
Mansion.
Eldric segera turun dari mobilnya. Ia bergegas masuk dengan langkah lebar. Seorang laki-laki yang dengan rambut dan janggut lebat berwarna putih. Duduk dengan gagah di sofa ruang tamu Eldric. Pria itu masih penuh karisma di usianya yang sudah senja.
"Apa yang kakek lakukan di sini?" tanya eldric tanpa basa-basi.
"Menemui cucuku, kau sudah cukup lama kabur dari tanggung jawabmu El. Sudah saatnya kau pulang," jawab Dominic tegas.
Eldric berdecak, ia membuang mukanya kesal.
"Aku tidak mau berurusan dengan mereka, aku sudah mempunyai kehidupanku sendiri!" tegas Eldric, ia menatap tajam pada sang Kakek.
Dominic menghempaskan nafasnya kasar. Eldric sama dengan Alano anaknya bahkan lebih parah. Keras kepala mereka, tidak ada yang bisa mengalahkannya, dan tentu saja itu gen yang ia turunkan.
"Cepat jelaskan, apa maksud Kakek kemari? Aku tidak keberatan jika kakek memang datang untuk menemuiku, tapi jika kakek datang hanya untuk menghalangiku memberikan hukuman pada kedua ular itu, jangan harap aku akan menurutimu!"
Eldric sungguh sangat geram saat ini. Tepat di saat ia mengetahui kalau anaknya telah tiada, Eldric memerintahkan kepada anak buahnya untuk memukul kedua wanita yang dikurunnya dengan tongkat besi tepat di rahim mereka. Namun, sebelum pelaksanaan eksekusi, mereka kedatangan tamu agung yang tak lain adalah Dominic. Anak buah Dominic menghalangi mereka, anak buah El sempat melawan. Namun, mereka kalah orang-orang Dominic bukanlah orang sembarangan. Sebagai besar mereka adalah mantan agen pemerintah.
"Aku tidak menghalangi mereka. Tapi, anak buahmu memang terlalu lemah El," sendiri Dominic sambil melirik sekilas pada dua orang laki-laki yang berdiri di sudut ruangan. Mereka menundukkan wajahnya yang babak belur.
"Ck .... jangan samakan mereka dengan orang-orangmu."
Eldric menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada didepan Dominic. Ia tidak mengerti apa yang kakeknya inginkan hingga bertandang ke mansionnya.
"Kau tau siapa yang kau kurung di ruang bawah tanahmu?"
"Aku tau dengan jelas, aku mengurung seorang ibu dan anak perempuannya," jawab Eldric singkat sambil memijit pelipisnya yang terasa pening.
"Jadi kau sudah tau semua ini El!" pekik Dominic terkejut.
Eldric tersenyum getir.
"Tentu saja aku tau. Apa kakek pikir aku bodoh seperti ayah, yang tidak tau kalau istrinya adalah orang lain," sindir eldric tajam.
Dominic menggelengkan kepalanya.
Ia sungguh merasa bodoh mengira Eldric tidak tau apa-apa. Nyatanya anak itu mengetahui apa yang terjadi dalam keluarga mereka.
__ADS_1
"Ayahmu tau itu El, itu kenapa sebabnya ia tidak pernah menyentuh Mamamu sejak kau lahir. Ayahmu hanya tidak ingin kau kehilangan sosok ibu."
"Bodoh, membiarkan seekor ular mengasuh anaknya. Itu bodoh!" sentaknya marah.
"Mengertilah El, ayahmu tidak ingin kau seperti dirinya yang hidup tanpa kasih sayang seorang ibu," ucap Dominic mencoba memberi pengertian pada cucunya.
"Hem ... sudahlah, aku sudah malah membahas masa lalu."
Eldric bangkit dari duduknya, ia melenggang pergi menuju ruang bawah tanah.
"Eldric, kau tidak harus mengotori tanganmu!" teriak Dominic mencegah cucunya.
"Kakek tidak tau, apa yang mereka lakukan pada istriku!" sahut Eldric tampa menoleh.
Ia sudah di kuasai amarahnya. Tertanam jelas di benaknya bagaimana sang istri meraung menangisi kepergian salah satu anak mereka, hatinya begitu sakit melihat mata Karina yang putus asa.
Dominic mengikuti langkah cucuku. Ia tidak ingin Eldric melakukan hal bodoh, Dominic mempercepat langkahnya.
"Eldric, tenanglah. Jangan mengotori tanganmu Nak!"
Dominic berhasil meraih bahu Eldric. Namun, segera di tepis kasar olehnya.
Dominic akhirnya menghentikan langkahnya. Percuma ia menghalangi Eldric sekarang, laki-laki itu sudah di kuasai amarahnya.
