Jerat Hasrat Sang Ceo

Jerat Hasrat Sang Ceo
JHSC 71


__ADS_3

Sudah satu minggu sejak terbebasnya Mischelle, sedikitpun belum ada tanda-tanda di mana keberadaan wanita itu. Bahkan Excel juga sudah mendatangi kediaman Arathorn untuk mencari bukti di sana. Namun, Excel tidak bisa menemukan bukti apapun di sana.


Saat ini keadaan Arathorn terlihat sangat menyedihkan. Badan yang dahulu terlihat kekar, saat ini hampir terbungkus tulang saja. Beruntung saja Daisy tidak ikut Excel dalam peninjauannya kali ini. Jika Daisy sampai ikut, bisa dipastikan dia langsung merasa kasihan kepada Daddy-nya dan merengek untuk merawatnya.


Excel yang terlihat sangat jahat, tetapi dia masih mempunyai sedikit hati dengan memberikan seorang perawat untuk Arathorn. Sebenarnya tidak ada untungnya jika Excel membantu kesembuhan Arathorn saat ini. Bisa saja Excel membiarkan lelaki tua itu terbujur kaku tidak ada yang merawatnya. Namun, Excel tidak akan membiarkan itu terjadi. Selain karena dia adalah mertuanya, Excel juga masih membutuhkan Arathorn untuk pemindahan perusahaan miliknya kepada Daisy.


Bahkan saat ini Excel tidak keberatan jika dia harus menanggung semua pelayan yang ada di Arathorn. Excel semakin tertarik untuk mengikuti jalan pikirannya saat ini. Tiba-tiba dia ingin mengambil semua aset milik Arathorn yang tak ada gunanya terbengkalai begitu saja.


Sebelum pergi, Excel mengumpulkan semua pelayan yang ada di rumah itu. Atas bantuan dari salah satu pelayan, Excel sudah menemukan sebuah barang berharga milik Arathorn. Exel tersenyum sinis melihat Arathorn yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain hanya duduk di sebuah kursi roda.


"Daddy mertua, tolong tanda tangani surat ini!" perintah Excel dengan kata lembut.


Arathorn hanya bisa menatap Excel dengan tatapan tajam. Dia masih bisa membaca, tetapi dia tidak bisa lagi untuk mengucapkan kata. Tangannya pun susah untuk digerakkan. Tidak ingin kehilangan akal, Excel segera menyuruh pelayan untuk mengambilkan tinta.


"Tidak bisa tanda tangan pun tidak apa-apa yang penting ada stempel jarimu Tuan Arathorn," jenis Excel.


Arathon ingin memberontak, dia tidak terima saat jarinya dipaksa untuk membubuhkan stempel di kertas berharga miliknya. Meskipun memang pada dasarnya semua harta akan jatuh kepada Daisy, tetapi saat ini Arathorn tidak rela. Bukan tanpa sebab, Arathon tidak merelakan hartanya jika harus dinikmati juga oleh seorang Excel.


"Bagus sekali." Excel merasa sangat puas saat sebuah surat sudah dibubuhi dengan stempel jari milik Arathorn. Namun, sebelum Excel benar-benar pergi meninggalkan rumah Arathorn, terlebih dahulu Excel memberikan penjagaan yang ketat di rumah Arathorn.


"Jika ada yang mencurigakan segera hubungi aku! mengerti?!" pesan Excel, kepada anak buah yang diutus untuk menjaga rumah Arathorn.


"Kami mengerti Tuan," jawab mereka.


****


Excel melajukan kembali perjalanannya untuk menuju kantor. Tetapi di tengah perjalanan dia ditelepon oleh Sherly yang mengatakan bahwa saat ini dia sudah menemukan bukti bahwa Mischelle saat ini berada di kota sebelah.


Setelah mendapatkan kabar tersebut, Excel masih terdiam. Dia tidak ingin gegabah untuk mengejar Mischelle. Bisa saja itu hanya sebuah jebakan untuk memporak-porandakan kediamannya nanti.

__ADS_1


Excel semakin yakin, bahwa yang membebaskan Mischelle mempunyai niat terselubung. Bisa jadi Mischelle adalah alat mereka untuk mengecohkan dirinya.


"Kalian pikir kalian bisa menipuku dengan mudah? Jangan panggil aku Excel Word jika aku tidak bisa membaca pikiran kalian."


