Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Janji


__ADS_3

Eldric terus mengusap punggung tangan karina yang tidak tertancap jarum infus. Raga dan hatinya juga begitu lelah, tetapi El tidak ingin meninggalkan Karina sendirian.


"Maafkan aku," gumamnya berkali-kali. Rasa bersalah masih menghantui dirinya.


Meskipun karina tidak menyalahkannya sedikitpun atas apa yang terjadi. Istri kecilnya itu lebih legowo menerima segalanya.


Ini adalah takdir yang di gariskan Tuhan untuk kita, meskipun ibu mirah tidak datang untuk menyakitiku hari ini. Akan ada kejadian lain yang akan membuat hal ini tetap terjadi. Bohong jika aku tidak takut dan sedih, tapi aku punya kamu.


Kata-kata Karina ucapkan setelah ia selesai dioperasi. Lucu memang, seharusnya El yang harus menguatkan istrinya. Namun, Karina dengan begitu dewasanya wanita mungil itu mengatakan hal untuk menenangkan suaminya.


"Aku akan tetap membalasnya."


"Sayang, jangan ikuti amarahmu."


"No, Honey aku akan tetap memberikan wanita itu pelajaran!"


"Kalau kau bersikeras aku bisa apa, tapi berjanjilah. Jangan membunuhnya."


"Baiklah," putus El dengan pasrah.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Maafkan aku jika tidak bisa menepati janjiku, Hon." Eldric mengecup punggung Karina Karina.


Eldric menoleh saat mendengar pintu kamar itu terbuka. Seorang wanita paruh baya lari berhambur kearah Karina, air matanya berderai membasahi kedua pipinya. Dua orang laki-laki berjalan di belakangnya.


"Sayang anakku, maafkan Mama tidak bisa menemanimu," ucap Siska dengan terisak. Wanita itu memeluk erat tubuh putrinya yang terbaring lemah.


"Ma, Karina baru saja tidur," tegur Eldric. Sebenarnya ia tidak melarang mertuanya untuk memeluk sang istri, tetapi El juga tidak tega jika karina terbangun.


"Benarkah?"

__ADS_1


Eldric hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. Siska melepaskan pelukannya, ia mengusap lembut pipi karina lalu mengecupnya.


Tama hanya berdiri di belakang sang istri dengan matanya yang lekat menatap wajah pucat Karina.


"Kita duduk dulu ya Sayang," ajak Tama pada sang istri.


Siska menggelengkan kepalanya. "Aku mau nemenin Karina Mas."


"Baiklah," jawab Tama.


Tama menatap tajam pada pria di hadapannya. Ia memberikan isyarat pada El untuk mengikutinya, El mengerti dan mengangguk.


"Aku akan bicara dengan El sebentar," pamit Tama.


"Iya Mas," jawab Siska dengan tatapan yang tak lepas dari karina.


Tama beranjak dari sisi Siska, ia kemudian mendudukkan dirinya di sofa yang ada di sana. El mengikuti apa yang di lakukan mertuanya.


Eldric menghela nafas.


"Maaf Pa, aku salah. Seharusnya aku bisa menjaga Karina dengan baik, maaf," ucap Eldric dengan penuh penyesalan.


Joe hanya berdiri di sebelah pintu, ia memperhatikan bagaimana wajah sang tuan yang tertunduk dengan penuh rasa kecewa pada dirinya sendiri.


"Apa kau pikir maaf mu cukup untuk perbaiki semuanya," ujar Tama dengan suara yang sedikit meninggi.


Pria paruh baya itu merasa marah, ia begitu mempercayakan keselamatan dan kebahagiaan sang putri pada Eldric, tetapi ia malah mendapatkan kabar seperti ini.


Eldric hanya menunduk, ia tahu dia salah dari segi manapun ia tetap saja salah. Sebagai seorang suami seharusnya bisa menjaga karina dengan lebih baik.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan cucuku?" tanya tama dengan tidak memalingkan tatapannya dari brankar.


"Zoe ada di NICU, aku belum sempat melihatnya lagi. Aku tidak ingin meninggalkan karina sendirian," jawab El jujur pada sang mertua.


Tama hanya bisa menghela nafasnya mendengar jawaban menantu matangnya. Sendiri tanpa ada keluarga sama sekali, Tama bisa mengerti bagaimana pria itu merasakan kebingungan dengan semua yang terjadi. Meskipun ia punya banyak anak buah dan mengerahkannya dalam waktu bersama, itu tidak akan bisa mengatasi masalah hari ini. Zoe, Zack dan karina adalah tanggung jawab Eldric sepenuh.


"Lalu bagaimana dengan saudara kembarnya?"


Eldric menggeleng, anak laki-lakinya masih ada di sebuah ruangan di rumah sakit itu. Tempat dimana jenazah di simpan.


"Pergilah, selesaikan semuanya. Aku tau kau juga belum mengurusnya. Aku dan Mamamu akan menemani Karina sementara ini, Naoki juga akan pulang hari ini," ujar Tama.


"Baik, Pa," jawab El dengan lesu.


Hatinya begitu rapuh, ia masih mengingat dengan jelas saat dokter memperlihatkan bagaimana keadaan Zack. Hati El hancur, seperti gelas kaca yang di banting dengan keras.


Eldric bangkit dari duduk, ia melangkah lesu keluar dari ruangan tempat karina dirawat. Joe membukakan pintu untuk sang tuan. Eldric menghentikan langkahnya mengambil nafas dalam.


"Joe, bagaimana?"


"Dia sudah berada di mansion Tuan," jawab Joe cepat.


Mata Eldric yang tadinya sendu kini berubah penuh amanah, kilatan kebencian memancar dari sorot matanya. Bison yang sedang di kuasai amarah itu siap menghabisi musuhnya.


"Lalu bagaimana tempat peristirahatan Zack? apa kau sudah menyelesaikannya?"


"Sudah Tuan, semuanya sudah di siapkan."


"Terima kasih Joe," ucap Eldric tulus.

__ADS_1


Joe terkejut dengan apa yang baru saja ia dengarkan.


"Sudah tugas saya." Joe menunduk, ia merasa terharu dengan ucapan terima kasih yang baru saja di terimanya.


__ADS_2