Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Lapar


__ADS_3

Setelah menyelesaikan ritual mandi keduanya pun keluar. Berjalan menuju meja makan, karina memakai celana jean longgar dengan kaos bergambar kartun sangat kontras dengan suaminya yang memakai jas lengkap.


Setelah sampai di meja makan. Eldric segera menarik kursi untuk duduk istrinya kemudian ia sendiri duduk di sebelah Karina. Berto segera menyajikan makanan untuk sarapan kedua majikannya itu.


Karina mengerutkan keningnya saat melihat makanan yang ada dihadapannya. Pasta, saat ini ibu hamil itu sungguh tidak berselera memakan sesuatu seperti itu. Melihat wajah masam istrinya Eldric pun mengerti.


"Apa kau tidak berselera dengan makanan itu?" tanya Eldric sambil menyantap pasta miliknya.


Karina mengangguk cepat, ibu hamil itu menoleh memberikan tatapan memelas pada suaminya. Tatapan yang selalu ia gunakan saat Karina akan meminta sesuatu.


"Apa yang kau inginkan untuk sarapan?" tanya eldric datar.


"Aku ingin Alpukat dihancurkan kemudian campur dengan susu kental manis putih lalu di beri beberapa es batu."


"Kau mendengarnya Berto!"


"Baik Tuan, mohon Nyonya tunggu sebentar saya akan menyiapkannya." Berto pun bergegas kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan Karina.


Setelah beberapa saat, Berto kembali dengan semangat alpukat yang telah hancur seperti bubur dalam mangkuk. Mata Karina berbinar binar ketika makanan itu ada dihadapannya.


"Terima kasih Paman," ucap karina dengan senyum.


"Ck, kau tidak perlu tersenyum semanis itu pada pria lain, Istriku!" sentaknya penuh penekanan.


"Tapi aku hanya mengucapkan terima kasih pada Paman Berto."


"Tidak ada tapi, Ini peraturan baru di sini. Berto beritahu pada semua orang di sini, mereka harus menundukkan kepalanya bisa berhadapan dengan Nyonya!"


"Baik Tuan, saya akan menyampaikannya pada semua. Kalau begitu saya permisi," pamit berto dengan menunduk hormat.


"Tunggu Paman!" cegah karina.


"Iya Nyonya," jawab Berto dengan tetap menunduk.


"Tolong buatkan lagi, aku masih lapar. Berapa alpukat yang Paman buat? Kenapa sedikit sekali?" keluh Karina.


"Dua Nyonya."


"Tolong buatkan makanan yang sama tapi dengan lima alpukat, apa bisa? aku masih sangat lapar."


"Li- lima Nyonya?"


"Iya kenapa? apa alpukat di dapur tidak cukup?"


"Cukup Nyonya, Anda tidak usah khawatir. Saya akan segera membuatkannya." Berto bergegas kembali ke dapur.


Eldric hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sang istri yang mengais sisa makanan di mangkuknya.

__ADS_1


"Apa kau akan memakan mangkok itu juga, hemh?"


"Tapi aku masih sangat lapar," protes Karina sambil terus menjilati sendoknya.


Tak lama kemudian Berto pun datang dengan membawa semangkuk besar alpukat yang sudah dihancurkan seperti sebelumnya. Dengan bersemangat Karina mulai menyendok makanannya dengan lahap, ia seperti orang kalap yang belum makan seharian penuh.


"Pelan-pelan tidak akan ada yang merebutnya darimu."


Karina tidak mendengarkan suaminya, ia terus melahap makanannya. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menghabiskan semangkuk bubur alpukat dingin itu.


"Apa sudah kenyang?" tanya eldric sambil mengusap ujung bibir Karina yang kotor dengan tisu.


"Sudah."


"Kalau begitu ayo kita berangkat!" Eldric bangkit dari duduknya, kemudian ia membantu sang istri untuk bangun.


Mereka pun berjalan meninggalkan meja makan. Karina masih menempel manja di lengan kekar suaminya, ia sungguh suka melakukan hal itu. Sesampainya di depan mansion, Joe menyambut mereka dengan hormat ia kemudian membukakan pintu untuk kedua majikannya itu. Eldric membantu istrinya untuk duduk kemudian baru ia turut masuk.


Mobil yang mereka tumpangi melaju di jalanan kota Jakarta yang padat. Karina bersandar manja di lengan suami. Eldric tersenyum sambil terus mengusap lembut rambut istrinya.


"Suamiku, aku lapar," rengek Karina.


"Apa? lapar. Tapi kita baru saja menyelesaikan sarapan kita 15 menit yang lalu dan kau sudah mengeluh lapar," ujar eldric tak percaya.


