Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Joe & Levina


__ADS_3

Musim telah berganti, hati yang paling di nanti dua insan yang telah berjuang atas cinta mereka. Setelah tangan levina sembuh acara pernikahan mereka di selenggarakan.


Dimana dua hati dan jiwa akan terikat dalam sebuah janji suci pernikahan, di hadapan Tuhan dan di saksikan oleh para malaikatnya.


Sama halnya dengan pernikahan eldric, pernikahan joe dan levina juga diadakan dengan sederhana. Di hadirin oleh semua orang yang berkerja di mansion. Bedanya ada paman berto yang mendampingi keponakan dan levina di dampingi oleh eldric sebagai keluarga dari pihak keluarga perempuan. Sedangkan saat eldric menikmati tak ada keluarga dari pihak pria ataupun wanita.


Gaun putih menjuntai kelantai terseret seiring langkah anggun mempelai wanita, dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya ia melangkah dengan pasti mendekati joe yang sudah menantinya.


Joe terlihat sangat tampan dengan tuxedo hitam yang melekat di tubuhnya. Guratan gugup di wajahnya tak mengurangi pancaran kebahagiaan.


Tangan joe terulur menyambut kedatangan calon istrinya. Levina tersenyum, bak gayung bersambut ia pun mengulurkan tangannya. Joe menggenggamnya ia kemudian mengecup punggung tangan yang terbalut sarung tangan putih.


Keduanya duduk sejajar, joe mengucapkan janji suci yang mengikat mereka berdua. Suka, duka akan mereka lewati bersama. Joe menyematkan cincin di jari manis levina begitu pula sebaliknya.


"Aku mencintaimu, Levina Valentino," bisik joe setelah mengecup kening istrinya.


"Aku juga mencintaimu, Joe Valentino."


Karina yang menyaksikan pernikahan mereka pun menangis sesenggukan, ia sangat senang karena keduanya bisa bersatu. Karina sempat panik saat joe dan levina datang, tubuh joe di penuhi luka dan levina , tangan kirinya di balut perban.


"Jangan menangis Honey." Eldric merengkuh tubuh istrinya yang terisak.


"Aku terharu Sayang."


"Mereka bahagia, sama seperti kita." Eldric merengkuh tubuh istrinya lebih dekat dalam pelukannya.


Karina berusaha menenangkan dirinya, ia menyusutkan air mata bahagia yang sedari tadi tidak berhenti mengalir. El mengajak istrinya melangkah mendekat ke arah dua mempelai yang baru saja mengikrarkan janji sehidup semati.


"Kak levi, selamat atas pernikahan mu." Karina memeluk erat levina, air matanya kembali mengalir.


"Terima kasih, semua ini bisa terlaksana karena kalian. Sekali lagi terima kasih." Levina membalas pelukan hangat Karina.


"Selamat Joe, semoga kau bahagia." eldric menepuk ringan bahu teman sekaligus asistennya.

__ADS_1


"Terima kasih Tuan," ucap joe dengan tulus, matanya menghangat. Dengan sekuat tenaga joe menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia sudah berjanji tidak akan menangis di hari bahagianya.


Karina melonggarkan pelukannya, ia menggenggam tangan levina dengan lembut.


"Hati-hati ya Kak."


Levina mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Hati-hati," beo levina.


"Malam pertama aku di hajar sampai pingsan, jadi Kak levi harus hati-hati biar nggak pingsan kayak aku," ucap karina dengan polosnya.


Wajah levina memerah, ia tidak habis pikir dengan ucapan karina yang tanpa filter sama sekali. Joe pun ternganga, rahangnya hampir jatuh mendengar ucapan absurd Karina.


"Istriku benar, sebaiknya kau siapkan dirimu. Meskipun joe tidak sekuat aku, tapi aku rasa dia kuat beberapa ronde," ucap eldric menimpali ucapan istrinya.


"Sayang bagaimana kalau aku ajarkan Kak Levi beberapa gaya andalan kita," ucap karina sambil bergelayut manja di lengan suaminya.


"Kau benar Sayang, lagi pula belum tentu mereka bisa di ajari."


Levina benar-benar merasa wajahnya sekarang bisa untuk memasak telur. Asap sudah mengepul keluar dari ubun-ubunnya.


