
"Ada apa ini?" tanya Tama dengan suara baritonnya.
"Pa, Eldric sakit aku mau ke Jakarta," pamit Karina tegas, ia menatap sang ayah dengan penuh harapan.
Tama mengerutkan keningnya, ia menatap lekat pada wajah sang putri yang terlihat begitu sendu.
"Ini sudah malam, Rin. Lagi pula ada orang lain yang bisa menjaganya, suamimu bukan anak kecil lagi. Kau bisa pergi besok."
Karina menggelengkan kepalanya.
"Eldric tidak bisa di rawat siapapun selain aku."
"Ck, manja."
"Kau juga sama Mas, kalau kau sakit. Kau juga mau dirawat orang lain selain aku," soloroh siska.
Tama menatap tidak suka pada istrinya. Namun, ia juga tidak bisa mengelak karena itu adalah kenyataan.
"Izinkan dia pergi Mas," bujuk Siska.
Siska bisa mengerti apa yang dirasakan oleh putrinya. Terlebih saat hamil seperti ini, Karina memang harus selalu dengan Eldric.
Karina memasang wajah memelasnya. Menatap Tama sambil menyatukan kedua tangannya di dada.
"Hah ... baiklah," ucap Tama pasrah.
"Bener Pa, aaa ... terima kasih!" pekik karina kemudian memeluk erat Tama.
"Papa memang yang terbaik," imbuh karina.
Tama hanya bisa pasrah saat kedua wanita tercantik dalam hidupnya memohon kepadanya. Ia tak berdaya menghadapi dua pasang mata imut yang memelas menatapnya.
"Makasih, Mas. Kau memang sangat pengertian." Siska mengecup singkat pipi suaminya.
"Berterima kasihlah dengan benar, Sayang." Tama menaik turunkan alisnya menatap genit pada Siska
"Apasih," elak Siska sambil tersipu.
Tama tergeletak, Siska selalu terlihat mengemaskan saat kedua pipinya bersemu.
"Bagaimana kau akan pergi ke Jakarta Nak? akan sangat memakan waktu kalau mengunakan mobil."
Karina melepaskan pelukan.
"Aku sudah meminta Pak Joe untuk menjempuku," jawab Karina.
"Baiklah, kalau begitu Papa dan Mamamu akan ikut ke Jakarta."
"Terus, bagaimana jadwal operasi kamu besok. Mas?" tanya Siska.
"Astaga aku hampir saja lupa." Tama berkacak pinggang sebelah, dan satu tangannya memijit pelipisnya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Mama saja yang menemani Karina ke Jakarta," usul Siska.
"Aku tidak setuju!" tegas Tama.
Mana bisa ia berpisah dengan istrinya, meskipun Tama sering meniggalkan Siska sendirian di rumah. Namun, setidaknya Tama tau kalau sang istri tercinta akan menyambutnya saat ia pulang.
Jika Siska ikut Karina ke Jakarta lalu bagaimana nasibnya? Bagaimana nasib sosis urat miliknya. Tama yakin Karina tidak akan langsung kembali ke Surabaya , setidaknya ia akan menunggu sampai suaminya sembuh dan otomatis Siska pun akan menemani putri mereka beberapa hari menginap di rumah menantunya. Mana bisa Tama menahan rindu selama itu
"Tapi Mama nggak tega kalau Karin pergi ke Jakarta sendirian Mas," ujar Siska sendu.
"Lalu bagaimana nasibku," rengek Tama, ia memeluk istrinya dengan posesif.
"Mas, malu sama Karin," bisik Siska.
Bukannya melepaskan tangannya, Tama justru semakin memeluknya erat.
Karina tersenyum kecil, pemandangan manis itu mengingatkannya pada sang suami.
"Ma, Pa. Karin ke Jakarta sendirian saja, lagi pula ada pak Joe yang akan menjaga karin, Mama nggak usah khawatir."
"Tapi Nak-
"Enggak apa-apa Ma, tapi karin minta tolong anterin ke bandara ya," ucap karina sambil tersenyum.
"Tentu, Papa Ganti baju dulu."
Karina mengangguk.
Ia kemudian memutuskan untuk menunggu kedua orang tuanya di ruang tamu. Karina terus gelisah memikirkan keadaan suaminya. Ia mendudukkan dirinya di sofa, sambil mengusap perutnya. Janinnya terus bergerak seolah ia juga merasakan kegelisahan yang sama dengan sang ibu.
