Jerat Hasrat Sang Ceo

Jerat Hasrat Sang Ceo
JHSC 76


__ADS_3

...Cinta datang dengan membawa sebuah cahaya tetapi cinta pergi meninggalkan sejuta luka...


...💗💗💗...


Dalam hidup Sherly dia tidak pernah memikirkan untuk memiliki kekasih. Sarena selama ini hatinya terkunci pada seorang lelaki yang tak pantas dia harapkan. Mungkin Sherly akan terlihat egois dengan perasaannya, tetapi dia akan selalu mendukung lelaki itu untuk hidup bahagia bersama dengan keluarganya. Katakanlah Sherly salah telah jatuh cinta.


Bisa berada di tengah-tengah kehidupannya saja Sherly sudah merasa bahagia, meskipun tidak bisa memiliki seutuhnya. Cinta kadang salah tempat tetapi, bukan berarti Sherly harus buta mata dan patah hati. Mencinta tidak harus memiliki, begitulah yang Sherly rasakan selama ini.


Seiring kebersamaan antara Sherly dan Excel, Sherly menyimpan sebuah rasa kepada bos-nya, tetapi dia sadar bahwa Excel tidak akan pernah membalas cintanya. Sherly sadar sepenuhnya atas hal itu. Apakah salah jika masih memiliki perasaan kepada Excel?


Dering ponsel membangunkan lamunan Sherly. lagi-lagi nama Kaisar mengambang di layar ponselnya. Sherly membuang nafas kasarnya.


"Dia lagi ... dia lagi," keluh Sherly. Namun, saat hendak menjawab, panggilan telepon itu telah dimatikan.


"Nih orang maunya apa sih?" gerutu Sherly.


Tidak berapa lama sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Sherly. Siapa lagi jika bukan Kaisar. Sebuah pesan yang mengatakan bahwa istri dari bosnya ingin bertemu dengan dirinya besok. Sherly semakin menautkan alisnya saat membaca pesan tersebut. Untuk apa istri bos Kaisar ingin bertemu dengannya? bukankah yang melakukan kerjasama adalah Bos Kaisar? lalu apa hubungannya dengan istrinya? Apakah Sherly melakukan kesalahan? jika iya mengapa bukan Bos Kaisar sendiri yang ingin bertemu? Ahhh ... Sherly semakin pada saat gelisah.


.


.


Seminggu telah berlalu ...


Hari ini Excel terlihat lebih semangat saat mengemasi peralatan di meja kerjanya. Karena sore ini dia sudah bisa untuk pulang ke rumahnya. Dia sengaja pulang lebih awal agar bisa bersiap-siap dahulu. Lukanya juga sudah mengering dan sudah tidak terasa sakit lagi. Itu artinya dia bisa keluar angkasa dengan pelan-pelan.


Satu minggu Excel harus menahan gejolak dalam dirinya dan malam ini Excel akan balas dendam. Dia tidak akan mengampuni Daisy, jika perlu sampai pagi.


"Sherly ke ruangan ku sekarang!" Excel menghubungi Sherly lewat panggilan teleponnya.


Tidak butuh waktu lama Sherly sudah sampai di ruangan Excel. Kedua bibirnya tertarik ke atas, sebuah senyuman yang jarang dia temukan kepada orang lain.

__ADS_1


"A'da apa Tuan? apakah Anda membutuhkan sesuatu?" tanya Sherly.


"Tidak! tidak ada! Aku hanya ingin mengatakan kepadamu, bahwa aku akan pulang lebih awal. Lagian pekerjaanku sudah tidak ada lagi kan, sisanya aku serahkan kepadamu." Setelah memberi amanat kepada Sherly, Excel segera meninggalkan ruang kerjanya.


Sherly masih terpaku, mengapa harus dia lagi, dia lagi dan dia lagi untuk meneruskan pekerjaan Excel yang belum siap.


"Wahai nasib, bersabarlah. Mungkin saat ini kamu memang harus banyak menyetok rasa sabar."


Setelah menahan selama satu minggu lebih, akhirnya Excel bisa kembali ke rumahnya. Seperti biasa kedatangan Excel sudah disambut oleh para pelayan. Tetapi dalam penyambutan kali ini dia tidak melihat Daisy. Saat menanyakan kepada pelayan dimana, ternyata Daisy berada di kamarnya.


Excel tersenyum licik saat dia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Kemungkinan besar Daisy sedang mandi. Excel pun bergegas menuju ke kamarnya.


