
Malam ini Excel dan Daisy sudah tiba di sebuah restoran mewah. Saat baru saja dia turun dari mobil, dia sudah disambut dengan seorang laki-laki tampan dan mempesona.
"Selamat malam Tuan Excel," sapa Kaisar.
"Hmm." jawab Excel.
Astaga apakah Bos akan bekerja sama dengan orang seperti ini? Bahkan untuk membuka suara saja sangat pelit bagaimana jika nanti sudah bekerja sama? Kaisar hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Mari saya antar Tuan," kata Kaisar.
Kaisar membawa Excel beserta istrinya untuk menuju tempat di mana yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Setelah sampai di tempat tujuan, Excel ternyata sudah ditunggu oleh Dirga dan keluarganya. Namun, matanya tertuju pada sosok bocah kecil di tengah-tengah mereka.
Mereka sudah punya anak? Bukankah pernikahan mereka baru beberapa bulan yang lalu?
Saat mengetahui kedatangan Excel, Dirga dan Vie berdiri untuk menyambut kedatangannya.
"Selamat malam Tuan Excel dan Nona Daisy, Selamat datang, senang bisa bertemu dengan Anda secara langsung," kata Dirga.
"Selamat malam juga Tuan Dirgantara beserta istri. Senang juga bisa bertemu dengan Anda." Excel menjabat tangan Dirga kemudian berganti untuk menjabat tangan Vie, begitu juga dengan Daisy yang mengikuti suaminya.
Saat kedua lelaki itu sudah sibuk untuk membicarakan tentang pekerjaan, Vie memilih mengajak Arga dan juga Daisy untuk pindah tempat.
__ADS_1
"Sepertinya saya melihat jika anda sedang menyembunyikan sesuatu apakah anda tidak bahagia berada di sisi Tuan Excel? "
"Kamu tahu apa tentang masalah kami? "
"Tidak, saya hanya asal menebak saja."
kedua wanita itu terdiam untuk beberapa saat. Arga yang fokus memainkan boneka Dino tidak tidak peduli akan keadaan sekitarnya.
"Saya dengar dulu kamu pernah kabur ya dari pernikahan kenapa?" tanya Vie.
"Sayangnya itu tidak merubah apapun. Pada akhirnya aku pun harus menikah dengan dia."
"Lah kenapa? Apakah kamu tidak mencintai Tuhan Excel? sayang sekali, dia adalah incaran para wanita di luar sana. Jika tidak mengingat aku belum menikah, mungkin aku adalah salah satu penggemar Tuan Excel. Kurang apa coba, kaya, berpenguasa dan disegani oleh semua orang, keren bukan?"
"Tapi itu tidak seperti yang kamu bayangkan, Vie."
******
Sepanjang perjalanan pulang, terus memperhatikan Excel. Dia masih memikirkan tentang ucapan Vie yang menyatakan bahwa Excel adalah incaran barang gadis di luar sana. Selama ini Daisy tidak pernah mendengar kabar tentang itu, jika itu benar apakah Excel akan tergoda oleh wanita di luar sana? Tidak! itu tidak boleh terjadi.
Excel yang melihat dirinya sedang diperhatikan oleh. "kenapa, ada yang salah?"
__ADS_1
Daisy menggelengkan kepalanya pelan." Tidak. Tidak ada."
Setelah sampai di rumah Excel, keduanya langsung menuju kamar untuk beristirahat karena hari memang sudah larut. Hari ini Excel resmi bekerja sama dengan WIR group perusahaan milik Dirga.
Sebelum naik ke atas ranjang menetap lekat pada sosok Excel. Lelaki di masa lalu yang ia sayangi.
" Excel," lirih Daisy.
"Ada apa?" tanya Excel.
Daisy tidak menjawab, dia duduk di sebelah Excel lalu menatapnya dengan lekat lagi. Ucapan sudah meracuni pikirannya saat ini.
"Excel, apakah kamu mencintaiku? jika tidak tolong lepaskan aku! Aku tidak ingin hanya menjadi pelampiasan rasa dendammu. Sebelum rasa itu tumbuh lebih banyak di hatiku."
Excel menawarkan alisnya, dia merasa bingung akan ucapan Daisy. "kamu ngomong apa, sih?"
"Aku tahu, di luar sana banyak wanita yang mendambakanmu. Bahkan mereka lebih pintar dan lebih cantik daripada aku, lalu untuk apa kamu menahanku di sini?"
"Excel, maafkan Aku. Aku telah banyak mengecewakanmu, mulai sekarang aku tidak akan pernah ikut campur dengan apa yang kamu putuskan. Aku tidak akan menghalangimu jika Mammy harus menanggung semua yang sudah dia lakukan di masa lalunya." lanjut Daisy.
Excel heran mengapa Daisy bisa berubah pikiran dalam sekejap saja. Padahal sebelumnya dia bersikeras membela Mischelle.
"Apakah kamu serius?"
__ADS_1
Daisy menggangguk pelan. "Iya, aku serius. Tapi tolong jangan tinggalkan aku!" Daisy memohon.
Excel menggenggam tangan Daisy kemudian menciumnya dengan lembut. Matanya menatap lekat pada sosok wanita yang berstatus sebagai istrinya. Dengan pelan, Excel mendaratkan ciu.man lembut pada bibir Daisy sebelum mereka melewati malam panjangnya.