Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Lubang cacing


__ADS_3

Karina berteriak. Suara kencangnya begitu memekikkan telinga, hingga eldric melepaskan tangannya dari tubuh karina untuk berpindah menutup telinganya. Kesempatan itu segera di manfaatkan Karina untuk menggulung dirinya dengan selimut.


Jantung Karina berdegup sangat kencang. Ia benar-benar merasa terkejut saat sesuatu yang keras mendorong di bokongnya.


Ya Tuhan sebenarnya apa itu tadi, kenapa keras sekali, besar dan ...dan sangat panjang. Aaaa ... bagaimana kalau itu di masukkan kedalam punyaku. Aku pasti bisa mati. Itu akan menusuk sampai ke perutku, bagaimana kalau ususku robek kena benda itu. Kenapa sebesar itu sih ...!


"Hei, cepat buka, kenapa kau membungkus dirimu seperti ini." Eldric menarik selimut yang membungkus tubuh istrinya.


Karina semakin erat. Ia sungguh merasa takut dengan belut listrik milik suaminya yang sudah bangun. Eldric tidak kehabisan akal, ia menarik selimut istrinya dari atas. Berhasil, selimut karina melorot sampai ke lehernya.


Wajah Karina memerah, nafasnya tersengal. Bergulung dalam selimut membuat karina susah bernafas. Eldric menyeringai melihat wajah kecilnya yang memerah, sungguh menggemaskan.


"Kenapa bersembunyi? apa kau tidak ingin melayani Suamimu? setelah mendapatkan mansion kau ingin lari begitu saja?"


"Ti-tidak Tu- ... Suamiku, saya sedang mentruasi. Iya bener saya sedang mentruasi, jadi tidak bisa di pakai," bohongnya pada sang suami.


"Mentruasi?"


"Iya Suamiku, sedang ada darah kotor yabg di keluarkan jadi untuk sementara waktu lubang cacingnya tidak bisa digunakan." Karina memasang wajah imutnya.


Sudut bibir El terangkat, ia tahu Karina sedang berbohong.


"Biar aku memeriksanya sendiri."


Eldric menarik sisa selimut yang menutupi tubuh Karina. Meskipun dengan sekuat tenaga Karina mempertahankan selimutnya. Namun, tenaganya kalah kuat dengan sang suami.


Aaaaaaaa ... Suami gila!


Eldric berhasil menarik selimut tebal itu lalu membuangnya sembarangan. Ia menyeringai melihat dada karina yang naik turun seiring tarikan nafasnya yang tersengal. Kaosnya tersingkap keatas memperlihatkan pusar minim di atas pengaman berwarna hitam dengan gambar tikus paling terkenal sedunia.


Tangan kekarnya mengunci kedua tangan kecil Karina keatas. Satu tangannya menyusup kebawah, ia benar-benar memeriksa segitiga bermuda yang tertutup pangan. Mata Karina membulat sempurna, ia merasa sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh. Ada gelayar aneh tidak bisa ia jelaskan.


Gadis itu mengigit bibir bawahnya, tubuhnya menggeliat tidak beraturan. Eldric tersenyum miring, sungguh menyenangkan melihat gadis kecil itu menggeliat seperti cacing kepanasan.


"Hen- hentikan," lirih Karina dengan suaranya yang memelas, sungguh ia ingin suaminya itu berhenti mengusap mis v nya.

__ADS_1


"Kenapa? kau takut?" tanya Eldric dengan suaranya yang berat dan terdengar serak.


Eldric sendiri juga merasakan hawa panas yang mulai menjalar di tubuhnya. Karina menatapnya dengan sayu dengan pelan ia menganggukkan kepalanya, seperti ini saja sudah membuat gadis itu menggila. Eldric menelan salivanya, jiwa kejantanan semakin meronta. Belut listrik itu sepertinya sudah ingin sekali masuk ke lubang cacing milik istrinya.


"Kita akan melakukannya perlahan, Ok."


Eldric mulai mengikis jarak diantara bibir mereka, dengan liar ia mulai mel*mat bibir ranum istrinya yang terus menggoda. Tangan Eldric tak henti bergerak, ia ingin istrinya terus menggeliat di bawah Kungkungannya.


"Emh ..."


Sebuah ******* tertahan di kerongkongan Karina, Eldric semakin memperdalam ciumannya. Menyesap rasa manis saliva istrinya.


