
Excel menunggu Daisy yang masih mengenakan pakaiannya. Pagi ini Excel ingin mengantarkan Daisy periksa kehamilan untuk yang pertama kali bersama dirinya. Excel tidak akan menyia-nyiakan waktu, ia ingin melihat bagaimana anaknya di dalam perut sang istri. Dia juga sudah tidak sabar ingin tahu jenis kelamin anaknya.
Wajah Daisy masih sembab akibat menangis terlalu lama. Semua ini gara-gara Excel yang menguliti masa lalu yang sebenarnya tidak ingin Daisy ingat. Bukan karena Daisy tidak menyayangi ibunya tetapi, ada rasa trauma yang mendalam saat mengingat kejadian dimana ibunya jatuh dari balkon kamarnya.
"Kamu cantik sekali," puji Excel.
"Aku memang sudah cantik sedari lahir," balas Daisy.
Keduanya menuruni anak tangga dengan penuh rasa bahagia. Semakin hari sepertinya batu es itu sudah mencair, terlihat dari Excel yang sudah memperlakukan Daisy sangat manis. Kabar mencairnya batu es sudah menyebar kepada semua pelayan, tak terkecuali dengan Adel. Gadis itu merasa sangat lega melihat Nona-nya diperlukan dengan baik oleh Tuan-nya. Dia juga tidak akan pusing lagi untuk membukakan jalan pintas untuk Nona-nya lagi sekarang, karena Adel yakin Nona-nya tidak akan pernah kabur lagi.
Sesampainya di salah satu rumah sakit, Excel harus mengikuti tata tertib yang berlaku dengan cara ikut mengantri sesuai nomer urutan.
Di sana ternyata bukan hanya Daisy saja yang hendak periksa. Namun, sekitar 10 orang dengan kondisi yang sama, yaitu perut buncit.
Excel sampai bergidik ngeri saat membayangkan mereka semua yang ada di depannya. Apakah mereka semua saling berjanjian saat ingin masuk ke hutan Amazon.
"Kamu kenapa?" tanya Daisy.
"Tidak ada. Hanya saja aku sedang memikirkan apakah semua suami mereka berjanjian saat hendak melakukan penyerangan? mengapa mereka bisa hamil semua?"
Daisy segera mendelik kearah Excel saat ada yang mendengarkan ucapan nyeleneh dari Excel. Bagaimana Excel bisa mengatakan seperti itu? pandangan yang sempit!
"Excel, kamu ngomong apa sih? bikin malu tahu!" lirih Daisy, sambil melotot.
"Jadi ... kenapa mereka bisa hamil semua," balas Excel.
"Excel, kamu bisa diam gak?" ancam Daisy.
Excel memilih diam dan bersabar hingga gilirannya tiba. Namun, karena Daisy datang lebih akhir maka dia harus sabar hingga semua habis terpanggil.
__ADS_1
Pengalaman pertama bagi seorang Excel Word untuk mengantri di poli kandungan, dengan penuh rasa sabar demi sang istri.
Excel sudah merasa bosan. Beberapa kali dia hanya melirik arlojinya, berharap waktu berjalan dengan cepat dan istrinya segera di panggil.
Jika tahu akan lama seperti ini, mending Excel memanggil dokter khusus saja ke rumahnya. Dengan begitu dia tidak akan mengantri seperti ini. Namun, karena ingin menyenangkan hati sang istri Excel rela hingga berjamuran menunggu nomer urutannya tiba.
Saat ini dokter sudah mulai memeriksa perut Daisy. Dari mulai mengecek tekanan darah hingga perut ratanya diolesi gel khusus sebelum dokter melakukan USG.
Dari layar monitor, terlihat janin yang masih sekecil biji kacang membuat Excel terus berpikir apakah ada masalah dengan tumbuh kembang buah hatinya.
"Dok, apakah anakku mengalami masalah di dalam sana? mengapa dia hanya sebesar biji kacang?" tanya Excel.
"Tidak Tuan. Tidak ada masalah dengan janin istri anda. Karena memang usianya masih 6 minggu, Tuan. Semakin bertambahnya usia kandungan maka bertambah juga besarnya nanti. Tuan sudah tidak sabar ya untuk melihat calon anaknya?"
"Kalau begitu coba cek sekarang jenis kelaminnya! aku ingin tahu apakah dia laki-laki atau perempuan!"
"Apakah Dokter yakin jika dia dalam keadaan baik-baik saja? Awas besok jika aku periksa lagi besarnya masih sama seperti sekarang!"
Hari ini Excel sudah berhasil membuat Daisy malu karena Excel sempat menanyakan apakah aman jika setiap hari mereka melakukan hubungan badan lebih dari 2 kali dalam satu hari.
Dokter hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memberi saran agar Excel membatasi kegiatan mereka karena saat ini usia janin istrinya masih rentan. Jangan sampai karena tidak bisa menahan hawa naf.su akhirnya mengalami pendarahan.
"Apakah aku melakukan kesalahan?" tanya Excel heran, karena tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Daisy.
"Kamu hari ini udah buat aku malu tahu!" ketus Daisy.
"Tapi aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya menanyakan hal yang wajar! Apakah salah?"
"Tidak! Kamu tidak pernah salah dan tidak mau disalahkan!"
__ADS_1
Excel memilih diam daripada memperpanjang suasana. Keduanya pun akhirnya memilih sama-sama diam sepanjang perjalanan.
Saat berhenti di sebuah lampu merah ponsel Excel berbunyi. Siapa lagi jika bukan Sherly. Antara ingin mengangkat dan mengabaikan. Sebenarnya Excel tidak ingin pembicaraannya dengan Sherly di dengar oleh Daisy, tetapi karena Excel ingin mengetahui kabar terkini dari Sherly, Excel mengangkat panggilan tersebut.
"Baik. Aku akan segera ke sana! Excel sudah menutup ponselnya lagi.
"Kamu mau pergi lagi" tanya Daisy.
"Iya. Aku ada urusan. Kamu aku antar pulau sekarang ya."
"Apakah kamu ingin berkelahi lagi?" Daisy penasaran.
"Tidak. Kamu tidak usah khawatir. Kali ini aku tidak akan kenapa-napa."
.
.
.
Dah ah, othor ngantuk. Kasih kopi dulu biar gak ketiduran pas lagi ngetik 🥰🥰
Halo-halo othor mau kasih rekomendasi novel yang bagus untuk kalian dari temen othor. Cerita seru dan wajib kalian baca! mampir ya!
Judul Novel : Belenggu Benang Kusut
Author : Tie Tik
__ADS_1