Jerat Hasrat Sang Ceo

Jerat Hasrat Sang Ceo
JHSC 58


__ADS_3

Pagi ini Daisy memilih untuk ikut mengantarkan Excel ke Bandara. Sebisa mungkin Daisy menahan air matanya agar tidak tumpah. Sebelumnya Daisy sudah pernah merasakan perasaan seperti ini, dan benar saja perasaannya tidak salah.


Malam itu Daisy pernah berberat hati saat Excel hendak melakukan perjalanan malam untuk pekerjaannya. Benar saja, saat itu Excel harus berakhir di rumah sakit.


"Kamu harus segera pulang! aku akan menunggu di rumah," kata Daisy.


"Kamu tidak usah khawatir, setelah pekerjaanku nanti selesai aku akan segera pulang. Pasti aku akan sangat merindukanmu," lirih Excel.


Sebelum Excel turun dari mobil, dia memberikan kecu.pan hangat di kening Daisy seolah dirinya juga tidak rela untuk meninggalkannya. Namun, semua ini karena tuntutan pekerjaannya meskipun dia sangat mencintai Daisy, tetapi pekerjaan adalah prioritas utamanya.


"Kamu harus jaga diri baik-baik. Jangan bodoh dan jangan keras kepala!"


"Apakah aku sangat bodoh dan keras kepala?" tanya Daisy.


"Iya. Kamu memang sangat bodoh! awas saja jika kamu sampai berani mengunjungi Mischelle di penjara, ataupun mengunjungi Daddy-mu, aku tidak akan segan-segan untuk memberikan hukuman yang lebih berat lagi untukmu!" ancam Excel.


Daisy menunduk dia tahu dia akan lemah terhadap kedua orang itu. tetapi kali ini dia akan patuh kepada larangan Excel. meskipun hatinya sangat berat tetapi Daisy harus kuat menahannya.


Benar kata Excel, bukan hanya ibunya saja yang harus mendapatkan keadilan tetapi Bibi Liu juga harus mendapatkannya. Jika saat itu maminya tidak mengejar Bibi Liu, mungkin Bibi Liu tidak akan terjatuh dari tangga.


"Iya Excel, aku tidak akan melanggar larangan mu, tetapi kamu harus segera kembali oke!"


"sepertinya ada yang sudah benar-benar jatuh cinta terlalu dalam kepada seorang Excel Word," cibir Excel.


Belum puas saling berbicara, pintu mobil telah diketuk oleh Sherly. Dimanapun Excel berada pasti di situ ada Sherly. keduanya pun terlihat sangat serasi yang gagah dan juga Sherly yang pemberani.


Kadang-kadang Daisy sendiri merasa iri dan cemburu melihat kedekatan Sherly kepada Excel. Namun Daisy tetap percaya sepenuhnya kepada Excel.


"Maaf tuan kita harus segera berangkat," kata Sherly.


Sebelum benar-benar meninggalkan Daisy, lagi-lagi Excel memberikan kecu.pan dalam di kening sang istri dan memeluknya erat. "Tunggu aku pulang, setelah itu kamu bisa memuaskan aku kembali," lirih Excel.

__ADS_1


Daisy tersipu malu. Sepertinya Daisy sudah terlihat murahan di mata suaminya.


Ternyata apa yang dikatakan oleh Vie itu benar adanya. Dia harus berguru lagi kepada Vie untuk cara-cara selanjutnya lagi.


*****


Setelah mengantarkan Excel ke bandara, Daisy segera diantar sama sopir dan beberapa pengawal menuju ke rumah. Selama keluar kota, Excel sudah menyiapkan beberapa bodyguard untuk menjaga keamanan rumahnya. dia tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi kepada Desi saat dirinya sedang tidak ada di sampingnya.


Mungkin Excel terlalu berlebihan, tetapi demi untuk menjaga Daisy dan calon anaknya, dia harus melakukan itu semua. Excel tidak tahu seberapa banyak musuhnya di luar sana, dan sasaran utamanya sekarang adalah Daisy karena wanita itu adalah istrinya saat ini.


Daisy mengirimkan pesan kepada Miya, sahabatnya untuk berkunjung ke rumahnya. namun, sayangnya saat ini Mia sudah tidak tinggal di Indonesia lagi. dia sudah kembali ke luar negeri untuk melakukan pendidikannya lagi.


Lagi-lagi harus menelan rasa kecewanya saat tak ada satu orang pun yang bisa mengerti akan dirinya saat ini. Tiba-tiba dia teringat akan sosok Vie yang baru iya kenal beberapa hari yang lalu.


Mungkin akan menyenangkan jika mengundang Vie untuk datang ke rumahnya, apalagi ada sosok bocah kecil yang menggemaskan. Daisy mungkin bisa belajar banyak hal melalui Vie. Namun, sebelum menghubungi Vie, Daisy meminta izin dahulu kepada sang suami.