"Alano maafkan Ayah, jika saja aku tidak memaksamu untuk menerima Helena untuk mengantikan istrimu yang meninggal. Semuanya tidak akan seperti ini," ujar Dominic sendu.
Dominic menghela nafasnya, ia mendongakkan kepalanya menatap langit langit mansion. Ingatannya menerawang masa lalunya yang penuh dengan ke egoisan.
Flashback on.
Seorang wanita cantik bermata biru terbaring lemah di brankar rumah sakit, ia baru saja melahirkan anaknya. Namun, karena penyakit yang dideritanya ia tidak bisa bertahan.
"Sayang, kau harus kuat," ucap Alano dengan tersedu.
Laki-laki itu memegang erat tangan istrinya yang dingin. Wanita itu tersenyum kecil si bibirnya yang pucat.
"Aku tidak akan kemana-mana, aku akan selalu ada di sisimu dan anak kita Eldric. Aku lelah Al. Aku ingin tidur," ujar Patricia lirih.
__ADS_1
"Jangan, aku tidak mengizinkannya. Kau tidak boleh tidur, kau harus tetap membuka matamu!"
"Sayang, aku sangat lelah. Jaga Eldric, berikan dia kasih sayang tanpa batas milikmu."
"Tidak aku tidak bisa!" Alano menggelengkan kepalanya cepat.
"Kemarilah. Dekatkan wajahmu," pinta Patricia.
Alano pun menurut, ia mendekatkan wajahnya pada wajah pucat istrinya. Sebuah kecupan yang terasa dingin mendarat di bibir Alano dengan lembut.
"Aku mencintaimu Al, selalu."
Mata lentik Patricia akhirnya terpejam. Alano berteriak, ia menjerit keras. Suaranya begitu memilukan. Sang buah hati yang tadinya tertidur lelap ikut menangis mendengar jerit tangis sang ayah.
Setelah kepergian Patricia, Alano depresi. Ia suka mengurung dirinya di kamar, hanya sesekali ia bermain dengan anaknya. Melihat hal itu Dominic merasa tidak tega pada Eldric kecil. Ia pun memaksa Alano untuk menikahi Helena, Alano menolak. Namun, Dominic membujuknya. Alano pun akhirnya setuju dengan pernikahan di atas kertas dengan Helena.
Namun, Dominic tidak menyangka. Itulah awal dari kehancuran keluarga mereka. Helena seorang wanita yang ambisius dan serakah. Sikap Alano yang acuh dan dingin padanya membuat Helena tidak tahan, wanita itu berselingkuh dengan adik kandung Alano untuk memuaskan hasrat biologisnya. Helena pun acuh pada Eldric, apalagi Eldric yang sakit-sakitan membuat Helena enggan untuk merawatnya. Ia menyerahkan semua kebutuhan Eldric pada Berto dan pengasuh lain.
Hingga, helena hamil dengan salah satu dari keluarga Ricci. Dominic marah, ia mengasingkan Helena sampai ia melahirkan dan memberikan anaknya pada keluarga ayah biologis dari anak itu. Aib itu Dominic tutupi dengan rapat untuk menjaga nama baik keluarga Hugo.
Setelah bayi Helena lahir dan di berikan pada keluarga Ricci. Helena mengiba pada Dominic agar bisa kembali masuk di keluarga hugo. Dominic pun memberikannya kesempatan kedua, dengan syarat Helena harus bisa merawat Eldric dengan baik. Helena setuju.
Kenyataan tak sejalan dengan apa yang wanita ular itu janjikan. Helena hanya baik pada Eldric saat ada orang lain bersama mereka. Namun, setelah kematian Alano Helena tidak lagi berpura-pura. Ia menunjukkan sifat aslinya.
Flashback off.
Di ruang bawah tanah.
Eldric menghajar kedua wanita itu secara membabi. Ia terus mengayunkan kakinya menendang tubuh Helena yang penuh luka. Donna pun tak luput dari kemarahannya. Wanita itu merintih kesakitan setelah Eldric menendang perutnya dengan keras.
Helena berteriak kesakitan. Namun, Eldric tak menggubrisnya sama sekali.
"Eldric cukup, Kakek yakin istrimu tidak akan suka kalau kau menjadi pembunuh!" suara bariton Dominic menyadarkan Eldric dari amarahnya.
Ia menoleh menatap Dominic dengan matanya yang memerah.
"Hentikan Nak, bersihkan dirimu. Kakek akan mengurus mereka berdua, ingat El masih ada satu nyawa yang ada dalam kandungan istrimu. Kau harus menjaga istrimu dengan baik, jangan membuatnya kecewa dengan sikapmu," bujuk Dominic.
__ADS_1
Eldric berdecih, ia pun melangkah keluar dari ruangan itu. Eldric melewati Dominic begitu saja, ia masih marah. Namun, ia juga tidak ingin membuat karina kecewa dengan membunuh orang lain.