Jerat Hasrat Sang Ceo

Jerat Hasrat Sang Ceo
JHSC 25


__ADS_3

Setelah melewati hari panjang akhirnya tiba saatnya Excel pulang ke rumah. Namun, saat baru saja memarkirkan mobilnya dia terkejut akan sebuah mobil yang berani masuk ke halamannya tanpa sepengetahuan darinya.


Jika dilihat mobil itu adalah milik Arathorn, sang ayah mertua. Dengan langkah cepat ia segera masuk ke dalam rumah untuk memastikan lebih jelas, berani sekali dia menginjakkan kaki tanpa ijin darinya.


Mata elang Excel menyapu ruang tamu. Di sana sudah ada Daisy sedang berbicara dengan Arathorn dengan serius. Suara deheman membuat kedua terkejut dengan wajah gugup.


"Aku tidak mengundang tamu, tetapi mengapa ada tamu tak diundang di rumah ini?" sindir Excel.


"Aku yang mengundang Daddy kesini karena kamu tak pernah mengijinkan aku untuk keluar rumah," sahut Daisy.


"Aku sudah pernah bilang di rumah ini jika ingin melakukan sesuatu harus dengan izin ku. Dan untuk kamu Tuan Arathorn, jika keperluan mu dengan putrimu sudah selesai silahkan tinggalkan rumah ini karena aku tidak menerima tamu seperti kamu."


Arathorn menatap sengit ke arah Excel. Jika saja dia tidak berpengaruh dalam dunia bisnisnya, bisa saja saat ini Arathorn memakinya. "Apakah aku tidak boleh mengunjungi putri ku dan menantuku?"


Excel tersenyum menyeringai. "Cih … aku tak akan pernah menganggap mu sebagai mertua karena aku tidak mencintai putrimu bahkan tidak akan pernah sedikitpun," ujar Excel.


Saat itu juga tatapan Daisy meredup. Ucapan Excel sangat menembus ulu hatinya hingga terasa ngilu. Seharusnya dia sadar jika Excel tidak akan pernah tertarik sedikitpun kepada dirinya.


"Daddy pulanglah. Aku baik-baik saja." Daisy segera meninggalkan Daddy dan Excel yang masih ingin berseteru.


"Lihatlah, bahkan putrimu sendiri juga mengusir mu. Kamu memang harus segera pergi," sinis Excel.


"Tanpa kamu usir, aku tahu diri," sahut Arathorn, kemudian berlalu.


Di dalam kamar dengan rasa sakit di ulu hati, tiba-tiba Daisy ingin menangis. Ia tidak tahu sampai kapan dia akan bebas dari jeratan yang membelenggunya. Tinggal bersama orang yang tidak berkeprimanusiaan seperti Excel.


"Kenapa kamu panggil pembunuh itu masuk ke rumah ini tanpa seijin dariku?" bentak Excel, yang baru saja masuk kamar.

__ADS_1


Daisy yang duduk di sofa merasa sangat terkejut. Dia menatap Excel dengan bola mata yang sudah memerah.


"Aku sudah pernah mengatakan sebelumnya jika ingin melakukan sesuatu harus meminta ijin denganku terlebih dahulu. Tapi sepertinya kamu sama sekali tak pernah menganggap akan ucapan ku. Keluar dari sini!"


Daisy tak bisa lagi membendung air matanya. Lidahnya kelu untuk membela diri. Dengan berlari kecil Daisy meninggalkan kamar serta membanting pintu.


Dengan setengah berlari Daisy menuruni anak tangga. Hatinya saat ini sangat sakit. Mengapa dia harus terjebak dalam tawanan Excel. Daisy hanya bisa menangis, meratapi keadaan saat ini. Bahkan untuk tersenyum saja dia sudah tidak bisa lagi.


Di dalam kamar Excel menjatuhkan kasar tubuhnya ke sofa. Dia seperti orang linglung setelah menyadari apa yang baru saja ia lakukan kepada Daisy.


"Dasar bodoh! Apa yang baru saja aku lakukan? Dia pasti sangat ketakutan."


"Sial! Kenapa juga aku harus terbawa emosi? Dia sedang hamil, bagaimana jika nanti dia kenapa-kenapa?"


Excel segera berlari untuk menyusul kepergian Daisy. Namun, ternyata Daisy tak ia temukan. "Kemana dia perginya?"


"Pelayan!" teriak Excel menggema di rumahnya.


"Nona." Adel terkejut saat melihat Daisy sudah berada di ambang pintu kandang kelinci.


"Kenapa kamu masih disini? Ini sudah petang?"


"Aku hanya ingin memastikan apakah kelinci-kelinci ini aman. Nona sendiri ada apa? Mengapa ke tempat ini? Bagaimana jika Tuan Excel tahu?"


Daisy tak menjawab. Dia melenggang menjauh dari kandang. "Aku mau pergi dari sini," ucap Daisy.


"Nona, ada apa dengan anda? Mengapa anda pucat? Anda sakit? Lalu anda ingin pergi kemana?"

__ADS_1


Daisy menggeleng. Tidak ada yang sakit, hanya hatinya yang sakit saat mendengar ucapan dari Excel.


"Aku tidak sakit. Bisakah kamu membuka pintu itu lagi untukku kan?"


Adel terdiam untuk beberapa saat. Melihat keadaan istri majikannya yang pucat, Adel tidak ingin mengambil resikonya. Apalagi Adel juga tahu jika Daisy baru saja keluar dari rumah sakit.


"Anda beristirahat dulu saja disini, Nona. Besok pagi saya akan buka pintu itu. Hari sudah malam, saya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap anda."


Daisy menyetujui apa yang dikatakan oleh Adel. Ada baiknya besok pagi saja dia perginya karena saat ini Daisy yakin jika Excel sudah menyebarkan anak buahnya untuk mencari dirinya.


"Baiklah, aku akan disini."


.


.


.


.


🌼 Bersambung 🌼


Halo-halo selamat pagi, maaf baru nongol 🤭


Oh iya, seperti biasa othor mau rekomendasi novel bagus untuk kalian, mampir ya.


Judul Novel : Gadis Scorpion

__ADS_1


Author : Adindara



__ADS_2