Dari balik telepon, Vie setuju untuk datang ke rumah Daisy besok siang setelah menjemput Arga pulang sekolah. Wanita yang berstatus sebagai istri Dirgantara itu merasa sangat senang bisa berteman dengan istri seorang Excel world yang disegani oleh para pembisnis lainnya.


( guys, ini cerita Hidden Baby saat Vie belum melahirkan ya! Saat itu Excel dan Dirga pernah melakukan dinner bersama. Kali aja ada yang bingung )


Vie dan juga Arga adalah tamu pertama yang menginjakkan kaki di rumah kelinci. Karena selama ini Excel melarang siapapun untuk menginjakkan kakinya di sana. Namun, karena kelinci-kelinci itu sudah diberikan kepada Daisy maka sekarang yang berhak mengatur adalah Daisy.


"Aunty kelincinya banyak sekali? lucu-lucu juga. bolehkah Alga bawa pulang satu?" tanya Arga dengan penuh rasa kagum.


Daisy tersenyum manis kepada bocah 4 tahun yang belum bisa mengucapkan huruf r tersebut lalu berkata, "Iya nanti Aunty kasih. kamu mau berapa?"


Dengan antusias Arga menjawab. "Satu aja aunty," jawab Arga cepat.


Saat ini Arga ditemani oleh Adel dan dua orang pelayan lainnya bermain bersama kelinci, sedangkan Vie dan Daisy duduk sambil mengamati Arga yang tengah bermain ria.


"Jadi ada apa? mengapa Nona memanggilku untuk ke sini?" tanya Vie.

__ADS_1


"Jangan panggil aku Nona! panggil saja aku Daisy. Usia kita juga tidak terpaut jauh bukan?"


Vie menuruti Daisy untuk memanggil namanya saja. Sebenarnya dia merasa tidak enak karena bagaimanapun Daisy adalah istri dari seorang Exel pemimpin kekuasaan yang sangat disegani.


Keduanya saling bertukar cerita. Vie dengan terbuka menceritakan bagaimana perjuangannya saat itu, saat dia tidak memiliki siapa-siapa dan hidup di luar sendiri meskipun dia masih memiliki seorang ayah.


karena Cinta satu malam Vie harus menanggung akibatnya. Ia hamil diluar nikah, diusir dari rumahnya sendiri, bahkan dia juga dikeluarkan dari kampus. Bahkan dia juga pernah diusir dari rumah kos-kosan karena ibu kos saat itu mengetahui bahwa dirinya hamil tanpa suami. Saat itu di mana Vie berada di titik yang paling rendah, tetapi dia tetap berjuang dan tidak menyerah demi anak yang sedang berada di dalam perutnya.


Mendengar cerita dari Vie membuat hati Daisy sedikit terenyuh. "Apakah kamu tidak menyesal melahirkan anakmu tanpa seorang suami?" tanya Daisy.


Vie menggeleng pelan lalu tersenyum. "Tidak. untuk apa aku menyesal? kami melakukannya karena kami saling mencintai, meskipun saat itu Dirga tidak mengetahui jika aku sedang hamil," jelas Vie.


"Kamu hebat, Vie. Jika aku yang berada di posisimu, mungkin aku tidak akan sanggup. Lihatlah saat ini aku seperti tawanan di rumah ini, padahal aku adalah istri dari Excel sendiri. Aku tidak diizinkan untuk menemui Daddy-ku dan juga Mammy-ku yang sedang ada di penjara." Cerita Daisy, dengan dada yang sesak.


Vie menatap sendu kepada Daisy, saat wanita itu juga menceritakan masalahnya. Namun, Vie tidak menyalakan keputusan Excel, karena Mammy-nya memang pantas untuk mendapatkan balasan dari perbuatannya. Vie saja yang hanya diusir dari rumah oleh ayahnya sendiri rasanya sangat sakit, apalagi ini sampai seperti di jual oleh Daddy-nya. Menurut Vie, itu tidak terlalu kejam. Mereka memang pantas diberikan hukum untuk bisa menyadari kesalahannya.


Daisy salut akan pendapat dan pemikiran Vie yang membuat Daisy merasa sadar, jika Mammy-nya memang pantas mendapatkan hukum atas perbuatannya.


"Vie, makasih banyak ya. Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan." Daisy menyunggingkan senyumnya, saat dia merasa puas akan pendapat Vie untuk masalah yang sedang dialaminya.


.


.


.


☕ Bersambung ☕


Halo-halo selamat hari Senin. Jangan lupa tabur hadiah berupa bunga, kopi, dan vote untuk cerita ini ya 💗


Jika kalian penasaran siapa itu Vie, kalian boleh mampir juga ke novel author yang berjudul hidden baby.

__ADS_1



Mampir ya!


__ADS_2