
Sepanjang perjalanan menuju markas, Excel terus menyunggingkan senyumnya saat mengingat pergulatan panas diatas ranjangnya tadi malam. Andaikan saja saat itu dia tidak mabuk, pasti dia akan candu dengan nikmat yang ia rasakan. Sayangnya saat itu dia sedang mabuk dan tidak bisa mengingat rasa yang telah ia ciptakan.
Setelah sampai di markas Sherly sudah menunggu kedatangan Excel. Meskipun dalam keadaan pemulihan Sherly tetap bersemangat untuk terus bekerja, apalagi ini menyangkut nyawa dari Tuan-nya.
Sherly yang sedari tadi mengamati raut wajah yang berbeda dari Tuan-nya merasa sangat heran. Mengapa raut wajahnya memancarkan cahaya penuh kebahagiaan, apa yang sudah terjadi kepada Taun-nya hingga dia bisa menyunggingkan senyuman langka-nya.
"Jadi bagaimana Tuan? apakah kita akan tetap melakukan pengejaran ke luar kota? jika iya, saya akan kerahkan sebagian anak buah untuk berpencar sekarang?" tanya Sherly.
"Kalau itu yang terbaik, lakukanlah sekang! Aku tidak akan melepaskan orang yang sudah hampir membunuhku."
Sherly mengangguk lalu keluar sebentar untuk memberitahu anak buahnya serta mengarahkan satu persatu tugas mereka. Dalam pencarian ini mereka semua di lengkapi dengan alat pelacak agar saat mereka menemukan pelaku, mereka bisa saling menghubungi.
Saat Sherly hendak masuk ke dalam, ponselnya berbunyi. Dia mendapat kabar bahwa saat ini Nona mereka sedang dalam bahaya. Entah mengapa tiba-tiba Nona mereka bisa berada dalam tangan Felix saat ini.
Sherly langsung segera melaporkan berita tersebut kepada Excel. Wajah Excel yang tadi berbunga kini mendadak menjadi merah padam menahan amarahnya. Bagaimana bisa Daisy sudah berada ditangan Felix, sementara dia baru saja berpesan kepada Daisy agar tidak kemana-mana.
"Kerahkan semua anak buah. Kita cari keberadaan Felix sekarang juga!" perintah Excel.
*****
Saat ini Daisy sedang berada di dalam ruangan yang gelap dan pengap. Tangan yang diikat serta mulut yang telah di tutup dengan lakban membuatnya tidak bisa memberontak dan berteriak minta tolong.
Daisy tidak tahu mengapa dirinya saat ini berada di tempat ini. Jujur dia sangat takut karena tempat itu gelap. Daisy mencoba untuk mengingat kejadian sebelumnya.
Setelah kepergian Excel, Daisy mendapatkan kabar dari Daddy-nya jika saat ini Mammy-nya sedang sakit dan terus menerus memanggil namanya.
Tanpa pikir panjang, Daisy segera meminta sopir untuk mengantarkannya ke rumah orang tuanya saat ini juga. Daisy tidak keberatan saat kepergiannya juga di kawal oleh bodyguard utusan Excel. Namun, di tengah perjalanan, tiba-tiba mobil yang ditumpangi oleh Daisy di hadang oleh dua mobil yang langsung mengeluarkan beberapa orang dengan menodongkan senjata kearah mobil Daisy.
__ADS_1
Melihat perkelahian antara bodyguard dan lara penghadangan membuat Daisy merasa sangat ketakutan. Lagi-lagi bodyguard utusan Excel harus terkalahkan karena jumlah penyerangan lebih banyak. Dan setelah itu Daisy tidak bisa mengingat apa-apa, hingga akhirnya dia tersadar di dalam gudang ini.
Derap langkah kaki begitu nyaring di telinga Daisy. Tak lama suara seseorang memanggil namanya.
"Daisy Queerren, putri semata wayang dari Tuan Arathorn Queerren, seorang konglomerat dengan daya tangkap yang dibawakan standar. Mudah tertipu dan tergiur dengan harta kekayaan. Merelakan satu-satunya anak yang dimiliki hanya demi mendapatkan kedudukan dan jabatan yang tinggi."
Daisy mendongak, menatap siap lelaki yang sedang berada di depannya saat ini.
Daisy melihat dengan jelas lelaki muda yang ia lihat dengan teliti. Tidak salah lagi, orang yang sedang berada di hadapannya saat ini adalah orang yang sama di acara dinner malam itu saat Excel sedang mabuk berat. Namun, Daisy lupa siapa namanya.
Felix, lelaki yang baru saja menyelesaikan studinya di luar negeri dan menggantikan posisi ayahnya di perusahaan Maxion group.
"Kenapa cantik?" Felix membelai wajah Daisy sebelum membuka kasar lakban yang membungkam mulutnya.
Daisy hanya bisa menahan rasa sakitnya. Ia tidak tahu mengapa Felix, lelaki yang dianggap arang baik ternyata sangat menakutkan. Apakah dia adalah salah satu musuh Excel?
Felix tertawa sinis sambil menatap Daisy secara tajam.
"Apa mau ku?" kekeh Felix.
"Aku mau melihat suamimu hancur berkeping-keping saat melihatmu ada si tempat ini," jawab Felix.
"Jika kamu menginginkan Excel mengapa kamu malah menangkap ku! Lepaskan aku! Aku harus segera menemui Mamy-ku, dia sedang sakit," ujar Daisy.
Lagi-lagi Felix tertawa dan tawa kali ini lebih keras daripada tawa sebelumnya.
"Malang sekali nasibmu! Sejujurnya tadi daddy mu hanya membohongimu saja. Karena nyatanya Mamy-mu tidak sakit. Semua itu hanya alibi daddy mu. Mamy-mu baik-baik saja" pungkas Felix.
__ADS_1
Daisy menggeleng tidak percaya kepada Felix sambil menitikkan air matanya. Untuk yang kesekian kalinya Daddy berbohong kepada dirinya. Entah apa yang diinginkan lelaki tua itu.
"Aku tidak mengenal mu, tolong lepaskan aku!" pinta Daisy.
"Bagaimana aku bisa melepaskan mu, sementara suamimu belum melihatmu disini," ujar Felix.
Saat ini Daisy hanya bisa berdoa agar Excel cepat datang. Berada disisi Excel ternyata sangat menakutkan. Apakah selamanya dia akan seperti ini. Terus di culik untuk di jadikan tawanannya sebagai alat untuk menghancurkan Excel?
"Kamu tenang saja, aku tidak akan menyakitimu asalkan kamu mau meninggalkan Excel lalu menikah denganku. Bukankah Excel pernah mengeluarkan wacana jika tak ada yang boleh menikahi mu selain dia? maka aku lah satu-satunya orang yang akan mematahkan wacana tersebut. Menikahlah denganku, aku akan membuat mu ratu di istanaku."
.
.
.
.
🌹 Bersambung 🌹
Jangan lupa jejaknya! Awas gak ada jejaknya!
Oh iya, nih aku kasih rekomendasi novel dari Simbah yang hoby-nya Encokan. Wajib kalian baca!!! Suer novel ini bikin sakit perut gak kaleng-kaleng, Cuz mampir biar gak penasaran sama ceritanya.
Judul Novel : Kembali Ke Masa SMA
Author : Tita Dewahasta
__ADS_1