Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Malu


__ADS_3

"El, kenapa kau diam. Aku datang untukmu Honey, kita akan segera menikah. Bibi Helena mengirimku kemari untuk menjemputmu pulang," kali ini wanita itu berbicara dengan nada manja dan merendah.


Ia berjalan mendekat kearah meja kerja Eldric. Wanita itu sedikit merunduk tangannya terulur hendak meraih tangan Eldric. Namun, eldric segera menegakkan duduknya dan memberikan tatapan tajam pada wanita itu, hingga ia mengurungkan niatnya.


Karina yang tadinya hanya diam kini mengerutkan keningnya ia melirik tajam kepada suaminya. Apalagi dia mendapatkan tatapan yang sungguh membuatnya merasa tidak nyaman dari wanita dengan dada besar itu.


Eldric menatap sang istri yang juga sedang menatapnya dengan tatapan penuh tanya.


"Its show time," ucap eldric tanpa suara.


Karina mendesah pelan, inilah yang di maksud eldric.


Aku istrinya, aku seorang nyonya. Aku ratunya. Ternyata dia mengatakan itu agar aku menyingkirkan ulet keket ini. Ok, siapa takut. Fighting Karina!


"Ehem ...maaf Nona sepertinya anda tidak akan mau untuk menikah dengan laki-laki yang sudah beristri," ucap karina dengan berusaha tersenyum ramah.


"Beristri, siapa yang kau maksud, dan siapa kau? beraninya kau ada di ruangan eldric. Dia paling tidak suka ada orang asing di ruangannya," ketus wanita berambut cokelat itu.


Ia berdiri dengan angkuh, melipat kedua tangannya di atas bu*h dadanya sebesar balon yang hampir meletus.


"Saya, Anda bertanya siapa Saya?" tanya karina sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.


Karina berjalan mendekati wanita itu. Sekarang Karina berdiri tepat di hadapannya, kedua wanita berbeda tinggi badan itu saling bertatapan. Karina berkacak pinggang, sementara wanita yang umurnya di atas Karina itu masih melipat tangannya. Menatap remeh pada gadis di hadapannya.


"Saya Karina istri dari Eldric Hugo, orang yang ingin anda jemput pulang entah kemana!" tegas karina dengan penuh percaya diri.


"Apa?! tidak mungkin. Ini semua omong kosong!" teriaknya kencang.


Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang di katakan gadis ingusan itu. Eldric tidak mungkin bisa menikah dengan gadis lain. Apalagi seorang gadis kecil seperti yang tengah berdiri di hadapannya. Wanita itu terus memindai gadis yang ada di hadapannya dari atas ke bawah berulang kali.


"Eldric ini semua bohong kan, kau tidak mungkin menikahi gadis kecil seperti ini," Sindirnya pada Karina.


"Oiya gadis kecil ya ... tapi gadis kecil ini adalah wanita yang di pilih oleh Tuan eldric." Karina berjalan melewati wanita itu begitu saja.


Karina menghampiri suaminya, lalu dengan manjanya ia duduk di pangkuan eldric. Kedua tangannya bergelayut manja di leher kekar sang suami. Eldric tersenyum saat Karina mendaratkan ciuman di pipinya.


Mata wanita itu melebar sempurna. Ia sungguh terkejut dengan apa yang di lakukan oleh gadis itu. Selama ia mengenal eldric, ia belum pernah melihat pria itu menyentuh orang lain dengan sengaja karena myshopobia. Namun, kali ini ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, seorang gadis duduk di pangkuannya dengan manja sambil menciumi pipinya.

__ADS_1


"Hey apa yang kau lakukan?!" pekiknya dengan terkejut.


"Apa? saya istrinya. Saya berhak menyentuh suami saya sendiri!" tegas karina dengan masih bergelayut manja pada eldric.


"Tidak, ini tidak mungkin. Semua ini palsu!" jeritnya.


"El ... katakan semua ini bohongkan? dia bukan istrimu. Hanya aku yang pantas untuk berada di sampingmu El," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


Karina tersenyum kecil, ia menatap wanita itu dengan pandangan meremehkan. Apalagi saat suaminya itu melingkarkan tangannya di pinggang ramping karina lalu memberikan kecupan manis di pucuk rambutnya.


"Ini bukan kebohongan Donna, dia Istriku!" tegas Eldric menatap tajam pada wanita yang ada di hadapannya.


Karina tersenyum penuh kemenangan, sekali lagi ia mencium pipi sang suami. Donna mengepalkan tangannya, wajahnya memerah menahan amarahnya yang mendidih.


"Apa kurangnya aku El, hingga kau Menikahi seorang gadis murahan seperti itu!" Donna menunjuk Karina dengan penuh amarah.


"Jaga mulutmu!" bentak Eldric.


"Aku masih, menghormatimu sebagai anak dari sahabat mamaku. Kalau tidak aku sudah menyuruh keamanan untuk menyeretmu keluar dari ruangan ini!" Eldric mengepal kuat tangannya.


