
Tiga bulan kemudian ....
Pagi ini Excel sengaja menunda semua pekerjaannya, karena ingin mengantarkan Daisy check up ke rumah sakit. Excel sudah tidak sabar ingin melihat jenis kelamin anaknya apakah dia laki-laki atau perempuan.
Perut yang dahulu datar kini sudah membuncit, menandakan bahwa anaknya sudah berkembang di dalam perut Daisy. Jika saat itu dia hanya melihat sebiji kacang, maka saat ini Excel sudah bisa melihat sebagian wajahnya meskipun belum tumbuh sempurna.
Di layar monitor telah terlihat gambar wajah anak anaknya yang tidak terlalu jelas sedang mengisap jempol di dalam perut ibunya.
Meskipun hanya menatap dari layar monitor, Excel sudah sangat merasa bahagia. Akhirnya sebentar lagi dia akan dipanggil Daddy oleh anaknya.
Impian dari kecil ingin hidup bahagia bersama bersama dengan Daisy akhirnya terkabulkan juga. Meskipun saat ini Daisy tumbuh menjadi wanita yang bodoh dan keras kepala. Namun, dibalik kebodohannya, sebenarnya Daisy adalah wanita yang baik meskipun kurang peka terhadap keadaan sekitarnya.
"Jadi apakah Dokter sudah bisa menentukan jenis kelamin anak saya?"
"Tunggu sebentar ya Pak, kita cek dulu. biasanya jika sudah berumur 5 bulan, sudah bisa kita jenis kelaminnya," jelas sang dokter.
Excel dan Daisy dengan sabar mengamati layar monitor, sedangkan dokter masih terus mengarahkan alatnya di permukaan perut Daisy.
"Kenapa Dok," tanya Excel, saat sang dokter itu masih memutar-mutarkan alat di perut Daisy.
"Maaf pak sebelumnya, sepertinya .... "
"Sepertinya apa?" potong Excel secepat kilat. Perasaan Excel sudah tidak tenang saat wajah sang dokter terlalu fokus ke arah layar monitor.
"Sepertinya anak anda ... anak anda kembar, Tuan. Tetapi saya belum bisa memastikan dengan jelas karena sepertinya dia malu untuk menunjukkan diri," jelaskan dokter.
Mendengar ucapan dari sang dokter, membuat Excel dan Daisy saling menatap. Keduanya sangat bahagia jika benar apa yang dikatakan oleh dokter itu benar.
"Benarkah itu, Dok?" Excel ingin memastikan.
"Nah itu dia, Pak. Sepertinya dia malu untuk bertemu dengan anda. Tetapi saya yakin jika itu adalah janin yang sedang berkembang."
"Kamu bagaimana sih, jadi dokter kok ragu gitu! Jangan memberi kabar palsu ya!" sewot Excel.
"Tetapi memang begitu, Pak. Lihatlah, dia bersembunyi di belakang janin ini." Dokter menunjukkan di mana letak kembarannya.
Saat Excel ingin menjawab, Daisy segera mencegah. Dia tidak mau jika Excel sampai mempermalukan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Baiklah, aku mengalah. Tapi awas saja jika nanti bayiku tidak kembar, aku akan tuntut kamu!" ancam Excel.
"Excel!" sentak Daisy.
***
Jika Excel masih memikirkan benar atau tidak jika anaknya akan kembar, berbeda dengan Daisy yang sudah sangat yakin dan percaya bahwa janin yang hidup di dalam perutnya itu ada dua. Karena Daisy bisa merasakan tendangan yang kuat berkali-kali.
"Excel, apakah kamu tidak senang jika memiliki anak kembar?" tanya Daisy, yang melihat Excel tidak memperlihatkan wajah bahagianya.
"Aku bahagia Syi. Tapi itu belum jelas apakah benar atau tidak," sanggah Excel.
"Anak kita pasti kembar, Excel."
"Kenapa kamu sangat begitu yakin?" Excel kembali bertanya.
"Karena aku adalah ibunya," jawab Daisy singkat.
Sebelum pulang ke rumah, Excel membawa Daisy untuk singgah ke sebuah restoran. Di mana di sana banyak menu yang sangat disukai oleh Daisy.
