Jerat Hasrat Sang Ceo

Jerat Hasrat Sang Ceo
JHSC 23


__ADS_3

Excel berjalan pelan menghampiri ranjang dimana Daisy sedang terbaring dengan selang infusnya. Wajah sayu itu masih memejamkan mata. Excel gugup dan takut untuk mendekat.


"Apakah dia sudah tahu jika saat ini dia sedang hamil?"


Excel tidak tahu akan berbuat apa setelah ini. Pernikahan yang hanya di gunakan untuk balas dendam ternyata sudah lari dari rencana awal. Meskipun tangan Excel telah banyak melakukan dosa, tetapi tidak mungkin dia akan sampai hati untuk membunuh darah dagingnya sendiri.


"Aku harus bagaimana?"


Seketika ia teringat akan sosok Sherly yang yang selalu bisa memecahkan masalah. Kali ini Excel yakin jika Sherly memecahkan masalah ini.


Sherly yang sedang memimpin rapat hanya melirik ponselnya yang menyala. Jelas terlihat nama Excel di layar tersebut tetapi Sherly mengabaikan karena sebentar lagi rapat pun usai.


"Kemana orang ini. Berani sekali dia tidak mengangkat penggilan ku."


Tiba-tiba Excel gusar, ia tidak tahu apa yang akan dia katakan kepada Daisy nanti saat dia sudah siuman jika saat ini dia sedang hamil.


"Kenapa kamu harus pakai hamil segala sih? Merepotkan!"


Perlahan Daisy membuka matanya. Ia mengerjap melihat kesamping kanan dan kirinya seperti sedang berada di rumah sakit.


"Aku belum mati," gumamnya.


Saat itu juga matanya menangkap Excel yang sudah berdiri di depannya dengan. Daisy sudah ketakutan, ia takut jika Excel akan marah dan memaki dirinya lagi seperti yang sudah-sudah.


"Maaf," lirih Daisy.


Excel menautkan alisnya. Ia heran mengapa Daisy meminta maaf kepada dirinya. Harusnya yang meminta maaf adalah Excel karena tanpa sengaja sudah menanam bibit rahimnya.


"Untuk apa?"


"Aku sudah membuat orang-orang panik," jawab Daisy.


"Sudahlah tidak pernah kamu pikirkan! Aku sudah menyuruh orang untuk menutup restoran itu. Restoran itu beracun, untung tidak ada korban yang berjatuhan, hanya kamu saja."


Mendengar penuturan Excel, Daisy langsung terlonjak. Ia tidak percaya bahwa Excel akan melakukan hal gila seperti itu tanpa bukti yang valid.

__ADS_1


"Kamu tutup restoran itu? Kenapa harus kamu tutup?" Daisy sangat bingung.


"Karena restoran itu hampir menghilang nyawamu."


"Tidak Excel. Ini semua tidak ada sangkut pautnya dengan restoran itu. Ini semua murni kesalahanku. Aku yang salah. Aku tahu jika aku alergi dengan seafood, tetapi aku malah mengacuhkan larangan itu. Bilang sama anak buahmu untuk membuka kembali restoran itu, Excel," pinta Daisy.


Excel masih mematung. Seketika ia teringat akan Sysi yang juga alergi dengan makanan laut. Pernah saat itu Excel berbagai bekal, tanpa Excel ketahui jika Sysi alergi makanan laut dan alhasil Sysi juga mengalami kejang-kejang seperti yang dialami oleh Daisy.


"Excel! Kamu dengar tidak?" sentak Daisy.


"Iya. Aku turunkan perintah dulu," ketus Excel.


Daisy memijat pelipisnya yang masih berdenyut. Rasa mual masih ia rasakan. Mungkin karena efek obat yang diberikan oleh dokter tadi. Sementara itu Excel menelepon anak buahnya untuk membuka kembali restoran tersebut.


"Sudah," kata Excel.


**********


Karena Daisy tidak ingin berada lama di rumah sakit, dia meminta kepada Excel untuk pulang. Daisy sudah bosan berada di rumah sakit.


Saat Daisy hendak belok menuju ke kamarnya, Excel segera mencegah. "Mau kemana?" tanya-nya.


"Mau ke kamar. Aku ingin istirahat. Apakah kamu ingin aku untuk mengerjakan sesuatu agar aku merasakan sakit yang bertubi?"


Excel hanya bisa membuang kasar nafasnya. Selama ini dia memang sudah sangat keterlaluan terhadap Daisy, hingga niat baiknya pun tak akan bisa di mengerti.


"Tidak. Bukan begitu. Aku hanya ingin mengajakmu untuk tidur di kamar atas."


Daisy menautkankan alisnya. Apakah gara-gara kejang telinganya bermasalah sehingga menjadi salah dengar atau Excel yang sedang sakit.


"Kamu sakit?"


"Maksud kamu?"


"Lalu ... Apakah aku salah dengar?"

__ADS_1


"Tidak. Kamu tidak salah dengar. Aku ingin kamu tidur di kamar atas. Aku tidak mau an- ..." Excel tak berani untuk melanjutkan ucapannya.


"Sudahlah, aku bilang kamu tidur di kamar atas ya di kamar atas! sebelum aku berubah pikiran untuk menyuruhmu untuk tidur di gudang!"


Daisy masuk ke kamar Excel, dia segera menuju sofa, dimana dia akan menghabis malam-malam suramnya di tempat itu. Dengan mata berkaca, Daisy merambahkan kasar tubuhnya ke sofa.


"Jangan keras-keras!" teriak Excel.


"Maksud ku, pelan-pelan duduk mu," ralat Excel.


"Anggap saja ini kamarmu. Kamu tidur saja di ranjangku mulai hari ini dan seterusnya."


Daisy masih mendongak tak mengerti akan ucapan Excel yang tidak masuk akal tiba-tiba berubah 180%. Apakah Excel baru saja kesambet jin rumah sakit atau baru saja bertarung dan kepalanya terkena benturan hingga membuat otaknya sedikit bergeser.


"Tunggu! Kamu sadar kan ngomong seperti ini? Atau kamu mabuk hingga ngelantur seperti ini? Atau kamu punya rencana lain untuk menyiksaku di kamar ini. Kalau itu tujuanmu, aku tidak mau. Aku lebih memilih tidur di kamar pelayan."


Excel menjambak rambut kasar. Mengapa ada wanita yang bodoh dan tidak peka seperti Daisy. Mengapa orang seperti ini bisa menyangka gelar S2. Excel semakin yakin jika gelar yang di dapat hasil sogokan.


"Kamu lugu atau bodoh sih? Aku menyuruh kamu tidur disini hal yang wajar. Kamu itu kan istri ku," ucap Excel.


Daisy menarik garis simpul di bibirnya. "Apa istri? Sejak kapan aku mendapatkan gelar istri? Bukankah aku hanya pelayan di rumah ini?"


"Sudahlah, capek ngomong sama orang bodoh!" Excel berlalu pergi meninggalkan Daisy di dalam kamarnya.


"Aneh," gumam Daisy.


.


.


.


🌹 Bersambung 🌹


Halo, aku datang lagi tapi kemalaman 😀 maklum hari libur lakik di rumah jadi kagak bisa fokus nulis 🤭🤭 Tiba-tiba pikiran ngeleg 🤣

__ADS_1


__ADS_2