"Karin, ayo Nak."
Karina menoleh, ternyata kedua orang tuanya sudah selesai bersiap. Karina mengangguk, ia kemudian bangkit dari duduknya.
Tama melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah hiruk-pikuk kota Surabaya yang seolah tidak pernah tidur. Setelah empat puluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai di bandara.
Joe sudah menunggunya di bandara. Ia dan beberapa orang pengawal membungkuk hormat sembilan puluh derajat menyambut karina dan kedua orang tuanya.
"Selamat malam, Nyonya. Tuan besar dan Nyonya besar."
Tama dan Siska pun mengangguk kikuk, mereka merasa risih. Ia pertama kali mereka di sambut seperti orang penting. Meskipun Tama seorang pemimpin dan pemilik rumah sakit besar. Namun, ia melarang pegawainya membungkuk hormat seperti yang joe lakukan.
"Pak Joe. Apa sudah lama?" tanya Karina.
"Saya baru saja sampai Nyonya," jawab joe singkat.
"Ayo Pak Joe, aku ingin segera pulang," ajak Karina tidak sabar, sedari tadi ia tidak bisa tenang memikirkan suaminya.
Karina memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.
"Ma, Pa. Karin pamit."
__ADS_1
"Hati-hati Sayang," ucap Siska sendu, ia sebenarnya tidak tega melepaskan kepergian putrinya.
"Joe, aku titip putriku jaga dia dengan baik!" tegas Tama.
"Tentu Tuan Besar, saya akan menjaga Nyonya dengan nyawa saya," jawab Joe dengan sungguh-sungguh.
Karina dan para ajudannya lepas landas menggunakan jet pribadi milik Eldric. Setelah menempuh perjalanan udara selama 1jam 30 menit akhirnya mereka sampai. Mereka melanjutkan perjalanan menggunakan mobil sampai ke mansion.
Setelah sampai. Karina segera turun dari mobil tanpa menunggu joe membuka pintu untuknya.
"Hati-hati, Nyonya!" pekik Joe. Ia sangat takut melihat sang nyonya yang berlari ke mansion.
Joe segera menyusul langkah sang Nyonya kecil, jika sampai terjadi sesuatu pada karina.
"Astaga Karin! kamu bisa jatoh!" teriak Levina, ia kemudian menghampiri Karina.
Nafas Karina tersengal, sebenarnya ia juga tidak ingin berlari. Tubuhnya sudah terasa berat dan susah untuk bergerak.
"Bagaimana keadaan El?" tanya karina langsung.
"Kau tanya bagaimana keadaan Batu hidup itu?" Levina balik bertanya dengan kesal.
"Dia bukan batu Eldric suamiku!" tukas karina ketus.
"Ya! Suamimu ini keras kepala seperti batu, dia tidak memperolehkan siapapun masuk ke kamar. Sudah sakit masih saja keras kepala," gerutu Levina.
Karina tidak menggubris perkataan Sepupu iparnya itu. Karina langsung menarik tangan Levina dengan kasar, dengan langkah lebar Karina berjalan menuju kamarnya.
Karina masuk begitu saja setelah membuka pintu. Mata Karina berkaca-kaca melihat suaminya terbaring di atas ranjang dengan wajahnya yang pucat.
"Siapa? cepat pergi, aku sudah bilang aku tidak mau diganggu!" teriak Eldric dengan suaranya yang terdengar lemah.
Karina mengerutkan keningnya, ia kemudian menatap Levina yang mengangkat bahunya acuh. Mata Eldric terpejam tapi ia bisa tau ada orang lain yang masuk ke kamarnya. Karina meneruskan langkahnya mendekati ranjang Eldric, dengan tangannya yang masih menarik lengan Levina.
"Aku bilang cepat pergi!" pekik Eldric, kali ini ia membuka matanya, ia menoleh kearah pintu menatap tajam pada orang yang berani membantah perintahnya.
"Kau mau mengusirku, Sayang."
"Honey?"
Mata Eldric terbelalak melihat sang istri yang ada dihadapannya. Karina melipat kedua tangannya, menatap geram pada Eldric.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Maafkan Emak ya Gaes. Kemarin mak nggak up karena kecapekan 🥲🙏