Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Rencana


__ADS_3

Pagi ini karina begitu bersemangat, setelah sekian lama akhirnya ia bisa keluar bersama seseorang yang seumuran dengannya. Setidaknya ia bisa menganggap cleo sebagai temannya.


Setelah selesai memberikan ASI pada zoe dan memastikan stock ASI aman di freezer, karina menyiapkan dirinya.


"Bersemangat sekali Nyonya?" tanya eldric, ia memeluk istrinya yang bersolek dari belakang.


"Bolehkan aku pergi?" tanya karina untuk kesekian kalinya.


"Kenapa kau terus bertanya? aku sudah memberikanmu izin sejak tari malam. Tapi kau masih terus bertanya." eldric mengecup bahu karina.


"Hanya memastikan saja."


Karina memoleskan lipstik berwarna nude di bibirnya.


"Jangan berdandan terlalu cantik Hon, atau aku akan berubah pikiran," bisik eldric.


Karina mengerutkan keningnya, ia hanya memakai atasan berwarna putih dengan celana kain berwarna krem. Karina juga hanya sedikit memoles bedak padat dan lipstik berwarna nude saja.


"Aku hanya berdandan seperti ini, cantik dari mana." tukas karina.


Eldric menghela nafasnya, ia melepaskan tangannya dari pinggang istrinya.


"Apa kau tidak tau Honey, kau sangat imut, cantik dan sangat mempesona. Hari kau meminta izinku untuk pergi dengan cleo jalan-jalan, hanya kalian berdua tanpa aku dan pengawal."


"Bukan aku tidak mengizinkan, aku hanya takut kau akan bertemu laki-laki yang lebih muda dan tampan dariku," imbuh eldric dengan nada suara yang sendu.


"Sayang, Kenapa kau bicara seperti itu? kau tau aku hanya mencintaimu." Karina memalingkan dirinya kemudian memeluk tubuh suaminya.


"Aku tau Honey, lagi pula aku juga tidak akan membiarkan seorang pun mendekatimu. Lihat saja jika ada yang berani menyentuhmu, akan aku patahkan lehernya!" tegas eldric dengan bersungut-sungut.


"Kalau Suamiku saja setampan dan segagah ini untuk aku melirik yang lainnya." Karina menjinjitkan kakinya agar bisa memberikan kecupan manis di bibir eldric.


"Ok, Suamiku aku berangkat dulu, jangan nakal di rumah," ucap karina dengan berpose imut.


"Selamat bersenang-senang Honey, jangan khawatir aku, jangan terlalu rindu!" seru el pada istrinya yang sudah menjauh.


"Ya jangan khawatir aku akan sangat merindukanmu." karina melayangkan cium jauh sebelum ia menutup pintu kamar.


"Dasar istri nakan," ujar eldric sambil terkekeh geli.


Eldric melangkah mendekati nakas di samping ranjangnya untuk mengambil ponsel. Dengan cepat ia menghubungi baron.


"Ikuti karina dari jauh, pastikan dia dan kakak iparku baik-baik saja."


"Siap Tuan."


Eldric segera memutuskan sambungan teleponnya. Ia tidak ingin lagi kecolongan meskipun Karina menolak membawa pengawal el tetap memerintahkan baron untuk menjaganya.


Eldric sendiri pun bersiap-siap pergi ke kantor, ada rapat penting yang harus ia hadiri.


"Kak cleo aku sudah siap!" seru karina dengan penuh semangat.


"Oke, Ma aku pergi dulu ya." cleo meraih tangan arie kemudian mengecupnya dengan takzim.


"Hati-hati, jaga adikmu dengan baik."


"Siap Ibu Suri," canda cleo.


"Mama Arie, Mama mana?" tanya karina setelah mencium tangan arie.


"Lagi maen sama zoe sama bagas, nih mama juga mau ke sana."


"O, tolong pamitin ya Ma, takut telat ke rumah sakitnya."

__ADS_1


"Iya nanti mama pamitkan, kalian berdua hati-hati ya. Jangan lupa beliin mama makanan," ucap arie pada keduanya.


"Siap komandan!" seru keduanya serempak.


Keduanya pun keluar dan masuk ke mobil yang sudah menunggu mereka.


"Lho kok, Baron juga ikutan?" tanya karina dengan terheran, saat mendapati Baron sudah ada di mobil bersama adam yang bertugas sebagai sopir.


"Iya Nyonya, saya-


"Kamu pasti disuruh tuanmu untuk mengikuti saya," cerca karina.


"Emh ...itu Nyonya," baron kesulitan untuk menjawab pertanyaan nyonya kecilnya itu.


"Udahlah nggak apa-apa, ayo jalan nanti telat lho," sela karina.


"Ya sudahlah, jalan Dam!" seru karina.