Sepertinya saat ini Excel harus mengikuti permainan yang sedang berjalan. Memancing tikus untuk keluar dari sarang bukanlah hal yang sulit dilakukan oleh Excel. Setelah Excel mengatakan semua rencananya kepada Sherly, Sherly pun segera menyiapkan persiapannya dengan baik.


Saat ini Excel sengaja pulang lebih awal karena dia ingin menjalankan rencananya. Sesampainya di rumah dia segera mengatakan kepada Daisy bahwa dia hendak keluar kota.


"Kok mendadak sih, Sayang?" tanya Daisy dengan penuh keterkejutan.


"Namanya juga pekerjaan, Sayang," jawab Excel.


Dengan berat hati Daisy mempersiapkan semua keperluan milik Excel yang hendak di bawahnya. Namun, dia merasa sedikit heran karena saat Excel hendak pergi lelaki itu tidak meminta apapun darinya. Hanya sekilas mengelus perut buncitnya dan berpamitan kepada baby twins-nya.


"Sayang, Daddy kerja dulu ya. kalian jangan nakal di dalam sini. Daddy sudah tidak sabar untuk menunggu kalian lahir."


Daisy merasa sangat terharu dengan perubahan Excel yang semakin manis kepada dirinya.


"Iya aku tahu itu. Kamu hati-hati ya," balas Daisy.


Sesuai dengan rencana Excel, dia dan Sherly tidak melakukan perjalanan ke luar kota melainkan ke markas. Excel hanya mengutus anak buahnya ke luar kota untuk menemukan Mischelle. Excel tidak ingin gegabah, dia harus bersembunyi dahulu untuk memancing tikus-tikus itu keluar dari sarangnya. Saat ini Excel juga sudah menempatkan orang-orangnya di pinggir jalan rumah untuk memperketat keamanan.


"Sherly, sebaiknya kamu temani Daisy di rumah. karena aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada dirinya. Meskipun penjagaan rumah sudah ketat tetapi aku juga harus memastikan keadaan dalam rumah juga dalam keadaan baik-baik saja," perintah Excel.


Dengan patuh Sherly mengangguk pelan. "Baik Tuan, saya akan segera kesana."


"Bagus! jika ada apa-apa segera hubungi aku!"


"Siap Tuan."

__ADS_1


Hampir setengah jam perjalanan Sherly menuju kediaman milik Excel. Sesampainya di sana Sherly segera disambut oleh kepala pelayan. Selama Excel menikah, Sherly sudah jarang untuk datang ke rumah itu.


"Selamat malam Nona Sherly," sapa kepala pelayan dengan ramah.


"Malam juga, Pak. Di mana Nona Daisy sekarang?" tanya Sherly langsung.


"Beliau sedang ada di kamarnya, Nona. Mari saya antar," tawar kepala.


Sherly menolak. "Tidak Pak. Saya bisa ke sana sendiri. Tolong bapak juga perketat keamanan rumah ini. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi nanti tetapi saya hanya menyarankan kalian untuk berjaga-jaga ketika nanti ada sesuatu yang tidak diinginkan," pesan Sherly sebelum dia beranjak ke kamar Daisy.


Kepala pelayan mengangguk tanda mengerti. Dia yang sudah bekerja bertahun-tahun kepada Tuan Excel sudah paham dengan sifat wanita satu ini. Jika dulu di Sherly sering menghabiskan waktunya di rumah ini, tetapi setelah Excel menikah dengan Daisy, wanita itu tidak pernah datang lagi. Kecuali jika ada pekerjaan penting


"Sebenarnya apa yang akan terjadi nanti?" gumam kepala pelayan.


Sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Sherly, kepala pelayan pun akhirnya memberi peringatan kepada semua pelayan yang ada untuk berjaga-jaga jika nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


..


Sebuah ketukan pintu membuat Daisy segera membuka pintunya. Dia terkejut saat melihat Sherly yang sudah berada di gunung pintu lalu melamar masuk begitu saja ke dalam kamarnya.


"Sherly ada apa?" tanya Daisy, ketika Sherly sudah menuntun tangan Daisy menuju tempat tidur.


.


.


.


🌼 BERSAMBUNG 🌼

__ADS_1


...Terima kasih sudah memberikan dukungan untuk novel receh ini 🥰 peluk cium dari Author umah umah umah 🥰🥰...


__ADS_2