"Lalu bagaimana saya memang merasa lapar, apa Anda lupa ada dua mulut kecil lainnya di sini!"


"Aku hanya ingin makan camilan. Keripik singkong sepertinya enak."


"Joe tepikan mobilnya di minimarket terdekat."


"Baik Tuan," sahut joe.


Setelah beberapa saat berkendara joe akhirnya menghentikan mobil mereka di sebuah minimarket. Dengan semangat 45 Karina segera keluar dari mobil. Ia bergegas turun tanpa menunggu suaminya membuka pintu untuknya.


Melihat istrinya yang berlari seperti anak kecil, eldric hanya bisa menggelengkan kepalanya gemas.


"Astaga anak itu, dia sudah akan menjadi seorang ibu tapi kelakuannya masih seperti anak kecil."


Karina, ibu hamil itu begitu antusias mengambil semua camilan yang berada di rak yang tertata rapi di sana. Setelah ia rasa cukup Karina segera bergegas ke kasir. Sadar ia tidak membawa uang Karina pun keluar dari minimarket untuk menemui suaminya.


Eldric bersandar di mobil menatap karina yang sedang berlari kecil kearahnya.


"Kenapa?"


"Minta uang." Karina menengadahkan tangannya sambil memamerkan jajaran giginya.


Eldric merogoh sakunya untuk mengambil dompet miliknya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kartu berwarna emas lalu memberikannya pada karina, wanita itu menerimanya dengan satu kerutan di keningnya.

__ADS_1


"Saya mau uang, Suamiku. Bukan kartu ATM."


"Pakai itu saja, mulai sekarang beli apapun yang kau mau dengan memakai uang yang ada didalamnya, Mengerti!"


"Baik, terima kasih." Karina menjinjitkan kakinya untuk memberikan sebuah kecupan di pipi suaminya.


Karina pun membalikkan badannya lalu berlari kecil kembali kedalam minimarket. Setelah menyelesaikan pembayaran Karina kembali dengan membawa dua kantong kresek besar berwarna putih dengan logo minimarket itu.


"Astaga, Karina. Apa kau yakin kau akan menghabiskannya!"


"Ehem ... ini juga untuk jaga-jaga di kantor nanti, siapa tau saja saya tiba-tiba merasa lapar."


Eldric hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mereka pun kembali masuk ke mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka.


Setelah cukup lama berkendara akhirnya mereka sampai di kantor. Karina masih bergelayut manja di lengan Eldric sambil terus mengunyah sekantong keripik singkong yang ada di tangannya.


Karyawan di kantor itu menunduk hormat kepadanya saat Karina melewati mereka. Peraturan di mansion juga berlaku di kantor itu, semua harus menundukkan kepalanya bisa Karina ada di hadapan mereka.


Setelah sampai di ruangan suaminya Karina segera mendudukkan dirinya di sofa. Sementara eldric duduk di kursi kebesarannya. Tak berapa lama Joe pun masuk dengan membawa semua kantong camilan sang Nyonya kecil.


"Taruh di sini saja Pak Joe," seru Karina sambil menunjuk meja yang ada di dekatnya.


"Baik Nyonya." Joe pun meletakkan semua camilan itu sesuai dengan perintah Nyonya kecilnya.


"Terima kasih Pak Joe," ucap karina dengan senyum ramah.


"Sama-sama Nyonya," sahut Joe dengan sopan.


Joe pun melangkah mendekati sang tuan untuk memberikan jadwal perkerjaan mereka hari ini. Joe mulai membaca jadwal meeting dan pengecekan bahan di gudang pabrik hari ini, sementara Eldric mendengarnya dengan seksama sambil terus fokus ke layar laptopnya.


"Bagaimana dengan guru yang akan mengajar istriku?" tanya Eldric tanpa menoleh.


"Sudah siap Tuan, saya sudah memilih tiga kandidat. Mereka akan datang sebentar lagi untuk wawancara dengan Anda."


"Bagus," jawab Eldric singkat.


"Kalau begitu saya permisi Tuan," pamit joe sambil membungkuk hormat.


"Hem."


Setelah joe keluar dari ruangan itu. Karina memberanikan diri untuk bertanya pada suaminya.


"Jadi saya ikut ke kantor untuk memilih guru saya?" tanya karina dengan hati-hati.


"Hem."


"Aaa ... terima kasih Suamiku, Anda suami terbaik." Karina berlari kecil lalu memeluk suaminya.

__ADS_1


Karina memberikan kecupan pada wajah suaminya dengan bertubi-tubi. Ia merasa sangat bahagia mendapatkan perhatian yabg begitu besar dari sang suami.


__ADS_2