Jerat Hasrat Sang Ceo

Jerat Hasrat Sang Ceo
JHSC107


__ADS_3

"Sherly!" teriak Kaisar.


Sherly tergopoh menuju kamar mandi, dimana asal suara Kaisar.


"Ada apa, Kai?" Sherly mengetuk pintu kamar mandi.


"Ambilkan handuk!" teriak Kaisar dari dalam kamar mandi.


Sherly seketika baru teringat, jika dia baru saja mencuci semua handuk. Berhubung hari libur Sherly membersihkan semua benda-benda yang kotor termasuk handuk kaisar.


"Handuk mu aku cuci, tunggu sebentar aku carikan lemari," teriak Sherly dari luar kamar mandi.


Tak membutuhkan waktu lama Sherly datang dengan mengetuk pintu kamar mandi. dia sudah membawakan sebuah handuk baru untuk Kaisar.


"Kai, ini handuk mu!"


"Mentang-mentang hari libur semuanya dicuci, bisa-bisa rumah ini pun kamu cuci," gerutu kaisar sambil menarik handuk dari tangan Sherly.


Baru kali ini Kaisar menikmati waktu liburnya. Dari mulai hari Sabtu, Minggu hingga Senin besok.


Diam-diam Kaisar memiliki rencana ingin mengajak Sherly berlibur ke puncak. Setelah menikah, keduanya memang belum pernah melakukan liburan apalagi honeymoon, karena keduanya harus dikejar dengan pekerjaannya masing-masing.


Sama-sama sibuk bekerja, hingga keduanya jarang memiliki menghabiskan waktu untuk berdua.


"Sher, ke puncak yuk! Mumpung ada waktu libur," ajak Kaisar tiba-tiba.


Sherly yang sedang melipat baju menautkan hanya alisnya. "Ke puncak?" cicit Sherly.


"Iya. Selama menikah kita belum pernah liburan apalagi honeymoon. Meskipun aku ingin sekali honeymoon ke Paris sih. Tetapi karena mengingat tanggung jawab dan pekerjaan aku memilih memendam keinginan tersebut. sebagai gantinya kita ke puncak aja ya?"


"Boleh," balas Sherly.


Kaisar sangat merasa bahagia, ternyata Sherly tidak seperti yang dia lihat dari luar. Meskipun dia terlihat menakutkan saat berada di lingkup tempat kerjanya tetapi tidak jika sedang berada di rumah.


Di rumah Sherly akan patuh dan menuruti semua keinginan Kaisar. Sebelumnya Kaisar berpikir jika Sherly adalah tipe wanita yang pembangkang namun nyatanya dia adalah wanita yang penurut. Tidak salah jika Kaisar memilih Sherly sebagai pendamping hidupnya, yang akan melengkapi segala kekurangannya. Namun, sebelum itu keduanya pun mengirim kepada bos mereka masing-masing jika mereka ingin melakukan liburan ke puncak. Mereka berdua takut jika sewaktu-waktu ada pekerjaan dadakan yang membuat mereka akan kelabakan.


"Kai, kamu mau liburan atau mau mengungsi?" tanya Sherly heran.

__ADS_1


Kaisar sudah sudah menyeret dua buah koper serta peralatan tenda lengkap.


"Aku mau mengungsi di puncak. Kita nggak bobo di villa tetapi di tenda," jelaskan dengan cengengesan.


Sherly hanya menjalankan kepalanya sambil menghembuskan nafas beratnya. Untuk saat ini dia membiarkan Kaisar sesuka hatinya. Dia pikir tidur di dalam tenda itu akan nyaman apalagi malam yang gelap membuat suasana semakin mencekam. Sedangkan Kaisar sendiri takut akan gelap.


Belum tahu dia rupanya berkemah jauh dari pemukiman. Kita lihat saja bagaimana reaksi mu nanti, Kai. Batin Sherly.


Mobil melaju meninggalkan rumah mereka. sesekali Kaisar melihat para Sherly yang terlihat lebih anggun dari biasanya. Polesan make up tipis menambah aura kecantikan Sherly lebih keluar.


"Ada yang salah?" tanya Sherly saat melihat gerak-gerik Kaisar yang terus memperhatikan dirinya.


"Tidak ada. Aku hanya kagum saja dengan kecantikanmu. Aku berpikir kamu adalah perempuan yang tomboy tidak bisa menjadi wanita cantik. Namun, nyatanya kamu hanya menutupi kecantikanmu saja dengan pakaian serba hitam itu," celoteh Kaisar.


