
Mobil yang mengikuti Excel berhasil memberhentikan laju mobil Excel. Mobil itu berhenti tepat di depan mobil Excel. Beruntung saja Excel bisa mengendalikan rem sehingga tidak menabrak mobil yang ada di depannya ada.
Daisy sangat ketakutan, saat 4 orang pria berjalan mendekati mobil Excel.
"Excel, bagaimana ini? Aku takut," lirih Daisy.
"Kamu jangan takut, aku ada di sini. Aku tidak akan pernah membiarkan satu orang pun untuk bisa menyentuhmu." Excel menggenggam tangan Daisy erat.
Dua orang sudah mengetuk kasar kaca mobil Excel dan berteriak agar Excel keluar dari mobilnya, tetapi Excel bergeming dia enggan untuk turun.
"Kamu tenang saja! kaca ini tidak mampu mereka tembus sekalipun dengan peluru," ucap Excel.
"Tapi aku takut Excel." Daisy benar-benar sangat ketakutan. Dia takut kejadian yang lalu akan terulang lagi. Sebelumnya Daisy pernah diculik dan disekap oleh salah satu musuh dari Excel. Kali ini dia tidak mau merasakan hal itu lagi. Apakah seberat ini berada di sisi Excel?
"Apakah kamu meragukan Sherly? Dia tidak akan mengecewakan aku, lihat saja sebentar lagi dia akan datang. Kamu tidak usah takut kita aman di dalam mobil ini," jelas Excel.
Daisy mengganggu pelan, dia memang tidak meragukan kemampuan Sherly. Mungkin mulai saat ini harus terbiasa dengan keadaan seperti ini.
"Peluk ..., " ucap Daisy manja.
Excel tersentak, dia menautkan alisnya merasa heran. Mengapa tiba-tiba Daisy minta di peluk? Bukannya langsung menuruti permintaan sang istri, Excel malah diam sejenak. Hal itu membuat Daisy semakin mengerucutkan bibirnya.
"Tuh kan, minta peluk aja nggak dikasih," rajuk Daisy.
Saat itu juga Excel tersadar. "Sejak kapan kamu berubah menjadi manja? Ya udah sini!"
Melihat ekspresi Daisy yang tiba-tiba membuncut membuat Excel tidak tega. dengan gerakan pelan, Excel menarik tangan Daisy lalu merengkuhnya ke dalam pelukannya. Dalam situasi genting seperti ini, keduanya malah saling berpelukan di dalam mobil tanpa memikirkan nasib mereka yang sudah dikepung oleh 4 orang.
"Excel, bagaimana kalau mereka berhasil menyakitiku dan anak kita?"
"Itu tidak akan pernah terjadi!"
Daisy menikmati aroma khas tubuh Excel yang saat ini mampu menenangkan pikirannya, saat mereka saling berpelukan Daisy bisa merasakan sebuah tendangan kecil dari dalam perutnya.
__ADS_1
"Excel tunggu!" Daisy melepaskan pelukannya.
"Anak kita baru saja menendang, coba kamu rasakan," lanjut Daisy lagi.
Excel yang mengelus perut Daisy, belum bisa merasakan tendangan yang dimaksud oleh Daisy tadi. Namun, saat tangan Excel ingin melepaskan, tiba-tiba ia merasakan gerakan kecil dari perut Daisy.
Dengan mata yang membulat dan bibir yang menarik kedua sudutnya Excel berkata, "Apakah kalian di dalam sana juga mau melawan tikus-tikus itu? Wah ... hebat sekali kalian mau membantu Daddy." Excel menge.cup perut Daisy.
Tanpa keduanya sadari, ternyata keempat orang itu sudah tidak ada. Mobil di depannya pun juga sudah menghilang. Apakah mereka kabur begitu saja? Namun, mata elang Excel sudah menangkap Sherly dan anak buahnya.
Melihat suasana sudah aman, Excel segera turun dari mobil untuk menghampiri Sherly dan anak buahnya.
"Di mana mereka?" Excel bertanya kepada Sherly.
"Maaf Tuan, mereka berhasil melarikan diri. Tetapi anda tidak perlu khawatir, karena sebagian dari anak buah kita sudah mengejar mereka," jelas Sherly.
Meskipun keadaan sudah aman, tetapi Excel tidak bisa bernafas dengan lega begitu saja saat tikus pengganggu itu belum berhasil dilumpuhkan. Baru juga kemarin dia menghabisi tikus-tikus pengganggu, sekarang sudah muncul tikus-tikus baru lagi.
