Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Makan siang


__ADS_3

Karina mengetuk ngetukan ujung jarinya di box makanan yang ada di pangkuannya. Rasanya seperti akan bertemu dengan guru BK setelah membuat masalah, takut gugup bercampur menjadi satu.


Karina menolehkan pandangannya ke arah luar jendela mobil. Saat mobil yang mereka tumpangi melewati sebuah bangunan sekolah menengah keatas. Gadis itu tersenyum kecut, kini statusnya sebagai seorang istri tidak memungkinkan baginya untuk melanjutkan sekolah.


Ia kembali menunduk pandangan. Ada sebuah harapan di hatinya. Karina ingin sekali menyelesaikan pendidikannya walaupun hanya sebatas SMA. Setelah cukup lama perjalanan akhirnya mobil yang ia tumpangi sampai di depan sebuah gedung pencakar langit, sebuah nama terpampang besar di tengah-tengah gedung itu.


"De Luce," gumam Karina yang masih ada di dalam mobil.


Satu pengawal segera turun lalu membuka pintu mobil untuk sang nyonya. Karina pun turun perlahan matanya tak bisa berkedip melihat betapa megahnya bangunan kantor milik suaminya.


"Nyonya silahkan," ucap salah seorang pengawal membuyarkan lamunannya.


"Eh ...iya," jawab Karina gelagapan.


Ia mulai berjalan masuk. Karina sangat terkejut saat beberapa orang menyambut kedatangannya dengan berjajar di sisi kanan dan kiri pintu masuk sambil membungkuk hormat. Mereka tak lain adalah para penjaga yang sedang bertugas.


"Selamat siang Nyonya," sapa mereka serempak.


"Se-selamat siang. He... hehehehe," Karina menyengir menutupi ke gugupnya.


Ia sungguh tidak menyangka akan di sambut seperti ini. Joe melangkah mendekati karina yang berjalan perlahan.


"Nyonya silahkan ikuti saya. Tuan eldric sudah menunggu anda," ajak Joe.


"Baik Pak Joe."


Karina melangkah mengikuti Joe yang sudah lebih dulu berjalan di depannya. Para karyawan tersenyum ramah pada Karina. Mereka semua berdecak kagum pada kecantikan wanita itu. Mereka merasa sangat pantas bila sang Presdir menjadikannya sebagai istri dan meminta semua karyawan di sana untuk menghormatinya.


Sebelum Karina datang, eldric memberikan pengumuman pada semua karyawannya kalau sang istri akan datang. Semuanya pun terkejut dengan pengumuman itu, pasalnya mereka tidak pernah melihat seseorang pun wanita yang dekat dengan atasan itu.


"Pak Joe, apa Bapak sudah makan siang?" tanya karina saat mereka berdua ada dalam lift.


"Belum Nyonya."


"Ini satu untuk Pak Joe." Karina menyodorkan satu kotak makannya untuk asisten suaminya itu.


"Tapi, bukankah ini untuk Tuan Eldric?" joe menatap heran pada nyonya kecilnya itu.


"Paman berto membawakan aku dua kotak, jadi satu untukmu dan satu untuk suamiku," jawab Karina dengan senyum ramahnya.


"Terima kasih Nyonya." Joe menerima kotak makan yang di sodorkan oleh Karina.


"Sama-sama Pak."


"Emh ... Nyonya bisakah anda memanggil saya Joe saja tanpa tambahan pak?"


"Kenapa? bukankah tidak sopan memanggil orang tua dengan namanya," ujar Karina dengan polosnya.


"Saya tidak setua itu Nyonya," kilah joe.


"Yang benar, aku lihat keriput di wajahmu sama dengan keriput di wajah suamiku, jadi umur kalian pasti tidak jauh berbeda. Nggak sopan kan kalau aku panggil Joe saja."

__ADS_1


"Saya-


"Begini saja, kalau Bapak tidak nyaman aku panggil Pak Joe, aku panggil Mamang Joe, Abang Joe, Mas Joe bagaimana?


"Hah ... terserah anda Nyonya," joe mendesah pasrah.


"Ya sudah terima nasib saja, Pak joe kan emang udah tua. Kenapa harus nggak terima di panggil Pak," tilas karina kesal.


Joe mendesah pasrah. Percuma ia berdebat dengan wanita itu, ia juga tidak bisa membantahnya.


Ting


Pintu lift terbuka, Joe mempersilahkan sang nyonya untuk keluar terlebih dahulu. Mereka berjalan lurus ke depan menuju sebuah pintu besar yang tertutup rapat.


"Silahkan Nyonya." Joe membukakan pintu untuk sang nyonya.


"Terima kasih Pak." Karina pun melenggang masuk.


Karina menatap suaminya yang masih berkutat dengan perkerjaannya. Wajah tampannya sungguh sangat mempesona saat tengah serius berkerja.Tak dapat Karina pungkiri bahwa ia mulai menyukai pria yang usianya terpaut sangat jauh darinya itu. Terlepas dari semua perjanjian kontrak yang ia tanda tangani, Karina merasa nyaman dan terlindungi saat bersamanya. Meskipun kadang ia merasa kesal dengan sikapnya.


