
...Seperti nyala lilin di tengah kegelapan....
...saat aku mendengar kata cinta darimu....
...Sesuatu yang sangat aku nantikan selama ini. Kau berjalan masuk dalam hidupku, dengan caramu kau menghentikan air mata dan ketakutanku....
...Tuhan, bisakah aku menghentikan waktu saat ini juga. Aku ingin selamanya dalam dekapannya, jangan pisahkan kami. Ambil nyawaku saat kau mengambil nyawanya, karena aku tidak akan bisa bernafas tanpa adanya dia....
...Maafkan keegoisanku, tapi aku hanya tidak ingin hidup tanpa melihatmu. Karena itu sama saja aku mati....
- karina-
❤️❤️❤️
Tangis karina semakin pecah. Ia meraung keras, kata cinta itu begitu mengejutkan. Eldric yang bingung hanya bisa mengusap lembut punggung Karina yang bergetar.
"Honey sudah ya jangan menangis lagi. Aku salah aku minta maaf, maafkan aku," bujuk Eldric, ia tidak tega melihat istrinya yang terus-menerus menangis.
Eldric tidak tahu kalau tangis karina sudah berganti dengan air mata bahagia. Kata cinta yang baru saja eldric ungkapan membuat wanita itu merasakan kebahagiaan yang tak bisa ia ungkapkan.
Karina mulai menyusutkan air matanya. Ia mendongakkan wajahnya agar bisa melihat wajah suaminya. Eldric mengusap pipi Karina yang basah lalu mengecup kedua kelopak matanya dengan lembut.
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" tanya karina dengan suaranya yang terdengar serak.
"Mengatakan apa?" tanya Eldric dengan raut wajah bingung.
"Mengatakan kalau kau mencintaiku."
Eldric tersenyum lalu kembali mengecup kening istrinya dengan gemas.
"Aku sudah pernah mengatakannya Honey."
"Kapan? jangan bohong. Ingatanku sangat baik, aku belum pernah mendengar kau mengatakan itu!" ketus Karina sebal.
Eldric hanya menanggapinya dengan senyum. Meskipun wajahnya terlihat lesu dengan matanya yang sayu. Namun, senyuman itu selalu terlihat mempesona dan menghipnotis Karina. Tak bisa di pungkiri karisma eldric begitu kuat, ia bahkan tak kehilangan ketampannya walaupun sedang sakit.
"Pernah, bahkan dua kali."
"Kau pikir aku amnesia apa, aku nggak pernah dengar kamu bilang cinta!"
"Yakin?"
"Yakinlah, emang aku nggak pernah dengar kok."
Ditengah perdebatan mereka, ponsel Karina berdering. Ia pun melepaskan tangan kekar El yang melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
"Biar aku yang mengambilnya." Eldric menjulurkan tangannya kearah nakas untuk mengambil tas Karina lalu mengambilkan ponselnya.
"Mama? ada apa Beliau menelfon?" tanya Eldric dengan dahi yang dikerutkan.
"Angkat saja dulu." Karina mengambil ponselnya dari tangan Eldric.
Karina segera menggeser logo hijau di layar ponselnya dan menekan logo pengeras suara.
"Hallo Ma."
"Hallo sayang, apa kau sudah sampai? Mama khawatir, kau belum mengabari Mama Nak. Bagaimana keadaan suamimu?"
"Pelan-pelan Ma," jawab karina sambil tersenyum.
"O ...iya maaf, Mama hanya khawatir. Mama harap kamu bisa mengerti keadaan Papa yang tidak bisa langsung ke sana. Perkerjaan papa mu menyangkut nyawa orang lain Nak. Bagaimana keadaan kalian di sana?"
"Iya Ma, karin mengerti. Terima kasih atas perhatian Mama, aku sudah sampai El juga baik-baik saja dia hanya kecapekan dan flu biasa saja," jawab karina dengan lembut. Ia merasa sangat senang Siska meneleponnya.
Belum pernah karina mendapatkan perhatian dari seorang ibu. Meskipun keluarga asuhnya lengkap. Namun, begitulah ibu asuhnya hanya menganggap Karina beban dalam keluarga mereka.
"Ma, makasih ya. Karin sayang sama Mama."
"Mama juga sayang sama Karin."
Keduanya pun hanyut dalam obrolan ringan tanpa batas, khas ibu-ibu. Eldric yang merasa jadi obat nyamuk pun mulai bosan. Ia mulai usil mencium tengkuk leher belakang Karina, dengan tangannya yang berkelana dibalik kaos. Memainkan dua squshy yang sudah tumbuh semakin besar dan kencang. Karina menggeliat kegelian.
"Oh, Astaga. Ma, maaf aku harus memberi makan suami manjaku."
"Baiklah sayang, Mama dan Papa akan berkunjung kesana besok setelah Papamu menyelesaikan operasinya," pungkas Siska.
