
Levina tidak akan bisa kabur jika ada ketiga
orang itu.
"Eh, kalian mengambil tangga ini bertiga mengembalikannya juga harus bertiga."
"Saya kuat membawanya sendiri Nona," elak pengawal yang membawa tangga.
"Nggak usah bantah, cepat kalian kembalikan tangganya!"
Ketiganya pun menurut. Mereka menjinjing tangga itu bersama-sama lalu kemudian membawanya ke gudang. Setelah kepergian tiga pengawal itu, levina segera mengajak ben masuk.
"Paman ayo masuk!"
"Ok." keduanya bergegas masuk, mereka tau sesuatu pasti terjadi pada joe.
Suara tawa sang ayah membimbing levina, ia semakin mempercepat langkahnya saat suara seperti pukulan benda tumpul.
"No! STOP it!" teriak levina .
Joe membungkuk memegangi perutnya, saat levina datang melihatnya, joe baru saja di pukul dengan balok kayu di perutnya hingga mulutnya mengeluarkan darah.
Alessio memberikan isyarat pada kedua seorang anak buahnya untuk menghentikan levina yang hendak mendekati joe. Pengawal itu memegangi tangan levina.
"Lepaskan aku!" teriak levina meronta. Arie matanya luruh melihat kekasihnya yang bersimbah darah.
Joe berlutut lagi ia menatap wajah levina dengan senyum yang ia paksakan. Pandangan matanya mulai buram karena tetesan darah dari pelipisnya yang luka, tubuhnya sudah sakit, tulang-tulangnya terasa patah. Namun, semuanya itu hilang saat melihat wajah levina, berkali kali tubuhnya menerima pukulan tetapi ia akan kembali ke posisi semula.
"Seret dia kembali ke kamarnya!" bentak alessio, ia tak habis pikir bagaimana anaknya itu bisa keluar dari kamarnya.
"Tidak Ayah aku mohon jangan pukul dia lagi, aku mencintainya. Aku mohon mengertilah!" teriak levina, tubuhnya terus meronta, tetapi tenaganya kalah kuat.
__ADS_1
Ben perlahan mendekati pengawal yang memegangi levina kemudian menyerangnya dari belakang, hingga ia melepaskan cengkeramannya pada levina.
Ada kesempatan levina berlari pada sang kekasih. kedua pengawal itu berusaha menghalang-halangi levina, tetapi dengan sigap karina mengelak, bergerak dengan lincahnya. Levina mengambil pistol yang ada di pinggang salah satu penjaga.
"Diam atau aku akan menembak kepalaku sendiri!" Levina mengarah pistol itu di kepalanya.
Kedua pengawal itu terhenti. Sementara satu lagi sudah kalah terkapar setelah di hajar ben.
"Mundur," perintah alessio pada kedua anak buahnya. Kedua pengawal itu pun mundur teratur.
Perlahan levina mendekat kearah joe, hatinya sungguh sakit melihat keadaan joe seperti itu. Ben melangkah mendekati, ia membantu joe bangun, masih dengan perlindungan levina yang menjadikan dirinya sebagai tameng ben membawa joe keluar dari ruangan itu.
"Kau tidak perlu melakukan ini," ucap joe dengan lirih.
"Diam! aku akan membuat perhitungan denganmu setelah ini!" tegas levina tanpa menoleh.
Alessio berjalan maju mengikuti langkah levina yang melindungi joe dengan posesifnya.
"Kau bodoh lev, dia hanya laki-laki lemah," ucap Alessio geram.
Ia sempat berharap alessio sedikit berubah, setelah ia melarikan diri dari rumah. Namun kenyataannya tidak sama sekali. Alessio tetaplah Alessio dia hanya tau dirinya dan kekuasaannya. Ia masih berusaha untuk menjadikan levina alat untuk menguatkan dirinya, dengan menjodohkannya dengan anak dari salah keluarga terkaya di Italia.
Para pengawal sudah bersiap mengepung levina dan joe di halaman, levina yang melihat itu merasa takut tapi hanya sesaat. Saat ia melihat satu pengawal yang akan mendekat levina menembak telapak tangannya sendiri.
"Levina!" teriak Alessio.
Ben dan joe pun tak kalah terkejutnya dengan apa yang dilakukan levina
"Aku tidak main-main, sekali lagi anak buahmu mendekati kami, kau akan melihat mayatku!"
Panas dan sakit, amat sakit tetapi levina bertahan. Ia biarkan darah segar mengalir dari lubang di tangannya.
__ADS_1
"Ingat hari ini Ayah, aku bukan lagi putrimu. Aku Levina Valentino," ujar levina sambil berlinang air mata.
"Aku tidak butuh pembangkang sepertimu di rumah ini, pergi! jangan biarkan aku melihatmu lagi!"
Levina tersenyum masam ia masuk kedalam mobil. Ben mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah alessio.
"Bodoh kenapa kau menembak tanganmu sendiri!" bentak joe.
"Kau juga bodoh, kenapa kau biarkan mereka menghajar mu!" bentak levina tak mau kalah.
Keduanya sama-sama terluka, tetapi tidak menghilangkan tenaga mereka untuk bertengkar. Benar-benar ajaib.
Levina mengusap darah di pelipis joe dengan tangannya yang tidak terluka.
"Lihatlah, wajahmu sampai jelek seperti ini," ujarnya sambil menyusuri wajah joe yang penuh lebam.
"Ayah mu bilang akan memberikan restu jika aku bertahan sampai senja nanti." joe memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut yang ia rindukan.
"Bodoh, bagaimana kalau kau tidak bisa bertahan."
"Maka aku mati karena memperjuangkan cinta kita," ucap joe dengan senyum kecil.
Plak
"Sakit," keluh joe, saat levina menampar pipinya.
"Mulut mu sembarangan bicara, kalau kau mati aku bagaimana? Masa ia jadi janda tapi perawan," ucap levina sambil memberengut kesal.
"Janda dari mana, menikah saja belum."
"Aku selalu menganggap diriku adalah dirimu, meskipun kita belum terikat pernikahan," ucap levina tersipu, bibirnya yang pucat tersenyum kecil.
__ADS_1
Ben berusaha untuk tidak mendengarkan dua orang di belakangnya. Ia terus mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.
Setelah mendapatkan perawatan medis, mereka diizinkan pulang. Lebih tepatnya memaksa untuk pulang. Karena malam itu juga keduanya kembali ke Indonesia.