Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Rencana Helena 1


__ADS_3

Eldric melangkah cepat keluar dari kamarnya, setelah mengaktifkan sistem kemanan kamar utama. Berto dan Joe sudah menunggunya di depan mansion dengan mobil yang di siapkan Joe.


"Berto jaga karina dengan baik, aku sudah mengaktifkan pengaman kamar utama. Beritahu semua untuk siaga malam ini!" tegas Eldric.


Ia sendiri juga merasa heran dengan kegelisahan istrinya. Apalagi kata cinta yang baru saja dinyatakan oleh karina terasa seperti kata perpisahan untuk mereka. Namun, Eldric segera menepis pikiran negatifnya, mansionnya begitu aman dengan puluhan pengawal yang berjaga dan Berto selalu ada untuk menjaga Karina.


Sebagai pimpinan perusahaan ia tidak mungkin jika mengacuhkan begitu saja. Kebakaran yang sedang terjadi di salah satu gudang pabrik miliknya.


"Baik Tuan," jawab berto sambil menunduk hormat.


Eldric segera masuk kedalam mobilnya. Joe mengemudikan mobil itu menjauh dari mansion. Ia melanjutkan mobilnya dengan cepat agar bisa segera sampai di lokasi.


Sementara karina, wanita itu mencoba kembali memejamkan matanya. Ia merebahkan tubuhnya dan mencari posisi ternyaman untuk tidur.


Lima menit ....


Sepuluh menit ....


lima belas puluh menit ....


Karina tidak berhasil memejamkan matanya. Ia hanya memiringkan badannya ke kanan dan kiri.


"Huf ..." Karina menghela nafasnya ia semakin gelisah tak karuan.


Tok ...tok..tok...


"Nyonya tolong buka pintunya," panggil seseorang.


Karina tidak mengenal suara itu, jelas itu bukan suara berto. Ia teringat pesan suaminya untuk tetap berada di kamar.


Kamar utama di desain khusus dengan pengamanan yang tinggi, pintu yang terlihat biasa itu sebenarnya terbuat dari besi yang ringan namun juga kuat dan tahan ledakan. Saat keamanan di aktifkan tidak satupun orang bisa membuka pintu kecuali Eldric dan karina, itupun harus dari dalam karena handle pintu itu hanya akan mengakses sidik jari Karina dan suaminya.


"Tuan sekarang sedang berada di rumah sakit, Luka bakarnya sangat parah!" teriak seseorang lagi.


Karina yang awalnya ragu untuk membuka pintu terkejut mendengar kabar suaminya berada di rumah sakit. Cepat-cepat ia turun dari ranjangnya. Ia tidak perduli dengan dirinya, jantungnya berdegup kencang mendengar kabar buruk sang suami.


Ceklek


Pintu terbuka. Dua orang laki-laki bertubuh tegap berdiri di depan pintu kamar Karina.


"Kenapa kalian diam saja? cepat antar aku ke rumah sakit, dimana Paman berto? apa dia sudah menunggu di mobil?" tanya karina dengan cemas.


Bukannya menjawab kedua pria itu malah mengapit tubuh karina. Masing-masing dari mereka memegang tangan karina lalu menyeret ibu hamil itu kearah ruang tengah.


"Hey... apa yang kalian lakukan! lepaskan, lepaskan aku!"

__ADS_1


Karina berteriak, ia meronta mencoba melepaskan diri dari kedua laki-laki itu. Jantung Karina berdegup semakin kencang, ia merasa sangat takut dan gelisah. Sesuatu yang tidak baik akan terjadi.


Kedua laki-laki itu membuat karina terpaksa duduk bersimpuh di lantai.


"Apa yang kalian inginkan, lepaskan aku!"


Karina terus berteriak sambil meronta berusaha untuk berdiri. Namun, sia-sia dua laki-laki itu lebih kuat darinya.


"Lepaskan atau seluruh pengawal di mansion ini akan membuat kalian babak belur!"


"Ih ... takut, kau mau minta tolong pada pengawal berjaga. Sayang sekali, mereka sudah di singkirkan oleh anak buahku, Karina."


Karina menoleh kearah pintu penghubung antara ruangan itu dan ruang tamu. Tampak seseorang yang ia kenal berjalan dari arah sana dengan seorang wanita yang tak lain adalah mertuanya di belakang wanita itu.


"Kau ... Donna! kenapa kau lakukan ini, bukankah kau sudah kembali ke Italia dan ...Mama-


Plak


Satu tamparan mendarat di pipi Karina, sangat keras hingga Karina tertoleh dan membuat sudut bibirnya robek.


"Jangan panggil aku Mama dengan mulutmu yang murah itu. Kau pikir, kau pantas menjadi menantu di keluarga Hugo," ujar Helena dengan menyalak.


Karina tertawa terbahak-bahak. Ia kemudian menoleh, dan memberikan tatapan tajam pada sang mertua yang berdiri di hadapannya.