"Wah benarkah aku sangat menanti kedatangan kalian!" sahut Karina senang.
"Selamat malam sayang, salam Mama untuk El."
"Selamat Malam, Ma."
Karina memutuskan sambungan teleponnya. Lalu meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Sayang, kau sengaja ya," tuduh Karina, ia memicingkan matanya menatap Eldric penuh curiga.
Eldric hanya mengangkat bahu. Ia menurunkan tangannya dari squshy istrinya, eldric melingkarkan kedua tangannya di pinggang karina yang sudah tak lagi ramping. Eldric semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Karina.
"Aku benar-benar lapar Honey, aku belum makan apapun dari tadi," ujarnya dengan wajah memelas.
"Baiklah, aku akan ke dapur dan mengambilkan makanan untukmu."
__ADS_1
Dengan tidak rela, Eldric melonggarkan pelukannya. Karina bangkit dari tempat tidurnya, ia kemudian berjalan keluar dari kamar.
Setelah beberapa saat Karina kembali dengan semangkuk bubur hangat dan obat yang baru saja joe beli dari apotek. Eldric menyambutnya dengan senyum lebar di bibirnya yang pucat.
Karina duduk di samping suaminya yang bersandar di sandaran ranjang. Ia menaruh nampan diatas pangkuannya.
"Suamiku, ayo makan," ucap Karina sambil mulai menyendok makanannya.
Eldric hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Karina menyuapi suaminya dengan penuh kasih sayang. Ia merasa senang bisa merawat Eldric, senyum manis tak lepas menghiasi bibirnya. Sesekali karina mengusap ujung bibir Eldric dengan tisu.
Tatapan Eldric tak lepas dari wajah istrinya yang begitu cantik dan manis. Ia tidak pernah membayangkan bisa bisa menikah dengan seorang wanita yang begitu sempurna baginya. Tak ada kata yang bisa menggambarkan perasaannya sekarang. Ia merasa Tuhan sudah begitu baik padanya, dengan mengirimkan malaikat ke dalam hidupnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya karina dengan tersipu. Meskipun ia sudah menikah dengan eldric. Namun, tetap saja ia merasa malu jika El terus menatapnya dengan intens.
Karina menundukkan kepalanya, mengaduk mangkok bubur yang sudah kosong.
Eldric tersenyum, ia meraih satu tangan Karina lalu mengecupnya singkat.
"Karin."
"Hem," sahut Karina.
"Maukah kau terus disisiku sampai maut memanggilku, aku tau ini terdengar konyol, tapi aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Aku tidak yakin apa kau tau ini tapi saat kita pertama bertemu aku seperti menemukan bagian yang hilang dalam hidupku, kau melengkapiku. Kau adalah alasan aku hidup dan bernafas saat ini, aku mengucapkannya dengan sungguh-sungguh, aku akan mencintaimu memelukmu, menjagamu selama Tuhan masih memberikan izin jantungku untuk berdetak. Aku tidak bisa menjamin kau akan terus bahagia bila bersamaku karena aku manusia biasa dan bisa berbuat kesalahan, tapi aku menjanjikan nyawa dan seluruh waktu dalam hidupku untuk mencintaimu."
Tak ada kata yang terucap dari mulut Karina. Ia hanya menatap lekat pada suaminya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kau suka sekali membuatku menangis El, kau jahat. Bagaimana aku harus menjawabnya?"
Eldric mengusap lembut pipi istrinya yang basah dengan ujung jempolnya.
Eldric mengambil nampan dan mangkuk kosong yang ada di pangkuan karina lalu meletakkannya di atas nakas.
"El bisakah kau berjanji padaku?"
"Apapun untukmu Hon, katakan apa yang harus aku janjikan?" Eldric duduk mendekat pada istrinya.
"Berjanjilah kita akan berbagi segalanya, susah, sedih, senang, sehat, sakit. Aku tidak ingin lagi kau sakit sendirian." Karina menyandarkan kepalanya di dada bidang Eldric.
"I promise you Honey."
Karina menarik wajahnya sedikit menjauh, ia menatap lekat wajah eldric yang masih terlihat pucat. Karina mendekatkan wajahnya, mencium lembut bibir tebal Eldric. Keduanya menyatu dalam pertemuan bibir yang hangat, menyalurkan rasa cinta yang begitu besar antara keduanya, tak ada na*su hanya tautan cinta yang luar biasa.
"Aku mencintaimu Eldric Hugo," ucap karina setelah mereka melepaskan tautan bibirnya.
"Aku sangat mencintaimu Karina Rizky Amalia."
__ADS_1
Eldric mengecup lembut kening istrinya, karina memejamkan matanya menikmati rasa hangat yang menjalar dari sentuhan bibir Eldric. Malam yang hangat, seolah ini adalah malam pertama mereka bersama, kedua berpelukan menikmati cinta yang baru saja mereka ungkapkan.