"Kenapa kamu bawa aku ke tempat ini?" tanya Daisy heran.
Ini adalah pertama kalinya Excel membawa Daisy ke sebuah restoran setelah mereka menikah. Karena selama ini Excel pasti akan selalu terlarang Daisy untuk meninggalkan rumah tanpa dirinya.
"Kali aja kamu rindu tempat ini," ujar Excel.
Bagaimana Daisy tidak akan merindukan restoran ini? bahkan untuk menghirup udara segar saja Daisy sudah sangat merindukannya. Namun, apa daya dirinya tidak bisa untuk memberontak.
"Pasti aku sangat merindukan tempat ini. Asal kamu tahu, setelah aku menikah denganmu, aku tidak pernah makan makanan di tempat ini," semprot Daisy.
Ya, memang benar apa yang dikatakan oleh Daisy, selama ini Excel tidak pernah mengizinkan Daisy untuk keluar dari rumahnya. Tetapi Excel melakukan itu semua demi untuk keselamatannya.
Excel dan Daisy sudah menikmati makanan unggulan yang ada di restoran tersebut. Pantas saja jika Daisy menjadikan restoran ini sebagai tempat favoritnya, ternyata menunya memang menggoyang lidah.
"Excel, aku boleh nambah kan?"
Excel mengangguk dengan cepat. "Boleh! Bahkan jika kamu menginginkan restoran ini untuk kita bawa pulang, maka aku akan membelikannya untukmu," jawab excel dengan asal-asalan saja.
__ADS_1
"Cih, sombong!" cibir Daisy.
Semakin lama berada di restoran itu, perasaan Excel sudah semakin tidak tenang. Mata elang Excel menangkap beberapa orang yang mencurigakan.
Sebenarnya Excel tidak mau membawa Daisy untuk berkeliaran di luar terlalu lama. Namun, Excel sadar jika selama ini sudah membuat Daisy layaknya seorang tawanan di dalam rumahnya.
Niat Excel baik, dia hanya ingin melindungi Daisy saja, tetapi mungkin dengan cara yang salah.
"Syi, cepat habiskan makananmu! kita harus segera pulang!" perintah Excel.
"Iya, aku tahu. Tapi bagaimana aku bisa menghabiskan makanan ini?" tanya Daisy.
"Udahlah gak usah dihabiskan! ayo kita pulang sekarang! di sini tidak aman." lirih Excel, sambil menarik lengan Daisy untuk keluar.
Setelah membayar makanan, Excel segera menghubungi Sherly dan anak buahnya untuk segera datang ke lokasi di mana dirinya saat berada saat ini.
Excel semakin yakin jika orang yang dia curigai tadi memang benarlah orang yang sedang mengintai dirinya. Setelah masuk ke dalam mobil, Excel segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bisa Excel lihat dari kaca spion, jika di belakang mobilnya ada mobil lain yang sedang mengikuti dirinya.
"Gawat, Syi. Ada yang mengikuti kita saat ini."
Mendengar ucapan Excel, jantung Daisy berdetak lebih kencang. Dia sangat takut jika terjadi hal buruk kepada mereka. Dia takut, tetapi dia tidak mau memperlihatkan ketakutannya, karena tidak ingin memecahkan konsentrasi Excel yang sedang menyetir mobil.
"Syi ... cepat telepon Sherly katakan mereka harus segera sampai! aku tidak mungkin melawan mereka, karena itu hanya akan membahayakan nyawamu. Kamu tenang saja, kita tidak akan kenapa-kenapa."
Daisy mengangguk lalu segera menelpon nomor Sherly dia mengatakan bahwa saat ini ada mobil yang mengikutinya.
Jika saat ini Excel sendiri, maka Excel pastikan mereka tidak akan selamat. Namun, karena saat ini yang sedang membawa Daisy, dirinya memilih lari tidak ingin terjadi sesuatu kepada dia dan calon buah hatinya.
Dalam hati Daisy terus memanjatkan doa kepada Tuhan agar dirinya bisa terhindar dari masalah ini.
.
.
.
Gas teruss, butuh kopi guys ☕🤣
__ADS_1