
Promo Novel Baru Author
Belenggu Pernikahan Semu
*Hanya Sebuah CUPLIKAN bab 1*
Mentari pagi telah menyingsing, menyadarkanku dari alam bawah sadar. Perlahan ku coba untuk membuka mata. Sosok mas Alzam yang semalam tidur disampingku kini sudah tidak ada. Tubuhku terasa sangat pegal. Saat aku hendak melangkah ke kamar mandi ada rasa yang mengganjal diarea kewanitaanku. Aku meringis pelan menahan rasa sakit, berharap bisa segera sampai di kamar mandi.
Setelah menyelesaikan ritual mandi, aku pun keluar kamar. Disana aku melihat wanita paruh baya sedang menata hidangan diatas meja.
"Sudah bangun, cah ayu?" tanyanya padaku.
Aku mengangguk pelan. "Iya, Buk," jawabku pelan. Aku sendiri tidak tahu siapa wanita ini karena mas Alzam tak mengatakan apapun. Bahkan saat kami baru tiba tadi malam, tak ada siapapun yang menyambut kedatangan kami.
"Jangan panggil ibu! Panggil saja mbok Inah. Saya pembantu di rumah ini," jelasnya.
__ADS_1
"Oh, iya maaf Mbok, saya tidak tahu," ucapku sambil nyengir kearah mbok Inah. "Mas Alzam kemana ya, Mbok?" tanyaku yang celingukan mencari keberadaan mas Alzam.
"Den Al sudah berangkat kerja, Non. Tadi beliau berpesan kalau malam ini tidak bisa pulang cepat karena ada lembur," ujar mbok Inah sambil mengambilkan nasi untukku.
Satu harian berada di rumah membuatku merasa bosan, terlebih aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mbok Inah sama sekali tidak mengizinkanku untuk membantu pekerjaannya. Aku hanya lontang-lantung seperti gelandang yang yang menyedihkan. Bahkan dihari pertama aku menjadi seorang istri, aku tidak bisa menyambut suamiku saat aku membuka mata.
"Non Ara sibuk?" tanya mbok Inah. Aku yang menonton televisi mendongak lalu menggelengkan kepala. "Gak mbok," jawabku singkat.
"Kalau begitu mari Mbok ajak Non Ara untuk melihat-lihat isi rumah ini. Mbok juga akan menunjukkan satu kamar yang tak boleh non Ara buka." Aku pun mengangguk untuk mengikuti langkah mbok Inah.
Mbok Inah membawaku mengelilingi isi setiap ruangan yang ada di rumah mas Alzam. Dia menjelaskan setiap ruangan yang ada. Dan kini tiba saatnya mbok Inah berhenti di depan sebuah kamar yang menggunakan kunci password.
Aku pun sebenarnya juga penasaran dengan kamar tersebut, mengapa sampai diberi sistem password. Apakah ada sebuah rahasia besar didalam? Aku tidak tahu.
Setelah puas mengelilingi isi rumah mas Alzam, mbok Inah meninggalkanku di teras karena aku suntuk berada di dalam rumah. Pikiranku tak lepas dari pernikahan kami yang sepertinya tak berarti. Bagaimana tidak, mas Alzam hanya terpaksa menikah denganku agar hutang-piutang ibu lunas. Tak ada cinta diantara kita. Mas Alzam hanya ingin menggunakanku untuk menyalurkan hasratnya saja. Bahkan dia sama sekali tak menganggapku sebagai istrinya.
Lamunanku tersentak saat suara wanita menyapaku. "Kamu siapa?" tanyanya.
__ADS_1
Wanita cantik yang memiliki kulit putih dan rambut panjang itu semakin mendekatiku.
"Kamu pembantu baru ya? Oh iya, apakah Al ada di dalam? Dari tadi malam aku mencoba untuk menghubunginya tetapi tak direspon. Apa dia baik-baik saja?" tanya wanita itu panjang lebar.
"Mas Al sudah berangkat kerja. Kamu siapa ya?" Aku memberanikan diri untuk bertanya pada wanita itu.
Dengan senyum yang terukir indah, wanita itu menjawab, "Perkenalkan aku Aira, tunangannya Al." Wanita itu mengulurkan tangannya kepadaku. Seketika jantungku berdebar dengan kuat bahkan saat menyalami Aira, tanganku terasa sangat bergementar.
"Kamu kenapa gugup seperti itu?" tanyanya lagi.
"Tidak ada, mbak. Aku hanya gerogi saja, maklum ini adalah hari pertamaku bekerja di sini," dustaku pada Aira.
"Oh iya? Kamu santai aja. Al itu orangnya baik. Ngomong-ngomong nama kamu siapa?"
Aku tersenyum tipis melihat senyum yang mengembang di wajah Aira dan berkata, "Namaku Zahra."
Karena Mas Alzam tidak ada di rumah, Aira pun memutuskan untuk menemuinya ke kantor. Entah mengapa tiba-tiba hatiku terasa nyeri saat mendengar jika wanita itu adalah tunangan dari suamiku. Aku membuang napas kasarku kemudian terlalu menuju ke kamar.
__ADS_1
"Ya Tuhan, cobaan apalagi yang Engkau berikan kepadaku? Ternyata aku adalah orang ketiga di antara hubungan mas Alzam dan Aira. Sanggupkah Aku menjalani hari-hariku sebagai istri dari mas Alzam?" Tanpa kusadari air mataku menetes begitu saja. Hatiku semakin sakit, jika membayangkan hari-hariku selanjutnya hidup tanpa cinta.