Excel tidak bisa membiarkan masalah ini terus berlarut-larut. Dia harus segera menemukan dalang di balik ini semua.
***
Sesampainya di rumah, Excel segera mengumpulkan semua pelayan yang ada di rumahnya. Dia segera mengumumkan kabar bahagia yang baru saja ia dapat dari dokter.
Kabar baik ini memang harus diketahui oleh para pelayan semua agar mereka bisa menjaga dasi dengan lebih ketat lagi. Apa lagi saat ini sedang ada yang mengincar Daisy.
Semua pelayan turut bahagia atas kabar yang disampaikan oleh Tuan mereka. Sebentar lagi rumah besar ini akan diramaikan oleh tangisan dua bayi sekaligus.
Semua pelayan memberikan ucapan selamat kepada Daisy. Tak terkecuali dengan Mina, wanita itu benar-benar sangat bahagia saat Daisy sudah menemukan kebahagiaan yang seutuhnya dari Excel. Mungkin dengan cara ini tuan-nya akan lebih mencurahkan cinta dan kasih sayangnya kepada Daisy.
"Mulai saat ini, kamu harus berhati-hati. Jangan ceroboh! karena bukan hanya satu nyawa yang sedang hidup di dalam perutmu, tetapi ada dua. Kamu tahu itu kan?"
"Iya Excel, aku tahu."
__ADS_1
Setelah mengantarkan Daisy sampai ke kamar, Excel segera berpamitan untuk berangkat ke kantor.
Lagi lagi Excel harus dibuat heran dengan tingkah laku Daisy yang dianggapnya semakin manja kepada dirinya. Bagaimana tidak, sebelum Excel meninggalkan kamar, Daisy meminta Excel untuk mengelus perutnya lebih dahulu dan pamitan kepada anaknya terlebih dahulu.
"Meskipun aku berpamitan, mereka tidak akan mengerti Syi!" tolak Excel.
Daisy memilih mengerucutkan bibirnya saat Excel tidak mau menuruti permintaannya. Karena tidak tega, akhirnya Excel memilih mengalah. "Baiklah, aku akan berpamitan kepada mereka."
Excel kembali mendekat ke arah Daisy lalu berjongkok agar dia bisa mengelus perut buncit milik sang istri. "Sayang, Daddy berangkat kerja dulu ya. Kalian main bola aja sepuasnya di dalam sana." Excel nyengir, dia ingin mengerjai Daisy.
Satu tabokan meluncur di bahu Excel. "Kamu pikir perutku lapangan bola?" protes Daisy.
"Bukan lapangan bola, tapi surga dunia. " kekeh Excel.
Excel tertawa melihat bibir Daisy yang semakin mengerucut. Karena merasa gemas Excel malah tertarik untuk mencicipinya.
Tak ada perlawanan dari Daisy saat, bibir Excel sudah menempel di bibirnya dengan lidah yang sudah menjelajahi rongga mulutnya.
Semakin lama Excel merasakan ada yang sudah tidak beres. Sesuatu yang sudah ia kurung tiba-tiba bangkit dan menginginkan untuk menjelajah ke angkasa.
Akhirnya mau tidak mau, Excel harus membuka sangkar dan melepaskan pu.sa.kanya untuk menjelajahi surga dunianya. Namun kali ini, Excel memilih mengambil kendali. Dia tidak mau Daisy yang menjadi pilot, meskipun sebenarnya perut buncit Daisy sedikit mengganggu pergerakannya.
Daisy memilih pasrah saat Excel sudah membawanya dirinya ke luar angkasa, dia hanya bisa mengikuti bibirnya saat benda itu sudah tenggelam dengan sempurna.
Excel terus memompa tubuh Daisy dengan irama pelan, karena dia tidak ingin menyakiti anaknya. Excel lupa, saat dia melakukan penerbangan dia tidak mematikan ponselnya sehingga saat ini ponselnya berdering.
"Ah, sial! Siapa yang sudah menelepon di waktu yang tidak tepat ini?" umpat Excel kesal.
.
.
.
__ADS_1
🌼 bersambung 🌼
HALO HALO AKU DATANG LAGI, JANGAN LUPA JEJAKNYA! AWAS KALAU NGGAK ADA JEJAK KALIAN YA! GETOK PALU NANTI 🤕🔨