Saat Excel membuka pelan pintu kamarnya, dia melihat pemandangan yang luar biasa, dimana Daisy sedang berganti baju.


Derap langkah kaki Excel masih bisa terdengar di telinga Daisy, meskipun Excel sudah berusaha untuk memelankan langkahnya.


Daisy segera membalikkan tubuhnya, dengan terkejut dia langsung berteriak.


"Excel!" teriak Daisy, saat melihat Excel berjalan sambil mengendap-endap.


Saat ini Daisy menumpahkan rasa rindunya dalam dekapan Excel, bahkan Daisy sempat menitihkan air matanya karena merasa sangat terharu.


"Kamu jahat! bilang hanya dua hari ternyata satu minggu lebih." Daisy memeluk erat tubuh Excel.


Begitu juga dengan Excel yang memejamkan matanya membalas pelukan Daisy. Excel sudah mati-matian menahan rasa rindunya selama satu minggu lebih dan kini dia bisa menikmati aroma tubuh sang istri. Malam ini Excel akan memastikan jika dia tidak akan tidur sampai pagi. Excel tersenyum sinis, sambil membayangkan pikiran mesumnya.


Setelah puas melepas rasa rindunya, Excel segera membersihkan diri. Dia tidak ingin buru-buru untuk menerkam Daisy. Setelah membersihkan diri Excel mengajak Daisy untuk makan malam. Perut Daisy yang sudah membuncit terlihat sangat sek.si di mata Excel saat ini. Apalagi Daisy hanya mengenakan daster.


"Sayang, baru satu minggu aku tinggal, mengapa pipimu sudah cubby sih? gak sabar pengen nerkam sekarang," goda Excel.


"Apaan sih? didengarin pelayan, malu tahu!"

__ADS_1


"Gak usah malu! yang penting kita gak ngelakuin di sini!!"


...💗💗💗...


Malam yang syahdu di bawah temaram lampu kamar, suara rintihan silih berganti, berpacu dalam tempo waktu yang semakin cepat. Excel langsung merebahkan tubuhnya ke samping saat dia sudah berhasil melakukan pelepasan pertamanya. Menikmati sejenak sisa-sisa cinta mereka dengan deru nafas yang masih memburu. Niat ingin menerkam Daisy hingga pagi ternyata diurungkan, nyatanya baru satu kali permainan dia sudah tidak sanggup lagi. Bekas lukanya belum benar-benar sembuh, Excel masih sedikit merasakan nyeri saat dia hampir sampai puncak tadi.


"Sayang, terima kasih." Excel menge.cup kening Daisy, sebelum dia membersihkan diri ke kamar mandi.


Ternyata malam ini tak sesuai dengan malam yang diinginkan oleh Excel. Dia terpaksa hanya bisa memeluk Daisy sampai pagi, karena nyatanya perutnya tidak bisa diajak bekerja sama. Saat ini Excel menahan rasa nyeri di perut, dia benar-benar tidak tahu mengapa perutnya semakin terasa sakit.


Hingga pagi menjelang Excel masih setia dengan tangan yang melingkar di perut Daisy. Daisy yang terbangun, dia mendengar suara rintihan kecil dari bibir Excel.


"Sayang, kamu kenapa?" Daisy terlihat sangat panik ketika Excel terus merintih menahan rasa sakitnya.


"Aku tidak apa-apa. Hanya sakit perut saja, nanti juga sembuh. Kamu tidak usah khawatir, aku baik-baik saja," kilah Excel.


"Gak bisa gitu dong! kita harus ke rumah sakit sekarang!"


Excel tidak bisa menolak manakala kepala pelayan telah membantunya untuk ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Daisy sangat khawatir karena Excel terus menggertakkan giginya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Daisy penuh kepanikan. Excel hanya menggeleng pelan dia masih mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Sepanjang perjalanan itu pula tangan Excel terus menggenggam erat tangan Daisy, berharap rasa sakitnya sedikit berkurang.


.


.


.


🌼 BERSAMBUNG 🌼


Maaf baru bisa up lagi, maafkan author yang tiba-tiba merasa down karena suatu hal. Tapi mudah-mudahan down itu sudah hilang. Terima kasih yang masih setia dengan cerita ini. Love love sekebon toge. umah umah umah 🥰🥰

__ADS_1


Selagi nunggu cerita ini Up lagi mampir dulu yuk ke karya novel teman othor yang satu ini, dijamin seru.



__ADS_2