"Tapi El, orang tua kita sudah menjodohkan kita sejak kecil, bibi helena selalu bilang aku adalah calon istrimu. Kau kejam El, kau malah menikah dengan orang lain."


"Aku bahkan siap untuk menjadi istrimu, tanpa harus menyentuhmu. Aku tau kau tidak bisa bersentuhan dengan orang lain, sejak kecil kau seperti itu. Aku siap pernikahan kita seperti orang tuamu, kita akan tetap bahagia. Seperti mereka," ucap Donna panjang lebar.


Tangan Eldric mengepal semakin kuat, tubuhnya sampai bergetar. Karina memeluk erat tubuh suaminya, entah kenapa ia merasa eldric sedang tidak baik-baik saja. Suaminya itu di liputi amarah yang sangat besar.


"Pernikahan seperti mereka katamu. Pernikahan apa,hah!? hanya pernikahan sampah!"


Kali ini eldric benar benar geram, ia sampai menggebrak meja kerjanya. Karina sangat terkejut ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Kalau kau ingin menikah, menikah saja dengan bibi helena mu itu. Aku tidak pernah menerima perjodohan ini!" tegasnya lagi.


"Dia mamamu, El!"


"Aku tidak perduli," ujar Eldric penuh penekanan.


Eldric menatap Donna dengan tatapan membunuh. Donna menelan salivanya, ia sungguh sangat takut dengan pria yang ada di hadapannya sekarang. Ia mengepalkan tangannya, wajahnya memerah menahan malu.

__ADS_1


Penerbangan selama 16 jam 55 menit yang ia tempuh dari Milan, Italia ke Jakarta nyatanya hanya mendapatkan penghinaan seperti ini.


"Suamiku, tenanglah," bisik Karina pada sang suami.


Tangan mungilnya mengusap lembut punggungnya, gadis itu sebenarnya juga merasa takut saat eldric marah seperti itu. Eldric memejamkan matanya sejenak, menarik nafasnya perlahan.


"Aku kesini atas permintaan bibi helena El, kita akan menikah dan itu harus. Kau menikah tanpa sepengetahuan keluarga besarmu dan aku tidak akan pulang begitu saja tanpamu." Kekeh Donna.


"Apa kau buta, aku sudah mempunyai istri. Persetan dengan keluarga besar itu!" Eldric yang semula sedikit tenang kini kembali geram mendengar ucapan Donna.


Karina turun dari pangkuan suaminya, ia berjalan mendekati Donna. Karina menatap Donna dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Donna seorang wanita yang sangat cantik, tubuhnya pun sangat proposional. Sebagai wanita saja karina merasa kalau Donna sangatlah cantik. Namun, ia tidak mungkin melepaskan suaminya hanya karena rivalnya itu lebih cantik. Lagi pula eldric sudah memilihnya.


"Nona Donna yang terhormat. Saya mohon anda untuk segera meninggalkan ruangan suami saya. Anda sudah membuatnya marah, saya tidak ingin suasana hatinya semakin memburuk jika anda terus ada di sini," ujar Karina, gadis itu menatap tajam pada wanita yang ada di hadapannya.


Tak ada rasa gentar dihatinya. Seperti yang eldric katakan. Ia adalah Nyonya, ia adalah seorang ratu. Maka tak ada alasan Karina untuk takut pada apapun.


"Siapa kau, beraninya kau mengusirku dari sini. Dasar tidak tahu malu!" sentaknya pada Karina.


"Tidak tahu malu, hem ... mari kita lihat siapa yang lebih tidak punya malu disini. Saya sebagai istri sah dari Tuan Eldric atau seseorang dari masa lalu yang berusaha merebut perhatian pria yang sudah beristri," ucap Karina dengan nada mengejek.


Donna mengeratkan rahangnya, tangannya mengepal kuat. Ia ingin sekali menjambak rambut gadis yang sudah menyindirnya itu. Namun, ia tahan sebisanya. Donna tidak ingin imagenya jelek di hadapan eldric.


"Saya tidak tahu dan tidak mengenal siapa anda Nona. Tapi saya yakin anda berasal dari keluarga yang terhormat, bukankah sangat tidak pantas untuk seorang seperti anda melakukan hal dengan rendah merebut suami wanita lain. Anda seperti wanita yang tidak laku, apa tebakan saya benar?"


Wajah Donna semakin merah padam.


"Wah kasihan sekali kalau begitu." Karina terkekeh ia berlari kecil kembali ke pelukan suaminya.


"Istriku sudah bicara dengan jelas. Jika kau masih punya rasa malu, kau akan keluar dari sini tanpa aku harus memanggil keamanan untuk menyeretmu keluar." ucap Eldric sambil mengelus pucuk rambut istri.


Donna menatap tajam pada Eldric dan juga karina.


"Semua ini belum berakhir," gumam Donna.


Ia pun melangkah keluar dari ruangan itu dengan amarahnya.

__ADS_1


__ADS_2