"Baik Nyonya."


Adam mulai menyalakan mesin mobil. Perlahan mobil meninggalkan mansion membawa dua wanita cantik itu pergi ketujuan mereka.


"Adam kita ke rumah sakit ya."


"Baik Nyonya," jawab Adam.


Karina melirik sekilas kearah baron yang sedang mengetik di layar ponselnya.


"Baron jangan laporkan ini pada suamiku," titah karina geram.


"Tapi Nyonya-


"Baron tolong kerja samanya, kau bisa menghancurkan rencanaku kalau kau memberi tahunya!" tegas karina.


"Baik Nyonya," jawab baron patuh.


"Kau bisa melaporkan kemana aku pergi selain ke rumah sakit mengerti!"


"Iya Nyonya."


"Rin bukannya kamu pernah cerita kalau sepupu suami kamu itu dokter ya. Kenapa nggak sama dia aja?"


"Dia bukan dokter kandungan Kak, lagi pula dia sedang berjuang di negaranya," jawab karina, ia kemudian membuka satu kantong camilan yang selalu tersedia di mobil.


"Berjuang di negaranya gimana maksudnya?"


"Ish Kak cleo kepo banget sih, dia tuh lagi berjuang mendapatkan restu dari ayahnya di Italia buat married sama pak joe."


"What! wah semoga berhasil."


"Aamiin."


Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat karina melahirkan.


Karina segera turun, dengan di temani cleo karina melakukan pemeriksaan dan konsultasi pada dokter.


Kedua wanita cantik itu menunggu giliran mereka dengan sabar.


"Nyonya karina!" seru seorang suster.


"Saya Suster," jawab Karina.


"Silahkan Nyonya, Dokter Ana sudah menunggu Anda."

__ADS_1


"Baik, terima kasih Suster."


"Kak, ayo temenin," rengek karina pada cleo.


"Iya, bawel." Cleo bangkit dari duduknya, ia dan karina kemudian masuk ke ruang praktek dokter Ana.


Setelah selesai di periksa. Karina duduk berhadapan dengan dokter.


"Bagaimana Dok? apakah aman?"


"Aman maksud Nyonya?"


"Maksud Adik saya, apakah jahitannya sudah sembuh dan aman bila terjadi guncangan," ujar cleo menjelaskan. Karina terlihat malu-malu meong.


"O seperti itu, maaf saya baru mengerti. Luka jahitan Nyonya sudah sembuh dengan baik, kalau untuk guncang yang Nyonya maksudkan saya rasa aman."


"Beneran Dok, aman?" tanya karina dengan wajah berbinar. Hatinya bersorak-sorai.


"Aman dengan catatan pake gaya yang tidak terlalu menekankan perut ya," imbuh dokter ana.


"Cari gaya aman ya Dok." beo Karina.


Dokter ana mengangguk kecil.


"Baik Dok, terima kasih."


"Sama-sama Nyonya."


Keduanya pun keluar dari ruangan itu.


Setelah menyelesaikan pemeriksaannya, kini giliran karina menepati janjinya pada cleo. Mereka berdua pergi ke food court untuk melakukan wisata kuliner, hal yang paling di sukai cleo.


Setelah puas dan kenyang mereka pergi berbelanja baju dinas khusus perkasuran. Terakhir mereka memanjakan diri di salah satu salon kecantikan ternama di Jakarta. Karina yang baru menyelesaikan masa nifasnya ingin memanjakan dirinya.


Saat kedua wanita cantik itu menikmati pelayanan di salon. Kedua mama di mansion sedang asik menggoda perjaka.


"Gas, kamu udah cocok lho jadi bapak," ucap arie, melihat bagas yang begitu telaten mengasuh zoe.


"Udah sih, tapi belum ada calonnya Nyonya," jawab bagas sambil menyengir kuda.


"Aku ada calon mau?" tanya siska.


"Boleh Nyonya." jawab bagas dengan semangat.


"Agak berumur tapi."


Enggak apa berumur dikit, penting cepet kawin.


"Bagi saya umur nggak masalah Nyonya."


"Dia jago masak, pinter bersih-bersih rumah."


"Wah calon idaman banget Nyonya!"


"Kalau mau ikut ke Surabaya biar bisa ketemu langsung sama bi asih."


"Astaga Mbak Siska, kasihan bi asih dong. Udah pengalaman gitu masak di jodohin sama brondong!" pekik arie sambil terkekeh geli.


"Nyonya kalau saya boleh tau siapa itu bi asih?" tanya bagas pada arie.


"Bi asih itu pengasuh cleo," seloroh siska.


Astaga, dasar emak-emak.

__ADS_1


Kedua wanita itu tergeletak melihat wajah bagas yang seketika berubah masam.


__ADS_2