Adel tidak ikut andil dalam aksi saya, dia malah berusaha menghalang-halangi saya untuk menyakiti Sheina, tapi karena saya terlalu emosi. Saya tidak bisa menahan diri," ujar Karina menjelaskan.


"Bohong Bu, dia juga ikut memukul saya!" teriak sheina geram.


"Ibu bisa memeriksa cctv dan melihat sendiri bagaimana kejadiannya," imbuh Karina lagi, ia menatap tajam pada sheina.


"Tolong semua tenang, saya sudah melihat cctv dan memang Adel hanya berdiri tanpa melakukan apapun. Tapi, Karina.."


Wanita paruh baya menghela nafasnya panjang sebelum kembali berucap.


"Kau adalah murid baru di sini, tapi kau sudah membuat masalah dengan menganiaya temanmu sendiri. Tuan Eldric saya terpaksa akan mengambil tindakan tegas kepada keponakan anda ini!" tegas Wanita paruh baya itu.


Agh ... keponakan.


Eldric mendengus kesal.


Sheina menatap karina dengan senyum mengejek. Ia merasa puas, Karina pasti akan mendapatkan hukuman yang berat dari sekolah.


"Silahkan saja, tapi saya ingin lebih dulu bertanya kepada anda. Apakah anda yakin ini semua sepenuhnya kesalahan Karina, karena setahu saya Karin tidak akan melukai seseorang jika ia tidak merasa terganggu!"


"Emh ...itu saya belum memeriksa," jawab wanita itu lirih.


Brakk.


Eldric mengebrak meja dengan keras, membuat semua orang di ruangan itu terkejut. Kecuali istrinya.


"Jadi kau berani menyalahkan karin tanpa mengusut tuntas masalah ini. Apa kau yakin, kau sudah adil sebagai pemimpin di sekolah ini!"


"Maaf Tuan, saya hanya menindak lanjuti laporan dari murid saya. Ia di lukai oleh keponakan anda," jawab sang kepala sekolah dengan gemetar. Eldric menatapnya dengan tajam, auranya terasa begitu dingin dan menakutkan.


"Apa kau yakin murid yang melaporkan karin tidak berbuat kesalahan, Heh!"


Wanita itu itu menelan salivanya.

__ADS_1


Sementara Sheina, wajahnya terlihat pucat. Ia meremas roknya dengan tangannya yang basah karena keringat dingin.


__ADS_2