"Ternyata ini aslimu Nyonya Helena. Pantas saja anakmu sangat membencimu," ucap karina kemudian kembali tertawa cekikikan.


"Diam kau dasar J"lang!"


"Apa kau pikir keturunan Hugo pantas di lahirkan wanita murahan seperti mu hah!" ujar helena sambil melirik sinis kearah perut Karina.


Helena mencengangkan rahang Karina dengan sangat keras. Donna pun tak tinggal diam, ia melangkah mendekati Karina dari belakang. Dengan kekuatan penuh ia menarik kepala karina terpaksa mendongak keatas. Gadis itu tidak memekik kesakitan walaupun ia sudah di tampar dan di jambak dengan kuat oleh Donna. Hal itu semakin membuat Donna semakin geram.


"Sudahlah Bi, jangan buang-buang waktumu yang berharga."


"Kau benar," Helena menyeringai licik.


Ia mengambil botol obat dalam sakunya. Helena mengeluarkan banyak pil lalu memaksa karina untuk membuka mulutnya. Karina meronta ia terus menggelengkan kepalanya, tapi semakin Karina menggeleng Donna akan semakin menarik rambutnya.


"Emph ...emph."


Helena mencengkeram kuat dagu Karina, menekan pada kedua pipinya hingga mulut kecilnya terpaksa terbuka. Helena memasukkan obat-obatan itu kedalam mulut karina, dengan kasar Helena menguyur mulut Karina dengan air mineral.


Ingin melawan. Namun, tangan Karina masih di pegang dengan kuat oleh kedua laki-laki itu.


"Kau dan anakmu akan mati," bisik Helena di telinga sang menantu.

__ADS_1


Mata Karina terbelalak mendengar ucapan Helena. Karina seolah berhadapan dengan seorang iblis bukan seorang ibu.


🙊🙉🙈


Asap putih mengepul panas ke angkasa yang pekat. Hawa panas menguar dari sebagai gudang yang terbakar. Api akhirnya bisa di jinakkan oleh pemadam kebakaran setelah dua mobil damkar datang membantu. Petugas kebakaran masih terus menyiramkan air ke area yang terbakar untuk memastikan api padam dengan sempurna.


Eldric yang baru saja tiba segera turun dari mobilnya. Ia dan Joe segera mendekat lokasi yang terbakar.Di sana sangat ramai sejumlah orang datang untuk melihat dan beberapa warga yang sempat membantu memadamkan api dengan peralatan seadanya juga masih berada di sana. Lima mobil damkar dan dua mobil polisi juga ada di sana.


"Bagaimana?" tanya Joe pada pengawas gudang yang sudah ada di sana.


"Tuan." pria paruh baya itu mundur beberapa langkah, lalu memberi hormat dan eldric yang berdiri di sebelahnya.


"Api sudah berhasil di jinakkan Tuan, tapi -


Dom.


Suara ledakan terdengar dari dalam gudang. Semua orang yang tadinya santai melihat api yang tinggi asap berlari menjauh, suara jeritan melengking memekikkan telinga.


Joe dengan sigap melindungi tubuh sang tuan. Api kembali menyala, asap kembali membumbung tinggi ke langit. Dalam gudang memang terdapat bahan kimia yang mudah terbakar dan meledak.


"Tuan, Anda tidak apa-apa?"


"Aku baik Joe."


Keduanya pun memutuskan untuk menjauh ke tempat yang lebih aman. Para pemadam kebakaran masih berjibaku dengan untuk memadamkan api itu lagi.


Setelah cukup lama akhirnya api bisa di kuasai dan bisa padam dengan sempurna. Para petugas pun mulai masuk ke dalam gudang, untuk melakukan penyelidikan singkat. Seorang laki-laki berpakaian seragam menghampiri Eldric.


"Selamat malam Tuan," ucap polisi itu.


"Selamat malam, bagaimana? apa penyebab kebakaran ini?" tanya eldric datar.


"Untuk sementara saya rasa kebakaran di karenakan faktor kesengajaan,"


"Apa?" Eldric mengepalkan tangannya kuat, sorot matanya menajam.


"Tolong cepat selidiki, aku ingin pelakunya segera tertangkap."


"Baik Tuan." itu pun akhirnya pergi menjauh.


"Joe suruh black untuk melakukan penyelidikan sendiri. Aku ingin pelakunya di seret ke hadapanku, sebelum dia masuk penjara!" titah Eldric.


"Saya akan melakukannya dengan baik," jawab Joe patuh.


Joe segera menghubungi black untuk menangkap pelaku pembakaran gudang mereka. sebagai seorang pengusaha eldric memiliki tim khusus untuk saat seperti ini. Bisa di bilang ia memiliki sekelompok orang kepercayaan untuk melakukan sesuatu di bawah perintahnya.

__ADS_1


"Kita pulang sekarang Joe. Aku mengkhawatirkan istriku."


Tiba-tiba saja Eldric merasa tidak tenang dan terus kepikiran istrinya.


__ADS_2