
"Ada apa?" tanya Daisy.
Sontak tubuh Excel bergetar. Berharap ini hanyalah sebuah kebetulan saja.
"Ada apa? Kenapa malah bengong? mau menertawakan aku karena aku wanita penyakitan? tertawalah hingga puas," ujar Daisy.
"Bukan itu. Aku tadi tidak memanggil namamu, mengapa kamu menyahut?"
"Oh, aku pikir kamu memang memanggil namaku karena disini hanya ada kita berdua."
"Tapi aku memanggil Sysi, bukan Daisy."
"Oh, aku pikir kamu tahu nama kecilku. Maaf jika aku salah mengerti."
Jantung Excel semakin tidak karuan saat Daisy mengatakan bahwa Sysi adalah nama kecil dari wanita yang ada di hadapannya saat ini. Berharap semoga itu tidak benar, Excel ingin memastikan luka yang dimaksud oleh dokter tadi.
"Kata dokter kamu tidak mengkonsumsi lagi obat-obatan lagi? kenapa? apakah kamu meragukan kekayaan aku untuk mengobati penyakit-mu? Sudah berapa lama kamu memiliki luka itu?"
"Mengapa kamu jadi tertarik akan cerita dan penyakit ku? mau masih belum puas untuk menertawakan penderitaan ku?"
"Bukan begitu Daisy, aku hanya ingin tau saja," ucap Excel penuh harap.
Daisy kemudian memperlihatkan bekas luka dua puluh tahun lamanya. Mungkin luka di luar sudah mengering, tetapi tidak dengan luka di dalam. Peluru yang sempurna membocorkan jantung, membuat Daisy harus bertahan dengan obat-obatan selama bertahun-tahun lamanya.
__ADS_1
"Kamu pasti tahu jika ini adalah bekas sebuah puluru yang hampir merenggut nyawaku, dua puluh tahun yang lalu. Aku sudah bosan untuk terus meminum obat-obatan lagi. Pertama karena aku sedang hamil, kedua aku sudah lelah dengan penderita ini. Ayahku yang lebih mementingkan harta dan tahta dan orang lain yang terus menerus menyiksaku. Lalu untuk apa aku bertahan untuk hidup. Aku lelah Excel." Daisy mengusap jejak air matanya yang sudah merembes begitu saja.
Excel hanya bisa memejamkan mata. Dia memberanikan diri untuk memeluk tubuh Daisy untuk yang pertama kalinya.
Dia memeluk erat tubuh wanita yang sudah ia sakiti selama ini. Excel tidak salah lagi jika Daisy adalah Sysi yang selama ini ia cari hingga ke ujung dunia. Wanita yang seharusnya ia puja malah ia siksa karena dendamnya kepada Arathorn, ayah Daisy.
"Maaf ... maafkan aku. Aku telah menyakitimu selama ini," ujar Excel.
Daisy yang masih merasakan sesak di dadanya mencoba untuk mendorong tubuh Excel yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Excel, lepaskan aku! Dadaku sesak."
Excel melepaskan pelukannya. Ia menatap Daisy dengan penuh rasa bersalah. Wanita yang sudah menyelamatkan hidupnya ada di depan matanya selama ini. Dan dengan kebodohannya dia telah menyakiti wanita itu, sungguh Excel merasa sangat bersalah.
"Maafkan aku, Sy. Meskipun aku sadar, aku tak pantas untuk mendapatkan maaf dari mu, tapi tolong jangan pergi lagi. Aku merindukan mu."
"Kamu ngomong apa sih? Kamu berharap aku akan segera mati, begitu?"
Ingin rasanya Excel berteriak di telinga Daisy dan mengatakan bahwa dia adalah Alex, yang sempet ia sebut sebagai pahlawan masa kecilnya, meskipun pada kenyataan Daisy lah malaikat untuk Excel.
"Sy ... aku tidak tahu bagaimana kamu bisa lulus S2. Dengan pemikiran kamu yang seperti ini aku tidak yakin jika kamu lulus murni hasil nilai asli atau menyogok dosen," ujar Excel.
"Lalu?"
__ADS_1
"Aku Alex, Sy! Alex yang kamu sebut pahlawan."
Dada Daisy yang bergerumuh hingga membuat rasa nyeri kian bertambah sakit. Pengakuan Excel membuat Daisy masih membeku dengan seribu bahasa. Dia masih tidak percaya akan pengakuan Excel yang mengaku sebagai pahlawannya, sedang sikap Excel jauh berbeda dengan Alex yang dia kenal dahulu.
"Al-Alex ... " ucap Daisy terbata.
.
.
.
🌹 Bersambung 🌹
Absen dulu woii !!!
Selagi menunggu Novel ini Up, singgah dulu ya ke novel temen aku. Dijamin seru ceritanya.
Mampir ya!
Judul Novel : Kepedihan Jiwa
Author : Rima Junia Ermolina
__ADS_1