Nafas keduanya memburu, kini keduanya sudah polos tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh mereka. Pemandangan yang indah, dua gunung kecil terpampang jelas tanpa halangan apapun. Karina memalingkan wajahnya, ia sungguh malu saat eldric menatapnya tanpa berkedip.


"Kau berbohong, tidak ada darah di sana," eldric menyeringai licik.


Wajah Karina semakin memerah. Sungguh malu sekali rasanya ia ketahuan oleh suaminya.


"Sangat indah, aku ingin merasakannya."


Eldric langsung melahap pucuk berwarna pink yang tegak menantangnya. Karina terus mengeluarkan suara suara kecilnya, membuat Eldric semakin bersemangat.


Eldric meremas gundukan padat itu dengan kuat. Ia tidak sadar kalau Karina meringis kesakitan karena ulahnya. Puas bermain di atas, Eldric segera menarik dirinya. Ia memposisikan Belut miliknya di depan lubang cacing milik istrinya.


"Siap, aku akan memasukkannya."


Karina mengangguk kecil, ia memejamkan matanya. Melihat penampakan belut yang menyerupai piton saja sudah membuatnya takut setengah mati.


"Aaaaaaaa .. sakit. Keluarkan!!" Karina meremas sprei yang sudah tidak beraturan lagi.


"Ini masih ujungnya, belum masuk semua!"


Eldric mengerang sambil terus berusaha mendorong masuk miliknya. Sangat sempit ia bahkan hanya bisa memasukkan ujungnya yang botak.


"Tapi itu sakit, punyamu terlalu besar. Ini tidak akan berhasil ...!"

__ADS_1


"Jangan masukkan lagi ... hiks ..." air matanya mulai meleleh. Eldric terus saja menghentak miliknya berusaha keras untuk masuk.


Seakan-akan tuli Eldric terus mencoba, ia tidak mempedulikan Karina yang kesakitan. Setelah beberapa kali akhirnya Eldric berhasil menjebol pintu lubang cacing istrinya, cairan merah terasa hangat mulai meleleh keluar dari sana.


"Uuuugghhh ...." Karina mel*nguh panjang. Ia tubuhnya melengkung keatas. Dengan air matanya yang terus meleleh.


Eldric mengerang, ia belum bergerak. Pria itu masih menikmati sensasi hangat dan basah, lubang cacing karina berkedut seolah menghisapnya lebih dalam.


Eldric menelan salivanya. Ia memegang erat pinggul istrinya, pria yang baru saja melepaskan keperjakaan itu mulai bergerak maju mundur sesuai dengan instingnya.


Karina mende*ah, ia masih merasakan perih dan nyeri di **** * nya. Karina bertahan, ia mengigit bibir bawahnya dengan kuat.


"Ini sangat nikmat, ehmm ....! eldric semakin memacu tubuh di atas karina yang masih mengerang kesakitan.


Malam semakin larut. Hujan mulai turun membasahi bumi, udara di sekitar semakin dingin. Namun, itu belum cukup mendinginkan suasana dalam kamar pengantin itu. Tanpa bunga tanpa hiasan, keduanya terus berpacu untuk mencapai sebuah kenikmatan surga dunia.


Alunan suara kenikmatan terus menggema dari pertempuran yang tidak ujungnya. Sang pemburu seperti enggan untuk melepaskan mansa yang baru saja ia dapatkan. Meskipun ia sudah terkulai lemas tak berdaya. Namun, pria itu masih terus bergerak untuk mencapai puncak kenikmatan yang kesekian kalinya.


Peluh mengalir dari tubuhnya. Eldric merebahkan dirinya di sebelah Karina yang sudah tidak sadarkan diri. Eldric tersenyum ia mengecup singkat kening dan bibir istrinya. Sungguh pertemuan yang sangat menyenangkan.


Pria yang tidak pernah bisa menyentuh wanita itu, kini sudah melepaskan ke perjakaanya. Akhirnya belut miliknya sudah bangun dan berguna.


"Sayang sekali kau sudah pinsan, padahal aku masih ingin bermain denganmu."


Eldric merengkuh tubuh polos istrinya dalam dekapan, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos.


Perlahan mata Eldric terpejam. Memeluk erat istrinya dengan penuh rasa syukur.


"Aku akan membuatmu selamanya disisiku. Aku tidak akan melepaskan mu, istriku." gumam Eldric lirih.


.


.


.

__ADS_1


.


Hujan gaes ... waktunya yabg anget anget 😅🤣🙈🤣 .... jangan traveling ya!


__ADS_2