
Eldric duduk ditepi ranjang sambil menatap pada dua orang wanita di hadapannya secara bergantian. Keduanya hanya diam dan saling bertatapan. Levina berdiri di sebelah ranjang dengan stetoskop yang masih terpasang di lehernya, ia menatap lembut pada Karina yang juga menatapnya dengan tatapan yang penuh arti.
"Hei ...apa kalian berdua bisu?" sentak Eldric.
"Hais ... karena hari ini hari spesial aku tidak akan mencari perkara denganmu. Selamat Eldric Hugo anda akan segera menjadi seorang Ayah!"
"Apa! kau- kau yakin dengan apa yang kau ucapkan Levina?!"
"Apa anda tidak suka dengan kehamilan saya Tuan eldric?!" potong Karina tiba-tiba. Ia menatap tajam pada suaminya.
"Sebaiknya kau memeriksa istrimu ke dokter kandungan untuk memastikan umur kehamilannya, baiklah aku pergi dulu bye." Levina bergegas keluar dari kamar itu, ia tidak ingin terseret dalam perang suami istri itu.
Karina menatap Eldric dengan matanya yang memerah dan berkaca-kaca. Ia sungguh kecewa dengan reaksi suaminya yang terlihat tidak senang dengan kehamilannya.
Eldric bukannya tidak suka. Ia hanya terkejut, sangat terkejut. Mantan jomblo karatan itu tidak menyangka istrinya akan hamil secepat ini. Apalagi diusianya yang bisa dibilang tak lagi muda. Eldric terbengong, ia membeku sambil menatap pada karina dengan penuh arti.
Tanpa bisa ditahan, air mata Karina meleleh begitu saja. Hal itu sontak membuat Eldric tersadar dari lamunannya.
"Kenapa kau menangis?"
Eldric hendak mengusap bulir bening yang membasahi pipi Karina. Namun, segera di tepis kasar oleh tangan istrinya, gadis itu berbaring miring memunggungi suaminya.
"Hey ada apa? katakan sesuatu," ujat Eldric mulai yang mulai panik dengan perubahan sikap Karina.
"Pergi sana, aku tidak mau melihatmu!" sentaknya tanpa menoleh sedikitpun kearah suaminya.
Bukannya pergi eldric malah berbaring disebelahnya kemudian memeluk tubuh mungil itu dari belakang. Eldric mencium pipi istrinya yang masih basah dengan tangannya yang mengusap lembut perut Karina yang masih sangat rata.
"Katakan kenapa kau menangis? apa aku membuatmu sedih?" tanya eldric dengan suara yang sangat lembut.
"Iya kau jahat!" seru Karina disela isaknya.
"Aku, kenapa?"
"Pake tanya lagi, anda tidak suka dengan kehamilan saya. Kalau tidak jahat lalu apa?"
Karina menangis kencang. Gadis itu merasa sangat sedih kehadiran janinnya ditolak oleh ayahnya sendiri. Dengan sedikit memaksa eldric membalikkan tubuh istrinya hingga mereka berdua saling berhadapan. Karina memalingkan wajahnya ia seolah enggan bersitatap dengan suaminya itu.
Eldric tersenyum kecil. Ia membingkai wajah mungil itu dengan kedua tangannya, sedikit menekannya hingga bibir Karina maju kedepan. Eldric memberikan kecupan besar pada bibir mungil itu.
"Kapan aku bilang aku tidak suka, hem." Eldric menekan kening istrinya dengan jari telunjuknya.
"Sakit," rengek karina manja, ia mengusap keningnya meskipun itu tidak sakit.
Eldric terkekeh, ia mencubit gemas hidung mungil Karina kemudian membawa gadis itu dalam pelukannya.
"Kau tau ini adalah hari terbaik dalam hidupku. Sebelum aku tidak pernah berpikir akan bisa mempunyai keturunan secara normal seperti ini. Punya istri, berhubungan langsung denganmu. Ini semua seperti mimpi yang menjadi nyata.
Mungkin ini semua terdengar berlebihan untukmu. Tapi aku sangat sangat bahagia saat ini. Bisa memilikimu dan bayi kita adalah sesuatu yang sangat aku impikan Karina, apalagi diumurku yang sudah tidak lagi muda. Sebenarnya aku tidak begitu memikirkan soal anak, tapi Tuhan begitu baik dan memberikan kesempatan belut junior tumbuh di rahimmu."
__ADS_1
Karina hanya diam mendengarkan semua ucapan suaminya. Baru pertama kali ini ia mendengar sang suami berbicara dengan begitu panjang lebar tentang perasaannya. Meskipun tak ada kata cinta. Namun, Karina merasa senang karena eldric juga menginginkan janin yang ada dalam kandungannya.
Eldric mencium pucuk rambut istri dengan dalam. Menyalurkan segala kebahagiaan yang ada dalam hatinya.
"Ayo bersiaplah, kita akan segera pergi ke dokter." Eldric melepaskan pelukannya.