"Apa kau akan tetap berdiri di sana?" tanya eldric tanpa mendongakkan kepalanya.


"Bersihkan dirimu dan ganti baju!" titahnya pada sang istri.


Baru juga di kagumi bentar gantengnya, udah kumat aja.


"Dimana aku harus membersihkan diri, Suamiku."


Ternyata itu adalah sebuah kamar istirahat cukup mewah dan lengkap. Karina segera mencari letak kamar mandi lalu membersihkan dirinya. Untungnya Karina membawa peralatan makeup simpel di tasnya. Setelah mengganti baju dengan dress yang tersedia di sana, Karina pun segera keluar.


Eldric tak lagi ada di meja kerjanya, pria itu sudah duduk di sofa ruang ada di sudut ruangan. Ia terlihat sedang membersihkan kotak makan yang di bawa istrinya.


"Suamiku," panggilnya lirih.


Eldric menoleh, kemudian mengulurkan tangannya pada istri kecilnya.


"Kemarilah."


Karina melangkah mendekat ia meraih tangan eldric yang terulur lalu menggenggamnya erat, terasa begitu hangat. Apalagi kedua mata elang milik eldric tak henti memandangi wajahnya, membuat Karina semakin salah tingkah.


Eldric menarik lembut tangan mungil istrinya, hingga gadis itu terduduk di pangkuannya.


"Ish.. apa sih, aku bisa duduk sendiri." Karina berusaha turun dari pangkuan sang suami.


"Diam, atau aku akan memakanmu sebelum aku memakan lagsana ini."


"Issh... menyebalkan!" Karina memanyunkan bibirnya sebal.


"Kenapa cuma satu? apa kau tidak makan? tanya eldric penuh selidik.


"Ehm ... satunya aku kasih pak joe. Kasihan kan dia juga belum makan."

__ADS_1


"Cih ...kau berbelas kasih pada orang lain sebelum suamimu," sindir eldric.


"Apa salahnya dia juga manusia, dia butuh makan. Tidak ada salahnya berbagi," ketus Karina.


"Ya ...ya terserah. Sekarang suapi aku!"


Karina berdecak kesal. Ia mengambil kotak makanan di nakas dengan kasar, kemudian ia membukanya lalu mulai menyuapkan lagsana pada sang suami.


"Kau juga makan," titahnya.


"Baik."


Karina mengangguk patuh ia pun menyuapi dirinya sendiri setelah menyuapi sang suami. Keduanya menikmati lagsana itu sampai tandas tak bersisa. Karina kemudian menyodorkan sebotol air mineral yang telah ia buka tutupnya pada eldric, sang suami pun meminumnya kemudian memberikan sisanya untuk karina.


"Ok, sekarang kau sudah siap bertempur?" Eldric mengangkat tubuh mungil istrinya hingga berdiri, lalu ia pun ikut bangkit.


"Bertempur?"


"Ya. Ingat kau adalah Istriku, kau adalah Nyonya di sini, angkat tegak kepalamu. Bersikaplah seperti seorang ratu." Eldric mengelus lembut Karina sebelum ia beranjak melangkah menjauh.


Karina hanya mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu mengerti ucapan dari eldric. Ia pun mengikuti langkah eldric yang mendekat kearah meja kerja. Eldric mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya.


"Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?"


"Sebentar lagi kau akan tau."


Belum sempat Karina bertanya lagi pintu ruangan eldric sudah di buka secara kasar oleh seorang wanita. Wanita itu berambut cokelat panjang. Tubuhnya seperti gitar spanyol dengan berbalut dress yang sangat melekat ditubuhnya dengan belahan dada yang sangat rendah dan hampir tidak menutupi aset kembarnya.


"Eldric berani kau menyuruh anak buahmu menghalangi aku masuk!" sentak wanita itu.


Eldric terlihat tenang. Ia tidak menanggapi wanita yang terlihat sangat marah itu. Ia bahkan menatap tajam pada Karina yang berdiri di sebelah eldric.


"Maaf Tuan, dia terus menerobos masuk," ucap Joe yang baru saja datang.


"Keluarlah, aku akan mengatasinya."


"Baik Tuan." Joe mengangguk patuh, ia kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.


"Eldric, aku datang dari Italia untuk bertemu denganmu, dan ini yang aku dapat."


Eldric hanya acuh, ia terus melakukan perkerjaannya. Karina yang masih bingung dengan keadaan ini pun memilih diam sambil memperhatikan, mungkin ini ada sangkut pautnya dengan apa yang di ucapkan suaminya.


"El, kenapa kau diam. Aku datang untukmu Honey, kita akan segera menikah. Bibi Helena mengirimku kemari untuk menjemputmu pulang," kali ini wanita itu berbicara dengan nada manja dan merendah.


.


.


.


. Siapa yang datang ke kantor 😆😆😅😅 cekidot besok

__ADS_1


Mak Kaboor 🤣🤣


__ADS_2