"Ya! kau bisa lihat tempat tidak El!" sentak levina yang akhirnya tidak sabar.


"Kak Levi kenapa marah, aku dan suamiku hanya bicara saja," sahut Karina sambil mengerucutkan bibirnya.


"Bicara saja di kamarmu!"


Karina mengerucutkan bibirnya, ia kemudian menarik el menjauh dengan senyum puas mengembang di bibirnya. Ia merasa senang karena levina bisa menjadi dirinya lagi. Saat levina pulang dari Italia, dia lebih banyak diam. Karina kehilangan sosok kakak sepupunya yang cerewet.


"Sayang sudah ya, sabar. Nyonya memang seperti itu," ucap joe berusaha menenangkan istrinya.


"Tapi dia-

__ADS_1


"Ah sudahlah, aku capek," keluh levina, ia merasakan sakit di punggungnya.


"Sebentar lagi istrirahat ya." Levina mengangguk kecil.


Berto berjalan mendekat, air matanya sudah tumpah di wajah tuanya. Tanpa basa-basi ia langsung memeluk joe dengan erat, buliran air mata itu mewakili jutaan kata yang tercekat dalam hatinya. Berto benar-benar bahagia bisa melihat joe bersanding dengan cintanya, berto menyaksikan bagaimana joe dan levina saling mencintai satu sama lain sejak dulu. Namun, semua terhalang oleh restu.


Berto meleraikan pelukannya, ia menggenggam tangan joe erat. Satu tangannya meraih tangan levina, menyatukan dua tangan itu dalam genggamannya.


"Berbahagialah, jalani rumah tangga Kalian dengan baik. Akan selalu ada kerikil tajam saat kalian menjalankannya. Saat itu tiba, saat kalian mulai rapuh, ingatlah hari ini. Ingatlah janji yang kalian ucapkan di hadapan Tuhan. Ingatlah bagaimana kalian berjuang sampai titik ini. Berbahagialah Nak, paman selalu mendoakan kalian."


Joe dan levina memeluk erat tubuh renta itu. Tangis mereka tumpah, tamu yang datang ikut terharu. Perlahan berto melerai pelukannya, ia tersenyum kemudian melepaskan tangan yang ada dalam genggamannya.


Setelah selesai menerima ucapan selamat dari semua orang yang datang, Joe menuntun istrinya masuk ke mansion.


Levina sedikit mengangkat gaunnya. Gaun besar dengan ekor panjang membuatnya kesulitan untuk melangkah. Mereka berdua akhirnya sampai kamar yang telah eldric siapkan. Bukan lagi di belakang letak kamar joe sebelumnya, eldric memberikan kamar tamu untuk mereka gunakan.


"Kau sungguh cantik sayang," ucap joe sambil melingkarkan tangannya di pinggang levina dari belakang.


"Aku memang selalu cantik Tuan valentino." Levina mulai melepas sarung tangan satu persatu.


Tangan Joe terulur menyentuh bekas luka tembak yang ada di tangan levina, hatinya merasa sakit tiap kali melihatnya. Ia mengecup lembut bekas luka itu.


"Aku mencintaimu Levina, kau wanita tergila yang pernah aku kenal," ucap joe tulus.


"Aku juga mencintaimu, Kau satu-satunya laki-laki yang membuatku menggila."


Nafas joe terasa hangat menyapu leher jenjang istrinya, levina memejamkan matanya menikmati tiap kecupan lembut yang joe daratkan di bahunya yang terbuka.


Tak tahan, joe membalikkan tubuh levina. Wajah levina merona, tampak malu-malu membuat joe semakin gemas. Joe segera menyatukan bibir mereka, tak perduli dengan langit yang masih terang. Joe menginginkan Levina sekarang.


Levina melingkar tangan di leher joe, kini keduanya merasa hawa panas mulai menjalankan. Saling mengecup, menghisap menikmati sentuhan belahan kenyal yang memabukkan. Joe melepaskan tautan bibir mereka, ia kembali membalikkan tubuh levina dan dengan perlahan ia menurunkan resleting gaun pengantin itu.


Levina mendesis saat tangan joe bersentuhan dengan kulit punggungnya. Seperti ada aliran listrik yang menyengat.

__ADS_1


__ADS_2