Mengingat pakaian serba hitam, Sherly mendadak teringat akan seseorang yang sudah menjadi kandidat untuk menggantikan dirinya.


Dengan segera Sherly merogoh ponselnya untuk menghubungi orang tersebut. Sherly tersenyum puas saat mendapatkan jawaban dari orang itu. Tidak lama lagi pekerjaan yang dia geluti selama ini akan usai begitu saja. Namun, sedikitpun Sherly tidak merasa karena selain pesan dari Vie, dia juga tertampar oleh ucapan Daisy tempo hari.


"Telepon siapa? Senang amat?" ketus


Kaisar, yang merasa sedikit cemburu.


"Telepon berondong," balas Sherly sambil menahan tawanya.


Saat itu juga, Kaisar menginjak rem secara mendadak, membuat kening Sherly harus terbentur oleh dashboard.


"Aduhh," keluh Sherly.


"Coba ulangi lagi tadi kamu bilang apa?" tekan Kaisar.


Sambil menggosok keningnya Sherly berkata, "Aku baru saja menelepon berondong manis yang bakalan menggantikan posisiku. Puas kamu!" ketus Sherly.


Seketika itu mata Kaisar berubah menjadi berbinar, berarti sebentar lagi Sherly akan benar-benar resign dari pekerjaannya.


"Kamu serius, sudah mendapatkan calon penggantimu?" tanya Kaisar. Namun, sayangnya Sherly tidak menjawab, dia hanya terus keningnya yang sudah terlihat memerah.


"Sini, sakit ya? Maaf tadi sudah terbawa suasana. Kamu sih sebut-sebut berondong, kan aku tadi cemburu." Kaisar mengusap pelan kening Sherly.

__ADS_1


Sherly mengerucutkan. Niatnya hanya ingin mengerjai kaisar saja tetapi di luar dugaan Kaisar ternyata sangat posesif.


"Maaf ya," Sambung Kaisar lagi.


Tak ada jawaban dari Sherly membuat Kaisar merasa semakin bersalah.


"Sher, kamu beneran marah?" tanya Kaisar lagi.


Sherly benar-benar tidak tega saat dia ingin mengerjai Kaisar lebih lama. Wajah Kaisar sudah terlihat semakin kusut.


"Jadi enggak ke puncak-nya? Kalau nggak jadi, kita pulang pulang aja," kata Sherly.


"Jadi lah, masa' gak jadi. Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu," balas Kaisar.


"Ya sudah jalan ke mobilnya, nanti keburu macet!" perintah Sherly.


Kaisar yang mendapat isyarat bahwa Sherly sudah tidak marah lagi kepada dirinya segera melanjutkan perjalanannya. Perjalanan kaisar diiringi dengan lagu-lagu nostalgia membuat Sherly ikut bernyanyi. Tanpa Kaisar ketahui ternyata Sherly juga mempunyai suara yang merdu. Ternyata Sherly bukan hanya pandai dalam urusan pekerjaan kantor maupun pekerjaan rumah. Kaisar yakin jika Sherly adalah seorang multitalenta yang memang menyembunyikan diri.


"Sher, diam-diam kamu juga pada bernyanyi ya?" puji Kaisar.


Sherly tersenyum malu. Sebenarnya sedari kecil Sherly memang bercita-cita ingin menjadi seorang penyanyi. Namun, karena suatu hal dia harus memendam impian dan cita-citanya. s


Sudah bertahun-tahun Sherly tidak sekalipun ingin menyanyi. Namun, entah mengapa setiap dekat dengan Kaisar dirinya selalu menjadi lama.


"Sedari kecil aku memang suka bernyanyi, Kai," ucap Sherly.


"Lalu mengapa kamu tidak menjadi penyanyi atau model gitu? Secara tubuh kamu sangat bagus dan kamu juga cantik. Tapi sayang, kamu menutupi semua apa yang kamu miliki. apakah ini semua ada hubungannya dengan pekerjaan ilegal itu?" Tiba-tiba saja kaisar membahas masalah pekerjaan lain yang Sherly ke geluti.


Sherly hanya membuang berat nafasnya. Memang benar tebakan Kaisar. Salah satu faktor Sherly menutup diri memang ada sangkut pautnya dengan masalah pekerjaannya.


"Bisa dibilang seperti itu. Tetapi ada satu kejadian yang membuat aku menjadi seperti itu, Kai."


"Apa itu?"


"Masa lalu, Kai," jawab Sherly dengan pandangan lurus kedepan.


.

__ADS_1


.


🌼 Bersambung 🌼


__ADS_2