Ia mulai turun dari ranjangnya kemudian ia membantu istrinya untuk turun. Dengan hati-hati ia menuntun karina berjalan ke kamar mandi. Jika biasanya Karina memandikan suaminya hari ini terjadi sebaliknya. Karina dimandikan Eldric dengan penuh kelembutan, meskipun malu. Namun, karina bahagia dengan perhatian suaminya itu.
Setelah selesai dan bersiap mereka pun turun untuk sarapan.
"Paman apa ini?" tanya karina saat sarapan sudah tersaji dihadapannya.
"Ini roti lapis Nyonya," jawab berto.
Karina mendorong piringnya menjauh, ia sangat tidak berselera dengan makanan yang ada di hadapannya. Eldric melirik sekilas kearah wajah istrinya yang terlihat masam.
"Apa Nyonya menginginkan sesuatu yang lain untuk sarapan? saya akan segera membuatkannya."
"Paman bisa masak nasi padang lengkap dengan sambel ijo dan rendang?" tanya Karina dengan wajah penuh harap.
"Itu ...
"Tidak bisa ya," jawab Karina sendiri dengan sendu.
"Kita akan membelinya diperjalanan ke rumah sakit, bagaimana?" tanya eldric sambil mengusap bibirnya.
Pria itu sengaja mempercepat makannya agar ia bisa memenuhi keinginan istrinya itu.
"Tentu, kita berangkat sekarang."
Karina mengangguk patuh. Ia segera bangkit dari duduknya lalu berjalan mendahului sang suami keluar mansion. Eldric tersenyum kecil, ia kemudian memberikan isyarat agar berto mendekat.
"Mulai sekarang belajarlah masakan Asia, beberapa bulan kedepan mungkin kau akan sering memasaknya."
"Baik Tuan," jawab berto patuh.
Eldric bangkit dari duduknya kemudian ia segera menyusul langkah istrinya. Gadis cantik itu ternyata sudah menunggunya di dalam mobil. Ia terlihat begitu tidak sabar untuk pergi. Sebenarnya karina tidak sabar untuk segera makan nasi padang.
"Semangat sekali," sindir eldric pada istrinya.
"Iya dong kan mau makan nasi padang, nanti boleh nambahkan makannya?"
"Makan saja sepuasmu, apa kau pikir aku tidak bisa membayarnya!"
Karina hanya menjawabnya dengan senyum yang menampakkan jajaran didi putihnya.
Mobil pun akhirnya melaju meninggalkan mansion. Dengan kecepatan tinggi, setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di sebuah rumah makan padang.
Karina segera turun dan memesan tiga bungkus nasi Padang dengan lauk yang berbeda. Setelahnya ia pun kembali masuk kedalam mobil. Aroma rempah yang khas menyeruak didalam mobil saat Karina membuka satu bungkus di antaranya.
__ADS_1
"Anda ingin makan, Suamiku?"
"Tidak kau saja."
Eldric begitu heran melihat Karina yang makan dengan mengunakan kedua tangannya. Apalagi saat gadis itu menjilati jari-jarinya yang pernah dengan bumbu.
Lama kelamaan Eldric merasa ingin mengincipi nasi Padang yang dimakan oleh istrinya. Saat bungkusan kedua dibuka. Eldric pun akhirnya meminta Karina untuk menyuapinya.
"Bagaimana enak?"
"Lumayan," jawab eldric datar.
Selama perjalanan ke rumah sakit kedua sejoli itu menghabiskan semua nasi pada yang dibeli karina.
Rumah sakit.
Karina merasa gugup. Saat ini ia terbaring diatas brankar untuk melakukan USG.
seorang perawat mulai menyingkap sedikit atasan yang dipakainya, kemudian mengoleskan gel yang terasa dingin di kulitnya.
"Kehamilan pertama nyonya?" tanya sang dokter ramah.
"Iya dokter."
"Tidak usah gugup, semua akan baik-baik saja."
Sang dokter mulai mengusap perut Karina dengan sebuah alat.
"Kita lihat di sana ada bintik kecil sebesar biji kacang hijau. Itu adalah janin dan usianya sudah memasuki Minggu ke lima," ujar sang dokter menjelaskan.
Eldric dan karina seketika memperhatikan layar monitor. Rasa haru dan bahagia menyeruak dalam hati eldric, ia menggenggam tangan istrinya dengan erat. buliran bening mulai mengenang di pelupuk matanya. Namun, dengan cepat eldric mengusapnya. Meski begitu Karina masih sempat menangkap momen itu, saat haru suaminya.
"Selamat Tuan anda akan mendapatkan cucu kembar?"
Eldric mengerutkan keningnya. Ia mendengus kesal sambil membuang mukanya kesamping.
.
.
.
.
.
Hari ini maafkan Emak up 2 bab.
Emak lagi mabok belut 🤣🤣🤣
__ADS_1
Butuh sajen 🤧🤧 besok di sambung lagi ya gaes. Jangan lupa tinggalkan jempol dan komentar, insyaallah mak akan selalu balas coment semuanya 🥰🥰🥰